
Pernyataan Asma membuat Jeni benar-benar tak percaya. Bagaimana bisa gadis kampungan seperti itu menjadi nyonya rumah? Istri dari Reyhan Aditya, sedangkan ia yang selama ini mengejar sang Tuan tetap tak dilirik meski hanya sedetik. Apakah dunia sudah terbalik?
Suara jentikan jari yang terdengar menyentak gendang telinga menyadarkan Jeni kembali ke dunia nyata. Ia berpikir seraya menatap Asma dari atas kepala sampai ujung kaki. Apa lebihnya dari gadis itu? Cantik saja tidak, bahkan jauh dari kata wanita yang merawat diri sendiri.
Di matanya, Asma benar-benar sangat minus dari segi penampilan. Antara percaya dan ragu karena selama ini, Rey yang dikelilingi banyak wanita berkelas saja. Tetap tidak tergoda, bahkan selalu membiarkan Bagas yang mengurus godaan di luar bisnis yaitu para wanita yang mengagumi pria itu.
Rey memahami apa isi pikiran si sekretaris sahabatnya itu. "Jeni! Apakah kamu bosan bekerja dengan perusahaan ku? Jaga pandanganmu!"
Suara yang tegas dan terkesan sangat melindungi, membuat Asma seketika melirik sang suami. Seulas senyumnya hadir hanya untuk pria yang kini menatap Jeni dengan begitu tajam. Rey menunjukkan sisi posesif dengan memeluk dirinya semakin erat.
"Tuan Muda, maaf saya tidak bermaksud ....," Jenny menunduk tak kuasa menahan remuk hatinya dengan suara tercekat.
Wanita itu merasa semua sudah berakhir, tetapi masih tak sanggup menerima kenyataan yang tersaji di depan mata. Pria idamannya telah memiliki seorang istri. Gadis yang menurutnya tak pantas menjadi istri seorang Reyhan Aditya. Yah, seharusnya Rey mendapatkan wanita seperti dia. Cantik dan pandai membawakan diri.
"Singkirkan pikiran kotormu! Kehidupan bukan tentang layak dan tidak layak, tetapi tentang sebuah hati yang mampu menerima dan memahami." Rey mengalihkan tatapan matanya. Ia menatap Asma begitu dalam karena hati menyadari arti hubungan sebenarnya.
"Bagiku, cinta hanya untuk Asma. Istriku yang kini merasuk mewarnai kehidupan ku. Namanya ada di setiap tarikan nafasku. Tidak seorangpun diperbolehkan menilai tanpa mengenal. Jika manusia berpikir harta yang terpenting, bagiku hanya Asma yang paling berharga di dunia ini."
Pembelaan yang dilakukan Rey, membuat hati Asma bergetar. Untuk pertama kalinya, ia merasakan tetesan air itu nyata. Hati tak memungkiri menelusup rasa haru menghangatkan jiwanya. Tanpa sadar tangannya merengkuh membalas pelukan sang suami.
Apakah tuan kulkas bisa berbicara panjang kali lebar? Ketidakpercayaan itu terbantahkan. Meski seingatnya, Rey sekali atau dua kali mengutarakan isi pikiran dan hati, tetapi untuk melakukan pembelaan. Sungguh hal itu berbeda dan ini menggetarkan rasa. Rasa hormat kian tertanam dalam benaknya.
Kemesraan di depan mata. Sontak membuat Jeni semakin menundukkan pandangan, namun tangannya mengepal. Sentuhan manja yang Rey tujukan untuk Asma dengan membenamkan kecupan hangat di kening gadis itu. Semakin menyulut amarah di dalam lubuk hatinya.
Sakit rasanya, ketika pria yang selama ini digadang-gadang untuk menjadi calon suami. Justru mencintai wanita lain. Apalagi gadis yang terpilih di luar ekspektasinya. Apa harus rela? Tidak. Hati masih meronta mengharapkan cinta atas nama Reyhan Aditya.
Di saat ketegangan kian meradang. Suara langkah kaki terdengar mendekati ruang tamu. Tatapan yang menyelidik dengan jas yang tersampir. Baru saja menyelesaikan satu masalah. Ternyata di rumah sudah ada badai yang mengamuk. Bukankah Jeni mengatakan tidak bisa datang?
"Jeni, ngapain kamu disini?" Bagas menatap Jeni tak senang, tidak habis pikir karena wanita satu itu selalu memiliki alasan hanya untuk bertemu Rey.
