Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 53: Penasaran yang Serentak


__ADS_3

"Hmm. Hubungi saja Pedro. Dia akan menjelaskan rinciannya. Aku harap setelah malam ini, kita tidak membahas Elora. Asma tidak perlu tahu soal wanita itu." Tegas Rey memberikan keputusannya, lalu kembali mengambil cangkir miliknya.


Menikmati seruput kopi di tengah dinginnya malam. Terasa nikmat dengan ketenangan yang tak nyata. Jujur saja, meski sudah mantap untuk menutup babak dari Elora. Hatinya tetap tidak bisa berbohong. Ada rasa khawatir, jika Asma tahu dari orang lain. Meskipun sang istri tidak memiliki kenalan dari Jakarta.


Malam yang kian menjelaga meninggalkan sepucuk kisah yang tak berujung. Seperti bintang yang berkelip, namun tenggelam dalam kegelapan. Awan yang berarak menghantarkan kesendirian dalam mimpi yang terbelenggu. Sayup-sayup terdengar suara adzan.


Lantunan ayat suci yang mendamaikan jiwa dan raga. Rasa remuk yang mendera, perlahan teralihkan oleh sentuhan lembut dengan tatapan meneduhkan. "Assalamu'alaikum, morning, butterfly."


Sesaat terdiam dengan panggilan baru yang ia dapatkan dari sang suami. Ketika menyebutkan butterfly ada binar kebahagiaan yang memancarkan seberapa tulus sorot mata suaminya tertuju untuknya. Seperti sekuntum bunga mawar tak berduri digenggamkan dengan penuh perasaan.


"Waalaikumsalam, Mas." Dibiarkannya kecupan hangat menyentuh kepalanya, "Mas, nanti telat sholat. Biarkan aku mandi."


Tidak ada yang akan menghalangi mentari lagi bertemu sang cakrawala. Waktu yang bergulir tak mengizinkan pasutri itu untuk tetap berbaring menghangatkan ranjang yang empuk. Keduanya beranjak, seperti biasa Rey akan menggendong Asma hingga ke kamar mandi. Tak lupa menyiapkan persiapan ritual sang istri.


Sementara dia sendiri menggunakan kamar mandi lain yang ada di kamar utama lain. Rutinitas yang sama, setelah mensucikan diri. Keduanya melakukan ibadah bersama. Namun, kali ini ada yang berbeda. Dimana Bagas tiba-tiba datang dan menuntut untuk ikut sholat berjamaah.


Niat baik itu, tentu tidak bisa ditolak. Pagi yang indah menjadi milik bersama. Ketiganya tetap duduk bersimpuh tanpa melepaskan pakaian syari yang hanya dikenakan saat melakukan ibadah. Untuk pertama kalinya terasa seperti keluarga yang sesungguhnya.

__ADS_1


"Asma, bagaimana keadaanmu?" tanya Bagas mencoba untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang sejak semalam mengganggu pikirannya, sedangkan Rey masih diam dengan mode nyimak.


Sementara yang ditanya hanya membalas tatapan Bagas dengan alis terangkat, seulas senyum tipis menghiasi wajahnya. Jika di depan mata sudah tahu, ia baik-baik saja. Apa perlu bertanya tentang keadaannya? Itu sama saja menjadi basa-basi yang tidak akan mencapai poin dari permasalahan.


Di antara Rey dan Bagas memiliki sebuah persamaan yaitu tidak bisa to the point. Selalu basa-basi, sedangkan jawaban tidak bisa seperti palang kereta yang siap menunggu. Ada kalanya waktu juga berkhianat. Jadi, kenapa tidak menghindari hal-hal yang tidak diinginkan?


"Butterfly, Aku sudah mencoba untuk menerjemahkan impianmu tentang resepsi pernikahan, tapi jujur saja. Aku tidak pandai untuk memahami rangkaian kata yang indah." Ucap Rey menjelaskan poin, setidaknya hanya itu yang bisa dilakukannya.


"Kalian bisa mengatasi masalah bisnis dengan mudah karena terbiasa dan terus belajar. Suatu hari nanti, semua itu juga berlaku untuk hubungan antara kita." Asma mengangkat tangan menunjuk ke atas meja, dimana ponselnya tergeletak. "Bisa tolong ambilkan?"


