
Suara langkah kaki yang menjauh menghantarkan kenyataan dalam diri Bagas. Pria itu tahu, Rey tidak marah dengannya, sang sahabat hanya merasa kecewa atas tindakan yang gegabah. Situasi yang terjadi memang karena dia seorang, maka suka, tidak suka. Ia harus menghadapi masalah yang ada.
Tak ingin menambah kekecewaan saudaranya. Pria itu melakukan permintaan sekaligus perintah mutlak untuk mengirimkan undangan pesta resepsi pada semua kolega. Tidak sulit karena hanya tiga langkah, maka pekerjaan selesai. Sekarang yang jadi masalah adalah bagaimana rencana selanjutnya?
Satu sisi pasti harus menghadapi para kolega, tetapi di sisi lain harus mengamankan adiknya yang jelas tidak suka di kekang. Bukan serba salah. Hanya saja menjadi tidak fokus pada satu masalah yang ada. Ingin meminta bantuan, namun siapa yang bisa membantunya?
Bagas terdiam menatap air di dalam kolam renang. Berpikir sejenak untuk meluruskan semua ikatan yang terlihat saling terkait satu sama lain. Di tengah lamunannya mencoba melepaskan beban rasa dan pikiran. Benar situasi memang berubah menjadi semakin rumit.
Tiba-tiba terasa sentuhan yang menyenggol lengannya, lalu secangkir kopi hitam terulur di depan wajahnya yang bersambut seulas senyuman tipis. "Berpikir? Apa itu bisa memberikan jawaban. Ka Bagas tahu, manusia itu terbiasa memendam emosi dan isi pikiran. Akhirnya? Tidak menyelesaikan apapun."
Kedatangan Asma dengan kehangatan yang selalu memberikan dukungan dengan caranya sendiri. Terkadang ia lupa, jika gadis itu hanyalah gadis desa. Mungkin, hati bisa goyah untuk sesaat, namun tidak dengan prinsip yang selalu ditunjukkan oleh adiknya.
Tidak memerlukan jawaban dari bibir. Langkah kakinya membiarkan gadis itu membawanya untuk duduk bersama. Ia tahu, kepercayaan telah jatuh pada hati. Tidak bisa memungkiri hal sederhana itu. Apalagi setelah belajar arti no mind yang menjadi ciri khas sang adik.
"Minumlah, Ka!" Asma mempersilahkan Bagas untuk mencicipi kopi buatannya, lalu mengalihkan tatapan mata ke arah bunga yang mekar mengitari dinding rumahnya. "Apa kk percaya dengan keluarga? Jika menurut Ka Bagas, diam itu baik. Aku pasti akan diam, tapi siapa yang akan menyelesaikan masalah?"
"Aku tahu, Ka Bagas berpikir semua yang ku putuskan adalah kenekatan. Coba katakan padaku satu hal. Kenapa Elora masih mengejar Mas Rey? Padahal dengan jelas selalu di tolak. Apa pendapat kakak tentang itu?" sambung Asma yang merasa perlu menjelaskan pemikirannya pada sang kakak ipar.
__ADS_1
Rasa pahit bercampur manis yang pas memberikan sensasi nikmat di lidah. Kopi memang bisa memperbaiki mood, tetapi untuk memberikan jawaban. Ia harus berpikir sejenak. Ingatan masih sangat segar untuk mendeskripsikan seorang Elora dan obsesi cinta wanita itu. Apakah Asma berpikir, Elora wanita normal?
Diletakkannya cangkir kopi ke atas meja, "Selama ini, Rey menghindari Elora dengan sering pergi ke luar kota. Kadang aku yang menghalangi wanita itu untuk menemui Rey. Yah, selalu menjauh dari si biang masalah."
"Perfect choice. Jadi, apa hidupku harus melakukan hal sama? Bersembunyi dari satu orang dan menikmati tekanan batin tanpa bisa merajuk masa depan dalam kebebasan. Ka, kehidupan seperti apa yang ingin kalian ciptakan?" tanya Asma dengan argumennya yang cukup bisa dimengerti oleh siapapun yang mendengarkan.
"De, dunia bisnis dan dunia keluarga. Keduanya tidak bisa disatukan, aku tahu, kamu merasa terbebani dan untuk itu. Berikan aku sedikit waktu ....,"
Jika kehidupan memiliki perbedaan. Tentu tidak ada manusia yang sibuk membandingkan dunia masing-masing. Tidak ada iri dan juga pertimbangan. Mereka hanya perlu memilih ingin menjalani dunia yang mana agar bisa memiliki kehidupan yang baik. Tidak tahu, prinsip macam apa yang diterapkan.
