Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 92: Gadis MINIM Harga Diri


__ADS_3

"Nyon ...," Suketi mencoba meraih tangan Asma, sayangnya sang majikan tak sudi membiarkan tangannya dipegang oleh gadis yang siap membakar kehidupan rumah tangga barunya.


Bi Jia melakukan perintah nyonya muda tanpa ragu, bahkan senyuman puas tersungging menghiasi wajah wanita paruh baya itu. Kekhawatiran yang selama beberapa waktu menguasai hati. Akhirnya akan tersingkir dari kehidupan semua orang.


Andai Suketi bukan gadis minim harga diri, pasti bisa tetap tinggal menjadi bagian dari keluarga sang majikan. Itu sudah pasti. Tangannya sibuk memasukkan pakaian ke dalam tas cangklong hitam yang berukuran besar. Di tengah kesibukannya, tiba-tiba sesuatu terjatuh dari dalam lemari.


Kotak merah dengan ukuran sepuluh centimeter kali lima belas centimeter mengalihkan perhatian ketiga wanita yang ada di dalam kamar tersebut. Namun Suketi langsung mengambil kotak, lalu menyembunyikannya ke balik punggung. Sikap yang aneh, tetapi Asma tidak ingin ambil pusing.


"Bi, lanjutkan saja! Aku tunggu di luar ...," Niat hati ingin berbalik menjauh dari drama di depan mata, namun berakhir gagal karena kedatangan Rey yang ikut masuk ke dalam kamar. "Mas?"


Langkah kaki berhenti di depan sang istri. Beberapa waktu hanya ada keheningan saling menyelami emosi yang tersirat dalam pandangan mata. Jelas amarah memuncak menjadi awal kecemasan, tetapi ia tahu bahwa istrinya bisa mengendalikan perasaan dan menggunakannya logika.


"Butterfly, pergilah! Biarkan pelayan ini urusanku." tukas Rey seraya mengusap pipi istrinya, ia hanya ingin menyalurkan semangat dengan harapan suasana hati Asma kembali kondusif.


Namun, semua yang terjadi bukanlah masalah emosi, tetapi tentang harga diri. Apa yang di lakukan Suketi, orang-orang akan menyebutkan sebagai wanita murahan. Bagaimana tidak? Gadis yang seharusnya fokus kerja itu, pagi ini justru bertindak di luar batas. Apalagi di depan tamu penting.


"Mas, apa kamu tidak lihat penampilannya?" Tatapan mata yang tegas dengan seulas senyum tipis sinis menyeringai, "Gadis ini harusnya belajar bagaimana cara menghargai diri sendiri, tapi justru sibuk mengumbar aset masa depan. Apa dia di sini untuk belajar menjadi penghibur pria hidung belang?"


"Nyon ...,"

__ADS_1


Suara Suketi tercekat. Sakit hati ketika wanita tidak cantik di depannya menyamakan kehidupan yang dia miliki menyerupai wanita malam di luar sana. Apa salahnya tidak memakai kacamata yang menyesakkan dada? Toh seragam yang dikenakan tebal bahkan pasti tidak kelihatan dari luar.


Squash yang di maksud Jovanka adalah dua puncak gunung kembar milik gadis pelayan dimana tanpa penutup yang seharusnya. Sehingga lekukan yang terekspos begitu jelas dan dengan bangganya membusungkan dada ketika di depan banyak pria. Jika tidak disebut murahan, apa panggilan yang tepat?


"SHUT UP!" Bentak Rey tak mau gadis tak punya tata krama itu mendebat istrinya, tangan yang terangkat dengan kelima jari terbuka langsung membungkam Suketi.


Pelayan itu terlonjak kaget hingga tubuh tersentak mundur ke belakang. Keberanian yang menggebu-gebu perlahan mulai menyusut. Asma bisa menahan diri untuk tidak berteriak, tetapi pria yang menjadi pujaan hatinya itu justru murka tanpa pengendalian diri. Sakit hati semakin bertambah begitu melihat tatapan penolakan dari sang tuan.


Kemarahan Rey jelas mengejutkan semua orang bahkan Bi Jia tak bisa melanjutkan mengemas pakaian Suketi ke dalam tas, sedangkan Asma menghela nafas. Tak ingin semakin menambah ketegangan, satu langkah kaki maju, lalu menghamburkan diri memeluk suaminya. Usapan lembut berusaha melepaskan aura negatif yang terus menyebar.


"Kemarahan itu, musuh utama setiap manusia. Istigfar, Mas. Aku membutuhkan ketenangan dari dalam dirimu.Tarik nafas, embuskan perlahan." Suara detakan jantung berpacu cepat terdengar begitu jelas, membuatnya harus sabar menahan diri untuk tetap memiliki emosi yang stabil.


"Aku tahu," Asma melepaskan pelukannya, lalu berbalik menghadap menatap Suketi yang masih terlihat shock. "Bi Jia, tolong bawa gadis ini ke luar pintu utama dan pastikan dia mengubah penampilan yang bisa menjadi wanita minim harga diri."


