Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 78: Ide Nau? Obrolan Seru


__ADS_3

Pertanyaan itu mengalihkan perhatian pak supir yang menoleh ke belakang seraya menunjukkan sebuah foto yang menjadi wallpaper hp nya. ''Hari ini ulang tahun anak bapak yang ke lima, Non. Hehehe, Naira minta dibeliin kue ulang tahun.''


Kebahagiaan sederhana dari seorang ayah yang terpancar di wajah pak supir, membuat wanita itu mengingat sang papa. Sepertinya ia lupa akan satu hal karena terlalu bekerja keras untuk mendapatkan Rey. Jika benar sang pujaan hati telah menikah, maka rekan bisnis akan mendapatkan undangan resepsi seperti dirinya.


''Pak putar arah dan antarkan saya ke gedung Cafe Kejora! Sebagai gantinya, akan saya belikan kue untuk anak bapak.'' pinta Elora yang langsung disanggupi Pak Supir.


Mobil meninggalkan halaman penginapan Abah Rojali. Sementara Nau yang merasa lelah setelah insiden bergegas membersihkan diri dan berniat untuk menjemput Fay setelah selesai memeriksa pekerjaaan anak-anak lainnya. Padahal yang sudah pulang baru ia seorang.


Guyuran air shower sedikit meredam pikirannya yang kalut. Bagaimana tidak? Rasa khawatir karena memikirkan Fay yang pergi tanpa pengawasan, justru berakibat insiden tak terduga. Nau berusaha mengingat tugas yang harus dia kerjakan dan menjadi seorang pemimpin bukan berarti bersikap sesuka hati.


Jika meneruskan, mungkin akan terjadi ketidakadilan. Tiba-tiba sebuah ide melintas di dalam kepalanya. Solusi telah didapatkan dan bisa menjadi awal dari hubungan baru. Namun untuk menjalankan ide tersebut membutuhkan izin kedua belah pihak. Mau, tak mau mengakhiri ritual mandinya dan bergegas mengambil ponsel yang sedikit rusak.


Satu panggilan yang tersambung masih menunggu jawaban, membuat Nau berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Sedikit was-was dengan niat hati yang pasti akan mengejutkan semua orang, tapi tidak ada pilihan lain yang bisa dijadikan sebagai solusi masalahnya saat ini.


"Assalamu'alaikum, Bund. Bisa ke rumah Ifii? Nau, mau bicara dengan kalian semua." ucap Nau begitu nada dering terputus dan terdengar suara helaan nafas yang sangat familiar.


Pemuda itu melupakan keadaannya yang hanya mengenakan handuk tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Obrolan yang terjeda selama beberapa saat, akhirnya tersambung lagi. Dimana dengan penuh perasaan dan hati-hati menyampaikan maksud tujuannya.


Percakapan yang serius dengan argumen yang cukup panjang, tetapi berakhir dengan baik bahkan persetujuan terbuka demi kebaikan bersama. Untuk mendapatkan yang ia inginkan, Nau tak sungkan menjelaskan insiden yang baru saja terjadi. Sehingga keluarga setuju dengan syarat tanggung jawab Fay tidak dilepas begitu saja.

__ADS_1


Rasanya tenang dan lega, lalu mengakhiri panggilan, kemudian bersiap untuk menjemput Fay yang masih di hotel. Yah, pemuda itu berpikir sang kakak sepupu masih menikmati waktu berdiam diri di dalam ruangan. Sayangnya gadis yang memenuhi pikiran tengah asik duduk di tepi kolam bersama Ka Asma.


"Jadi bagaimana itu akhirnya? Bukane sama aja boong, ya?" tanya Asma seraya menyendok ice cream dengan sendok makan yang langsung mengeruk banyak muatan.


Fay meletakkan cangkir coklat hangatnya ke sisi kiri tempat duduknya, "Yah gitu aja, Ka. Cuma dikirim screenshot makanannya doank, tapi makanan itu sudah habis. Kebangetan tuh anak."


"Astagfirullah, balik kerjain aja. Beres 'kan?" sahut Asma tanpa beban, karena perbincangan mereka memang hanya untuk melepaskan beban berat yang ada di pundak.


"Udah donk, Ka. Aku suruh Nau buat manjat pohon mangga. Lumayan dapet bahan buat rujakan bareng Mama ama Bunda." balas Fay dengan bersemangat.


