
"Yank, ini bukan seperti yang kamu lihat ....," Si wanita membantah seraya menyambar tangan kekasihnya, tetapi tangannya langsung terhempas kasar. "Ayank?"
Jijik mendengar kata manis yang keluar dari mulut berbisa. Kemarin ia masih bisa membantah tuduhan teman, tapi hari ini? Sadar akan busuknya kelakuan sang kekasih. Hubungan selama empat bulan, kini hancur sudah. Menyesal? Tentu iya. Meski hanya sedikit. Kehidupan akan tetap berjalan walau badai menerjang. Iya 'kan?
"Cleo, mulai detik ini, Gue and Lo. END." ucap Pemuda itu dengan wajah masam, hatinya berdenyut nyeri, namun ia sadar hubungan harus berakhir demi kebaikannya sendiri.
Tak ada kata lain, selain langkah kaki yang beranjak menjauh dari pasangan baru yang terhenyak dalam keterkejutan. Cleo merasa tertampar tanpa sentuhan. Pemuda yang selama ini selalu menemani, bahkan memberikan support dengan sepenuh hati. Pergi meninggalkannya.
Tatapan mata nanar terpaku menatap punggung sang mantan. Pemuda itu memang berbeda dari pemuda yang lain, tapi apakah ia salah? Kesibukan sang kekasih membuatnya merasa kesepian. Alex hanya teman pria yang menjadi cadangan. Sekarang? Semua berakhir.
Rasa sakit akan kenyataan tak seberapa. Cleo beranjak dari tempat duduknya. Lalu berlari menyusul pemudanya. Namun, begitu membuka pintu cafe. Ia mengedarkan pandangan hingga menemukan sang mantan kekasih sudah menaiki motor, bersiap untuk pergi meninggalkan tempat parkir. "NAUFAL!"
Seruan panggilannya terabaikan. Pemuda itu tetap pergi meninggalkan tanpa menoleh ke belakang. "Nau, kenapa jadi seperti ini? Aku hanya tersesat. Tidak bisakah kamu kembali padaku. Hiks... Hiks... Hiks...,"
Keterpurukan seorang manusia ketika menyadari kesalahannya. Setelah kehilangan hal paling berharga dalam hidupnya. Satu keputusan yang salah, maka berakhir menjadi perpisahan. Inilah yang tengah dirasakan Cleo. Sementara Naufal, pemuda itu menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya.
Semilir angin, tak membasahi hatinya yang terbakar. Apa artinya cinta? Ketika menjadi sebuah pengkhianatan. Apa kurangnya selama ini? Apakah hanya karena sibuk kuliah dan mengejar mimpi atau memang cinta miliknya tidak berarti? Rasa sesak yang membelenggu membenamkan sayatan luka yang terdalam.
__ADS_1
Perjalanan terasingkan, membuat arah tanpa tujuan. Ingin sekali tersadar, tetapi hati bergejolak. Fokusnya yang terbagi semakin menambah kegelisahan hati. Emosi yang tak menentu, membuat pemuda itu melipir menepikan kendaraannya. Taman Kencana.
Dilepaskannya helm fullface, lalu turun dari motor seraya meletakkan helm ke stang. Kemudian berjalan mendekati kursi depan taman. Wajahnya yang kusam dengan tatapan nanar, nampak begitu jelas. Helaan nafas panjang untuk kesekian kalinya hingga menghempaskan tubuh duduk ke kursi.
"Huft, ada apa dengan Gue?" Nau mengusap wajahnya kasar, tidak habis pikir dengan penglihatannya hari ini.
Diselingkuhi? Ternyata rasanya sakit juga. Ini bukan tentang seberapa besar cinta, tapi mempertanyakan akan kesetiaan. Ia hanya memiliki impian sederhana. Dimana ia ingin mendapatkan pasangan yang bisa saling memberi support satu sama lain. Namun, Cleo menjadi kenangan tak mengenakkan yang terus terngiang.
Nau yang sibuk menikmati rasa sakit hati akibat ulah Cleo. Pemuda itu tak menyadari. Dimana dari kejauhan. Tepatnya di seberang jalan. Seseorang tengah mengamati gerak geriknya. Sembari menyeruput es boba ukuran jumbo. Tatapannya tak teralihkan, bahkan beberapa kali mengabadikan muka lecek sang adik tercinta menggunakan kamera ponsel.
