Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 124: RESEPSI II


__ADS_3

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."


Semua orang menjawab salam serempak. Lalu mempersilahkan Asma untuk bergabung bersama mereka. Obrolan ringan semakin menghangatkan suasana tanpa ada rasa canggung, bahkan satu sama lain berusaha untuk mengakrabkan diri agar saling mengenal serta mengerti karakter masing-masing.


Baik dari keluarga Asma maupun keluarga Fay. Kedua belah pihak seperti saudara yang telah lama tidak jumpa sehingga pertemuan pertama berjalan lancar tanpa ada hambatan yang berarti. Akan tetapi hati masih memerlukan waktu untuk mendapatkan kepercayaan dari satu sama lain agar bisa semakin lebih dekat menjadi keluarga.


"Ifii, apa kamu serius ingin tinggal di Jakarta untuk bekerja?" tanya Bunda Naufal menatap keponakannya yang tampak sangat baik dan bahagia, ia merasa bahwa kesempatan langka menjadikan pribadi Ififay semakin lebih berwarna.


Fay mengangguk pasti tanpa keraguan, membuat mami nya menghela napas pelan seraya melirik ke arah Fatur. Dimana pemuda itu sedikit tercengang akan pertanyaan yang berbalas pernyataan tanpa suara. Perjodohan yang dilakukan keluarga terancam gagal bahkan sebelum dimulai. Adilkah?


"Sebelumnya saya minta maaf, tapi kalian harus tahu bahwa pekerjaan yang Fay ambil memang bukan pekerjaan sederhana. Kami akan bekerja sama sebagai partner bisnis dan lebih sering keluar rumah memeriksa di lapangan. Akan tetapi, sebaiknya kita menikmati pesta karena disini tempat untuk berbagi suka cita." jelas Asma mencoba membuat semua paham masih ada esok hari untuk diskusi pekerjaan.


Fay tersenyum tipis karena sikap Kakaknya masih saja formal dan dingin. Kapan wanita satu itu bisa santai? Selain bersamanya. Entahlah karena kepribadian tidak bisa diubah atau dipaksakan harus begini, apalagi begitu. Manusia hanya harus saling adaptasi satu sama lain.


"Ndu, kamu gak ke depan? Para tamu pasti nyariin, sana balik ke depan! Fay ajak saja putriku biar temenin suaminya yang bisa saja digasak orang." ujar Ibu Zulaikha, membuat Asma tersenyum, sedangkan yang lain tertawa pelan bersama.


Dikecupnya kedua pipi sang ibu sebagai bentuk cinta darinya, "Mas Rey bukan kartu ATM, Bu. Gak bisa digasak, tapi bisanya di cubit. Fay, ke depan yuk! Bantu aku urus Jovanka."


"Kuy, kayaknya belum dateng deh." Fay beranjak dari tempat duduk, begitu juga dengan Asma.


Kedua gadis itu serempak meninggalkan ruangan keluarga, lalu berjalan memasuki ruang pesta resepsi yang sesungguhnya. Dimana para tamu masih antusias bercengkrama, bahkan terlihat banyak yang mencoba menu lengkap di sisi barat daya. Semua baik dan tidak ada yang aneh.


Asma mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang suami yang entah ada dimana, membuat Fay yang berdiri di sebelahnya tersenyum penuh arti. Senggolan tangan menggoda mengalihkan perhatian sang kakak padanya.

__ADS_1


"Cari siapa, Ka? Mau ku bantu gak?" tawar Fay tak kuasa menahan diri untuk tidak menggoda Asma di hari istimewa kakaknya itu.


Asma mencoba menyeimbangkan sikap jahil Fay yang mulai ketularan Bagas, "Bantu aku cari calon pendampingmu. Bisa?"


Bagaimana bisa kakaknya memikirkan jodoh untuk dia? Sedangkan di ruang keluarga masih ada Fatur yang jelas-jelas sudah dijodohkan untuk masa depannya. Apa sang kakak amnesia? Tentu saja tidak. Wanita itu tahu benar langkah yang harus diambil untuk mempermudah jalan masa depan.


"Fay, mau sampai kapan kamu menekan perasaanmu? Fatur tampan, maybe juga sudah mapan, tapi hati tidak bisa dipaksakan. Apakah benar hubungan tak sehat diantara kalian berdua bisa diteruskan?" ujar Asma meluruskan keputusan karena sadar perjodohan itu akan berujung penyesalan di kemudian hari.


