
"Ka Asma!" panggil Fay dan Nau secara bersamaan.
Panggilan itu, membuat gadis yang berdiri di depan jendela mengangkat tangan kanannya seraya mengisyaratkan dua jari. Lalu kembali fokus pada panggilan yang tengah membahas sesuatu, kemudian mengakhirinya dengan salam perpisahan.
''Assalamu'alaikum, kenapa masih berdiri?" Sambut Asma begitu berbalik menghadap teman-teman onlinenya, tatapan mata yang saling beradu seakan tengah meyakinkan diri bahwa pertemuan itu nyata adanya. "Salam hukumnya wajib di jawab, loh."
Nau dan Fay terkesiap, tidak terbayangkan akan pertemuan yang bisa dianggap sebuah kemungkinan kecil untuk meet up bersama. "Wa'alaikumsalam, maaf, Ka."
"It's okay, dia siapa?" Asma mengalihkan perhatiannya pada Satya yang masih bungkam dengan tatapan tak berkedip, membuat Nau langsung menepuk pundak temannya yang seketika terlonjak kaget.
"Satya. Teman kampusku, Ka. Kebetulan kami ada tugas haunting untuk memeriksa beberapa bangunan sebagai acuan untuk membuat desain kolaborasi." Jelas Nau yang kembali santai, entah kenapa seperti tidak memerlukan ketegangan di dalam pertemuan yang sebenarnya memang canggung.
Penjelasan yang langsung memberikan jawaban pasti. Jeni mempersilahkan para tamu untuk duduk serta menanyakan ingin memesan apa, membuat Asma menggelengkan kepala pelan. Rey memang membiarkan dirinya untuk tetap di kamar, tetapi mengirim wanita itu untuk tetap bersamanya.
Yah, selama hampir tiga puluh menit kurang. Suasana di dalam kamar nampak tak menyenangkan. Bukan tegang, tetapi justru seperti berada di ruang interogasi yang tanpa adanya pengajuan pertanyaan. Mungkin karena ia sibuk membereskan sebuah pekerjaan, sedangkan Jeni tak tahu harus melakukan apa selain diam berdiri di depan sofa.
"Jen! Disini tidak ada Mas Rey atau Ka Bagas. Jadi tidak harus bersikap formal, lagipula kita bisa duduk bersama dan ngobrol dengan santai." Tukas Asma mencoba mengingatkan situasi agar tidak sedingin kulkas berjalan.
Aura yang berbeda. Jeni merasa istri bosnya itu lebih kalem bahkan tatapan matanya tetap tenang meneduhkan. Apa semua itu karena kedatangan tamu yang kini sudah duduk saling berhadapan? Atau memang gadis itu sudah memaafkan kesalahannya yang lalu. Jujur saja, ia masih merasa malu akan sikapnya yang kurang ajar.
"Ka, apa kalian akan jalan-jalan di sekitar hotel?" Nau mengalihkan perhatian semua dengan pengajuan satu pertanyaannya itu, ia tak ingin melepaskan kakak sepupunya begitu saja tanpa kepastian.
"Nau, bukankah kamu janji akan mengizinkan aku untuk jalan-jalan tanpa pengawasan? Jangan bilang ada syarat baru, lagi." Protes Fay menahan diri untuk tetap tenang dengan tatapan mata terpatri pada saudara sepupunya itu.
Melihat situasi yang ada, membuat Asma menyandarkan tubuh ke sofa seraya tersenyum tipis akan sikap posesif Nau terhadap Fay. Saudara itu memang memiliki hubungan yang unik. Terkadang merasa berhak, tetapi masih memiliki batasan yang tidak bisa dilanggar. Cukup paham dengan kekhawatiran seorang saudara.
__ADS_1
''Nau, Fay tidak akan pergi sendirian. Itu janjiku. Lagipula, aku tidak tahu apapun tentang jalanan di kota Jakarta. Kami akan pergi, jika Mas Rey dan Ka Bagas sudah selesai rapat.'' jelas Asma memberikan kepastian, membuat Nau mengusap wajahnya kasar.