Semua orang mengalihkan perhatian mereka. Terutama Jeni dengan bibir kelu tak sanggup berkata-kata lagi. Kejutan hari ini sudah cukup memberikan efek samping mati rasa dengan kebuntuan otak. Sungguh tidak bisa berpikir apapun lagi, tetapi tetap harus menjawab pertanyaan sang bos.
"Tu-an, aa-ku ....,"
Asma melepaskan tangannya dari pinggang Rey, lalu melirik sekilas ke arah wanita yang pasti menahan kesal. "Ka, Jeni datang untuk melakukan pekerjaan dan memberikan selamat atas pernikahan kami. Berhubung sudah clear, aku permisi dulu. Sayang, bisa lepasin tanganmu? Aku harus menyelesaikan pekerjaan."
Cukup satu kata, hingga membuat Rey tersedak. Suara yang tak lagi bisa dikendalikan. Melihat itu, Bagas bergegas mengambilkan segelas air, lalu memberikannya. "Tagih saja lagi, daripada cuma sekali."
__ADS_1
Bisik Bagas menggoda Rey, sontak mendapatkan hadiah tepukan bahu yang cukup terdengar keras. Reaksi terkejut membebaskan Asma dari cengkraman suaminya. Gadis itu melipir meninggalkan ruang tamu. Bukan untuk kembali ke kamar atas, melainkan ke ruang dapur melihat apa yang diolah oleh pelayan rumah.
Sementara itu, Rey ditemani Bagas menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya sudah selesai sedari tadi, sedangkan Jeni hanya bisa diam berdiri di pojokan. Terlihat seperti patung nyata tanpa ekspresi bahagia. Suasana yang terasa lebih baik dan itu berkat diamnya Jeni yang berhenti membuat ulah.
Tiga puluh menit kemudian. Akhirnya pekerjaan bisa terselesaikan, tanpa menunda waktu. Rey beranjak dari tempatnya, tetapi tatapan mata tertuju pada Jeni yang seketika tersenyum sumringah. Wanita itu berpikir jika Tuan Muda mulai menyadari betapa berharganya ia untuk disia-siakan. Pikiran yang tidak sehat.
"Rey!" Disentuhnya pundak sang saudara, "Apa yang kamu pikirkan?"
"Tempatkan Jeni untuk pekerjaan lain dan pastikan tidak kembali menginjakkan kaki di rumahku." putus Rey langsung menghantam kesadaran Jeni.
Apakah baru saja ia dipecat? Kenapa? Apa karena tidak percaya dengan status baru sang Tuan Muda atau semua itu hanya untuk menjauhkannya dari sang pujaan hati. Seketika seluruh ilmu hasil belajar selama bertahun-tahun menguap menyebar di udara. Pekerjaan sebagai sekretaris sudah menjadi passionnya. Bagaimana jika benar-benar dipecat?
"Are you serious?" tanya Bagas memastikan, bukan takut, tetapi seperti apapun Jeni. Wanita itu bisa mengikuti aturan kerjanya yang seringkali tidak kenal waktu, sedangkan Rey pergi begitu saja meninggalkan ruang tamu dan itu menjadi keputusan mutlak. "Jeni, apa yang kamu lakukan?"
Bagas beralih menatap sekretarisnya yang mendadak tegang dengan wajah pucat. Ekspresi takut dengan tatapan mata bersalah yang nampak jelas dari sorot mata wanita itu mata, membuatnya menghela panjang. Kebiasaan Jeni berbicara tanpa berpikir, pasti sudah menyulut amarah Reyhan dan semua itu bersangkutan dengan adik angkatnya.
"Jeni!" Ditatapnya wanita itu tanpa berkedip dengan tatapan mata yang menusuk, "Asma bukan hanya istri saudaraku. Dia juga adikku. Jika kamu berpikir lebih oke darinya. Pergilah ke psikiater, jiwamu harus disterilkan. Camkan baik-baik, Asma adalah Nyonya Reyhan Aditya. Bukan gadis yang sibuk mengoda atasannya."
Tajam melebihi tebasan pedang. Sakit menusuk tanpa ada duri yang menancap. Tanpa sadar, rasa panas yang membendung menghantarkan air membasahi kedua pipinya. Ternyata sakitnya patah hati, lebih sakit mendapatkan penghinaan yang menampar menghempaskan impian. Akan tetapi menyisakan kenyataan secara nyata.
