
Ancaman sang istri terdengar begitu manis, tetapi tidak mungkin untuk melukai wanitanya. Satu sentuhan yang menghantarkan penolakan, justru membawa Rey pada sisi lain seorang Asma. Tidak ada tatapan intimidasi karena yang terpancar hanya kelembutan dengan sorot kasih sayang.
"Bagaimana caramu mengubah pandangan dalam waktu sekejap? Tadi mengabaikan, lalu memperhatikan, kemudian ....,"
"Apa yang kalian lakukan? Disini masih ada yang jomblo. Kalau mau romantis, pindah kamar sana!" celetuk Bagas yang sudah bersandar di pintu kaca dengan lirikan mata ke arah Rey dan Asma yang saling berpelukan di pinggir kolam.
Dilepaskannya tangan dari pinggang sang istri hingga memberikan kelegaan untuk gadis itu. Ia melakukan itu bukan karena merasa tersindir atau tak enak hati dengan Bagas. Justru ia ingin, sang sahabat segera mendapatkan pasangannya sendiri. Pasti seru jika berlibur bersama suatu hari nanti.
Tak ingin terlibat dalam perdebatan antar pria. Asma memilih melipir pergi meninggalkan tempat itu. Lagi pula, percakapan pria terkadang hanya sibuk tentang bisnis. Jika tidak, masih ada pembahasan lain yang tidak ia pahami. Maka dari itu, menjauh lebih baik.
Kepergian Asma, membuat Rey dan Bagas duduk bersama di kursi panjang yang biasa digunakan untuk bersantai setelah pulang bekerja. Sudah lama tidak melakukan obrolan ringan yang bisa mengurai perbedaan. Apalagi akhir-akhir ini keduanya sibuk dengan tanggung jawab masing-masing.
"Bagaimana rapat tadi pagi? Semua lancar atau ada keluhan baru lagi?" Bagas memulai perbincangan dengan pertanyaan seputar pekerjaan, sedangkan yang ditanya menatap ke depan dimana kolam renang berada dengan air yang tenang.
"Lancar. Cuma masalah proyek saja masih belum deal. Mr. Axel bersikeras untuk melakukan kunjungan rumah sebagai tanda kesepakatan. Jadi selama keinginannya belum terpenuhi. You know, proyek mall terbaru hanya sebatas angan." jelas Rey bersama helaan nafas panjang.
Bukan masalah waktu yang sudah ia nanti, tapi proyek mall tersebut bisa menjadi terobosan terbaru untuk perusahaannya. Akan tetapi, partner yang mau bekerjasama justru memiliki beberapa syarat yang menurutnya tidak perlu disatukan dengan bisnis. Antara keluarga dan pekerjaan adalah dua hal berbeda.
Mr. Axel adalah seorang pria yang memiliki status duda anak satu. Jangan tanya soal tampan atau tidak. Pria itu masih muda dengan beda usia satu tahun dari Rey, sedangkan putri tunggalnya saja baru berusia enam tahun setengah. Prinsip dari pria tersebut adalah keluarga segalanya.
__ADS_1
Termasuk memberi syarat utama kunjungan rumah. Hal itu dimaksudkan untuk mengenal satu sama lain karena sebagai seorang ayah akan memastikan lingkungan anaknya bisa terjamin. Jika partner memiliki keluarga yang baik, maka untuk membawa putri tunggalnya ke rapat atau acara lain. Tentu tidak akan jadi masalah.
Bagas tahu benar situasi yang dihadapi Rey. Apalagi penolakan saudaranya itu bukan karena tidak ingin, tetapi rumah mereka tidak memiliki orang tua yang bisa menjadi penyambut tamu. Kehidupan terlalu mandiri bahkan kesibukan menyita waktu hingga melupakan cara hidup manusia normal.
Maka, bisa jadi setelah kunjungan rumah. Mr. Axel langsung menolak kerjasama. Jika itu terjadi akan berimbas tidak baik. Tidak mengalami penurunan saham, tetapi beberapa proyek bisa jadi memiliki kendala. Bagaimanapun, Mr. Axel bukanlah orang yang gegabah dan sembarangan.
Pernyataan Rey, membuat Bagas manggut-manggut. "Kenapa tidak coba bicarakan hal ini dengan Asma? Siapa tahu menemukan solusi yang tepat. Bagaimana Rey?"
"Akan ku coba. Bagaimana dengan perasaanmu? Apa masih aman?" Rey menoleh menatap Bagas dengan intens, sang sahabat yang selalu santai. Nyatanya harus berhadapan dengan gadis pendiam seperti Fay.
Sebenarnya ia tak ingin ikut campur, tetapi melihat hasil rekaman. Akhirnya ia harus ikut menasehati. Bagas memang lebih cepat menemukan teman atau cara mencairkan suasana. Terkadang bisa dikatakan bahwa pria itu humble. Hanya terkadang saja, ya.
