
Sepuluh menit sudah berlalu, tapi Rey masih diam di tempat. Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu. Namun, tak membuatnya bergerak meninggalkan apa yang menjadi kesibukannya sehingga suara ketukan pintu mengalihkan perhatian keduanya. Baik ia atau sang suami menoleh ke belakang secara bersamaan.
"Tuan, di luar ada tamu. Pak Satpam bilang sekretaris Tuan Bagas." Lapor Bi Jia yang baru saja selesai membersihkan kamar atas, wanita itu berniat untuk melanjutkan pekerjaan, tetapi satpam datang mengatakan di bawah ada wanita cantik yang sering bersama Tuan Bagas.
Untuk apa datang kerumah, sedangkan yang di cari saja sibuk melakukan sesuatu diluar sana. Bukan tidak mau bertemu, tapi Jeni bisa membuat masalah dan itu yang sangat dihindari olehnya. Selama ini hanya Bagas yang berurusan dengan para wanita, meski itu staff perusahaan sekalipun.
"Ok, Bi, aku akan segera ke bawah. Suruh tunggu di ruang tamu saja!" titah Rey memberikan keputusan.
"Mas, kamu sejak kapan ada di kamar?" tanya Asma menyahut tanpa diminta, membuat Rey menoleh ke arahnya. "Pergilah, pasti pekerjaan penting. Aku mau mandi dulu."
Tanpa menunggu jawaban, istrinya pergi menuju kamar mandi. Sementara bibi pasti sudah pergi. Waktu akan selalu sama, baik itu kemarin, saat ini atau nanti, tapi yang membedakan adalah bagaimana cara menghabiskan waktu itu untuk menjadi kenangan di masa esok. Seperti biasa, ia akan menyiapkan pakaian yang tepat untuk Asma.
Sepertinya kebalik? Bukankah seharusnya istri yang menyiapkan keperluan suami. Namun, Rey tidak menganggap hal itu salah karena perhatian dan kasih sayangnya memang untuk dicurahkan pada Asma seorang. Sebagai istri yang memiliki hak atas seluruh cinta yang ada di dalam hati.
Jika ada yang tanya, apakah secepat itu mencintai seorang wanita? Tidak. Cinta memang hanya satu kata. Beribu bahasa, tetapi berjuta rasa. Alur, harapan, impian, dan takdir. Semua itu mendekat saling melengkapi dalam kesederhanaan. Tidak ada cinta atau manusia yang sempurna, namun hanya bisa menyempurnakan emosi dalam pemahaman.
Suara shower dari dalam kamar mandi, tak membuat Rey melupakan ada tamu di bawah. Sekali lagi ditatapnya gaun hitam lengan panjang dengan belahan dada rendah, tetapi tertutup renda brokat aksen mutiara. Gaun yang simple dengan panjang dibawah lutut.
__ADS_1
"Asma, Aku turun. Jika selesai, ikutlah turun!" Serunya agak mengeraskan suara agar sang istri mendengar, lalu berjalan menjauh dari ranjangnya.
Langkah kaki meninggalkan kamar seraya mencoba menghubungi sang sahabat. Bukannya tidak mau berurusan dengan sekertaris saudaranya itu, hanya saja tidak sekalipun ingin mendengarkan rayuan yang selalu garing. Sesekali terdengar lucu, tapi keseringan menjadi tak menyenangkan.
Semakin menjauh dari pintu kamar, menuruni anak tangga satu persatu. Senyuman lebar dengan bibir merah merona menyambutnya. Siapa lagi jika bulan Jeni, sekretaris Bagas. Penampilan tentu tidak bisa dipandang sebelah, fisiknya juga sangat dijaga. Wajah selalu tertutup make up.
Jarak yang semakin terkikis, tetapi nada dering trus saja tidak berganti suara yang sangat di nantinya. Kemana anak itu? Bukankah tadi mengatakan hanya pergi sebentar. Awas saja jika tidak bergegas pulang. Bukan geram, hanya saja tidak ada niat untuk mengurus wanita celamis satu itu.
