Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 56: Keraguan Bagas Atas Pilihannya


__ADS_3

Hampir saja tersedak akibat pertanyaan yang tidak masuk akal dari sahabatnya itu. Kenapa sampai berpikir bahwa Asma petugas satpol PP? Apa karena tindakan gadis itu yang sibuk mengatur para pelayan? Jika iya, sungguh tidak habis pikir.



Siapapun bisa mengatur, jika mereka memiliki keberanian untuk memulai perubahan. Pada dasarnya, semua manusia memiliki jiwa sebagai pemimpin. Hanya saja yang membedakan adalah mau bertindak atau hanya pasrah menjadi yang diperintah. Bukan lagi tentang kekuasaan yang menjadi kepemilikan.



Kembali pada Asma. Dimana gadis itu menghitung jumlah pelayan yang memiliki usia berbeda. "Pak Yanto, bisa jelaskan padaku. Pekerjaan setiap pelayan dimulai dari ujung belakang. Nama dan tugasnya selama ini! Tanpa terkecuali."



Pria yang memiliki tanggung jawab sebagai satpam senior mengangguk paham, "Nuri, pekerjaannya membantu Pak Dimas membersihkan area luar dari kolam renang, taman, halaman depan, termasuk merawat tanaman. Depannya Melati, pekerjaan membantu Bi Nunu membersihkan area dalam kecuali tiga kamar utama karena itu tugas Bi Jia. Depannya lagi, Suketi dengan pekerjaan dapur membantu Bi Jia menyiapkan menu makanan."



"Suketi juga yang bertugas mencuci semua pakaian. Lalu, Pak Sohail, pekerjaan satpam yang biasa menemaniku untuk bertugas di depan. Semua sudah menjadi rutinitas selama beberapa tahun terakhir kecuali Suketi dan Melati karena kedua gadis itu baru datang dan bergabung menjadi pelayan di rumah ini, Nona."



Pak Yanto bukan hanya menjelaskan secara singkat, jelas dan padat. Akan tetapi cukup membuat Asma tersenyum hangat menyambut semua pernyataan yang terbuka seperti lembaran buku. Sesaat memikirkan, siapa dan pekerjaan apa yang bisa dilakukan. Tentu Bi Jia, Bi Nunu yang merupakan wanita usia di atas tiga puluh tahun akan mendapatkan penawaran spesial.



"Apakah Bu Nunu bisa memasak?" Asma menatap wanita yang memiliki netra hitam pekat dengan tinggi badan yang wow, sepintas mengingatkan pada mantan lurah di desanya.



Bi Nunu mengangguk pelan. Sepertinya wanita itu cemas dan berpikir mungkin dia akan dipecat. Wajar saja, untuk pertama kalinya semua pelayan di kumpulkan. Apalagi, tadi pagi secara tak sengaja. Ia menyenggol sebuah guci hingga jatuh dan terpecah belah.



"Apa kalian ketakutan? Baiklah, akan ku perjelas." Tak tega dengan lelehan keringat dingin yang membanjiri wajah Bi Nunu, dan ketegangan pelayan lain. "Aku tidak berniat untuk memecat satu di antara kalian. Pagi ini, kalian semua akan mendapatkan tugas baru. Jadi, tenanglah."


__ADS_1


"Butterfly, sepertinya mereka harus duduk." Ucap Rey memberikan saran yang cemerlang.



Kenapa tidak dari awal saja? Kasihan juga melihat penderitaan orang lain. "Seperti yang Mas katakan. Silahkan duduk, bukan di lantai, tapi di kursi meja makan."



Jika tidak mengatakan dengan jelas. Pasti para pelayan akan duduk di lantai seperti tengah menunggu hukuman dibacakan. Mendengar perintah yang pasti. Para pelayan berjalan menghampiri meja makan dengan rasa sungkan, tetapi mereka merasa lebih baik menurut daripada terkena masalah.



Kini, Rey dan Bagas memilih berdiri di belakang Asma. Menyimak dan membiarkan apa yang akan terjadi. Diskusi dimulai, beberapa pertanyaan terlepas mendapatkan jawaban pasti. Satu persatu bisa memberikan keluhan dan akan mendapatkan solusi. Tidak ada yang dibedakan. Mereka semua mendapatkan hak yang sama.



Empat puluh lima menit kemudian. Tugas para pelayan sudah berganti. Tidak ada yang mengeluh karena mereka sadar. Bagian dari pekerjaan masing-masing sudah disesuaikan dengan kemampuan. Kini pengaturan rumah akan lebih baik dan bisa mendapatkan pelayanan yang maksimal.



