
Suara helaan napas begitu dalam menyudahi kegelisahan hatinya. Apa yang bisa ia katakan? File dokumen pemberian Bagas sudah cukup menjadi bukti kehidupan Elora dengan seluk beluk yang selama ini dijalani wanita itu. Akan tetapi, pada akhirnya ada pertanyaan baru yang datang tanpa diminta.
"Dia nekad dan gerakannya selalu terencana. Apa kamu pikir bukti ini cukup? Bagaimana jika semua bukti diubah dan justru menyudutkan posisi kita? Begini saja," Rey menyodorkan file ke Bagas kembali, "Simpan dan awasi wanita itu mulai hari ini! Aku rasa masih banyak kejutan di kemudian hari."
Bagas paham maksud dari sahabatnya. Memang benar bukti selalu bisa dimanipulasi, terlebih lagi Elora memiliki dua dukungan yang sangat mudah untuk dipengaruhi. Dimana dukungan itu sebagai seorang dokter baik dan putri pengusaha handal. Meski kenyataan berkata lain, tetap saja itu hanya dibalik layar.
"Sebenarnya bukan cuma itu yang mau kutunjukkan, tapi apa mood mu masih aman?" Bagas memastikan keadaan Rey masih dibatas emosi yang baik karena berita selanjutnya berupa ladang masalah peningkat rasa sabar sebagai seorang suami dan saudara.
Rey mempersilahkan Bagas untuk melanjutkan. Entah baik atau buruk, ia harus mendengar terlebih dahulu. Sebagai manusia tentu tidak melupakan hakikatnya. Dimana setiap kisah pasti memiliki banyak sudut pandang. Baik dari si penulis takdir, pembaca dan pendengar. Jangan berspekulasi dini ketika kisah baru dimulai.
Diambilnya ponsel dari tempat persemayaman, lalu pria itu memainkan si benda pipih sesaat hanya untuk mencari hasil interogasi yang sudah susah payah ia usaha dapatkan. Sebuah video yang berdurasi dua puluh menit diserahkan pada Rey. Sahabatnya itu enggan untuk melihat, tetapi tetap menekan tombol play.
Ternyata video tersebut berisi pengakuan para pelayan, pelanggan dan beberapa staff yang bersangkutan di hari insiden penyiraman kuah bakso mercon. Bagas sengaja melakukan interogasi demi antisipasi, seandainya Elora melakukan sesuatu untuk menjebak Asma. Pasalnya dari pihak lawan juga memiliki kekuatan dan uang.
Sementara sang adik? Tetap saja baru menginjakkan kaki ke kota dan awam akan pepatah orang kota yang suka sekali membesarkan masalah tanpa pandang bulu. Jika masih sesama orang biasa, bisa jadi mundur karena uang lebih baik digunakan untuk makan. Akan tetapi posisi saat ini bisa dikatakan seimbang.
Dua puluh menit berlalu tanpa ada gangguan, bahkan Rey hanya diam mendengarkan menggunakan earphones bluetooth. Setiap pengakuan begitu jelas tanpa ada keraguan. Jadi semua yang terjadi di cafe pada saat itu memang bentuk pembelaan diri, lalu kenapa harus melibatkan kuah bakso mercon?
__ADS_1
Awalnya bingung dengan aksi Fay, tapi kini ia paham. Saudara online istrinya itu memiliki jiwa melindungi yang akan selalu menjadi perlawanan, sedangkan Asma sendiri lebih suka perdamaian. Ikatan hati dipenuhi akan kasih sayang yang saling mendukung. Walau kenyataan tetap mengatakan tindakan tersebut tidak bisa dibenarkan.
Seperti yang biasa dikatakan penasehat hukum. Dimana tindak pidana bisa ditegaskan dengan bukti yang kuat. Sadar akan kesulitan yang bisa di dapat, maka lebih baik mencegah segala sesuatunya. Meski untuk itu harus menyiapkan bahan barteran. Bukti yang ada pada mereka hanya salah satu kunci kebebasan.
"Are you okay, Bro?" Bagas menepuk pundak Rey karena pria itu melamun memikirkan semuanya begitu serius, padahal video sudah berakhir.
Rey mengangguk lalu menyandarkan tubuhnya ke belakang seraya menoleh ke arah pintu kamar yang ada di balik rak buku. Entah apa yang dilakukan sang istri saat ini, tapi pikirannya sedikit tak baik karena duri yang datang berniat merusak rumah tangganya. Siapa lagi jika bukan Elora.
