Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 42: Saudara Sepupu


__ADS_3

Tidak ada rasa sungkan di antara kedua bersaudara itu. Setelah mencuci tangan. Keduanya mulai menikmati makan siang, dimana mereka menyantap nasi liwet dengan lauk ayam bakar spesial sambel kacang yang pedas. Ditemani segelas jeruk hangat yang menyegarkan.


Nikmat dengan cita rasa khas Indonesia. Tempat makanan langganan keluarga dengan nama Gubug Mang Bisma. Orang-orang sekitar lebih sering menyebut nama warung tersebut dengan sebutan tenda jama'ah. Eits, jangan salah paham. Bukan karena lokasinya yang dekat mushola, ya.


Melainkan, jika makan di gubug Mang Bisma. Kita tidak dianjurkan makan sendirian karena selain harga yang terjangkau. Tentunya kualitas dan rasanya patut diacungi jempol. Satu yang paling penting yaitu porsi makanannya jumbo. Kecuali langsung memesan separuh porsi. Barulah bisa makan menyesuaikan kebutuhan perut.


Lebih tepatnya, gubug Mang Bisma menjadi makanan seluruh umat. Maka dari itu, lebih baik berjamaah membawa keluarga untuk menikmati makan bersama. Kurang lebih seperti itu. Termasuk Nau dan kakak sepupunya yang memilih paket mini daripada paket sedang, apalagi jumbo. Jadi jangan sampai pilih menu.


Keduanya yang tengah sibuk menikmati sedapnya makanan. Tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan seorang pria yang nampak begitu familiar. Nau masih tenang, tapi tidak dengan sang kakak sepupu. Gadis itu menghentikan suapan makanannya. Wajah yang masam dengan tatapan malas. Jelas saja terganggu akan kehadiran manusia tak diharapkan.


"Disana tempat memesan makanan." Nau menunjuk ke arah Amang penjual, "Bukan di meja ku atau mau ku pinjamkan kacamata kuda?"


Sindiran yang pedas, membuat pria di depan keduanya tersenyum kecut. Namun, tatapan matanya terus terpatri pada gadis yang masih menjadi tambatan hatinya. "....,"


"Nau, bisa kita pindah tempat duduk? Disini banyak makhluk astral." Sela sang kakak sepupu yang tidak memberikan kesempatan pada sang mantan untuk mengusik hidupnya.


Dendam? Tidak. Ia hanya ingin lepas dari masa lalu, tanpa harus kembali ke dalam masa yang sama. Hubungan yang sudah berakhir, tidak akan pernah bisa kembali. Sekalipun dunia sudah jungkir balik. Hati tidak mungkin dipaksakan. Apalagi menyangkut cinta yang pasti akan menolak tanpa kata.


"Fay, Aku cuma mau minta maaf. Sorry, bukan maksud aku ganggu. Lanjutkan makan kalian. Aku permisi." Ucap pria itu berpamitan, lalu beranjak meninggalkan tempatnya berdiri.

__ADS_1


Langkah kaki yang menjauh, menghantarkan helaan nafas pelan. Setiap kali bertemu di luar, sang mantan selalu saja mencoba mengambil kesempatan. Meski hanya untuk meminta maaf. Tetap saja, rasanya risih. Apalagi tatapan mata yang seperti siap menerkam. Sejarah tidak akan bisa dirubah. Begitu juga dengan keputusannya.


"Ifiii!" Panggil Nau mengalihkan perhatian Sang kakak sepupu, "Ikhlaskan, Fii. Lihat gue, baru putus, tapi masih menikmati makanan. Ayo, makan lagi."


"Gue fine, kok." Balas Ififay Aurelia Raharja.


Kedua bersaudara dari keluarga yang sama. Dimana Ifi merupakan putri tunggal keluarga Raharja, sedangkan Naufal Bramantyo putra tunggal dari keluarga Bramantyo. Mereka bersaudara karena Ayah dari Naufal merupakan adik dari Mamanya Ifi. Secara garis keturunan, mereka kakak adik.


Nau tak yakin dengan jawaban Ifi, tetapi tetap mengiyakan hingga keduanya melanjutkan menikmati makanan. Meski rasanya tidak senikmat sebelumnya. Tetap saja, tidak ada kata menyia-nyiakan makanan. Di luar sana, banyak orang yang kelaparan bahkan bisa saja sudah tidak makan berhari-hari. Tentu setiap suap nasi harus disyukuri.


