
Setiap manusia memiliki pemikiran dan emosinya masing-masing. Tidak ada yang berhak untuk mengatur, apalagi mencoba untuk menenggelamkan dalam ego. Seperti yang dialami Fay. Dimana gadis itu mencoba untuk menenangkan diri duduk di tepi kolam renang seorang diri.
Rembulan malam menatapnya seakan tengah mengejek nasib kehidupan yang membosankan. Selama ini hanya ada ia dan keluarga, bahkan kedua orang tua serta orang-orang yang mengenalnya saja belum pasti memahami bagaimana dirinya. Lalu kehadiran Bagas seperti satu kerikil tajam yang tertancap di telapak kaki.
Mengembuskan napas secara perlahan. Rasa lelah di tubuh tak sebanding dengan nyeri di hati. Bolehkah berteriak? Ia tahu dengan hasil dari tindakannya, tapi kenapa harus Bagas yang mempermasalahkan itu? Padahal jika pria yang menganggap kakaknya sebagai adik tahu akan kelakuan Elora...
Pria itu pasti membalas perlakuan Elora lebih kejam darinya. Yah, itu bisa dipastikan. Why? Dia saja yang berbuat satu tindakan melibatkan Ka Asma berakhir dibentak tanpa peduli waktu yang sudah mulai larut. Pembelaan yang benar, tetapi di waktu yang salah.
"Minum, Non. Boleh bibi ikut duduk?" tanya Bi Jia meminta izin seraya mengulurkan secangkir coklat hangat untuk Fay.
Seulas senyuman menyambut hangat niat baik dari Bi Jia. Tidak menyangka akan ada yang perhatian di saat ia membutuhkan teman untuk sekedar duduk bersama. Diterimanya cangkir motif bunga matahari yang terlihat lucu. Aroma manis menguar memberi ketenangan.
"Makasih, Bi. Tahu aja coklat hangat kesukaanku." balas Fay, lalu meniup asap putih yang mengepul, tetapi tatapan matanya masih tenggelam menatap air di dalam kolam renang.
Bi Jia menggelengkan kepala, "Nyonya mengirim pesan minta bibi buatin minuman kesukaan Non Fay. Satu lagi pesannya yaitu supaya duduk nemenin Non disini."
"Ka Asma?" Fay bertanya, sesaat menoleh menatap Bi Jia yang menganggukkan kepala tanpa ragu. "Kakak memang terbaik, by the way boleh gak nih ceritain gimana rasanya punya majikan seperti kakakku yang pendiam."
Pertanyaan yang jelas, sayangnya langsung mengundang tawa Bi Jia. Bagaimana menjelaskan pada Fay bahwa nyonya rumah pernah melakukan sidang pertama yang membuat semua pelayan merasa dihargai sebagai keluarga. Sejak saat itu, semua berubah lebih teratur dengan beban kerja sesuai kemampuan.
__ADS_1
"Semua lebih baik, Non. Bibi ikut bahagia melihat keluarga Tuan Rey mendapatkan wanita yang bisa menjadi rumah untuk berpulang. Dulu takut dengan sikap dua majikan yang selalu sibuk kerja sampe lupa waktu. Eh, tiba-tiba pulang bawa nyonya muda. Perasaannya itu langsung adem.
"Apalagi dua patung yang biasanya seperti robot berubah drastis menjadi anak penurut. Bibi inget malam pertama pas acara makan seperti hujan es. Nyonya sampai turun tangan buat cairin suasana, Non. Pelayan aja cuma bisa melongo ngintip dari celah jendela." sambung Bi Jia dengan ekspresi wajah yang menggemaskan seakan siap mencubit kedua majikannya.
Bi Jia masih menceritakan kisah sederhana penuh kecerian, bahkan tak luput dari ekspresi wajah yang terus mengikuti alur emosi di setiap suasana dalam kenangan masa lalu. Obrolan semakin jauh hingga mengalihkan rasa sedih yang menguasai hati Fay. Keduanya tidak sadar ada orang ketiga yang berdiri di balik pintu kaca menuju kolam renang.
Suara tawa pelan menghantarkan kesadaran akan perlakuannya yang keterlaluan. Ingin datang menyapa seraya membawa bendera putih sebagai bentuk perdamaian. Akan tetapi langkah kaki berat untuk digerakkan. Biarlah semua tetap sebagaimana mestinya. Pertengkaran terkadang baik untuk kesehatan.