"Baik, Nyonya." jawab Bi Jia sedikit tergagap, membuat Asma merasa bersalah dengan kejadian yang tidak terduga.


Tanpa kata, Asma membawa Rey meninggalkan kamar pelayan dengan bergandengan tangan. Namun, belum sempat langkah kaki melewati batas pintu kamar. Sebuah benda merah melayang di udara. Benda itu melesat terlalu cepat hingga Bi Jia tidak sempat untuk memperingatkan.


Rey yang menyadari adanya bahaya langsung merengkuh pinggang Asma membawa wanitanya bersembunyi ke dalam dekapan. Gerakan yang cepat bersambut rasa sakit mengenai punggung. "Asma, kamu gak papa? Apa ada yang sakit?"

__ADS_1


Si gadis desa masih menyesuaikan diri mengatur degub jantungnya. Gerakan reflek Rey yang tanpa pemberitahuan menyambar tubuhnya, itu sangat mengejutkan tetapi detik berikut ia sadar sesuatu yang salah sudah terjadi. Tak ingin berspekulasi dini, pelukan dilepaskan. Lalu mengedarkan pandangan mencari penyebab yang menghalangi kepergian mereka berdua.


Ternyata kotak merah yang disembunyikan Suketi menjadi sasaran pelampiasan gadis itu. Apa di usianya yang masih terbilang muda, gadis itu nol attitude? Heran sendiri kenapa ada pelayan nglunjak yang tidak tahu harga diri itu penting untuk dijaga. Di ambilnya kotak yang tergeletak di lantai dengan kondisi sedikit lecek karena membentur punggung Rey.


"Butterfly!" Rey memanggil istrinya pelan agar Asma tetap memiliki kesadaran karena aura wanitanya itu tiba-tiba berubah tak enak. "...,"


Tidak ada kata yang akan mengganggu keputusannya. Entah Rey berbicara apa, tetapi langkahnya berjalan dengan pasti menghampiri Suketi seraya menggengam kotak merah di tangan kanan. Kotak yang kemungkinan besar berisi perhiasan. Apapun isi dari kotak itu, tetap saja pelayan itu sudah bertindak semakin kurang ajar.


Asma mengulurkan kotak hingga menutupi wajahnya. Jangankan wajah murka, senyuman manis terus tersungging menghiasi wajahnya. "Apa kamu bosan hidup? Diam-diam melihat suamiku, memuja bahkan tidak sungkan memamerkan barangmu. Apa kamu tidak punya akal?"


"Wanita bukan barang, tetapi berkat gadis tak berakal seperti mu. Pria di luar sana menatap wanita sebagai pemuas nafsu." Asma melepaskan kotak merah tanpa peduli uluran tangan Suketi yang menggantung di udara, lalu tanpa permisi mengantarkan sentuhan lima jari menampar pipi pelayan di depannya tanpa ada keraguan.


Suara yang cukup keras dan menghentakkan kesadaran semua orang. Asma menunjuk wajah Suketi tanpa mengenal rasa takut, tatapan mata keduanya saling beradu. Ia tahu kebencian milik Suketi semakin bertambah. Namun, apakah sikap pelayan yang kurang ajar bisa dibenarkan? Tidak, wanita harus tahu cara menjaga kehormatan mereka.


"Kamu mimpi jadi nyonya rumah? Pria tidak membutuhkan tubuh untuk dijadikan ratu, tetapi kamu bisa menjadi selimut penghangat ranjang. Usiamu terlalu dini untuk lupa diri. Jika tidak ada yang mau mengingatkanmu untuk berkaca. Tamparan ku akan selalu menjadi peringatan."


Skakmat. Suketi terdiam tak mampu berkata. Pedas, panas, menusuk tepat ke jantung. Bukan hanya tamparan. Apa salahnya jatuh cinta, memang dia akui tindakannya melewati batas. Lebih dari semua itu, ia ingin menempati posisi wanita yang kini menatapnya tegas dengan aura intimidasi.


Sah 'kan? Cinta tidak pernah salah. Sudahlah, pemikiran gadis pelayan itu memang sempit seperti celah di tembok. Mau dikatai kasar, manis atau umpatan pun tidak akan sadar diri. Apa gunanya cantik dengan body goal? Wanita manapun harus tahu arti kehormatan dan harga diri yang selalu wajib untuk di jaga. Ya kali mau di panggil wanita murahan.

__ADS_1


"Dia tidak akan paham, Ka. Tatapan mata, tindakan, kebencian dan perlawanan jelas terungkap jelas tanpa perlu dijelaskan. Gadis dengan pemikiran picik harusnya di buang, bukan dipertahankan." sahut Fay yang berdiri di luar pintu dengan membawa Jovanka yang terus merengek meminta bertemu Asma.


__ADS_2