Dua puluh menit berlalu. Keduanya keluar dari gubug Mang Bisma dengan perut kenyang. Nau kembali menaiki motornya, "Ifii, mau pulang langsung atau ngemall, dulu?"


"Pulang aja. Tadi ada yang bilang baru putus. Jadi ada yang hutang penjelasan ke aku. Ya gak?" Sahut Ififay dengan senyum tipis, membuat Nau bergidik ingin melarikan diri.


"Gue anter pulang. Ayo naik!" Nau tak ingin menjawab dengan keraguan, sebaiknya mengiyakan dan ia bisa memikirkan langkah selanjutnya untuk menyelamatkan diri dari interogasi sang kakak sepupu.


Perjalanan kembali menyusuri jalan raya. Suara bising kendaraan lain mengalihkan perhatian Ifi. Berteman hembusan angin, kenangan lalu memudar dalam ingatan. Biasanya, semua akan kembali normal setelah memejamkan mata.


Akan tetapi, tidak selalu sama. Semakin sering mantannya muncul. Pengendalian diri akan semakin memberontak. Maka dari itu, ia lebih sering keluar rumah hanya untuk pekerjaan yang penting saja. Sisa waktu akan digunakan untuk stay di rumah.

__ADS_1


Jarak dari Gubug Mang Bisma ke perumahan Permai Jalan Gelatik Blok D hanya membutuhkan waktu kurang lebih empat puluh lima menit. Selama itu, hanya ada diam menikmati sepoi angin. Suasana hati kedua anak manusia yang tengah dilanda kegelisahan.


Manusia selalu mengharapkan bulan jatuh ke pangkuan. Namun, takdir menjatuhkan duri untuk di genggam. Bukan pujian, melainkan perjanjian. Seperti waktu siang berganti malam.


Suara klakson dari kejauhan, membuat Pak Satpam yang terkantuk-kantuk tersentak kaget. Spontan melompat dari tempat duduknya. Kesadaran yang hanya setengah, membuat pria paruh baya itu tergopoh-gopoh membukakan pintu gerbang.


"Siang, Den, Non." Pak Satpam menyambut anak majikannya dengan ramah seperti biasa, apalagi melihat Nau dan Ifi yang tersenyum ramah padanya.


Sopan santun yang selalu menjadi rasa hangat dan nyaman untuk tetap bekerja pada keluarga majikannya. Setelah memastikan motor anak majikan masuk. Pintu gerbang kembali ditutup, sedangkan Ifi langsung turun dari motor seraya melepaskan helmnya.


"Kenapa masih duduk di motor?" Ifi menatap Nau dengan serius, membuat pemuda itu terpaksa ikut melepaskan helm. "Jangan banyak alesan. Gak ada alasan tournament atau yang lainnya. Penjelasan dulu, baru silahkan pulang."


Mulai, deh. Gimana kaburnya, ya? Pengen ngilang, tapi gak bisa sih.~batin Nau, lalu turun dari motornya seraya mengambil kunci motornya.


Keduanya berjalan bersama memasuki rumah dengan desain modern penuh sensasi alam. Lihat saja, di sisi kiri depan rumah terdapat banyak tumbuhan sayur mayur yang segar dan tentunya alami. Rumah dari keluarga Raharja. Tempat tinggal Ififay, meski selama ini menjadi rumah kedua bagi seorang Naufal.


Nau mendorong pintu utama, begitu langkah kakinya berpindah. Ternyata keluarga tengah berkumpul, tapi ada apa? Tumben, padahal bukan hari libur nasional. Ketika wajah para orang tua terlihat begitu serius. Ifi mulai merasa tak nyaman. Entah apa yang keluarganya pikirkan saat ini.


"Nau, kamu ketemu Aurelia dimana?" tanya Bunda Viola yang merupakan ibu kandung Naufal Bramantyo.

__ADS_1


Langkah kakinya terus berjalan menghampiri para orang tua, lalu salim mencium tangan secara bergantian. Begitu juga dengan Ifi yang merasa sesak. Setiap kali sesuatu akan terjadi, firasatnya akan menjadi alarm pertama untuk tetap bersikap tenang.


"Kami janjian, Bund. Makan di tempat biasa." Nau menjawab sebagaimana mestinya, mana mungkin mengatakan bertemu di jalan yang bisa menyebabkan masalah untuk kakak sepupunya sendiri. "Kenapa pada tegang?"


__ADS_2