Pemikiran yang aneh. Pertengkaran tanpa hubungan hati? Bagaimana bisa dikatakan baik. Penjelasan saja tidak diperlukan ketika hubungan hanyalah sama-sama orang asing. Sepertinya ia tidak sadar tengah memupuk rasa kecewa di hati gadis yang kini menguasai pikiran.
Aku lupa menanyakan kabar keluarga adikku. Astagfirullah, kamu ini Nando. Bisa pikun di waktu yang salah.~gumam hati Bagas, lalu berjalan meninggalkan tempatnya berdiri.
Seharusnya memberikan kejutan pada Asma agar bisa menjauh dari Elora. Akan tetapi berkat izin Rey yang membebaskan istrinya menikmati dunia bersama kedua saudara lain. Maka akhir dari hari hanyalah masalah yang tidak bisa direka ulang. Bisa saja wanita tidak waras itu balas dendam.
Jika saham hanya dua persen atau lima persen. Maka tidak ada yang penasaran, tetapi Rey memberikan empat puluh persen yang ia ambil dari delapan puluh persen saham miliknya. Secara tidak langsung menyatakan istrinya berhak membuat keputusan di dalam perusahaan. Wow banget 'kan?
Biasanya banyak pebisnis yang mengamankan harta kekayaan. Meski tidak memperhitungkan hadiah mewah atau liburan mahal, tetap saja menganggap bisnis adalah bisnis dan wanita hanya cukup menjadi ibu rumah tangga. Simple karena itu terbiasa menjadi kebiasaan para pria.
Setiap kenyataan akan selalu berakhir menjadi dua tujuan. Kegagalan atau keberhasilan? Manusia berpikir kemenangan adalah bukti kemampuan yang semakin meningkat atau bisa dikatakan paling nomor satu. Padahal kegagalan juga diperlukan untuk menjadi ladang introspeksi diri.
__ADS_1
Putaran waktu yang terus menunjukkan pergantian malam melepaskan separuh angan tak bertuan. Dilema hati dalam kepastian. Sisa rasa tanpa jawaban. Logika dipertaruhkan demi kebenaran. Tidak peduli akan harapan tanpa perjuangan. Semu menyisakan kepalsuan.
Semburat keemasan menerobos masuk mengusik mimpi semalam, "Eeuughh, masih pagi. Kenapa dibuka kordennya?"
"Bangun anak gadis!" Ditariknya selimut yang menutupi tubuh Fay hingga pandangan mata saling bertemu, "Kita harus mengikuti rapat pukul delapan tiga puluh. So, bersiaplah! Oh ya, De Nau mengirim pesan agar aku mengingatkan kamu sesi makan siang di salah satu restoran."
"Nau? Kenapa aku gak tahu, Ka. Harusnya kan chat atau call dulu gitu. Anak itu kebiasaan deh, suka main bikin janji tanpa pemberitahuan dulu." Bukannya beranjak turun dari tempat tidur, gadis satu itu menyambar ponsel dari atas nakas.
Tatapan mata mengerjap tak percaya dengan isi layar ponselnya yang baru saja ia nyalakan. Ekspresi lucu Fay, membuat Asma terkekeh pelan. Seperti yang dikatakan sang adik bahwa gadis satu itu melupakan ponsel ketika sibuk menenangkan diri. Perenungan panjang semalam sepertinya karena masalah kemarin siang.
"Sudah cukup menatap layar ponselmu. Cepat mandi! Aku tunggu di bawah," Asma menegur Fay agar kembali ke dunia nyata. Setidaknya harus bersiap 'kan?
Suara langkah kaki yang menjauh membawa Fay pada erangan pelan. Nyawanya masih belum terkumpul, tetapi harus sadar karena tertampar pesan Nau yang tidak bisa diganggu gugat. Pesan berantai tentang sesi makan siang yang harus ia datangi menjadi penentu kehidupannya. Ingin sekali kembali tidur memeluk mimpi indah, tapi tidak mungkin.
Suka, tak suka harus mengambil keputusan dengan jari yang menari diatas keyboard mengetik beberapa huruf sebagai balasan atas persetujuannya. Lalu diletakkannya benda pipih itu ke atas ranjang, kemudian beranjak turun dari tempat tidur untuk melakukan ritual mandi.
.
.
__ADS_1
.