
Asma menerima tanpa bertanya pada yang bersangkutan. Bukan bermaksud lancang, tetapi daripada mereka hanya diam. Kenapa tidak menerima? Lagi pula, syarat tidak akan jauh dari hal yang menjadi alasan kekhawatiran sang adik.
Wajah tegang dengan ekspresi yang tampak diselimuti kecemasan. Entah apa yang terjadi, tetapi ia merasa sesuatu yang salah sudah mengikuti arah jalan kehidupan dengan membawa masalah baru, sedangkan Fay menatap adik sepupunya dengan tatapan tanya.
"Syaratnya bakalan gue bilang di waktu yang tepat, tapi untuk sekarang cukup janji bakalan lakuin apapun yang jadi syarat nantinya. Ifii, loe sanggup gak?" Nau membalas tatapan kakak sepupunya dengan doa harapan persetujuan yang akan didapatkan.
Bagaimanapun keadaannya akan baik, jika Fay memutuskan untuk menepati janji yang dijadikan sebagai syarat. Meski untuk itu, ia harus rela melepaskan sang kakak sepupu tinggal bersama keluarga yang belum lama dikenal. Berat rasanya, tapi harus. Keberuntungan ada dipihak pemuda itu dengan uluran tangan gadis yang ada di depan mata.
"Okay, hanya satu syarat. Gak ada kata dua atau tiga." Fay menyetujui dengan memastikan ketidakpastian yang bisa saja menjebak dirinya, membuat Nau tersenyum simpul menyambut uluran tangannya.
Susah atau senang akan dilewati bersama. Tentu dengan gadis yang membuat semua itu terjadi, Sang kakak online yang menjebaknya. Padahal jika dipikirkan lagi, memang keadaan saja yang menjadi manipulasi emosi. Satu sisi menyadari adik sepupunya tengah melakukan sesuatu yang pasti tidak ia suka.
Akan tetapi, disisi lain ia sudah berjanji untuk membantu keluarga Ka Asma. Kini pertemuan berakhir dengan perpisahan singkat. Fay tetap tinggal bersama keluarga Rey, sedangkan Naufal kembali pulang ke penginapan Abah Rojali dan di antar supir. Siapa yang mengatur? Tak lain adalah Bagas yang memiliki kewajiban untuk memuliakan tamu.
"De, bisa kita bicara sebentar?" Bagas menahan langkah Asma yang hampir berjalan memasuki rumah, "Kamu bisa masuk dulu! Aku hanya ingin bicara dengan adikku."
__ADS_1
"Ka!" panggil Asma memperingatkan, membuat Bagas menghela nafas panjang.
Apa situasi yang memang memanas atau kedua insan di depannya itu seperti musim hujan dan kemarau? Kenapa selalu menyebarkan aura permusuhan. Padahal tidak memiliki masalah diantara satu sama lain. Heran, tapi itulah kenyataan yang ada.
Fay yang sadar diri memilih meninggalkan depan rumah dengan langkah kaki yang benar-benar malas. Jika bukan karena memikirkan masalah yang ada dan ingin membebaskan rumah tanggal sang kakak online dari bibit pelakor. Sudah pasti memberikan jawaban telak untuk pria satu itu.
Jadi cowok kok ngerasa paling bener. Belum rasain bogem mentah dari amukan diamnya seorang wanita, kali ya? Hih, gak bayangin yang jadi pasangannya. Bisa jadi perkedel mentimun yang lembek.~gumam hati Fay yang berjalan menyusuri ruangan tengah, sedangkan orang yang dibatin langsung tersedak tanpa mengunyah makanan.
Suara batuk yang cukup mengejutkan mengalihkan perhatian Asma. Ditepuknya punggung sang kakak, lalu mencoba untuk memberikan nasehat ketenangan. Harapannya cuma satu yaitu Bagas tidak lagi berlaku terlalu frontal pada Fay. Seharusnya tidak sulit 'kan?