Jujur, dirinya tidak pernah memiliki ekspektasi yang terlampau jauh. Ternyata kesimpulan yang menjadi nilai kepribadian tak berguna bahkan terlalu dangkal. Bukankah seorang dokter paham bahwa mengganggu orang secara mental juga salah satu penyebab rusaknya kepercayaan? Jika iya, kenapa Elora bertindak seperti pecundang?
"Rey, Asma bukan wanita lemah. Apa kamu takut ketenangannya terganggu karena Elora?" tanya Bagas tanpa ingin menyembunyikan perasaan di hatinya, meski ia tahu bahwa Rey memiliki cara sendiri untuk menghadapi kenyataan.
Semua orang bisa belajar, lalu berjalan berproses menjadi sukses dengan berdiri di kakinya sendiri. Akan tetapi sebagai seorang suami, ia merasa tidak seharusnya menempatkan Asma di dalam pergulatan panas bisnis dan cinta. Sungguh sejak awal hanya ingin memberi kebahagiaan nyata tanpa ada pikulan tanggung jawab dari segala arah.
Namun takdir menggariskan kehidupan rumah tangganya tidak sesederhana harapan. Sekarang seperti berdiri diantara dua tiang keadilan. Bisa saja waktu mempersulit dirinya untuk memilih antara hak istri atau hak seorang pengusaha. Meski pada kenyataan yang ada, Asma hadir sebagai penyelesaian masalah perusahaan.
Ia juga menyerahkan saham setengah dari miliknya agar istrinya bisa memiliki andil dalam proses tumbuh kembang perusahaan. Demi berlangsungnya semua itu, ia sendiri mengajari Asma dasar dari bisnis keluarga yang harus dipahami agar mengenal visi misi perusahaan tanpa menimbulkan kesenjangan keputusan.
__ADS_1
Semua tengah diusahakan, tetapi dalam keadaan yang secepat kilat. Bagaimana istrinya akan menyerap semua itu? Ia sadar bahkan pendidikan Asma hanya mencapai sekolah menengah pertama. Sementara istilah di dalam bisnis banyak melibatkan organisasi dan bahasa asing. Benar-benar tidak tahu harus melakukan tindakan seperti apa.
Jujur saja hatinya dilema setelah memikirkan segala sesuatunya lebih dalam lagi. Tanpa sadar Rey melamun membuat Bagas menggelengkan kepala, "Reyhan Aditya!" Ditepuknya lengan pria yang langsung tersentak kaget. "Mikirin apa sih? Dipendam sendiri gak nemu hasilnya, Bro."
Sekali lagi menghela napas panjang, "Aku khawatir tentang Asma. Apa menurutmu menjadikan istriku bagian dari perusahaan sudah benar? Bukankah keputusan ini terkesan mengekang kebebasan Asma."
Masalah yang memang patut untuk dipikirkan lebih matang, tetapi apa dengan begitu bisa menyelesaikan masalah? Justru pemikiran ulang menimbulkan keraguan hati semakin dalam, sedangkan keyakinan bukan untuk dipertanyakan. Anggap saja keputusan itu terlalu buru-buru, tapi Asma bisa menolaknya.
Namun, lihatlah hasil dari diskusi yang berakhir persetujuan. Seingatnya wanita satu itu selalu melakukan segala sesuatunya dari hati tanpa paksaan. Jadi apakah pertanyaan dari Rey masih harus dipertanyakan? Rasanya terlalu ambigu karena pemikiran hari ini sudah terlambat.
"Your wife has decided that everything her did without any coercion. If you want she to retreat, just tell her." tegas Bagas tak ingin melemahkan posisi Asma, sebagai seorang kakak hanya berusaha memberikan kesempatan untuk berjuang dan sebagai seorang sahabat menyerahkan penilaian tanpa ikut menilai.
Mungkin Rey masih berpikir bahwa dirinya memiliki istri polos dari desa, tapi ia tahu seorang Asma hanya wajahnya saja yang kalem. Sementara tindakan selalu berakhir skakmat, meski tidak main kasar dan selalu tersenyum tipis misterius. Tiba-tiba ia ingin fasihnya bahasa asing wanita satu itu.
"Rey, pandanglah istrimu sebagai wanita karir dan berikan waktu agar dia belajar kejamnya dunia bisnis. Bukankah kita masih hidup? Apa yang kamu takutkan, ubahlah menjadi keteguhan hati. Your wife knows how to fight." sambung Bagas membuat Rey kembali merengkuh kesadarannya.
🧩🧩🧩
__ADS_1
Ketika banyak bisikan tak masuk akal menerobos kenyataan yang ada. Seseorang harus membawa kesadaran itu kembali dalam genggaman tangan.
^^^🦋🦋🦋^^^