
Kedatangan Fay tak mengubah pendirian Asma. Sebagai manusia memiliki kewajiban untuk saling mengingatkan dan itu yang coba dia lakukan. Ketika seorang putri tidak memiliki sopan santun, maka orang tua harus mengingatkan. Di sini ia mencoba untuk meluruskan pemikiran tidak waras Suketi.
Tamparan yang pantas bukan bermaksud untuk menyakiti. Seharusnya Suketi sadar tanpa harus diingatkan sedemikian rupa, hanya saja pikiran gadis itu sudah terkontaminasi dengan ketidakwarasan. Tatapan mata nyalang yang menghujam, tetap tidak menggetarkan ketetapan hati seorang Asma.
Sayangnya berbeda dengan Fay. Gadis itu memilih menurunkan Jovanka dari gendongannya, lalu meminta anak itu untuk duduk di bangku yang ada di sisi kiri depan kamar, kemudian ia sendiri berjalan masuk ke dalam kamar melewati Rey yang membiarkan sang istri memberi pelajaran berharga pada pelayan rumahnya.
"Ka Asma terlalu baik dengan gadis seperti mu," Fay mengambil alih pekerjaan Bi Jia. Tangannya sibuk mengemasi pakaian yang hanya tersisa tiga helai di dalam lemari. Setelah memastikan semua masuk, barulah menarik resleting. Langkah kaki berpindah mendekati Suketi dengan tatapan mata tak bersahabat.
Apa gunanya mempertahankan buaya betina? Kecuali jika ingin diterkam. Bukan buaya di muara, tetapi perumpamaan untuk gadis yang tidak tahu malu. Ck hanya karena cinta dan obsesi memiliki suami wanita lain. Suketi bertindak begitu rendah. Sekilas memandang, gadis itu memang memiliki kelebihan aset yang bisa menghasut hawa nafsu para kaum adam.
Suketi bukan pelayan seperti pada umumnya yang memakai pakaian sopan atau bertingkah tahu adab. Gadis itu selalu membuat ulah, apalagi setelah majikan pria lebih sering tinggal di rumah. Aneh, menjijikkan, tetapi begitulah keadaan yang tersaji. Jika mengharapkan kesadaran dari wanita tidak berakal, maka hasil akhir adalah zonk.
Ditariknya tangan Suketi dengan rasa enggan, "Aku tidak sebaik Kakakku. Kamu harus tahu arti harga diri seorang wanita."Jangankan ragu, Fay begitu semangat menarik si pelayan meninggalkan kamar tersebut.
"Fay!" panggil Asma, sayangnya hanya dianggap angin lalu dengan langkah terus menjauh darinya, "Astagfirullah, anak satu ini. Bi Jia tolong jaga Jovanka!"
Aksi saling susul menyusul tidak bisa dihindari. Fay yang berjalan di depan tanpa perasaan menarik tangan Suketi yang meronta minta dilepaskan. Sang adik online bukan hanya menulikan telinga, tetapi juga mengabaikan tatapan mata para pelayan lain yang kebingungan dengan drama dadakan.
__ADS_1
Jarak antara rumah pelayan dan halaman utama rumah melalui jalan samping cukup memakan waktu. Tidak satupun menghentikan langkah kaki menuju ke depan hingga Fay berhenti, lalu melepaskan tangannya seraya menghempaskan tubuh si gadis pelayan ke depan. Gadis itu jatuh terjerembab mencium setapak.
Kemudian tas dilemparkan dan terjatuh di sebelah Suketi. Pelayan yang malang menjadi bahan tontonan seluruh penghuni rumah. Apa boleh buat? Jika tidak mendapatkan karma dari tindakannya, maka bukan tidak mungkin untuk menggoda pria lain di rumah lain.
"Fay!" Panggilan tegas, bahkan terdengar lebih dingin menghentikan adik onlinenya untuk bertindak lebih jauh. "Mas pinjam ponsel."
Entah apa yang akan dilakukan sang istri. Ia hanya memberikan yang diminta. Wanita itu tampak sibuk beberapa detik memainkan benda pipih miliknya. Lalu mengembalikan tanpa menjelaskan keputusan yang diambilnya. Akan tetapi, langkah kaki berjalan menghampiri Suketi seraya melepaskan blazer hitam yang menutupi gaun tanpa lengan.
Tidak ada yang berani berkomentar, mereka hanya bisa melihat ketika Asma menyandarkan blazer untuk menutupi pakaian Suketi. Manusia boleh saja berbuat salah atau kejahatan, tetapi bukan berarti harus buta akan keadaan. Saat ini, tanggung jawab untuk melindungi harga diri bukan menjadi milik satu wanita saja.
