Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 126: KEBERSAMAAN


__ADS_3

Kehidupan selalu bersambut perdebatan di antara hati dan pikiran dalam diri setiap insan. Terkadang ini atau itu sehingga berakhir dalam dilema. Kenyataan adalah kebenaran, lalu apakah kebenaran itu bisa dianggap sebagai kenyataan? Terlalu sedikit insan yang mengedepankan prinsip dasar asas perikemanusiaan.


Jawaban Asma mengakhiri perdebatan, membuat Rey diam. Akan tetapi wanita itu masih memiliki pertanyaan yang harus mendapatkan jawaban dari kakaknya. Melihat situasi yang ada, ia tak bisa melanjutkan karena satu keadaan yang mengharuskannya diam.


Ketiga insan itu kembali ke acara pesta resepsi. Satu persatu tamu undangan semakin memenuhi ruangan, tapi ditengah keramaian hanya ada kehampaan. Pikiran dan hati tak tenang, entah kemana saudaranya pergi. Ia berusaha untuk fokus walau tetap saja buyar.


"Butterfly, kenalkan ini Nyonya Abimanyu, istri dari Tuan Abimanyu partner bisnis kita dari Malaysia." kata Reyhan memperkenalkan seorang wanita anggun dengan gaun panjang yang sopan, membuat Asma terpaksa fokus seraya mengulurkan tangan.


Namun Nyonya Abimanyu justru merentangkan kedua tangan berharap sebuah pelukan. Salam perkenalan dengan cium pipi kanan, lalu pipi kiri. Sedikit canggung karena jarang melakukan hal tersebut. Padahal wanita anggun itu sangat ramah seperti seorang teman.


"Nyonya Reyhan ternyata pendiam, ya. Bagaimana perasaan Anda, Tuan Reyhan?" goda Nyonya Abimanyu sembari merengkuh dagu Asma, tatapan matanya terpatri pada wajah yang manis. "Cantik apa adanya, masyaAllah."


"Bisa saja, Nyonya. Alhamdulillah, Asma bisa menjadi Istriku." balas Reyhan tanpa sungkan mengecup pipi istrinya hingga mengalihkan perhatian wanita itu, ia tahu Asma tengah melamun.


Obrolan di antara ketiganya masih berlanjut. Nyonya Abimanyu yang tampak senang mendapatkan teman baru, Asma yang menjadi penyimak, dan Reyhan berusaha menyeimbangkan. Tampak jelas bahwa hubungan dengan istri partner kerja satu itu lebih dekat secara kekeluargaan. Apalagi ketika Tuan Abimanyu ikut bergabung.


"Pantaslah, ku cari tak ada. Rupanya cintaku bertemu kawan lama. Gimana? Baek semuanya kan." seloroh Tuan Abimanyu seketika meringis akibat sentuhan tangan Nyonya Abimanyu yang langsung mendaratkan cubitan sayang.


Lebih tepatnya gemas karena main nimbrung tanpa permisi. "Kau ini! Lihatlah dulu sebelum awak cakap. My boss, boleh tak ajak Asma jalan-jalan?" Wanita itu mengedipkan mata menggoda suaminya demi izin yang ia inginkan.

__ADS_1


"Honey, Nyonya Asma cuma Tuan Reyhan yang punya. How izin denganku?" gemas dengan kelakuan istrinya yang suka sekali merajok. Padahal situasinya tidak selalu sama, "Tuan Reyhan, kami masih di Jakarta selama seminggu. Bagaimana jika melakukan touring bareng?"


Suasana yang semakin lebih hangat, membuat Rey sebaik mungkin menanggapi permintaan kliennya. Bukan karena tidak bisa, tapi kali ini yang ia pikirkan hanyalah Asma. Sebenarnya, jika kedua wanita itu memiliki hubungan lain maka bisa menjadi teman bisnis.


Seabsurd apapun obrolan Nyonya Abimanyu, wanita itu juga bagian dari perusahaan sang suami sebagai wakil CEO. Maka disetiap acara akan selalu bersama-sama. Team work yang patut diacungi jempol karena setiap kesempatan kecil tidak pernah dilewatkan. Semua pebisnis tahu bahwa Tuan dan Nyonya Abimanyu bak satu koin tak terpisahkan.


"Atur saja kapan waktunya ...,"


Derap langkah kaki berjalan menghampiri rombongan, "Mama!" seru Jovanka yang terdengar begitu bahagia melihat Asma kembali. Gadis itu masih berdiam diri berada di gendongan sang papa.


Sontak saja Reyhan menghentikan persetujuannya. Ia lupa jika putri Mr. Axel sudah menganggap Asma sebagai ibu, tentu tak ingin menghalangi cinta kasih orang tua dan anak. Dibiarkannya gadis itu mendekati mereka hingga berhenti mengalihkan perhatian beberapa tamu undangan.


