Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 25: Berjalan Lancar, Satu Pertanyaan


__ADS_3

"Bersiap, Bro. Ini sebentar lagi magrib." Bagas menepuk bahu sahabatnya agar kembali ke bumi.


"Hmmm. Aku akan bersiap, dan ya. Cancel semua meeting untuk satu minggu kedepan." Tegas Rey beranjak dari tempatnya, lalu berjalan meninggalkan sang sahabat yang sibuk menggendong Adi.


Tiga puluh menit berlalu. Para warga mulai berdatangan. Tentu hanya para bapak-bapak saja yang akan tahlilan atau biasa disebut sebagai kenduri. Orang Jawa terbiasa melakukan acara syukuran dengan mengundang warga sekitar rumah. Hal ini juga akan menjadi awal pertemuan untuk memperkenalkan menantu baru yang kini menjadi warga desa tersebut.



Jangan sampai. Suatu hari, ketika menginap di rumah mertua. Tidak seorang warga pun yang tahu. Jika Rey adalah menantu Ayah Rasyid. Pasti tidak lucu. Namun, akan lebih mudah disebut sebagai acara silaturahmi penduduk setempat.



Satu persatu kehadiran warga mulai memenuhi kursi tamu undangan. Bukan hanya warga sekitar rumah. Teman kerja dari Ayah Rasyid dan sanah keluarga yang jauh turut andil dalam kebahagiaan malam ini. Penyambutan yang dilakukan pun, juga melibatkan keluarga inti.



"Alhamdulillah, ya, Pak. Akhirnya putri terakhir nikah juga." Pak RT menyalami Ayah Rasyid dengan hangat, lalu duduk di sebelah sang tuan rumah. "Ngomong-ngomong, menantu bapak yang mana? Apa belum kemari?"



Ayah Rasyid hanya tersenyum ceria, lalu mengulurkan tangan menunjuk ke arah Rey dan Bagas yang sudah duduk bersama putranya di ruang tamu. Berhubung pintu rumah terbuka lebar, maka semua yang ada di ruang tamu nampak jelas dari barisan kursi depan rumah.



"Wah, gagah kaya Gatotkaca. Pinter tenan carinya," puji Pak RT tak percaya dengan wujud dari menantu Ayah Rasyid.



"Bisa saja, Pak Rt. Alhamdulillah, sekarang udah bisa menikmati masa tua. Ayem rasanya melihat anak terakhir bisa mentas." sahut Ayah Rasyid merasa lebih baik dengan semua yang sudah terjadi, sebagai seorang ayah telah menyelesaikan semua tanggung jawab.



Obrolan berlanjut dengan masalah yang biasa dialami oleh bapak-bapak. Sangat random, hingga Pak Kyai mengucapkan salam. Kemudian memulai proses pengajian yang berlangsung selama tiga puluh menit. Bukan hanya satu sesi karena Rey diminta untuk membacakan ayat suci Al-Quran sebagai salam keluarga.


__ADS_1


Suara merdu dengan bacaan tartil melantunkan Surah Ar-Rahman. Begitu fasih hingga membuat Pak Kyai memejamkan mata menikmati syahdunya pujian pada Sang Pencipta. Tak ayal para warga ikut tercengang. Ayah Rasyid mendapatkan menantu yang bisa menggemparkan warga.



Bukan hanya tampan, tetapi juga sopan dengan suara merdu yang menyejukkan hati. Suasana pengajian begitu khidmat, hingga sesi istirahat memberikan waktu untuk para warga saling bercengkrama. Ayah Rasyid memperkenalkan Rey sebagai menantu terakhir dengan bangga.



Sementara di balik tirai, Asma hanya terdiam. Meski di sekelilingnya ada seluruh anggota keluarga wanita. Entah kenapa hatinya terasa hampa. Samar-samar rasa yang dulu ada, kembali hadir menyusup ke dalam dada.



*Ya Allah. Lapangkanlah hati hamba. Ikhlaskan akan rasa yang telah membeku. Hanya Engkau tempatku mengadu dan berserah diri. Bimbinglah hamba untuk menjadi istri yang baik dengan sgala kekurangan.~ ucap hati Asma mencoba untuk melepaskan semua yang menjadi bagian hidupnya selama ini*.



Luka yang menyayat hati. Tidak seorangpun mampu melihat, lalu mengobati seperti luka fisik. Selama ini, gadis itu terjebak akan kesendirian dengan segala prinsip menjaga jarak akan hubungan baru. Namun, malam ini. Bersama lantunan ayat yang Rey persembahkan. Hatinya terenyuh menyadari akan babak baru kehidupannya.