Percakapan yang saling terkoneksi kedua gadis itu terdengar begitu menarik, membuat Rey yang tak sengaja mendengar sekilas datang menghampiri. Derap langkah kaki yang tidak begitu terdengar, tetapi aroma parfum yang menyebar sangat familiar. Asma cukup diam mengabaikan.


"Terima kasih, rumah yang indah dan mewah. Berapa lama pembangunan berlangsung?" Fay bertanya sekedar basa-basi bahkan pertanyaannya tidak terpikirkan dalam benaknya.


"Enam bulan, tapi sebanding dengan hasilnya." jawab Rey dengan perhatian yang sibuk menatap diamnya sang istri. "Butterfly, mau ice cream lagi?"


Melihat cara makan yang rakus, bukannya ilfeel. Gemas dengan sikap Asma yang benar-benar diam, tapi sibuk menyuap ice cream ke dalam mulut tanpa henti. Anak kecil saja masih sibuk berceloteh ketika memakan ice cream, sedangkan istrinya menoleh saja enggan. Apa secinta itu dengan si manis nan dingin?


Kehangatan yang ditunjukkan Rey teruntuk Asma, menyadarkan Fay bahwa pria itu memang tipe pria yang setia. Bukan bermaksud berlebihan. Hanya saja, kebanyakan pria akan melirik sahabat dari pacar atau istrinya. Namun Rey hanya memiliki fokus satu arah dan itu khusus untuk wanita yang menjadi kakak onlinenya.

__ADS_1


Salut dengan keteguhan hati seorang suami. Pantas saja Ka Asma mengatakan harus bertindak sebagai seorang istri pebisnis. Tidak peduli jika dirumah dia menjadi wanita polos, bahkan terkesan tidak tahu apapun. Namun di luar, bukan untuk menunjukkan sisi lembut. Apalagi menyangkut wanita lain yang tidak punya rasa malu.


Ketiga makhluk yang saling bercengkrama menikmati sore menuju senja. Obrolan masih berlangsung, tetapi hanya sekedar basa-basi hingga kedatangan Suketi mengalihkan perhatian semua orang. Dimana pelayan gadis itu datang membawa sebuah paket yang di antar oleh kurir.


"Bawa kemari!" titah Rey, membuat Suketi mengangguk, lalu berjalan menghampirinya. Kemudian menyerahkan kotak kado yang cukup besar. "Pergilah! Butterfly untukmu."


Hadiah di hari yang biasa saja? Apa tidak salah. Penasaran dengan isi yang ada di dalamnya, tetapi ketika mengingat kata hadiah. Gadis itu baru ingat akan janji yang sudah terlanjur ia ucapkan. Sedikit waspada menerima kado dari suaminya. Seulas senyum tersungging sekedar untuk menyampaikan ucapan terimakasih.


"Ka, kenapa cuma dilihat?" tanya Fay sedikit menyentak lamunan Asma yang masih memikirkan nasibnya.


Kotak dikembalikan pada Rey, "Bawain ke kamar aja, Mas. Aku mau habisin ice cream dulu. Fay, apa kamu udah bilang ke dede kalau ada disini?"


Pertanyaan balik sang kakak hanya untuk pengalihan. Sadar benar akan hal itu, tapi benar juga ia lupa mengabari adik sepupunya. Jika pemuda itu menjemput di hotel dan tidak menemukan keberadaannya, bisa gawat. Jangan sampai berubah penjara lagi di hari liburannya.


"Blum, Ka. Baiklah, aku balik ke kamar dulu." pamit Fay, lalu beranjak dari tempat duduknya.


Gadis itu tetap menjaga kesopanan dengan langsung menurunkan celana panjangnya sebelum bangun, setelah mengeluarkan kaki dari dalam kolam renang. Langkah kaki yang menjauh, membuat Asma melirik ke arah Rey yang masih setia menatapnya. Entah apa yang ada di dalam pikiran pria satu itu.


"Mas gak cape pegang kotaknya terus?" sindir Asma ikut beranjak dari tempat duduknya, tetapi pergerakan justru tertahan hanya karena tangan kekar yang merengkuh pinggangnya. "Mas! Aku gak bisa renang. Jangan macem-macem."

__ADS_1


__ADS_2