Jika mereka melakukan pengusiran tanpa menjaga kehormatan Suketi yang terlihat seperti wanita malam. Lalu bagaimana mereka bisa menjadi bagian dari wanita? Harga diri tetaplah kehormatan tanpa bisa diganggu gugat. Tidak masalah jika di luar sana, si pelayan ingin berjalan tanpa busana sekalipun.
"Non, bagaimana Anda masih mencoba mendekati ku? Aku ...," Suketi menundukkan pandangan matanya, seketika terasa sakit dengan perlakuan baik sang majikan.
Niat di hati ingin merebut suami wanita yang kini masih menatapnya sebagai manusiawi. Padahal tatapan mata para pelayan sudah berubah menjadi jijik, tetapi wanita satu itu terus memberikan uluran tangan untuk semua kesalahannya. Mungkin benar dia tidak punya harga diri.
Asma merengkuh tangan Suketi meredam rasa sakit akan niat dikata pelayan rumahnya, "Setiap manusia pernah berbuat kesalahan, bahkan dosa. Aku hanya manusia yang bisa khilaf, begitu juga denganmu."
__ADS_1
"Suketi, masa depan itu bukan ditentukan dengan merebut rasa hormat, tetapi kamu harus membuktikan diri pantas untuk dihormati. Cinta, kagum dan obsesi itu tiga hal berbeda. Kuharap setelah hari ini, kamu kembali ke jalan yang benar. Pulanglah ke kampung dan buka usaha bersama ibumu."
Seperti tebasan pedang nan tajam yang terus mengalirkan rasa bersalah dalam hatinya. Tidak ada kata selain jatuhnya air mata. Ia sadar telah dikuasai rasa cemburu dan iri. Wajahnya memang lebih cantik dari Asma, tetapi hati? Tidak memiliki.
Seperti yang telah diputuskan sang nyonya muda. Dimana ia mengakhiri hubungan kerja di antara mereka tanpa memberikan celah untuk menyimpan dendam satu sama lain. Ketegangan itu perlahan kembali normal hingga mobil taksi yang datang berhenti di depan pagar, membuat Asma membangunkan Suketi dari tempat duduknya.
"Aku sudah mentransfer sejumlah uang sebagai gaji terakhirmu. Semoga itu bermanfaat, pulanglah!" jelas Asma melepaskan tangannya dari bahu Suketi, lalu berjalan mundur mendekati Fay.
Semua orang merasa tidak bisa berkata lagi. Hari ini mereka belajar, jika kejahatan di balas kejahatan. Dunia akan di penuhi orang tidak berakal. Satu kesempatan akan selalu menjadi titik balik. Seperti yang Asma lakukan. Tamparan untuk menyadarkan, genggaman tangan untuk kekuatan.
Seorang wanita selalu berpikir sederhana, tetapi terdengar rumit ketika ingin menerjemahkan. Berbeda lagi dengan perikemanusiaan dan tolong menolong. Orang lain boleh melukaimu, bahkan membencimu karena tidak seorangpun bisa mengubah persepsi dari kesimpulan sudut pandang yang terbelenggu di dalam hati dan pikiran.
Suara deru mobil mulai menjauh, kini suasana kembali kondusif. Ketegangan memang masih begitu terasa. Walau begitu semua orang tetap kembali melakukan rutinitas yang sempat tertunda. Begitu juga dengan anggota keluarga yang kini berkumpul di ruang keluarga. Mereka diam tanpa ingin berkomentar.
"Buka bajumu!" tegas Asma tanpa basa-basi membimbing Rey agar duduk di depannya, perintah yang tidak bisa ditolak membuat sang suami menurut. "Fay, bisa bawa Jovanka jalan-jalan di taman? Aku tidak mau gadis seusianya melihat yang tidak seharusnya."
Sejak berkumpul di ruang keluarga. Jovanka terlihat masih ketakutan. Padahal Axel sudah berusaha untuk menenangkan dan semua itu terjadi karena drama yang baru menghebohkan seluruh penghuni rumah. Lalu kini bagaimana bisa memperlihatkan luka yang pasti bersembunyi di balik kemeja suaminya. Kewarasan masih mempertahankan kesadaran untuk menjaga pandangan gadis kecil itu.
__ADS_1
Hal benar tidak perlu diperdebatkan. Fay melakukan permintaan sang kakak dengan membawa Jovanka yang kali ini menurut begitu saja. Akan tetapi tatapan gadis itu terus terpatri pada Asma. "Cantik, aunty bersamamu 'kan? Nanti kita ajak Mama buat main, gimana?"