
Terbiasa dengan silent mode mobile. Bagas fokus menyetir, sedangkan sang penelpon mulai khawatir menunggu. Bagaimana tidak? Pria satu itu mengatakan akan datang selama kurang lebih sepuluh menit setelah pekerjaan selesai, tapi sampai dua puluh menit berlalu. Justru tidak ada kabar. Sementara menelpon kantor, orangnya sudah mengabarkan pria itu keluar dari kantor.
Rasa khawatir yang lumrah. Setiap kali mereka pindah ke Jakarta. Maka akan banyak kegelisahan yang tidak bisa dihindari. Kalut? Yah, sekaligus cemas, tetapi sentuhan tangan yang menggenggam tangannya. Seketika kembali menyadarkan ia kembali ke dunia nyata. Seulas senyum dengan tatapan tenang menyambut dalam sorot pertanyaan. Ada apa?
"Ayo, kita masuk bioskop dulu." Rey membalas genggaman tangan sang istri, kegelisahan yang memenuhi hatinya begitu terasa dengan tangan dinginnya. "Jangan khawatir, Bagas pasti lagi sibuk di kantor. Kita tunggu di dalam saja."
"Mas, film di bioskop akan selalu diputar selama bangunan ini masih menjadi mall. Lupakan soal film. Katakan, ada apa dan jangan memberikan alibi yang hanya membohongi diri sendiri." Jawab Asma tak ingin melihat kecemasan yang sungguh terlalu cepat.
Jika orang bisa mengendalikan emosi. Tentu ekspresi wajah akan sulit ditebak, tetapi suaminya bersikap terlalu kontras. Seakan perubahan drastis sudah menjadi hal biasa. Jika Bagas tidak datang tepat waktu. Mungkin saja terjebak macet atau masih melakukan sesuatu di suatu tempat. Akan tetapi, bukan itu. Ada hal yang menjadi alasan paling utama dan ia ingin tahu itu.
Bukan ratapan anak tiri dalam novel. Emosinya akan selalu sama karena di Jakarta bukan tempat untuk mencari ketenangan. Melainkan sibuk dengan dunia yang tidak pernah terlelap walau sedetik sekalipun. Bagaimana menjelaskan pada istrinya? Jika kegelisahan hatinya berasal dari si biang kerok Elora. Satu alasan yang tidak ingin diucapkan.
"Semua baik, Istriku. Aku hanya khawatir karena Bagas biasanya selalu on time. Jadi seperti itu saja." Balas Rey dengan senyum terpaksa agar bisa meyakinkan Asma.
Satu jawaban, tapi sorot mata berkata lain. Terlalu mudah untuk dinilai dalam sekali pandang. Namun, untuk berkata jujur. Ia harus melakukan sesuatu. Dilepaskannya tangan, lalu beranjak dari tempat duduknya. Langkah kaki berjalan maju, kemudian memeriksa kening, leher dan juga denyut jantung hingga tatapan matanya saling bertautan ketika sejajar.
"Detak jantung lari marathon. Tubuh dingin, mata tak terbaca." Asma semakin menatap suaminya, tatapan mata yang dalam, "Bernafaslah! Atau pergilah ke kamar mandi. Basuh wajah dan tenangkan pikiran."
__ADS_1
Saran yang bagus, tapi tidak ingin melakukan itu. Ia hanya membutuhkan tangan untuk tetap bersamanya. Tanpa kata, diraihnya tangan sang istri, lalu meletakkannya ke dada. "Kamu disini bersamaku. Itu sudah cukup. I know everything, maaf aku lupa kamu tidak bisa bahasa asing. Aku percaya semua akan baik-baik saja."
"Hmm. What's means, I know everything?" tanya Asma mengerjapkan mata tak berdosa, membuat Rey tersenyum tipis.
Rey membalas tatapan istrinya lebih lembut lagi. Ia tak ingin menyalurkan emosi berlebihan hanya akan menambah kegelisahan. "Artinya, aku tahu semuanya. Kurang lebih seperti itu, Asma."
Rupanya pria itu tidak menyadari akan kalimat pertanyaan dari Asma yang full bahasa Inggris. Ingin rasanya berkata sadar Rey. Istrimu tahu bahasa asing, tapi hanya berpura-pura tidak tahu. Percuma juga. Tatapan mata polos seakan tengah meniru gaya bicara orang lain. Terlalu absurd untuk menjadi bukti.
