Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 97: Bisnis is Bisnis


__ADS_3

Rasanya ingin terbang, tetapi ia tidak memiliki sayap. Kata sayang yang keluar dari bibir istrinya begitu menyejukkan. Kesempatan langka yang bisa dihitung sejak pernikahan mereka. Ia sadar, jika Asma hanya memanfaatkan kata manis itu untuk membujuknya. Tidak masalah karena wanita itu memiliki hak untuk merayu suami sendiri.



"Ya, seperti yang dikatakan Butterfly. Apa kamu mau bekerjasama dengan istriku, Fay?" Rey bertanya untuk kedua kalinya pada saudara online sang istri yang terlihat diam merenung memikirkan. "Jangan khawatir, proyek tidak setiap hari bertemu klien. Setidaknya seminggu awal harus melakukan pertemuan, setelah itu hanya ada pengecekan."



Axel mendengarkan tanpa melewati satu kata yang bisa mengurangi pemahamannya, semua jelas, tetapi harus memastikan. "Apa ini artinya proyek berlanjut seperti kesepakatan Tuan Rey?"



"Masalah suamiku adalah masalahku. Kenapa aku menolak? Lagi pula manusia dituntut untuk selalu belajar maju. Aku bisa menyetujui, tapi pertanyaannya apakah kalian siap mengajariku?" sahut Asma menetralkan suasana agar tidak kaku, rasanya malas ketika segala sesuatu harus dibahas secara formal.



Gadis itu masih memikirkan tentang wanita lain yang bisa mengancam rumah tangganya. Maka dari itu, ia memilih untuk tetap bersikap tenang dan santai. Kenyataannya waktu tidak bisa diubah, tetapi harapan bisa dirangkai. Seperti bisnis keluarga yang tiba-tiba saja menjadi bagian kehidupannya.



"Butterfly, kamu bisa bersama Nando. Sementara waktu Aku urus pekerjaan kantor sendiri, bagaimana?" Rey mengusulkan saran yang paling mudah karena Bagas tidak mungkin menolak, apalagi merasa keberatan dengan tugas baru itu.



Tentu saja, Bagas menerima dengan senang hati. Masalahnya bukan siapa yang akan ditugaskan, tetapi jika Rey sendirian di kantor. Entah berapa banyak wanita yang mencoba untuk merayu pria itu. Jujur saja, memiliki suami tampan ternyata repot dengan urusan wanita tak bermuka.



Jangan salah paham karena yang dimaksud dengan wanita tak bermuka adalah para wanita yang suka menggoda pria beristri seakan dunia kekurangan pria. Padahal di setiap tikungan bisa dipastikan akan ada pria lajang yang siap membuka hati untuk menikmati dunia bersama pasangan. Lagi pula, istri memiliki kewajiban untuk melindungi suami dari para pelakor.


__ADS_1


"Maaf, jika boleh menyela perbincangan kalian," Fay angkat bicara setelah memikirkan semuanya secara baik dan matang, "Bukannya ingin menolak atau bagaimana. Akan tetapi, Ka Asma tahu, jika kedatangan ku untuk menikmati liburan yang hanya beberapa hari dan menyetujui untuk ikut bekerjasama? Aku harus berunding dengan saudara sepupu serta keluarga."



"Kecuali ada yang membantuku meyakinkan pekerjaan ini demi masa depanku. I think," Fay menghentikan ucapannya, tetapi tatapan mata melirik meminta persetujuan sang kakak yang pasti paham dengan maksudnya. Asma mengedipkan mata untuk memberikan dukungan penuh. "Melalui kontrak kerja yang memiliki sanksi, bisa menjadi jalan terakhir."



Sebenarnya nekat sih dengan persyaratan yang ia ajukan dengan bahasa isyarat. Ia hanya sadar, jika tidak ada kontrak kerjasama. Keluarga pasti meminta dirinya pulang, bahkan menetapkan tanggal pernikahan secepat mungkin. Meski ia tahu dengan mengambil keputusan bekerja, itu berarti sudah mengibarkan bendera perang.



Nau bisa saja mencoba membujuk, tetapi tetap mendukungnya walau itu harus secara sembunyi-sembunyi. Akan tetapi Papa, Mama, Bunda dan Ayah? Kedua orang tua yang selalu mewanti dirinya untuk tetap di lingkungan keluarga. Bukan tidak mungkin menolak tanpa mau mendengarkan keinginan hatinya.



