
Apa harus mengatakan hal yang pernah sepintas ia katakan? Sebelumnya ia hanya bercerita tanpa menyebut nama, mungkin ini saatnya membuka setiap lembar masa lalu yang dipenuhi coretan suka cita berbalut lara hati. Kisah cinta tanpa restu orang-tua yang menjadi akhir dari perjuangan.
Asma beranjak dari tempat duduknya, "Kalingga, dialah mantan tunanganku. Sekarang kamu tahu siapa dia." Lalu ia menoleh ke belakang menatap Fay yang termenung menundukkan kepala, "Aku sudah mengumpulkan semua informasi tentang dia dan sekarang semua akan baik."
"Sejak kapan Kakak melakukan semua itu? Bukankah jarak antara pernikahan, pesta resepsi dan lain sebagainya benar-benar waktu singkat? Apa ...," Fay mencoba memahami, tapi dari penilaiannya semua tampak terlalu cepat.
"Sayang!" Suara panggilan dari arah lain seketika menghentikan pertanyaan Fay, dan membuat kedua wanita itu mengalihkan perhatian mereka ke arah asal suara.
Ternyata Rey tengah berjalan menghampiri mereka. Sepertinya pesta mulai sepi sehingga pria satu itu bisa datang menyusul atau memang sudah bosan sendiri di acara yang penuh keramaian. Entahlah. Mau, tak mau perbincangan antara kakak beradik dihentikan agar keadaan tetap kondusif.
Bahkan Fay langsung menyimpan kotak beserta surat dari Kalingga ke belakang gaunnya. Sementara Asma sendiri memilih menyambut suaminya dengan seulas senyum manis nan manja. Mereka bertiga berkumpul di tempat yang sama sembari menatap anggota keluarga yang tengah menikmati deburan ombak laut.
"Butterfly, mau jalan denganku? Kita ke sana." Rey menunjuk ke arah barat. Dimana bibir pantai memang teramat sepi, sedangkan yang ditanya memikirkan Fay.
"Pergilah, Ka! Aku akan menyusul mereka. Jadi jangan khawatir. Have fun, ya." sambung Fay beranjak dari tempatnya.
Jurus seribu langkah Fay, membuat Asma terkekeh pelan. Rupanya anak satu itu benar-benar peka atas kecemasan hatinya. Rey yang melihat itu hanya bisa mengusap kepalanya, lalu beralih menggenggam tangan membawa setiap langkah mereka berdua berjalan menyusuri bibir pantai.
__ADS_1
Tidak ada percakapan selain menikmati suasana seraya menghitung jejak langkah kaki yang terus maju tanpa henti. Sesekali deburan ombak menyentuh ujung kaki yang sudah tak memakai alas hingga tiba di sebuah spot yang dirasakan nyaman untuk berdiri menikmati pemandangan alam nan indah.
Pelukan hangat dari belakang dengan tatapan mata ke depan. Helaan napas jatuh menyentuh dagu, membiarkan rasa saling beradu. Entah apa yang dipikirkan Reyhan karena pria itu semakin mengeratkan pelukan seakan tak ingin kehilangan. Lagi-lagi ada perasaan yang tidak seharusnya.
"Hubby! Apa yang mengusikmu?" Asma mendongak menatap wajah tampan dengan mata terpejam. Ia tak mengerti, apa sesuatu telah terjadi di pesta atau ada masalah lain.
Apalagi sikap Rey hanya tenang di permukaan. Sudah pasti ada yang tidak beres. Diusapnya tangan yang melingkar di perut, "Mas Reyhan, diam bukan jawaban. Bisa beritahu aku! Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Give me time, Butterfly." gumam Rey membuat Asma kembali mengalihkan perhatiannya pada deburan ombak.
Kesunyian ditengah malam yang semakin menenggelamkan rasa tidak sabaran, tetapi sebagai seorang istri harus memahami posisi dan kesiapan sang suami dalam mengungkapkan masalah hati maupun pikiran. Sikap tenang Rey pasti bermula dari menahan emosi agar tetap dalam keadaan baik.
Tinjuan sayang mewakili rindu yang selama ini terpendam, "Aa, ini tuh singkong apa lengan, yak? Beneran keras ini mah." Senyumnya terus mengembang membuat lesung pipi semakin menampakkan diri.