"Terima kasih atas pengertian dan waktu kalian. Jika kalian memiliki keluhan, datang dan katakan padaku atau bisa temui suamiku dan bisa ke Ka Bagas. Jangan sungkan untuk meminta bantuan. Disini kalian bekerja, tetapi bagiku kalian keluarga baruku. Sebagai seorang anak untuk para orang tua, dan sebagai teman untuk kita yang seumuran. Pergilah, kalian bisa melanjutkan pekerjaan. Selamat beraktifitas."




"Asma, apa yang membuatmu menukar pekerjaan mereka? Bagaimana jika salah satu tidak memahami cara melakukan pekerjaannya?" tanya Bagas secara spontan dengan rasa penasaran.



Lirikan mata sekilas, lalu kembali menatap gelas kosong di depannya. "Segala sesuatu yang terlihat oleh mata. Semua manusia dibekali akal untuk berpikir, mencoba, dan memastikan keberhasilannya. Apa Ka Bagas meragukan itu?"



"Butterfly! Apakah itu tidak terlalu pedas?" Rey mengingatkan agar istrinya sedikit lembut untuk menangani masalah atau pertanyaan yang datang mengetuk perhatiannya.

__ADS_1



Bukan karena takut, tetapi ia tidak ingin. Bagas mengeluarkan sisi absurd yang selama ini hanya tertuang dalam kehidupannya. Jika satu sisi serius dan sisi lain absurd. Bisa dibayangkan akan menjadi seperti apa? Kenakalan dengan akal yang bisa menjadi putaran tujuh keliling. Lalu, siapa yang akan merasakan dampaknya? Hanya dia seorang.



Asma beranjak dari tempatnya, lalu berbalik menatap anak tangga di depan sana. "Kehidupan hanya tentang belajar. Tekad, dan kepercayaan serta keyakinan. Kita boleh pintar, tapi jangan lupa untuk membagi ilmu. Bukankah itu, niat kakak tersayang ku? Aku akan bersiap untuk olahraga. Assalamu'alaikum."



Tanpa menunggu jawaban. Langkah Asma menjauh dari meja makan, membuat Rey menghela nafas pelan. Beras juga berdiri menjadi penengah di antara sahabat dan istri. Satu kata salah diucapkan. Akhirnya menjadi skakmat untuk dirinya sendiri, sedangkan Bagas justru terkekeh dengan gelengan kepala tak bisa berkomentar lagi.



"Rey, apa tidak sebaiknya kamu kirim agen khusus untuk menyelidiki latar belakang Asma? Rasanya terlalu frontal dan tidak seperti yang terlihat. Tatapan matanya tenang, gaya bicaranya random, tetapi tindakannya cepat. Apa sungguh gadis pilihanku untukmu seorang gadis desa?"



Pernyataan macam apa? Sebelum disuruh, ia pun sudah melakukan semua itu. Sehari saja, semua informasi sudah terkumpul tanpa ada kekurangan. Apalagi yang akan diragukan? Asma memang hanya gadis desa yang pernah bekerja menjadi pelayan untuk banyak majikan secara bergantian.



Gadis itu juga pernah bekerja di toko, bahkan juga pabrik miliknya. Bukan hanya itu saja, banyak pekerjaan yang bisa dilakukan. Pekerjaan yang tanpa mempedulikan apakah itu, pekerjaan untuk pria atau wanita. Pada intinya, sang istri menjalani kehidupan yang sulit, tapi tetap menikmati tanpa mengeluh. Mungkin, jika dibandingkan para pelayan dirumahnya. Asma memiliki pengalaman asam manis kehidupan yang jauh lebih banyak.



Termasuk tingkat pendidikan yang hanya sampai sekolah menengah pertama. Yah meskipun ia juga mendengar dari informan nya, bahwa istrinya menjadi juara satu saat ujian nasional terakhir dan mengalahkan empat ratus siswa lainnya pada tahun tersebut. Tetap saja, Asma gadis desa baginya.



Semua itu hanya memiliki satu tujuan yaitu membuat sang ibu bahagia dan bangga. Tidak ada motif dari pribadinya yang hanya untuk kepentingan diri sendiri, maka wajar saja. Jika perdebatan semalam sangat pelik hanya karena impian yang melibatkan emosi terdalam.



Ditepuknya bahu sang sahabat, "Come on, Asma istriku dan menjadi adik iparmu. Buang keraguanmu, bukankah dia, jodoh pilihanmu untukku? Setidaknya percayalah pada hatimu yang menyatakan dia layak untuk kita lindungi dan cintai sebagai keluarga."

__ADS_1



"Sorry," Bagas menghela nafas panjang, meredam seluruh rasa yang terus mencibir atas keputusannya. "Aku terbawa suasana. Pergilah bawa Asma ke ruang olahraga! Aku harus memeriksa beberapa file di ruang kerja."


__ADS_2