Bukan bermaksud menjadi paranormal, hanya saja ia terlalu menyayangkan setiap kali melihat Fay menahan emosi. Beberapa kali ia memergoki adiknya itu sibuk melamun setelah berbincang dengan Fatur melalui telepon. Meski tidak menegur dalam sekali waktu. Tetap saja ia tak rela melihat kepasrahan di tengah perjuangan kehidupan.


Fay mengalihkan perhatiannya menatap lalu lalang para tamu undangan yang memenuhi ruangan. "Kakak tahu bahwa semua ini tidak mudah. Berhubungan itu bisa saja dengan siapapun, tapi untuk mencintai? You know who I am, Ka."


"Hmm, not answer, Fay." balas Asma enggan memperdebatkan hal yang bisa mengubah mood.


Perbincangan kedua wanita itu terhenti karena kedatangan sekretaris Bagas yang baru saja datang dan langsung mencari keberadaan mereka berdua. "Hey, apa kabar kalian? Tunggu dulu, apa harus formal atau normal?"


"Jen! Ini pesta, bukan kantor." tegas Asma tanpa penekanan, membuat wanita cantik di depannya mengangkat tangan seraya menunjukkan kode damai ala dua jari.


"Aku laper, cari makan yuk! Daripada bahas yang gak jelas," celetuk Fay yang langsung menggerakkan tubuh berjalan menuju tempat makanan, sontak saja Asma dan Jen sang sekretaris yang insaf mengikuti langkah kaki wanita satu itu.


Pesta resepsi orang Indonesia yang menyajikan berbagai jenis masakan Indonesia. Diantaranya nasi rawon, soto, bakso, rendang, gulai, dan menu berat lain yang juga ditemani berbagai jenis sambel seperti sambal tomat, sambal matah, sambal ijo, sambal roa, sambal kecap, sambal bajak.


Belum lagi dessert seperti putu ayu, es krim, puding mangga, kue lapis legit, bika Ambon, kue cubit, klepo yang memang menjadi pemanis dan bisa menghilangkan sensasi pedas panas akibat makanan berat tradisional. Menu list andalan orang Indonesia yang sengaja dijadikan sebagai sarana perkenalan warisan kuliner.

__ADS_1


Fay memilih soto, rawon dan juga bakso yang dilengkapi semua jenis sambel. Sepertinya anak satu itu lagi mode ngamuk, perut sudah pasti memberontak tapi pesanannya di luar dugaan. Meski begitu tetap tidak bisa melarang karena pesta hanya sekali diselenggarakan. Mau, tak mau mereka duduk menunggu makanan diantar ke meja yang kini menjadi penghalang satu sama lain.


"Jen, kudengar kamu mau married. Apa itu benar?" Asma bertanya bukan bermaksud basa-basi karena saat ini memang sudah tidak ada masalah diantara mereka berdua.


Jenny menganggukkan kepala, lalu menunjukkan foto seorang pria yang ternyata bekerja sebagai abdi negara. Tampan dan gagah mengenakan seragam hijau doreng, "Setelah menikah aku akan resign karena harus ikut suami pindah kota. Jadi jangan lupa datang ke pernikahan kami, undangan masih proses otw, ya."


"Kalian udah nikah. Kapan giliran gue? Cape kesindir mulu, apalagi punya kakak satu hobbynya mau godain aku trus." ketus Fay hanya sekedar canda yang cukup untuk menghilangkan ketegangan suasana di sekitar mereka.


Tanpa Fay sadari bahwa candaannya terdengar jelas ditelinga seseorang. Ia yang berniat lain, tetapi terhenti karena harapan yang tiba-tiba menelusup mempengaruhi isi pikirannya. Entah kenapa hati merasa inilah waktu yang tepat untuk memenuhi janji yang telah ia buat. Apakah semua akan berjalan sesuai rencana?


Lirikan matanya kesana kemari melihat situasi sekitar. Aman terkendali bahkan hal tak terduga lainnya juga bersambut tanpa ada kode darinya. Apakah alam juga merestui harapan dari hati yang dipenuhi kasih sayang? Semua yang tersaji menyadarkan ia untuk segera bertindak, dimana langkah kakinya berjalan mendekati tempat ketiga wanita di depan sana duduk bercengkrama.


"Fay! Menikahlah denganku." ucapnya lantang mengalihkan perhatian semua orang, tetapi Fay tertegun membeku duduk di tempatnya.


.


.




__ADS_1


__ADS_2