Posisi Bagas yang paling dekat dengan meja kaca, membuat pria itu mengambil benda pipih yang dalam keadaan tidak menyala. Kemudian memberikannya pada Asma. Lalu, menunggu seraya memperhatikan apa yang dilakukan oleh si gadis desa.


"Assalamu'alaikum, Nona La. Selamat pagi." Asma mengucapkan sambutan untuk memulai perbincangan di pagi hari, setelah mendapat jawaban salam dari seberang. Barulah ia melanjutkan tujuannya melakukan panggilan, "Nona La, bisa jelaskan pada Tuan Reyhan dan Tuan Bagas tentang tema resepsi yang sudah kita sepakati?"


[Tentu, Mrs. Reyhan. Seperti permintaan Anda. Selamat pagi kepada Tuan Reyhan dan Tuan Bagas, perkenankan saya untuk menjelaskan secara langsung ....,]


Ditengah rasa penasaran akan tindakan Asma. Kedua pria itu disibukkan untuk mendengarkan kuliah pagi dengan suara Nona La Sheira yang terdengar mengalun seperti penyiar radio salah satu channel radio fm. Sedangkan si pemilik ponsel memilih melepaskan mukena, lalu melipatnya hingga rapi, kemudian beranjak meninggalkan kamar.

__ADS_1


Meskipun tahu langkah kaki Asma menjauh. Bagas dan Rey tidak bisa menyusul, mereka cukup tahu sifat dari sang pemilik WO. Harus mendengarkan agar tidak ada kesalahpahaman dan jika ada yang kurang. Tentu bisa komplain saat itu juga. Motto dari WO Nona La Sheira adalah perfect is everything.


Sungguh menjadi WO yang kekinian dengan kinerja total seratus persen dijamin puas. Akan tetapi, jika seorang klien sekali saja menyewa dan melakukan komplain di akhir acara. Maka secara otomatis akan menempati daftar blacklist alias tidak bisa menyewa jasa mereka lagi.


Maka dari itu, WO Miracle menjadi andalan untuk pesta mewah yang bisa mewujudkan mimpi sebagai bentuk keajaiban nyata. Namun yang kini terjadi adalah Rey dan Bagas tak bisa berkomentar dengan penjelasan penuh pasal dan ayat yang dijabarkan oleh Nona La Sheira.


Tidak habis pikir. Bagaimana Asma merencanakan pesta dengan tema yang membuat sang pemilik WO harus turun tangan secara langsung. Biasanya ada beberapa tangan kanan yang akan membantu jalannya sebuah acara. Namun, kali ini tidak bisa karena memiliki dua alasan.


Alasan pertama adalah Rey sendiri yang menjadi klien, dan alasan kedua adalah ide tak biasa dari istri sang Tuan Muda. Setelah telinga terasa panas dengan deru nafas yang sesekali tertahan, lalu menghela nafas panjang. Akhirnya Nona La Sheira memutus sambungan panggilan.


"Rey, apa kita salah orang, ya?" Bagas mengusap wajahnya kasar, seketika berpikir yang bukan-bukan.


Nona La Sheira selalu menggabungkan dua bahasa menjadi satu, sedangkan Rey mengatakan bahwa Asma tidak tahu bahasa asing. Jadi bagaimana cara kedua wanita itu berkomunikasi? Tidak mungkin menggunakan google translate karena akan memakan waktu. Meskipun iya, bisa dipastikan akan ada misunderstanding dengan hasil dari diskusi.


"Nando, tidak ada waktu untuk mengganti calon istri. Sudahlah, setidaknya masalah tema resepsi sudah beres. Aku hanya ingin tahu, darimana istriku mendapatkan nomor Nona La Sheira." Jawab Rey mendapatkan pembenaran Bagas yang manggut-manggut sepemahaman.


Awalnya setuju, hingga sebuah jawaban melintas ke dalam pikirannya. "Apa ponselmu masih polos?"

__ADS_1


Polos? Dikira manusia lagi mandi kali ya. Bahasa dari mana yang menyamakan benda mati dengan benda hidup? Heran saja, semakin kesini. Bagas semakin memiliki banyak pribahasa yang tidak ia pahami. Terkadang ingin menghindari pertanyaan absurd sang sahabat, tapi hidupnya terikat begitu dalam dan kuat. Tidak ada tempatnya untuk berteduh ditengah rintik hujan yang melanda.


__ADS_2