"Menurutmu apa? Kamu ini, dateng main ninju aja, tapi kenapa logat bicara masih gak berubah? Tinggal di Amerika gak punya teman atau gimana sih, by?" seloroh Bagas seraya berpura-pura memijat lengannya yang ditinju seorang gadis remaja menginjak dewasa.
Ejekan Bagas dianggap angin lalu. Gadis remaja itu justru sibuk mengabsen besarnya lengan tangan sang idola. Seperti biasa menilai, lalu menyimpulkan seberapa banyak perubahan yang telah terjadi. Sehingga membuat Bagas hanya menggelengkan kepala pelan dengan kebiasan Baby.
__ADS_1
Jangan salah paham. Namanya memang Baby Zee Suhana. Gadis yang berusia menginjak dua puluh tahun dan baru menyelesaikan pendidikannya di Amerika berkat beasiswa. Siapa dia bagi Bagas? Tentu jawabannya hanya mereka berdua yang tahu.
Dimana bagi Bagas, Baby merupakan adik angkat yang pernah menolongnya. Sementara bagi Baby, Bagas adalah sang idola yang mampu memenuhi serta menunjukkan jalan masa depannya agar lebih cerah. Secara tidak langsung, hubungan mereka berdua layaknya kakak beradik tetapi tak seintens Bagas dan Asma.
"Aa pasti lembur kerja trus, ya? Jangan bilang masih menjomblo." tebak Baby menelisik idolanya dengan tatapan penasaran, membuat Bagas terkekeh pelan. "Iih, malah diketawain. Sebel deh."
Ditariknya tangan Baby agar diam dan duduk di kursi taman dengan baik. "Sok tahu, lagian buat apa pacaran? Aku mau langsung nikah. Pacaran setelah itu, biar bisa dimanja dengan pasangan halal. Hayo, jangan bilang dari Amrik bawa pacar kamu, By."
"Ish, Aa. Emang ada cowok yang mau sama cewek kaya aku? Aa tahulah gimana kondisiku dan gak harus dijelasin lagi 'kan." ucap Baby menundukkan kepala karena jujur saja. Pertanyaan Bagas langsung mengingatkan ia akan siapa dirinya.
Kisah setiap insan pastilah tak sama. Apalagi kehidupan ini hanya dipenuhi ujian yang menjadi misteri. Meskipun begitu, tetap saja tak semuanya bisa memiliki orang-orang yang bisa menjadi pelipur lara. Apalagi menjadi sandaran kala jatuh tak mampu bangkit kembali. Jangankan semangat, hidup pun enggan tuk dilalui.
Bagas beranjak dari tempatnya, lalu menghampiri Baby. Direngkuhnya tubuh gadis yang sudah tumbuh dewasa dengan paras cantik dominan Korea. Lalu ia juga mengusap kepala Baby agar gadis itu bisa menuangkan segala rasa yang selama ini terpendam di dalam hati. Benar saja, suara isak tangis mulai terdengar walaupun begitu pelan.
"Baby, kamu gadis kuat yang aku kenal. Selama ini, semua dilewati tanpa ada hambatan 'kan? Percayalah bahwa di dunia yang luas tercipta seseorang yang menjadi pasanganmu nanti. Sebelum ia datang menjemput, kita akan menghadapi masalah yang ada bersama-sama. Okay?" tutur Bagas begitu lembut. Ia ingin sang adik kembali berjuang di tengah jatuhnya kepercayaan diri.
Kehidupan memang unik. Ketika seseorang hidup memiliki keluarga terasa asing. Justru orang asing menjadi rasa keluarga. Ingin sekali bertanya, apakah itu hukum alam yang berlaku di dunia yang fana ini? Kenyataannya adalah berusaha menjalani kehidupan tanpa membebani orang lain.
__ADS_1
Sementara dalam kekeluargaan. Tidak ada kata beban ketika itu masih bisa dimusyawarahkan hanya saja manusia terkadang mengedepankan ego. Terkecuali satu sama lain menyadari batas dari keterbukaan karena kenyataannya tak semua bisa mendapatkan kepercayaan mutlak.
"Bukannya itu Bagas? Siapa yang dipeluk? Pakaian wanita itu bukan Ifii. Awas saja berani mempermainkan kakakku." Nau bergegas mengambil ponsel, lalu mengabadikan beberapa potret pemandangan di depannya yang berjarak lima meter dari tempat ia berdiri.