
Bukannya tidak ingin menikah, tapi apa dengan buru-buru dan membuat beberapa pelamar terkesan kebelet. Mental siap menerima ikatan yang dipaksakan? Tentu tidak. Hubungan akan selalu tentang proses pendekatan dan pemahaman.
Ketika keluarga mencemaskan anak-anak mereka. Itu sangat wajar. Ketika mereka melakukan yang terbaik demi masa depan anak-anak. Itu bukan tradisi, tetapi bentuk cinta kasih. Akan tetapi, bergegas menemukan pasangan hidup untuk anak mereka hanya karena takut pada masa lalu?
Hal itu harus diluruskan. Menghindari masalah bisa saja, tapi masalah itu sendiri akan tetap ada di sekeliling kita. Seperti apa yang dilakukan oleh orang tua satu ini. Dimana mencarikan jodoh hanya untuk membuat putri tunggal mereka terbebas dari mantan.
Kepergian sang putri dengan wajah lesu, dan lelah pikiran. Meninggalkan Papa Raharja dan Mama Shinta yang saling pandang menghela nafas panjang. Seperti dugaan mereka berdua. Aurelia akan bereaksi sebagaimana praduga mereka. Andai ada cara lain. Tentu tidak akan mencari lamaran dari pria manapun.
Ditengah rasa kecewa, tiba-tiba Nau datang membawa paper bag dengan wajah riangnya. "Malam, Pa, Ma. Ifii dimana?"
"Di kamarnya. Nau, bisa duduk sebentar? Papa mau bicara serius." Jawab Papa Raharja ketika sebuah ide melintas masuk ke dalam kepalanya.
Mama Shinta terdiam, ia merasa suaminya memiliki solusi untuk masalah putri mereka, sedangkan Nau yang melihat keseriusan orang tua keduanya. Tanpa menjawab, tapi langsung menurut dan mengurungkan niat awalnya terlebih dahulu. Langkah kaki berjalan empat langkah, lalu duduk di sofa terdekat seraya meletakkan paper bag ke atas meja.
"Papa bisa jelaskan masalahnya. Nau akan mendengarkan dan berusaha membantu, jika memungkinkan." Ucap Nau tanpa ragu membalas tatapan mata papa dan mama keduanya.
Semua nampak serius tanpa ada waktu untuk bercanda. Papa Raharja mulai menceritakan duduk permasalahan, membuat Nau diam menyimak. Obrolan sesekali di sambung oleh Mama Shinta yang ingin mencurahkan rasa khawatir dan sayangnya. Sejenak mereka mencoba untuk saling mengerti satu sama lain.
Tiga puluh menit kemudian. Sesi diskusi berakhir dengan ketegangan yang mereda. Seakan sedikit beban di pundak orang tua terangkat. Nau mengambil kembali paper bag, lalu beranjak dari tempat duduknya. "Papa dan Mama jangan khawatir. Aku akan jaga dan pastikan saudariku mendapatkan yang terbaik. Nau izin ke dalam dulu."
"Makasih ya, Nau. Kami titip Aurelia selama kalian di Jakarta." Balas Mama Shinta seraya menyandarkan kepala ke bahu suaminya.
__ADS_1
Saudara adalah tempat untuk saling mengasihi, melindungi dan memberikan support. Namun, tidak semua keluarga diberkahi dengan saudara yang akan menjadi sandaran untuk berbagi keluh kesah. Beberapa hubungan, justru berubah menjadi batu sandungan. Ketika mata hati sudah mati rasa.
Di dunia yang luas, tetapi tak selebar daun kelor. Itu peribahasa. Nyatanya banyak dendam dan rasa iri di antara sesama saudara. Ada pula yang hanya menjadi sumber manfaat alias dimanfaatkan oleh keluarga sendiri. Maka, beruntunglah keluarga yang mengutamakan kebahagiaan sederhana.
Ibaratkan, ketika hanya ada sebuah roti untuk lima kepala dalam satu keluarga. Mereka akan berbagi. Orang tua bahkan tidak tega melihat anak mereka kelaparan. Begitu juga dengan sesama saudara yang akan belajar dari orang tua mereka bagaimana mengasihi keluarga.
Akhirnya sampai juga di depan pintu kamar dengan stiker bertuliskan bahasa Korea. Entah apa artinya yang jelas wajib mengetuk pintu karena kamar itu milik seorang gadis. Apapun nama dari hubungan mereka berdua. Menghormati privasi adalah hal utama yang akan selalu diterapkan menjadi prinsip kehidupan.
"Ifiiii," Panggil Nau dengan ketukan pintu pelan, "Apa udah tidur, ya? Padahal baru jam sepuluh."