Ditengah kebersamaan yang saling mencoba untuk memberi ketenangan. Akhirnya Bagas sampai ke tempat tujuan. Pria itu berlari kecil menuju tempat yang seharusnya sudah ia kunjungi beberapa waktu lalu. Ponselnya juga mengatakan, jika Rey pasti tengah khawatir.
"Assalamu'alaikum, maaf terlambat." Laungan salamnya mengalihkan perhatian Rey dan Asma secara bersamaan, tapi tangan yang saling tergenggam membuatnya tersenyum tipis. "Aroma pengantin baru, silahkan dilanjutkan. Kenapa gak bilang sih, kalau mau berduaan?"
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab pasutri itu serempak.
Ditariknya tangan, lalu berpindah ke kursi sebelumnya. Ia mempersilahkan agar Bagas bisa duduk di kursi sebelah Rey. Bagaimanapun ia sadar, jika suaminya pasti membutuhkan waktu untuk mengungkapkan rasa khawatir yang beberapa waktu tergenggam dalam hati.
Namun, tidak ada kata yang keluar. Kedua pria itu, seperti sepakat untuk diam. Aneh, apa itu karena ada dirinya? Mungkin hanya perasaan saja. "Kalian main obrolan batin, ya?"
__ADS_1
Pertanyaan yang menohok. Bagaimana orang bicara batin? Mereka bukan orang pintar yang mendalami ilmu seperti orang zaman dulu. Obrolan batin? Ada-ada saja Asma. Tak ingin semakin dicurigai. Bagas mengambil ponselnya, lalu mencari alasan atas keterlambatannya.
"Suamimu itu, selalu berlebihan Asma. Aku hanya memeriksa tempat baru yang akan dijadikan lokasi proyek, tapi seperti biasa. Rey akan khawatir dengan keselamatanku. Sebenarnya, situasi saat ini sedikit sulit. Ada musuh dalam dunia nyata. Jadi kurang lebih seperti itu." Jelas Bagas, tetapi penjelasan itu bukan untuk Rey, melainkan untuk Asma.
Ia harus meyakinkan istri sahabatnya karena ia tahu. Jika Asma hanya pengamat, bukan orang yang suka mengeluh. Satu saja garis logika keluar jalur. Bisa jadi berimbas pada kenyataan yang sebenarnya. Tidak mungkin kan, ia berkata. Kehidupan Rey terjebak antara pekerjaan dan Elora yang posesif. Namun, cepat atau lambat semua akan terungkap.
"Mas Rey yang memerlukan penjelasan. Bukan aku." Diraihnya gelas jus yang tinggal setengah, untuk apa menyuapi bukti? Jika bukti itu, bukanlah kebenarannya.
Manusia boleh bersiasat apapun dan bagaimanapun. Akan tetapi, gestur tubuh dan tindakan yang secara reflek akan berubah menjadi arti lain. Seperti cara Bagas menyampaikan. Ucapannya tepat, tetapi lirikan mata ke Rey meminta persetujuan. Ada sesuatu yang tidak perlu kata, namun sudah memberikan jawaban.
"Kita semua sudah kumpul. Ayo, kita nonton." Ucap Rey mengalihkan ketegangan agar kembali kondusif, lalu beranjak dari tempat duduknya, kemudian mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan sang istri. "Asma, come."
Bukannya menerima, Asma juga ikut mengangkat tangannya, tetapi, "Pelayan! Kemari."
Sontak saja Rey dan Bagas saling pandang. Kenapa malah memanggil pelayan? Bukankah jadwal film tinggal lima menit lagi. Sesaat mencoba untuk membaca situasi. Namun, ketika pelayan datang dan bertanya. Asma memesan beberapa jenis makanan yang tertera di menu makanan. Obrolan yang cukup panjang karena gadis itu juga bertanya setiap makanan terbuat dari bahan apa saja.
"Kalian mau nonton? Pergilah! Aku ingin makan, lalu pulang." Kata Asma pasti dan tak memberikan kesempatan untuk Rey atau Bagas mempertanyakan tindakannya.
__ADS_1