Niat baik Asma akan menjadi sentilan peringatan, tetapi terkadang manusia harus mengalami peristiwa yang bisa menjadi tolak balik pemikiran dalam membuat kesimpulan. Tidak salah untuk berusaha karena usaha merupakan ikhtiar untuk memperbaiki keadaan serta kehidupan. Jika memungkinkan semua akan lebih baik dalam ketetapan.
Beberapa pot tanaman hias terpajang dengan pola lingkaran meningkat. Pemandangan yang benar-benar alami memberikan kesan pertama rumah idaman. Keduanya duduk bersebelahan, tetapi tidak saling pandang. Tatapan mata lurus ke depan di mana pintu gerbang menjulang tinggi penuh keangkuhan.
Maklum saja namanya gerbang orang kaya. Biasanya orang bilang seperti itu, hanya saja terkadang melupakan hal sederhana yaitu kemewahan yang terlihat menyombongkan diri adalah hasil usaha kerja keras. Inilah yang seringkali menjadi kesalahpahaman menyebut hidup orang kaya memang serba enak. Padahal tidak sesimple itu.
__ADS_1
"Asma bisa katakan dengan jujur. Benarkah kamu tahu semua kegiatan Elora?" tanya Bagas memulai perbincangan yang serius.
Gadis yang diajak bicara masih diam menyimak karena ia merasa bahwa pria disebelahnya itu masih memiliki pertanyaan lain. Tidak mungkin hanya mengajukan satu rasa penasaran yang mengusik pikiran. Sejauh dirinya mengenai Bagas maka akan ada rantai pertanyaan lain yang bisa menjelaskan titik keraguan dalam diri pria itu.
Diamnya Asma yang menyedekapkan kedua tangan, membuat Bagas mengembuskan nafas kasar. Apa harus menumpuk pertanyaan? Satu pertanyaan saja belum pasti di jawab. Akan tetapi, melihat situasi yang ada sepertinya sang adik memang ingin ia mengutarakan seluruh rasa penasaran yang terus berputar di dalam kepalanya.
"Aku tidak tahu, apakah Rey sudah membicarakan soal Mr. Axel atau belum, tapi klien satu ini memutuskan untuk segera melangsungkan pertemuan keluarga dan itu karena undangan pesta resepsi yang baru saja ku kirim untuk semua kolega bisnis." jelas Bagas mencoba mengurai masalah yang baru saja datang tanpa di minta.
Ia tak menyangka bahwa Mr. Axel begitu antusias untuk bertemu keluarganya. Apalagi mengingat situasi yang masih memanas. Selain meminta persetujuan dari Asma, tidak lagi bisa menemukan solusi yang lain. Apalagi Rey pasti hanya menurut dengan argument yang sama setiap waktu.
"Malam ini? Baiklah, kirim balasan setuju untuk Mr. Axel. Sisanya akan ku atur dan untuk masalah Elora, tidak perlu cemas, Ka." balas Asma tanpa ingin memperpanjang sesuatu yang tidak seharusnya.
Bagaimana tidak cemas? Jika memikirkan lebih jauh, kepalanya semakin terasa pusing. Namun yang dipikirkan masih dalam keadaan tenang, santai seperti di pantai. Heran saja dengan gadis satu itu. Apa memang terbiasa menghadapi masalah atau hanya sekedar berusaha tetap bertahan saja?
"De, Mr. Axel bukan pebisnis biasa. Beberapa hal harus kamu tahu tentangnya ...,"
__ADS_1
Bagas menjelaskan seperti apa Mr. Axel dari sudut pandangnya, tetapi hanya sedikit karena menyangkut integritas di dunia bisnis, bukan di dunia pribadi. Asma mendengarkan dengan seksama. Sedikit saja untuk mendeskripsikan tamu yang bisa membawa perubahan untuk bisnis suaminya.
"Satu lagi, Mr. Axel memiliki seorang putri." sambung Bagas mengakhiri kilas ceritanya.