
Si pelayan menggelengkan kepala sehingga Fay membiarkan si mas-mas itu pergi dari lorong tersebut. Sementara ia sendiri melanjutkan pencarian dengan harapan bisa menemukan Bagas, sedangkan yang dicari sudah pergi meninggalkan hotel. Dimana pria itu mendapatkan calling dari sang tangan kanan untuk memeriksa pekerjaan.
Laju mobil membelah jalan raya yang padat kendaraan dari berbagai arah jalur di setiap persimpangan yang ada. Wajahnya masih tegang karena emosi di hati enggan pergi. Jujur saja setelah semua yang terjadi, ia harus memikirkan keselamatan keluarga lebih dari sebelumnya.
Kenapa begitu? Elora bukan wanita lemah atau memiliki kesadaran mundur setelah kalah. Wanita itu pasti menyerah sesaat, diam tapi sibuk merencanakan sesuatu yang lebih besar lagi. Masalahnya sekarang yang jadi incaran justru lebih dari satu target. Keadaan jelas semakin rumit dari yang terlihat.
Jika dulu hanya bagaimana menguasai Reyhan, lalu kemarin menjatuhkan harga diri seorang istri, kemudian hari ini penghinaan serta fitnah yang keji. Maka esok? Entah apa yang akan wanita itu lakukan. Pada kenyataannya adalah Elora si wanita tak berakal.
Tidak ada yang benar, apalagi baik ketika menyangkut wanita satu itu. Meskipun begitu, ia masih mencoba mencari jalan lain demi perlindungan keluarga. Hukum bisa saja ditegakkan. Apalagi keputusan dari Reyhan dan Axel bersifat mutlak. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah ditengah hukum yang bergulir terbebas dari drama?
Siapa yang bisa memastikan itu? Nyatanya tidak seorangpun, maka kini yang harus dilakukan adalah mencari sisa kepingan bukti dari perilaku menyimpang seorang Elora. Kebetulan anak buahnya memberikan informasi terkini yang bisa digali tanpa menunggu hari esok.
Fokusnya teralihkan karena tiba-tiba terdengar suara lagu yang merupakan nada dering panggilan. "Halo, siapa?" Bagas menggunakan earphones bluetooth agar tetap bisa menyetir tanpa gangguan.
__ADS_1
Jawaban dari seberang mengubah ekspresi pria itu lebih baik. Helaan napas panjang bersambut seulas senyum menawan. Lega rasanya mendengar suara yang sudah sejak lama ditunggu. Seketika semua masalah terasa lebih ringan dan pasti bisa ditangani.
"Datanglah ke resepsi di tepi pantai malama ini! Aku akan kirim alamat lengkap by chat. See you, Baby." pinta Bagas mengakhiri panggilan singkat dengan seseorang yang sangat dirindukannya, lalu ia kembali fokus menyetir tetapi tujuan sudah ada di depan mata.
Sebuah gedung pencakar langit yang merupakan tempat seseorang tinggal. Pria itu memarkirkan mobil di area terdepan, kemudian bergegas menuju lift kaca yang tersedia untuk para tamu. Seperti yang dikatakan bahwa beberapa anak buah sudah menunggu di lantai yang ditentukan.
Singkat cerita lift sampai di lantai tujuan sehingga Bagas bertemu dengan anak buahnya yang berdiri di lorong tanpa bergerak sedikitpun. "Bos, dia ada didalam, mau kami yang mulai eksekusi?"
"No, stay jaga diluar saja!" Bagas mengulurkan tangan kanannya, lalu menerima kunci sebuah kamar yang sudah didapatkan dari pemilik gedung tersebut.
Astaga, malah lagi traveling keliling surga dunia. Benar-benar kebangetan, mana aku masih single. Ck, keterlaluan.~Bagas hanya bisa ngedumel di dalam hati seraya berbalik mengalihkan perhatian dan pandangan matanya ke arah lain.
Anehnya pasangan yang sibuk bertempur tidak peduli dengan kehadirannya atau memang tidak tahu? Apakah saat melakukan hubungan perang ranjang, maka semua disekitarnya terlihat transparan? Entahlah, lihat saja pasangan itu semakin menggebu-gebu hingga pelepasan bersambut teriakan kepuasan.
__ADS_1
Traveling dunia sudah berakhir, tetapi masih saja menikmati sisa perjalanan dengan absen rutin yang disambut godaan manja. Benar-benar romance tanpa batasan. Padahal menurut informasi, pria itu merupakan pacar dari Elora yaitu Andreas. Jika benar, kenapa malah bercinta dengan wanita lain?
"Hentikan!" seru Bagas tidak tahan lagi mendengar rayuan yang bisa saja kembali mengulang sesi hot. Bukannya tidak paham, tapi lebih baik hidup normal dan menjaga diri untuk tetap waras. Jangan sampai ia ikut melampiaskan hasrat pada sembarang wanita.
Andreas terperanjat kaget atas kedatangan Bagas yang sudah ada di dalam kamarnya. Sontak saja, ia beranjak dari tempat tidur, tak lupa memunguti pakaian kotornya yang berserakan di lantai. Kemudian mencuci muka agar terlihat lebih segar karena kondisinya masih setengah sadar akibat minuman beralkohol, sedangkan si wanita bersembunyi di balik selimut karena malu.
Sepuluh menit kemudian. Andreas dan Bagas saling duduk berhadapan. Keduanya sama-sama tampan, tapi yang menarik perhatian adalah wajah dari kekasih gelap Elora. Andreas terlihat tampan bahkan hampir mirip dengan Rey yang notabene tidak memiliki saudara kandung. Pahatan wajah yang tidak bisa dipungkirinya.
"Bukankah kamu wakil CEO RA company's? Tuan Bagas Fernando, iya 'kan?" Andreas bertanya hanya untuk memastikan tidak salah orang, sedangkan yang ditanda justru menyodorkan ponsel.
Benda pilih yang kini ada di depan mata dalam keadaan gelap karena layar tidak menyala. Tanpa menunggu datangnya pertanyaan. Bagas memberi tahu password dari hpnya, lalu menuntun apa yang harus dilakukan oleh Andreas. Tindakannya hanya untuk pencegahan, ia juga tidak lupa menjelaskan posisi dari setiap sudut pandangnya membuat Andreas hanya mengerjap tak mampu berkata lagi.
Tiga puluh menit kemudian, "Ponsel milik Anda!" Benda pipih itu diletakkan ke atas meja yang menjadi jarak di antara keduanya. "Jadi, apa semua ini sudah cukup? Aku tidak ingin ikut campur. Jujur saja, my life my free love."
__ADS_1
"Untuk sementara, semua bukti ini sudah cukup. Pastikan saja jaga dirimu karena dia pasti berusaha mewujudkan cita-cita merebut suami dari adikku. Oh ya, uangmu sudah masuk ke akun bank. Pemisi." pamit Bagas menyudahi pertemuan.