Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 102: Cafe Hause Rooftop JakSel


__ADS_3

Cafe Hause Rooftop. Salah satu cafe kekinian yang berada di wilayah Jakarta Selatan. Seperti namanya yang mengusung kata rooftop, maka jelas cafe ada di bagian atas sebuah bangun. Lebih mudahnya, kita sebut sebagai teras dan tidak jauh berbeda dengan balkon.



Walau begitu, kegunaannya saja yang sedikit berbeda. Kenapa menjelaskan tentang sebuah cafe? Semua itu karena pengaturan yang dilakukan Bagas. Dimana pria satu itu sengaja memesankan meja agar setelah melakukan perawatan bisa menikmati hidangan makanan siang.


Terkesan berlebihan, tetapi jika tidak mengiyakan. Maka jangan harap melewati gerbang rumah. Sebagai gantinya, Asma langsung memesan menu makanan sesuai seleranya. Alhasil sebelum keberangkatan ada drama kakak dan adik yang cukup menghangatkan hati.


Bukan karena jatuh cinta. Justru saling kesal, bahkan lebih menggemaskan dari mencubit pipi bayi mungil. Rey saja hanya bisa menggelengkan kepala akan tingkah istri dan saudaranya yang sama-sama tidak mau mengalah. Persis tom and jerry berebut keju.


"Ka, bisa gak tanpa Nau? Gak enak rasanya, noh dipelototin terus," sindir Fay memutar bola mata malas, sedangkan Nau hanya masa bodo dengan sindiran darinya. "Cari cewek saja! Di banding kurang kerjaan lihatin gue."


"Ekhem! Gak usah berantem, nanti dikira pacaran. Hmm lagi 'kan." Asma ikut menyindir Fay, membuat gadis dengan setelah casual serba hitam mencebik.


Sementara Nau mengerjap tak paham dengan maksud dari Kakak onlinenya, "Ka Asma bahas apa sih? Gue gak ngeh, apa terjadi sesuatu selama ...,"


Tanpa banyak kata, Fay menutup mulut Nau dengan sepotong kue pandan yang berwarna hijau menyegarkan. ''Jangan mulai kepo. Ka Asma cuma asal ngomong, lagian kita saudara. Kunyah dulu tuh kue!"

__ADS_1


Kebersamaan yang terasa lebih baik. Obrolan basa-basi mengenai dunia online sedikit memberikan pelajaran hingga pesanan mereka datang. Masakan khas Indonesia yang selalu menjadi makanan favorit. Mau heran, tapi yah begitu adanya. Bayangin saja, di cafe penyedia aneka jenis kue justru yang dipesan berbeda.


Mie ayam, bakso, blum jajanan lain seperti batagor, siomay, martabak. Pihak cafe saja harus memutar haluan hanya untuk melayani pelanggan khusus yang dititipkan. Kesannya seperti anak buangan ya. Semua itu ulah Bagas, tetapi biarlah. Toh makanan sesuai selera.


"Gokil banget sih, Ka. Cafe keren gini berakhir jadi tempat makan siang menu jalanan. Boleh lah buat usaha kek gini, kira-kira laku gak, ya?" ujar Nau tidak habis pikir dengan niat kakaknya yang bisa membuat lawan bicara darting.


Mie ayam dengan topping melimpah, berbalut sayuran caisim hijau yang layu karena dimasak. Mie lembut dengan ukuran kecil yang semakin memadati mangkuk, ditambah taburan acar timun dengan aromanya yang khas. Mie ayam komplit yang menggugah selera. Begitu juga dengan bakso urat setengah mercon yang berbentuk simbol cinta dengan kuah merona.


"Kenapa tidak, De. Proyek Legend Mall berjalan selama enam bulan. Dede bisa pesan salah satu gerai di pusat perbelanjaan dan memulai usaha. Bukan begitu Fay?" Asma mengalihkan perhatiannya ke arah lain disaat bertanya pada Fay.


Dimana dari arah pintu masuk rombongan tiga wanita dengan penampilan glamour memasuki rooftop. Tanpa banyak kata, Asma mengambil ponselnya lalu mengirim sebuah pesan yang tak lain adalah Fay. Gadis yang sibuk scrolling sang idol menghentikan kegiatannya, lalu membuka pesan.