Semua warga mulai meninggalkan rumah Ayah Rasyid pukul sembilan malam. Entah berita apa yang akan tersebar esok hari, tetapi yang jelas pasutri baru siap melakukan resepsi esok pagi. Demi kelangsungan acara. Ibu Zulaikha meminta Bagas untuk membawa putri dan menantunya kembali ke hotel saja.




Ingin menolak, tapi tidak mungkin mengecewakan permintaan kecil sang ibu mertua. Akhirnya Bagas, Rey, dan Asma menyerah kembali ke hotel. Ketiga orang itu tengah menikmati lampu kelap-kelip sepanjang perjalanan ke kota.



"Apa kalian ini, lagi marahan?" tanya Bagas menyudahi keheningan sejak masuk ke dalam mobil delapan menit yang lalu, membuat Rey melirik sekilas ke arahnya, kemudian beralih ke kursi belakang.



Asma duduk sendirian di belakang sana. Wajah dengan sapuan make up tipis, hijab paris merah muda yang membalut kepala dengan gaun brokat coklat keemasan. Paduan yang kalem, tetapi elegan. Sayangnya, wanita itu terus diam dengan bibir yang terkunci rapat.

__ADS_1



Padahal kedua pria yang bersamanya, tidak memiliki salah apapun. Apalagi tahu, sebab musababnya. Ingin menegur, takut menjadi kesalahpahaman. Serba salah pokoknya. Rey menghela nafas panjang, begitu juga Bagas yang masih memiliki rasa bersalah terhadap istri sang sahabat.



"Ka Bagas, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Asma membuka suara setelah memikirkan segala sesuatunya dengan baik, lirikan mata yang terarah menatap ke depan dengan ekspresi wajah yang datar.



Bagas mengangguk pelan, membuat Rey bersitegang. Seketika ada rasa sesak yang menyapa. Tidak tahu, apa yang akan ditanyakan istrinya pada sahabatnya itu. Akan tetapi, rasa was-was datang begitu saja.



"Di dunia kalian berdua. Pasti banyak wanita. Jangan salah paham, dulu. Aku hanya ingin tahu, alasanmu memilihku untuk Tuan Reyhan Aditya." Ungkap hati Asma berterus terang dengan rasa penasaran yang bergejolak ingin mendapatkan kepastian.



Pertanyaan yang memang patut dipertanyakan. Rey sendiri juga ingin tahu. Kenapa Bagas begitu yakin akan Asma yang notabene hanya gadis desa biasa. Jika tentang fisik. Istrinya kalah cantik dari sekretarisnya yang ada di jakarta. Bukan ingin membandingkan, memang benar sang istri memiliki wajah yang biasa saja.



"Tidak ada alasan khusus." Jawab Bagas dengan santai, semua itu benar adanya. "Sebenarnya, bukan aku yang memilih kamu untuk sahabatku. Rey sendirilah yang memilihmu untuk masa depannya. Bukan begitu, Rey?"



Hah? Bagaimana bisa seperti itu. Sejak kapan dia membicarakan tentang masa depan? Selama ini hanya sibuk kerja dan kerja. Kecuali beberapa kali mengamati Asma dari tempat ruangnya bekerja. Namun, tidak sekalipun ia berpikir untuk pernikahan. Lalu, bagaimana bisa Bagas menyimpulkan dengan begitu mudah.



"Rey, bibirmu tak berkata. Aku inginkan dia, tapi tatapan matamu yang selalu mengikuti Asma. Jadi, aku memutuskan untuk memberikan apa yang menjadi harapanmu. Sederhana bukan?" sambung Bagas mengejutkan sahabatnya, ternyata begitu mudah mengubah persepsi sudut pandang seseorang.



Tatapan tak percaya Rey menusuk begitu tajam menghujam Bagas, sedangkan Asma hanya menyunggingkan seulas senyum tipis akan jawaban yang begitu jelas. Takdir memang unik. Siapa yang berusaha dan siapa yang mendapatkan kebahagiaan? Rumit, tetapi ketika mendapatkan pencerahan. Semua terlihat begitu jelas.

__ADS_1



"Belajar mencintai itu mudah, tetapi yang sulit adalah mempertahankan." Asma memejamkan mata, tak ingin meneruskan apa yang mengusik hatinya.


__ADS_2