Tangan yang terangkat menghentikan Jeni melakukan pembelaan. Langkah kakinya berjalan mendekati wanita itu, tidak ada yang menghentikannya hingga suara deheman dari arah lain mengalihkan perhatiannya. Asma yang berdiri di bawah tangga sudah mendengar semua perkataan dari Bagas.
Apapun yang terjadi, ia juga seorang wanita sama seperti Jeni. Jika memang wanita itu mencintai atau terbiasa menggoda Rey dan Bagas selama ini. Maka sudah waktunya untuk dihentikan, tetapi bukan dengan ancaman. Perlahan melangkahkan kaki berjalan menghampiri kedua lawan jenis yang kini menatapnya dengan pandangan tak biasa.
"Ka, boleh Aku bicara berdua dengan Jeni? Jangan khawatir, hubungan tidak akan tercampur walaupun mencoba memasukkan debu yang tidak berarti." pinta Asma tanpa basa-basi, membuat Bagas termenung sesaat. "Ka Bagas!"
"Okay, hanya sepuluh menit. Tidak lebih." sahut Bagas tak suka melihat tatapan tajam yang melayang ke arahnya, sekali saja pasrah karena ia meyakini Asma bisa mengatasi masalah yang ada.
Sesaat kedua wanita itu hanya diam menunggu langkah kaki Bagas untuk menjauh dari mereka. Setelah memastikan hanya tinggal mereka saja, barulah Asma mempersilahkan Jeni untuk duduk. Begitu juga dengannya hingga duduk saling berhadapan. Tatapan mata tak suka jelas terpatri menguliti hanya untuk menilai penampilan yang tak seberapa.
"Jaga pandanganmu, jika tidak ingin terluka hanya karena kemasukan debu." Asma sibuk bermain dengan jemarinya tanpa menatap Jeni, wajah tenang tanpa tekanan. ''Aku tahu, kamu berpikir gadis sepertiku tidak pantas menjadi istri seorang pengusaha. Seharusnya kamu yang ada diposisiku. Benar bukan?"
"Gue tidak mengatakan itu, tapi jika loe sadar diri. Kenapa masih berharap menjadi istri Tuan Muda? Apa di rumah loe gak ada cermin?" balas Jeni dengan seluruh emosi yang tidak bisa ditahan lagi.
Bahasa sehari-hari yang jarang diperlihatkan, kali ini keluar tanpa diminta. Hatinya sudah meledak menyiapkan rudal untuk menyerang mental gadis di depannya, tetapi senyuman tipis Asma dengan tatapan tajam menusuk, mendadak menghantarkan semilir angin yang membuat bulu kuduknya meremang.
"Jeni, Aku tidak berharap, apalagi bermimpi menjadi istri Reyhan Aditya. Takdir Allah yang menyatukan kami dalam ikatan suci dengan ikrar sehidup semati. Cinta yang kamu banggakan itu hanyalah obsesi. Kamu berpikir dirimu paling sempurna dan pantas, tapi bagaimana dengan ketetapan Ilahi? Pahami satu hal ini dengan baik. Jika cintamu memasuki rumah tanggaku. Jangan salahkan aku melewati batas kesabaranku."
__ADS_1
Suara lembut dengan penekanan. Jeni terkesiap dengan perubahan nada bicara Asma yang tidak bisa dijabarkan. Baru kali ini, seorang gadis memiliki persamaan sikap seperti Tuan Muda. Bagaimana cara menunjukkan kepemilikan tanpa mengurangi kesopanan. Rasa sesak di dadanya mendadak lenyap entah kemana.
Sekali lagi, kesadarannya tertampar oleh kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Meski sudah berbicara lancang, Asma masih tenang menghadapinya. Sadar diri? Kata itu lebih cocok untuk dirinya yang lupa daratan hanya karena terbang menggunakan sayap impian. Pasti hanya dia seorang yang menyedihkan hingga lupa harga diri seorang wanita harus dijaga.
"Kamu masih muda, cantik, pintar. Apa di luar sana dunia kehabisan laki-laki? Hidupmu tidak pantas untuk disia-siakan, Jen. Sebagai manusia kita boleh jatuh cinta, tetapi jangan menatap, apalagi mengambil yang bukan hak kita. Jodoh sudah diatur Yang Maha Kuasa. Ku harap, setelah ini, kita bisa berteman."
Asma mengulurkan tangan kanannya. Sekali lagi mencoba untuk membuka hati, membuat Jeni semakin merasa malu. Rasa bersalah yang berkobar di dalam hatinya, membuat sambutan hangat menerima uluran pertemanan yang menjadikan keduanya memulai hubungan baru.