Saling memberikan kode, tetapi semua itu tertangkap basah Nau. Pemuda itu makin heran dengan tingkah kedua wanita yang ada di dekatnya. Firasat mengatakan akan terjadi sesuatu yang menggemparkan. Jujur saja hati merasa was-was, takut ada yang berbuat nekad. Walau begitu masih memilih diam seraya mengamati situasi yang ada.


Ketiganya mengambil mangkuk makanan masing-masing sesuai selera. Asma memilih mie ayam special ala cafe yang katanya dibuat dari bahan berkualitas. Suapan pertama dengan rasa nikmat cita rasa yang berbeda. Bumbu yang dicampur bubuk jamur, udang begitu mengecap di lidah. Sepertinya koki sengaja memasak dengan cara berbeda untuk menciptakan resep baru.


Yah mungkin saja karena mie ayam tersebut beda dari yang lain, sedangkan Fay memilih menikmati bakso urat setengah mercon, tetapi sambal di dalam bakso ia singkirkan dengan menuangkan kuah menggunakan sendok. Sementara Nau ikut makan bakso tanpa peduli dengan sambal yang melimpah. Rasa pedas begitu nendang mengembalikan mood dan menghapus rasa penasaran.

__ADS_1


Makan siang yang nikmat, sayangnya hanya Nau yang menikmati makanan kali ini. Asma dan Fay sibuk dengan hal lain, suapan demi suapan seperti tidak ada yang masuk ke dalam perut. Tetap saja terasa lapar, aneh sih. Akan tetapi seperti itu adanya.


Selama dua puluh menit penuh ketenangan, hingga Fay sengaja berpindah tempat. Gadis itu menyibukkan diri mengikat rambut panjangnya menjadi satu bagian. "Ka, seharusnya kita ajak pasangan trus nge-date bareng disini. Ide bagus gak tuh?"


Asma tahu Fay hanya berusaha memancing perhatian seseorang, tentu saja ia mengikuti alur drama sebagaimana mestinya. ''Why not, ajak saja Mas Rey. Dinner romantis atau sekedar enjoy party satu keluarga. Pasti menyenangkan."


Suara yang terdengar cukup jelas, bahkan terkesan sengaja dikeraskan. Bukan hanya satu orang yang mengalihkan perhatian, tetapi beberapa pelanggan yang sibuk menikmati sajian makan siang. Biarlah menjadi tontonan dadakan karena tujuan lebih utama.


"Akan ku pikirkan, Kakak tahu jika ...," belum usai mengatakan isi pikirannya, tiba-tiba Nau tersedak karena kepedasan. Sontak saja mengambilkan segelas jus yang langsung diminum hingga tandas. "Jaketmu basah kuah bakso itu, buruan bersihin deh, Nau."


Tatapan tak suka sang kakak sepupu, membuat Nau pasrah. Entah kenapa aura berbeda keluar dari gadis itu, "Gue ke toilet dulu, tapi kalian gak usah buat ulah."


Kepergian Nau semakin memperjelas posisi Fay dan Asma yang duduk berhadapan dengan meja lain. Dimana tiga wanita masih menatap ke arah mereka. Terutama si cantik Elora yang menahan diri agar tetap stay cool di depan kedua temannya. Hal itu, membuat semua rencana lebih mudah.


"Bagaimana dengan acara resepsi nanti ya? Apa pesta bisa semeriah tahun baru? Aku penasaran, tapi persiapan masih diperlukan." Asma masih sibuk menikmati makanan, bahkan sesekali menusuk potongan batagor yang tertutupi lumeran saus kacang.


Fay tersenyum karena tingkah kakaknya benar-benar masa bodo meski makan cukup banyak, sedangkan dirinya saja baru menghabiskan setengah bagian bakso. Makan siang yang meninggalkan kejaiman, mungkin saja jika ada Rey atau Bagas suasana yang tersedia berbeda lagi. Bisa jadi kebekuan waktu.

__ADS_1


"Aku lebih penasaran dengan paket liburan untuk honeymoon. Enaknya kemana? Swiss, London atau Belanda? Semoga saja bisa keliling dunia." sahut Fay tanpa beban pikiran, apalagi beban hati mengutarakan tujuan yang dibutuhkan pasangan suami istri baru.


__ADS_2