Gadis satu itu, terbiasa begadang. Mana mungkin tidur awal. Niat hati ingin mengetuk pintu lagi, tetapi keburu di buka oleh si pemilik kamar yang tidak mau menunjukkan wajahnya. Apalagi keadaan kamar tidak begitu terang. Selain sorot lampu yang pasti dari lampu belajar.
"Nau!" Ifii memperingatkan agar lampu kembali dimatikan, tetapi Nau tidak mau mendengarkan.
Pemuda itu, meletakkan paper bag ke atas meja yang ada di dalam kamar sang kakak sepupu. Lalu, berjalan menuju lemari kayu dengan tiga pintu yang berdiri tegak tak tergoyahkan. "Ifii, loe simpen koper dimana? Gue butuh, boleh pinjam?"
"Lemari ujung kiri mu, bagian bawah." Jawab Fay masih enggan untuk berbicara terlalu banyak.
Gadis itu memilih untuk kembali memainkan ponsel yang isinya begitu membosankan. Sejak masuk ke kamar, tidak ada satupun konten yang bisa menghiburnya. Terasa hambar seperti tidak ada hal baru saja. Akan tetapi, begitu lirikan mata melihat apa yang dilakukan Nau. Sontak ia beranjak dari tempatnya, meninggalkan ponsel di atas ranjang.
"Nau, ngapain keluarin pakaianku?" tanya Fay tak habis pikir, Nau sibuk memilih pakaiannya entah untuk apa.
__ADS_1
Hanya saja, sikap tak biasa pemuda itu, membuatnya khawatir. Masa sih, Mama atau Papa mengusirnya hanya karena kesal? Bagaimana tidak berpikir negatif, jika tiba-tiba saja Nau mengemas beberapa pakaian tanpa bertanya terlebih dahulu.
Ditahannya tangan sibuk yang masih memilah pakaian, "Naufal Bramantyo!" Tatapan mata saling beradu, tetapi seulas senyum yang menghias wajah Nau. Justru semakin membuat tidak paham dengan keadaan yang ada di antara keduanya.
"Ifii, Loe bakal ikut gue ke Jakarta. Gue udah dapet izin dari Mama dan Papa. Jadi, gue inisiatif buat kemasin pakaian ....,"
Mendapatkan izin ke luar kota? Apakah tidak salah dengar. Padahal dengan jelas, pagi saat sarapan niatnya ditentang dengan alasan anak gadis lebih baik di rumah. Jika di luar, siapa yang akan jaga? Meski sudah menjelaskan akan ada sang adik sepupu. Tetap saja ditolak tanpa mau mendengarkan penjelasan.
Akan tetapi, belum genap dua puluh empat jam. Bagaimana bisa kedua orang tuanya setuju? Apa ada yang tidak ia tahu? Entahlah, sekarang berita itu menjadi kabar baik. Hanya saja, kenapa Nau tidak langsung bilang saja? Dia kan bisa berkemas sendiri.
"Ifiii?" Nau menggoyang lengan kakak sepupunya yang sibuk melamun entah kemana. "Siapa nih yang mau nerusin berkemas?"
"Aku aja," Fay menggeser posisi koper, lalu mengeluarkan semua pakaian yang sudah dimasukkan oleh Nau. "Nau, apa kamu tidak bercanda?"
Tidak ada jawaban. Namun, Nau menunjukkan ponselnya. Dimana berkas dari perjalanan atas nama Ififay Aurelia Raharja sudah lengkap dengan tanda tangan orang tua. Meskipun usia bisa memutuskan apa yang akan dilakukannya. Tetap saja, izin orang tua adalah nomor satu. Langkah kaki yang menjauh harus mendapatkan ridho orang tua.
"Setelah lama, akhirnya bisa jalan-jalan. Jadi, siapa saja yang ikut?" tanya Fay sembari mengatur pakaian yang pantas untuk dikenakannya selama liburan.
Nau menyebutkan nama beberapa teman yang akan satu mobil, tapi berhubung ada seorang gadis. Maka perubahan akan dilakukan. Tentu agar kakak sepupunya tidak merasa sendiri. Meskipun harus mengkonfirmasi perubahan pada beberapa temannya yang lain. Apapun akan di lakukan agar bisa memenuhi janji pada orang tua keduanya.
Kebahagiaan keluarga adalah yang paling utama. Tidak masalah, jika dirinya baru putus. Sang kakak sepupu tidak harus merasakan patah hati sepertinya. "Ifii, besok kita berangkat siang. Jadi istirahat ok, gue pamit dulu. Assalamu'alaikum,"
__ADS_1