"Aku pasti minta maaf, tapi bukan sekarang. Lupain tuh, aku punya sebuah kejutan untuk Asma. Mau bantu aku?" tanya Bagas dengan jawaban menghindar, membuat Rey menghela nafas pelan karena ia tak bisa memaksakan kehendaknya.
Kejutan? Seketika teralihkan pada kotak kado yang tergeletak di atas meja. Pikirannya memang tercampur banyak hal hingga beberapa kali melupakan hal yang tidak seharusnya dilupakan. Bagaimana lagi? Nyatanya perasaan tak bisa dibohongi.
Bagas menepuk lengan Rey yang justru melamun, entah apa yang mengusik pikiran pria satu itu. "Ada apa, Bro? Mau curhat atau ku tanya Asma saja?"
"Jangan menambah beban hatinya, Nando." Rey menggeser posisi duduknya hingga berhadapan dengan saudaranya yang ikut bergeser menatap ke arahnya. "Aku masih khawatir soal Asma karena Elora. Istriku tidak terlihat seperti yang dia perlihatkan. Entah kenapa aku mulai cemas."
__ADS_1
Jika bisa jujur, aku pasti berkata istrimu berbeda. Sayangnya, lebih baik diam. Aku sayang kalian dan akan mencoba untuk tetap menjadi penengah di antara kalian. Seperti apapun Asma, aku percaya dia dewasa untuk menyikapi semua masalah.~batin Bagas membalas keluhan Rey yang hanya ia simpan seorang diri.
Bagas beranjak dari tempat duduknya, lalu menepuk pundak Rey, "Disini ada kita bukan? Tidak akan terjadi apapun pada Asma. By the way, keluarganya ada di Jakarta. Itu yang mau ku katakan. Niatku untuk surprise di hari resepsi, tapi melihat situasi. Sebaiknya kita pertemukan besok pagi saja, bagaimana?"
Kabar baik yang diberikan Bagas, tiba-tiba memberikan secercah ketenangan. Sebanyak apapun masalah, ia tahu istrinya akan bahagia bersama keluarga. Terutama bertemu sang ibu yang selalu menjadi nomor satu. Pria itu tidak menyadari akan satu hal. Dimana baik Asma atau ibunya lebih lengkap untuk mencari solusi masalah yang ada.
Pertemuan yang diharapkan menjadi pengalihan. Sewaktu-waktu bisa berubah menjadi hal lain yang tidak terbayangkan. Namun, biarlah pertemuan terjadi sebagaimana alur kehidupan. Satu kata persetujuan dari Rey, membuat Bagas menghela nafas lega. Ia berpikir, semua masalah akan berakhir.
Asma tidak akan mencoba mencari tahu siapa Elora atau berusaha untuk mendekati masalah yang bisa menambah masalah baru. Semua akan berjalan seperti keinginan kedua pria itu. Namun, takdir tak seorangpun tahu. Hujan, panas, badai, atau ketenangan? Semua terjadi seperti garis kehidupan.
"Nando, bagaimana tentang Pedro? Apa dia sudah memberikan informasi terbaru?" tanya Rey setelah mendapatkan solusi dari masalah pertama, lalu beralih ke lainnya.
Jika tidak diingatkan. Pasti ikut lupa, sebenarnya bukan lupa, tetapi teralihkan dengan masalah baru. Jika sebuah masalah hanya mendapatkan satu solusi, tapi masih meninggalkan masalah lama tanpa melakukan pembersihan. Maka, suatu saat nanti akan menjadi masalah yang lebih rumit lagi.
"Pedro sudah ke tempat seharusnya. Seperti biasa, dia akan mengabari setelah mendapatkan informasi. Lagipula, bisa jadi Elora membatalkan pertemuan setelah mendapat undangan virtual dariku." jelas Bagas mengakui satu tindakannya yang membuat Rey terlonjak kaget.
Bagaimana bisa, sahabatnya melakukan itu? Pantas saja nampak aura permusuhan lebih besar dari tatapan Elora. Padahal ia ingin mengamankan Asma dari semua orang yang memiliki kemungkinan mencari ketidakberdayaan sang istri. Sebagai seorang pebisnis, ia tahu bahwa identitas keluarga harus di jaga. Apalagi memiliki istri bukan dari kalangan yang sama.
"Nando, kamu tahu 'kan resikonya dengan memberitahu Elora tentang acara resepsi ku? Baiklah, kirim semua undangan ke rekan bisnis saat ini juga!" Rey memberikan ultimatum tanpa mengenal kata nanti, lalu beranjak dari tempat duduknya, tak lupa mengambil kado untuk Asma. "Jangan sampai ada yang terlewat semua kolega."
__ADS_1