Entah kenapa, kesempatan langka seperti tawaran kerjasama dari Rey memberikan angin segar untuk kehidupannya. Selain akan menghapus perjodohan dengan si penyiar radio. Kehidupannya bisa berubah dengan harapan yang selama ini terpendam di dalam lubuk hati terdalam. Sadar akan keegoisan yang pasti melukai orang-orang terdekat.




"Begini saja, proyek dari Mr. Axel memiliki poin dari syarat dan ketentuan yang sudah aku pelajari. Seingatku pasal tiga poin pertama menyatakan ketika pihak A tidak bisa menyelesaikan tanggung jawab sebagai partner, maka harus membayar ganti rugi ke pihak B dengan nominal persentase lima belas persen dari perjanjian awal."



Rey, Mr. Axel dan Fay terdiam dengan perkataan Asma yang terkesan sudah terbiasa untuk menangani bisnis. Dari cara bicaranya yang santai, lugas dan to the point. Apakah benar gadis itu polos? Jujur saja, setiap hal baru justru mengatakan hal sebaliknya. Ada saja yang menghadirkan keraguan akan identitas gadis satu itu.



Asma sendiri mengabaikan tatapan mata yang terus terpatri menatapnya, "Jangan jadikan Fay sebagai sekretaris, tetapi biarkan saudariku berada di sisiku sebagai partner kerjasama ke-tiga. Satu kontrak yang memberatkan, tetapi menguntungkan. Sekarang keputusan ada di kalian. Apakah Mr. Axel bersedia? Lalu bagaimana denganmu Fay?"

__ADS_1



"Butterfly, apa kamu yakin dengan keputusanmu? Seorang pebisnis tahu, jika resiko kesuksesan hanyalah lima persen, sedangkan kegagalan sembilan puluh persen." Rey tak ingin Asma mengambil tindakan tanpa memikirkan konsekwensi yang bisa saja menjebak semua orang.



Asma mengambil bantal, lalu memindahkan Jovanka yang masih terlelap. Kemudian beranjak dari tempatnya. Tatapan mata tenang dengan seulas senyum terpatri menghiasi wajah, "Bisnis tetaplah bisnis. Tidak peduli itu sebuah perusahaan ataupun hanya menjadi seorang penulis sepertiku. Kepercayaan, keyakinan, usaha, ketiganya ada akan mengembangkan kemandirian."



Langkah kakinya terhenti di antara Rey, Axel dan Fay. Akan tetapi tatapan matanya hanya terpaut tenggelam menyelami ketegasan netra sang suami, "Keadaan Fay sudah terjebak. Satu sisi keluarga yang pasti langsung menolak, dan sisi lain harapan yang bisa kita arahkan. Jika Fay menolak, aku terima. Apapun keputusan yang diambil, tidak akan ada pemaksaan."



Begitu jelas tanpa ada kata puitis. Lagi dan lagi menghantarkan rasa yang tidak bisa dimengerti. Ketika berbicara puitis, kebingungan untuk menerjemahkan, sedangkan percakapan yang normal justru menambah dilema hati. Gadis itu mengamati keadaan, mencerna, kemudian mengutarakan dengan sedemikian rupa.



Kerumitan yang terkesan sederhana. Lihat saja Mr. Axel yang tercengang karena penjelasan Asma, Rey yang terdiam membalas tatapan istrinya. Sementara Fay berpikir akan melakukan apa karena serumit apapun bahasa kakaknya. Ia paham dengan cara yang selalu sama.



Jika dipikirkan lebih matang memang benar yang dikatakan sang kakak. Bekerja bisa saja, tetapi tanpa ada kontrak kerjasama yang memberikan syarat dan ketentuan? Bisa jadi orang tuanya langsung membawa dirinya pulang. Ia tahu semua seperti rute yang sama dengan hasil yang sama pula. Tidak bisa diharapkan.



Namun, menjadi partner ketiga? Apakah bisa menjalani tanggung jawab yang pasti tidak semudah mata memandang hijaunya dedaunan. Sadar benar, jika proyek yang dimaksud bukanlah sembarang kerjasama. Proyek dua perusahaan yang seharusnya melibatkan dua pemimpin, tiba-tiba ia masuk di lingkaran yang sama. Mampukah?



"Aku setuju."

__ADS_1


__ADS_2