"Pa! Turunin." pinta Jovanka, membuat Mr. Axel menurut, lalu gadis itu beralih ke hadapan Asma. Kemudian menyerahkan kotak kado mini. "Selamat hari bahagia untuk Mama."


Jovanka membantu membukakan kadonya, selapis kertas kado bergambar princess Ariel si putri duyung. Ternyata di dalamnya kotak cincin kaca yang menampilkan sebuah cincin elegant dengan kilau yang indah. Dilihat dari sekilas, jelas itu bukan cincin mainan.


Nyonya Abimanyu bahkan langsung menyebutkan sebuah brand yang asing di telinga Asma, tapi tidak di telinga para pebisnis. Lebih dari harga dan asal cincin tersebut, semua fokus pada kebahagiaan Jovanka ketika memasangkan cincin pilihannya ke jari kelingking tangan kanan wanita kesayangannya.


"Mama tahu, cincin ini khusus untuk malaikat, itu kata si mbaknya di toko," ujar Jovanka membuat semua orang tersenyum, tapi untuk Asma hatinya terharu akan kepedulian gadis itu.

__ADS_1


Tidak ada kata selain pelukan hangat bersambut kecupan sayang. Ia merasa terberkati dengan rencana Allah yang kian menghujani kehidupan dengan penuh sukacita. Rasa syukur selalu ia panjatkan karena rezeki terus mengalir menjadi keberkahan. Kebahagiaan hari ini merupakan salah satu hal terbaik dalam hidupnya.


Suara tepuk tangan terdengar dari arah pintu masuk. Orang-orang mengalihkan perhatian menatap siapa yang datang tanpa kesopanan, "Selamat siang, semuanya. Wah, rupanya ada pertunjukan baru," Elora merasa kedatangannya yang telat hanya untuk kesempatan langka.


"Apa kabar kalian? Pasti baik, apalagi menikmati pesta semewah ini," Ia tak memungkiri Reyhan menciptakan negeri impian untuk perayaan pernikahan, hati takjub akan hasil dekorasi acara tersebut. Akan tetapi pikiran tak mau mengalah pada tujuannya, "Kenapa melihatku seperti itu? Coba lihat kesana!"


Wanita itu menunjuk ke arah perkumpulan yang masih diam menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. "Suami istri? Hei, gadis manis, apa dia ibumu? So sweet sekali kalian ...,"


"El!" Tuan Burhan mencegah Elora yang berniat mengacaukan pesta, padahal niat sebelumnya bukan demikian. Sayang seribu sayang, sang putri justru menepis tangannya hingga terdorong ke belakang.


Situasi terlihat tidak baik, membuat Asma membisikkan sesuatu pada Rey yang langsung di angguki. Dimana suaminya mengirimkan pesan pada Bagas untuk segera datang, sedangkan untuk kebaikan bersama Jovanka kembali digendong Mr. Axel.


"Bagaimana jika diabadikan dalam surat kabar besok pagi?" Elora berpikir sejenak, lalu berdecak kagum karena ide sudah ditemukan. "Istri milik bersama. Bukankah itu keren? Kenapa pada diam? Apa kalian buta? Lihat saja betapa manisnya keluarga ini."


Banyak pasang mata yang melihat semua itu, beberapa berspekulasi aneh, tetapi beberapa masih menganggap semuanya normal. Hanya saja manusia terbiasa untuk berburuk sangka sehingga mudah untuk berpikir yang bukan-bukan. Apalagi karena pengaruh omongan Elora yang seperti kompor.


El semakin mendekati tempat Rey berada, wanita itu menatap satu persatu orang yang bisa mendekati pujaan hatinya. Kenapa dia tidak bisa di posisi itu? Rasanya semakin muak dengan fakta, ia tidak dianggap meski keberadaannya jelas dan nyata. Bukankah itu penghinaan? Cintanya berubah menjadi duka.


"Coba pikirkan, ketika seorang pengusaha mengumumkan pernikahannya dan di acara resepsi, justru seorang anak dari pengusaha lain memanggil mempelai wanita dengan mama. Apakah ini wajar?" El berusaha yang terbaik untuk mencuci otak para tamu undangan, satu hal yang dipahaminya adalah sesama pebisnis bisa saling menjatuhkan.

__ADS_1


Orang pasti berpikir, istri dari Reyhan adalah ibunya Jovanka. Yah, itu yang dia harapkan, meskipun secara jelas bahwa Mr. Axel kehilangan istri tercintanya dan meninggalkan seorang putri hasil dari buah cinta sebagai bukti pernikahan. Jika ingin disangkutkan dengan masa kini, tentu tidak bisa dibenarkan.


Namun, ia tak peduli dengan hal itu karena yang terpenting adalah memisahkan Rey dari Asma. "Bukankah begitu? Nyonya Reyhan Aditya atau mau ku panggil Nyonya Axel?"


__ADS_2