"Selamat siang, Tuan Tampan." Jeni semakin menyunggingkan senyum lebar dengan membusungkan dada. "Saya ingin mengantarkan beberapa berkas yang harus diperiksa dan membutuhkan tanda tangan Tuan hari ini juga."
Tiga file tergeletak di atas meja. Tanpa mempedulikan seberapa centilnya si sekretaris, Rey duduk menempati sofa single. Lalu mengambil file, tanpa kata mulai memeriksa berkas dengan serius, sedangkan Jeni yang terabaikan. Wanita itu sibuk menikmati ciptaan Allah yang sangat melumerkan hatinya.
Memainkan ponsel dan sibuk dengan panggilan secara random, membuat Rey hanya fokus pada pekerjaan. Pria itu tidak menyadari, ketika Jeni sudah berpindah tempat dan berdiri di depannya. Entah apa yang ada di dalam kepala si wanita itu. Saking terpesona pada karisma atasannya atau lupa statusnya yang hanya sebagai seorang pekerja saja.
Sementara dari atas tangga, Asma terdiam memperhatikan semua yang terjadi selama lima menit terakhir. Bagaimana hubungan Rey dan wanita yang katanya sekretaris sang kakak angkat. Siapapun pasti tahu, jika wanita itu memiliki bibit pelakor. Seketika berpikir, apakah hidupnya akan seperti novel?
Bagaimana jika setelah menikah, trus ada wanita lain yang menjadi perusak rumah tangganya? Sungguh tidak akan terbayangkan seperti apa. Boleh saja menulis kisah cinta segitiga, tapi jika terjadi di dunia nyata. Harus secepat mungkin menghalau hama yang masih baru lahir itu.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, ia menuruni anak tangga dan sengaja menekankan suara langkah setiap hentakan kaki agar mengalihkan perhatian dua orang yang ada diruang tamu. Seperti dugaannya, Rey menoleh ke arah tangga. Begitu juga dengan Jeni yang menatapnya dengan tatapan penasaran.
Rey memindahkan file kembali ke atas meja, lalu beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan menjemput Asma dengan tatapan matanya tak berkedip. Langkah kaki saling mendekat satu sama lain hingga terhenti di bawah tangga. Seulas senyum menghiasi wajah keduanya.
"Butterfly, ikutlah denganku." Rey meraih tangan Asma, membimbing tangan istrinya untuk menggandeng lengannya seraya merengkuh pinggang gadis itu agar merapat tanpa jarak.
Melihat sikap posesif Tuan Muda yang ditujukan untuk gadis yang bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dirinya. Jujur itu penghinaan. Bagaimana bisa, seorang CEO justru memeluk mesra gadis yang pasti dari desa. Penampilan sekilas saja, sudah bisa menjelaskan status asal usul gadis itu.
Pemikiran Jeni begitu dangkal, tetapi ketika manusia merasa dirinya paling okay. Alam memiliki jalan untuk menyadarkan posisi manusia di dalam dunia ini. Apa yang di anggap baik, belum tentu baik. Begitu juga dengan keburukan, belum tentu harus dijauhi. Manusia hanya tersesat karena salah pemikiran saja.
"Butterfly, kenalkan ini Jeni sekertaris Bagas dan Jeni, perkenalkan ....," ucap Rey memulai perkenalan antara dua wanita itu, tetapi belum usai memperkenalkan. Istrinya sudah menunjukkan dimana posisi dan status yang memang hanya untuk dia seorang.
Asma mengulurkan tangan kanannya, tak lupa dengan senyuman tipis yang samar. "Nyonya Reyhan Aditya."
Wajah tercengan, mulut melongo dengan tatapan mata nanar. Nama yang ingin sekali ia sandang, dan gadis yang ia pikir hanya gadis kampung. Justru baru saja mendeklarasikan diri sebagai Nyonya Reyhan Aditya. Apakah telinganya tidak bermasalah? Tidak. Pasti semua itu hanyalah kesalahan ucap saja.
__ADS_1
Ketidakpercayaan yang jelas tergambar di wajah Jeni, membuat Asma menjentikkan jemarinya tepat di depan sekertaris sang kakak angkat. "Nona, ini masih siang. Mimpilah saat malam hari."