Tidak bisa menghalangi liburan sang kakak sepupu karena semua syarat sudah terpenuhi. Apalagi Ka Asma juga memberikan kartu nama yang tertera alamat rumah dengan nomor telepon rumah serta beberapa informasi yang bisa menjadi tempat pemeriksaan. Andai terjadi sesuatu.
''Nau, anak-anak yang lain sudah menunggu. Kita harus segera kesana.'' Satya mengingatkan dengan wajahnya yang panik, tatapan mata terus tertuju pada ponselnya.
Tak ingin menambah tingkat kecemasan sang adik sepupu. Fay mengambil ponselnya, lalu menyerahkannya ke Nau, ''Mau tukeran ponsel?''
Tawaran yang bagus, tetapi apa itu akan berguna? Tak ingin mengurangi kepercayaan sesama saudara. Akhirnya Nau beranjak dari tempatnya, lalu berpamitan. Ia tak lupa menitipkan Fay pada Ka Asma. Tanggung jawab yang harusnya ada di pundaknya, justru ia serahkan pada orang lain. Entah apa yang akan terjadi, jika keluarga sampai tahu hal itu.
"Jen, antar mereka sampai ke bawah!" titah Asma mendapatkan anggukan kepala sang sekertaris milik Bagas.
Kepergian Nau, Satya dan Jeni, membuat Fay dan Asma mengiringi langkah mereka dengan lambaian tangan perpisahan. Membiarkan satu persatu punggung menghilang dari balik pintu kamar yang kini semakin sepi tanpa keramaian. Begitu heningnya hingga suara detakan jantung terdengar sangat jelas.
"Fay, duduk! Jadi bagaimana perjalanannya?" tanya Asma seraya melepaskan blazer yang menutupi gaun lengan pendeknya.
Pertanyaannya bukanlah rasa penasaran yang biasa. Jujur saja, waktu mengenal sang kakak online. Ia tahu status dari gadis di depannya adalah single, tapi hari ini sudah memiliki suami dan kakak ipar. Cukup terkejut, namun masih sabar untuk mendapatkan jawaban di waktu yang tepat. Apalagi tiba-tiba tinggal di kota Jakarta. dengan kehidupan yang cukup mencengangkan.
"Soal itu," Asma mencoba untuk menetralkan emosinya, "Aku menikah baru hitungan minggu dan semua terjadi begitu saja. Seperti yang biasa kita perdebatan. Jodoh siapa yang tahu? Sekarang disinilah jodohku berada."
"Ka Asma curang, tapi selamat ya. Semoga langgeng, sakinah, mawaddah warohmah. Akhirnya status single dihapus permanen." Ucap Fay dengan rasa syukur atas kebahagiaan yang di dapatkan sang kakak online.
Percakapan keduanya semakin jauh dengan diselingi canda tawa, meski awalnya harus mencari kata yang tepat. Sisanya mengalir begitu saja tanpa harus memikirkan ke arah mana sharing yang kedua gadis itu lakukan. Pertemuan yang langsung menyatu seperti memang sudah lama tidak bertemu, setelah penantian yang panjang.
Anehnya, Jeni tidak kembali lagi. Padahal sudah menghilang selama dua puluh menit dari kepergiannya, hal itu cukup mengalihkan perhatian Asma. Niat hati ingin mencari tahu, tiba-tiba pintu kamar di buka tanpa permisi. Aroma parfum yang ia kenal menguar masuk ke dalam kamar. Percakapan singkat tentang akhir dari pekerjaan terdengar cukup jelas.
__ADS_1
"Butterfly, apa kamu sudah memutuskan mau jalan-jalan kemana?" Rey bertanya setelah Bagas menyanggupi semua perintahnya, tetapi begitu melihat hanya ada Fay yang di ruangan tersebut bersama Asma. Tatapan mata mengedarkan ke seluruh penjuru ruangan. "Dimana temanmu yang lain?"