"Maaf, Aku tidak bermaksud untuk menilai penampilanmu. Hanya saja rasa cemburu mengusai hatiku. Mulai hari ini, aku janji akan berhenti memikirkan pahlawanku." ucap Jeni dengan penyesalan, tidak ada niat memanipulasi karena ia menyadari bahwa Asma sudah memiliki tempat di hati Rey dengan segala kekurangan gadis itu.
Obrolan yang membuat hubungan baru terbentuk, sedangkan di tempat lain. Tiga mobil baru saja memasuki rest area agar bisa beristirahat sejenak sembari menunggu waktu sholat tiba. Pukul sebelas lebih tiga puluh menit. Begitu mesin dimatikan, satu persatu keluar melakukan peregangan tubuh yang pegal.
"Nau, kita sholat atau makan dulu?" tanya Fay berjalan menghampiri sang adik sepupu yang sibuk memasukkan kunci mobil ke dalam ransel mini berwarna hitam yang melilit di punggung pemuda itu.
"Makan dulu lah, gue laper banget tau." sahut Dimas langsung menerobos kerumunan teman-teman yang sudah berdiri di depan mobil ketua alias Naufal Bramantyo.
Aksi Dimas yang selalu seenak jidat, langsung dijambak kasar teman lainnya hingga terpaksa mundur menjauh dari posisi Fay berdiri. "Loe itu kalau mau jalan pake mata. Masa ada peri di depan mau loe sruduk gitu aja."
"Eh, tengil. Lepasin tangan bau loe!" sergah Dimas seraya memberontak, membuat yang lain hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah kedua pemuda yang selalu absurd tanpa mengenal tempat dan suasana.
Bukan hal biasa lagi untuk melihat Dimas dan Wildan saling berebut perhatian Fay. Yah, kedua pemuda itu hampir melompat ke angkasa di saat Nau mengatakan akan mengajak kakak sepupunya untuk liburan kali ini. Tentu kesempatan langka harus dimanfaatkan, sayangnya gadis itu tidak memperdulikan manusia absurd yang hanya menambah beban pusing di kepala.
"Ayo, kita makan dulu." Nau menggandeng tangan Fay tanpa permisi, sontak membuat yang lain melongo.
Bukan masalah perasaan, tetapi pemandangan itu sudah cukup mematahkan hati yang lain. Kenapa harus digandeng? Kan bisa dibiarkan jalan sendiri. Ingin komplain, tapi takut kena omel. Apalah daya tangan tak sampai memeluk gunung nan jauh di hati, namun dekat di mata. Pokoknya sakit, meski sadar kedua lawan jenis itu bersaudara.
Satya menyusul bersama Widya. Saudara kembar yang selalu akur, lalu disusul langkah malah Wildan dan Dimas. Sementara yang lain sudah menghilang entah kemana. Mungkin memilih untuk sholat terlebih dahulu. Satu persatu memasuki area kantin yang begitu luas dengan full meja kursi berjejer rapi.
Seorang pelayan langsung menyambut, lalu mempersilahkan seraya menjelaskan menu yang ada di kantin tersebut. Banyak jenis menu, tetapi tidak semua bisa di konsumsi secara bersamaan. Apalagi Fay harus menjaga makanan dan minuman yang masuk ke tubuhnya. Nau dengan telaten menyebutkan beberapa rekomendasi makanan.
"Nau, Loe ini adik sepupu atau pacar Ka Fay, sih? Kok bisa detail gitu." sindir Wildan dengan tatapan mata menyelidik, membuat semua orang mengalihkan perhatian mereka pada pemuda yang seketika menunjukkan deretan gigi putih rapinya.
Satya menahan nafas berharap sindiran Wildan tidak menjadi pemicu kemarahan Naufal karena ia tahu benar. Jika sahabatnya itu memang posesif ketika menyangkut urusan keluarga inti. Namun, di luar dugaan dengan reaksi Fay yang langsung menyingkir. Gadis itu memilih pindah tempat duduk, menjauh dari meja teman adik sepupunya.
"Mba, pisahkan pesanan yang pertama dan antar ke meja sebelah. Sisanya antarkan ke meja ini," ucap Nau mengakhiri pemesanan menu makan siangnya, lalu membiarkan pelayan itu pergi meninggalkan mejanya. "Gue ingetin untuk terakhir kalinya. Jaga mulut kalian, Ifii kakak gue. Paham!"
__ADS_1