Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 9: Alun-alun Kota


__ADS_3

Tanpa menunggu jawaban Rey. Langkah kakinya menjauh dari tempat yang memicu rasa sakit hati. Malam ini, matanya harus ternoda karena pemandangan yang tidak pernah ia inginkan. Seseorang yang tengah duduk bercanda bersama wanita lain, dia yang menjadi alasan kehidupannya berubah drastis.


Rey tak paham. Kenapa gadis itu berjalan cepat menjauh dari gazebo yang awalnya akan menjadi tempat penantian. Apalagi, langkah yang tak panjang terus menyusuri setapak sepanjang jalur melingkar. Apakah ada yang mengusik perasaan atau menjatuhkan mood si gadis desa?



Tak ingin mengambil resiko. Rey berjalan lebih cepat menghampiri Asma. Satu tarikan tangannya menarik tubuh gadis itu hingga berputar, lalu menabraknya. Sesaat detak jantungnya terhenti. Debar yang terus melonjak, mungkin karena berjalan cepat atau sesuatu yang lain. Entahlah.



"Sorry, I really not means for hug you." ucap Rey melepaskan tangannya, tetapi Asma tetap diam dan tak berkomentar apapun.



(Maaf, aku benar-benar tidak bermaksud untuk memelukmu)



Satu langkah ke belakang, membuat keduanya kembali memiliki jarak. Asma nampak tengah mengembalikan ketenangan dengan berdiam diri seraya memejamkan mata. Hembusan angin yang menerpa menerbangkan rambut panjangnya. Sesaat Rey menyadari, gadis itu terlalu cuek dengan penampilan tomboy.



Ditengah rasa bersalahnya, tiba-tiba Bagas datang dari arah berlawanan. Pria itu membawa buket bunga mawar merah. Entah kenapa, pemandangan itu mengusik hatinya, tetapi bisa apa? Gadis itu memang pilihan sahabatnya. Jadi, akan lebih baik untuk melupakan rasa yang baru ia rasakan.



"Selamat malam, Asma, Rey. Kalian kenapa berdiri disini saja? Ayo, ikut denganku." Ajak Bagas yang tak paham dengan kode mata Rey, buket bunga ia berikan pada Asma. "Hadiah kecil untuk tuan rumah."


__ADS_1


Padahal Rey sudah mengedipkan mata dua kali, tapi pria yang dimabuk cinta itu. Sepertinya tidak bisa melihat situasi yang menegangkan. Meski Asma mengangguk ringan tanpa menjawab apapun, dan menerima bunga. Tetap saja, ada rasa ingin memukul sahabatnya itu.


Ketiganya berjalan meninggalkan jalur setapak lingkaran. Mereka berjalan menuruni empat anak tangga menuju rerumputan hijau liar. Entah bagaimana, di depan sana ada meja dan tiga kursi yang tersedia. Seperti makan malam romantis. Siapa yang menyiapkan semua itu?


Jawaban yang tidak sulit karena Bagas selalu memiliki seribu akal demi mencapai tujuannya. Entah bagaimana dan seperti apa perjuangan pria itu. Rey hanya paham satu hal. Kali ini, sahabatnya benar-benar jatuh cinta pada si gadis desa. Inilah yang terus berputar di kepala seorang Reyhan Aditya.



Bagas menarik satu kursi, mempersilahkan Asma untuk duduk. Lalu, ia ikut duduk di sebelahnya. Sedangkan Rey harus menikmati menjadi obat nyamuk dengan cara romantis yang tersaji di depannya. Kejahilan menghilang dari netra sang sahabat yang tersisa hanya tatapan mata serius.



"Ayo, kita makan malam bersama. Setelah itu, kita bisa berbincang ringan." Bagas membuka tudung saji yang menutupi menu makan malam ini, "Menu spesial yaitu mie ayam. Aku sengaja hanya memesan di satu tempat karena ini sangat spesial."


Bagas menjelaskan panjang kali lebar, tetapi Asma tidak mendengarkan. Pikirannya tengah melayang, sesekali lirikan matanya bertemu netra pria yang duduk di depannya. Satu sentuhan yang tidak sengaja, justru mengusik hatinya. Tidak bisa dibenarkan.


Tiba-tiba, Asma beranjak berdiri dari tempat duduknya. "Permisi, Aku akan ke toilet. Kalian bisa makan duluan."


"Nando, kejar gadis itu!" titahnya tak dengan suara tegas, bahkan seperti tengah memberikan perintah di saat jam kerja.