"Kenapa di tengah semua kemelut kehidupan. Masih ada perlindungan untuk Rey? Kenapa tidak biarkan saja, Elora menjebak sahabat kakak? Jawabannya hanya satu, Ka Bagas bertanggung jawab untuk memberi kebahagiaan yang pantas untuk seorang saudara. Right?"
Diam tak berkutik. Ia pikir akan menang berdebat dengan Asma. Akan tetapi perdebatan yang ada justru mengunci jawaban tanpa harus diperdengarkan. Satu jawaban menjadi dua pernyataan. Bagaimana seperti itu? Selain menghirup oksigen agar tetap tenang.
"Belajar terbuka pada keluarga bukan sebuah kejahatan, Ka. I know, my existence is still very early. However, realize if we are one family? So please, be as a family." ucap Asma lebih melembutkan permintaannya, semua yang ditekankan bukan untuk memaksa, tetapi untuk pendekatan sebagai keluarga.
Apakah benar, ia masih menganggap Asma sebagai orang asing? Kenapa terkesan begitu egois. Padahal yang dilakukannya hanya mencoba untuk melindungi, sedangkan gadis itu ingin mereka bersikap layaknya keluarga. Terbuka satu sama lain, saling melengkapi dengan memperbaiki komunikasi.
__ADS_1
Tidak ada yang salah dengan permintaan sederhana itu. Hanya saja, bagaimana caranya memberikan beban masalah pada gadis yang masih beradaptasi dengan dunia baru? Ia tahu, Asma bukan gadis lemah yang selalu mengeluh. Justru karena itu, sebagai kakak takut tidak bisa menunaikan kewajiban untuk melindungi adiknya.
Serba salah dengan dua keinginan hati yang tidak bisa disatukan. Ingin menjelaskan pada adiknya. Jika mungkin mengubah cara pandang yang akan menjadi titik tanggung jawabnya, namun semua itu tidak mungkin. Prinsip tak bisa diubah, meski waktu memaksa untuk berubah.
Lamunan Bagas membuat Asma menggelengkan kepala pelan. Kebiasaan pria selalu sibuk memikirkan di dalam kepala. Dia bukan cenayang yang bisa mengetahui isi pikiran orang. Gemas bercampur geram ketika satu arah jalan, justru sibuk dipisahkan menjadi jalan bercabang.
"Teruslah berpikir, Ka. Jika masih tidak paham, Aku bisa melakukan semuanya sendiri. Jadi jangan khawatirkan apapun lagi, karena tidak seorangpun akan menghalangi keputusanku. By the way, aku sudah mendapatkan jadwal kegiatan Elora."
Setelah mengatakan semua yang diperlukan. Gadis itu beranjak dari tempat duduknya, tetapi tiba-tiba tangannya ditahan Bagas. Sontak saja, ia menundukkan pandangan hingga bertemu pandang, "What happened?"
"Darimana kamu dapatkan jadwal kegiatan Elora?" tanya Bagas dengan wajah tampak gusar, pikirannya sudah kemana-mana tidak karuan, sedangkan yang ditanda justru melepaskan tangannya, kemudian pergi tanpa memberi jawaban apapun.
Benar-benar tidak bisa berkomentar. Apa yang terjadi? Bagaimana? Dan kapan? Semua tanda tanya seketika datang menghampiri kepalanya. Mencoba berpikir keras untuk menemukan jawaban. Sayangnya, semua menjadi bentrok. Rasa pusing mendera menyita sisa ketenangan yang ia punya.
Tanpa Bagas sadari. Asma menoleh ke arahnya dengan seulas senyum tipis. Keputusan telah dibuat, tetapi untuk mewujudkan semua yang ia pikirkan. Maka kebenaran harus dihadapi. Sedikit kenyataan bisa menunjukkan kejujuran lain yang masih tersembunyi.
Sejauh apapun langkah kaki melangkah. Manusia harus tahu kapan waktunya untuk berhenti, lalu mengamati. Bukan karena menyerah, tetapi untuk maju tanpa keraguan. Elora hanya satu masalah, tapi masalah terberat dalam hidupku adalah keluarga ini masih terpisah.~batin Asma dengan langkah kakinya menyusuri lantai marmer menjauh dari Bagas.
__ADS_1