Tumben, anak itu galau. Biasanya juga loncat sana sini kaya kelinci. Apa baru putus, ya? Samperin aja kali, ya.~ucap hati orang itu, lalu mengambil selembar uang dari saku celananya untuk membayar minuman.
"Nau, boba?" tawarnya mengulurkan minumannya ke depan wajah pemuda di depannya. "Naufal Bramantyo!"
Seseorang menyebut namanya dengan lengkap. Tak elak ia menurunkan kedua tangannya, lalu mendongak. Sejurus tatapannya terpatri pada wajah cantik yang ternyata kakak sepupunya. "Hey, tumben main sampe sini? Gak salah alamat nih?"
Pertanyaan yang aneh. Taman Kencana juga dekat dari rumahnya. Apa mendadak, adik sepupunya amnesia? Tentu saja tidak. Tubuhnya saja segar bugar. Pasti ada yang tidak beres. Ia hafal bagaimana kelakuan anak satu itu. Pemuda yang super sibuk dengan segala jenis rutinitas yang padat. Lalu, hari ini di jam yang masih pagi, sudah duduk di bangku taman dengan wajah lecek.
__ADS_1
Apalagi perubahan mimik wajah Naufal yang teramat kontras. Tidak akan mengubah pendapatnya sedikitpun, "Nau, apa semua baik? Aku disini, coba cerita deh. Daripada keselek gegara nyimpen uneg-uneg sendiri."
Sindiran pedas, tapi fakta. Seperti itulah saudara sepupunya. Hanya saja, saat ini hatinya masih belum sanggup untuk berterus terang. Meski setelah dipikirkan ulang. Single bukan masalah yang besar. Bukankah, cinta biasa datang dan pergi tanpa permisi. Namun, keseriusan sang kakak sepupu, membuatnya tidak enak hati.
"Gue baik, kok." Nau menghela nafas panjangnya mencoba menetralkan perasaannya. Lalu, mengambil cup boba yang masih menggantung di depan mata. "Thank's, mau pulang langsung atau masih disini?"
"Nau!" panggil sang kakak sepupu dengan tatapan menelisik terus terarah pada pemuda itu, tapi yang ditatap mengalihkan pandangan menikmati celotehan anak kecil yang bermain pesawat kertas ditemani kedua orang tua.
Diamnya seorang Naufal Bramantyo, membuat dunia sekitarnya merasa tenang. Akan tetapi, ketenangan dunia, justru menjadi suasana mencekam baginya. "Ya udah, gak mau curhat nih? Aku balik duluan. Assalamu'alaikum, Nau."
Bukan ngambek, tapi memilih untuk memberi waktu pada pemuda itu. Mungkin saat ini masih menjalani fase penyadaran diri. Maka dari itu, Naufal enggan untuk menjelaskan apa yang telah terjadi padanya. Dibiarkannya duduk seorang diri tanpa teman. Langkah kaki menjauhi taman, membuat Nau merasa tidak enak hati.
Sebagai saudara, ia tahu. Jika sang kakak sepupu lebih sering menggunakan jasa layanan taxi, dibandingkan menggunakan kendaraan sendiri. Tentu sebagai pria memiliki tanggung jawab untuk mengantarkan pulang. Lagi pula, mereka berdua saudara bukan? Nau bergegas kembali menghampiri motornya.
Tindakan pemuda itu, membuat sang kakak tersenyum simpul. Tidak memungkiri, jika kasih sayang sebagai keluarga begitu besar. Ia hanya tidak suka, ketika melihat Nau dalam keadaan tak berdaya. Semangat yang biasanya berkobar. Pagi ini hilang entah kemana. Akan lebih baik, jika melihat kejahilan dan kembali bertengkar seperti tom and jerry.
"Ayo, naik! Kita cari makan dulu, gue laper." ajak Nau begitu motornya berhenti di depan sang kakak sepupu. "Apa kita harus ke restoran Jepang atau Korea? Menurutmu gimana?"
__ADS_1
"Jangan mulai, deh. Pergi ke restoran biasanya aja." sahut sang kakak sepupu seraya naik ke motor, lalu membenarkan posisi duduknya agar nyaman selama berkendara.