Namun, Bagas hanya tersenyum tipis, lalu menoleh menatap punggung Asma yang masih terlihat di depan sana. Sontak saja, Rey ikut menoleh melihat apa yang mengalihkan perhatian sahabatnya itu. Ternyata Asma berjalan hampir melewati rerumputan seperempat lingkaran.


"Kejarlah! Dia bukan untukku, tapi untukmu." ucap Bagas begitu pasti, bahkan senyuman itu tidak pudar dalam kegelapan. "Reyhan Aditya, Aku memang mendekati Asma, tetapi demi kebaikan mu. Dia memang pantas untuk sahabat terbaikku. Pergilah!"


What's? Rey tak menyangka pengakuan dari Bagas akan segila itu. Bagaimana bisa, melakukan drama tentang cinta hanya untuk mendekati si gadis desa. Benar-benar keterlaluan, namun ketika mengingat keheningan yang berselimut amarah di mata Asma. Rey terlanjur buru-buru menyusul gadis itu.


Langkah kaki yang berlari meninggalkan Bagas seorang diri. Jangankan berbalik, Rey hanya mencari bayangan dari si gadis desa yang hampir kehilangan jejaknya. Sementara sahabatnya mengangkat mangkok mie ayam yang dipesan untuk porsi dua orang. Perut keroncongan, jadi membutuhkan asupan.


Daripada menunggu ditemani nyamuk. Lebih baik menikmati mie ayam pedas berteman gelapnya malam. Satu fase telah berjalan, meski ia tidak tahu bagaimana hasilnya nanti. Setidaknya, Rey tahu tujuan dan niat hati dari sang sahabat. Meninggalkan Bagas yang sibuk mengunyah mie dan sesekali mengelap keringat karena kepedesan.

__ADS_1


Asma tak bersungguh-sungguh pergi ke toilet. Gadis itu mencoba menenangkan diri dengan duduk di bawah pohon. Tempatnya duduk cukup gelap hingga tidak ada yang menyadari linangan air mata yang membasahi kedua pipinya. Sesaat rasa sesak menguasai dada, rasa yang ia benci bahkan ingin sekali melupakan.


"Boleh duduk, di sebelah mu?" tanya Rey sepelan mungkin, lalu duduk di sebelah kanan Asma.


Diambilnya sapu tangan, lalu ia ulurkan ke gadis yang tengah bersedih. Meski ia tak paham, apa alasan dari kesedihan gadis itu. Jujur saja, dia sendiri tidak begitu mengenal dunia wanita karena selama ini sibuk bekerja membesarkan usahanya.


Asma menerima sapu tangan Rey, kemudian menghapus air matanya. ''Makasih, Aku kembalikan setelah mencucinya."


"Hmmm. Apa ada masalah? Mungkin pekerjaan." tebak Rey yang hanya dijadikan sebagai pancingan obrolan, tetapi Asma masih terdiam enggan menjawab. Melihat itu, Rey pasrah dan membiarkan keheningan menyelimuti mereka berdua.


Sepuluh menit berlalu. Untuk kesekian kalinya, Asma menghela nafas panjang. Mungkin dengan itu, beban di hati dan pikirannya berangsur-angsur membaik. Yah, mungkin. Waktu semakin maju, tak terasa sudah pukul setengah sembilan malam. Sementara itu, janji memulangkan anak gadis ke orang tuanya. Tidak lewat dari pukul sembilan malam.


"Ayo, pulang. Ibu pasti sudah menunggumu." Rey berniat beranjak, tetapi tiba-tiba tangannya di tahan. Mau, tak mau. Ia kembali duduk di tempatnya semula, menoleh ke arah Asma yang sepertinya sudah lebih baik. "Anggap saja aku patung. Kamu bisa bebas bercerita."


Tatapan mata kosong menatap ke depan, helaan nafas panjang. "Minta Bagas untuk jauhi aku. Cuma itu yang mau aku katakan."


Deg. Kenapa jadi seperti itu? Sebenarnya apa yang terjadi, dan siapa yang bisa menjelaskan segala sesuatunya pada dia? Bagas berkata apa, dan Asma meminta apa. Apakah ada hal yang tidak ia pahami?


"Kenapa?" tanya Rey hampir tercekat tak mampu bertanya karena rasa terkejutnya.


.


.


.


Happy Reading reader's.


Jangan lupa, like, comment dan support kalian ya.

__ADS_1


Tinggalkan jejak dengan krisan atau keluarkan pendapat kalian 😍


__ADS_2