"Rey, mereka anak kuliahan yang datang untuk tugas. Dari rombongan itu yang bebas tanpa tugas hanyalah gadis di depan kita seorang. Bukan begitu?" jelas Bagas meminta persetujuan, tatapan mata yang menelisik menghujam Fay dalam ketidaksukaan atau keraguan.
Jelas sekali, Bagas merasa terganggu dengan keberadaan Fay, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Semua itu karena keinginan Asma lebih penting dari pemikirannya. Sementara Fay sadar diri dengan keberadaannya yang tidak diharapkan oleh pria satu itu. Entahlah, kenapa menjadi seperti musuh yang terlahir kembali. Perasaan yang aneh, tetapi lebih baik melupakan tanpa perlu dipikirkan.
"Fay, perkenalkan suamiku. Mas Reyhan," Asma menunjuk ke arah Rey yang berjalan menghampiri tempat duduknya, lalu beralih menunjuk ke arah Bagas yang masih berdiri seperti patung di depan pintu. "Ka Bagas, sahabat, saudara sekaligus tangan kananas Rey. Bagaimana menurutmu?"
Apa barusan, Ka Asma meminta pendapat atau penilaiannya tentang Bagas? Terdengar absurd, tetapi pasti memiliki tujuan lain. Bukan hanya Fay yang merasa tengah di uji untuk kelayakan. Rey juga menyadari bahwa istrinya berusaha menjodohkan kedua insan yang masih tidak mengenal satu sama lain. Apakah itu bentuk balas dendam atau hanya ingin sekedar candaan saja?
"De! Jangan memulai yang tidak seharusnya." Bagas mengingatkan Asma dengan tatapan mata serius, tetapi sang adik tak ingin mendengarkannya. Melihat penolakan itu, akan lebih baik jika menjauh dari masalah. "Rey, Aku ke kantor dulu."
Sepertinya Bagas marah karena sikapnya yang terlalu frontal. Tak ingin membuat rencana hari ini gagal, di sambarnya blazer yang tersampur di atas sofa. Bergegas memakainya dan tak lupa membawa ponsel yang tergeletak di atas meja. Langkah kaki menyusul meninggalkan ruangan kamar tanpa permisi, membuat Rey tak tinggal diam.
Bagas berjalan cukup cepat agar Asma tidak bisa menangkapnya, tetapi ketika ingin menggunakan card di pintu kaca. Tiba-tiba saja pintu mulai bergerak. Seketika ia memundurkan langkah kakinya menyingkir dari hadapan pintu kaca, namun di saat bersamaan. Asma mencapai tempatnya hingga terjadi benturan yang tidak disengaja.
Takut terjadi sesuatu pada adiknya, Bagas reflek memeriksa kening Asma hingga tubuhnya membelakangi posisi pintu kaca. Dimana seorang wanita berpakaian minim yang menampilkan belahan dada menggoda memasuki lorong VVIP. Langkah kaki yang pasti dengan suara sepatu heels yang tersamarkan karena berpijak di lantai tertutup karpet tebal.
Dari arah berlawanan muncul seorang gadis yang berlari kecil menuju kearahnya, tetapi disusul seorang pria yang sangat dikenalinya. "Reyhan!"
Panggilan itu menghentikan langkah kaki Fay, begitu juga dengan Bagas yang mendongak mencari sumber suara yang begitu familiar. Sementara Asma masih mengusap lengannya yang tak sengaja membentur dinding, tapi Rey sendiri masih berjalan tanpa memperdulikan panggilan tersebut. Benar-benar suasana yang membingungkan untuk semua orang.
"Reyhan!" panggilnya sekali lagi, membuat Asma ikut menoleh ke arah wanita yang berdiri di depannya. "Apa dia istrimu?"
Tangan wanita itu menunjuk ke Fay yang berdiri tak jauh darinya dengan tatapan menelisik dari atas kepala sampai ke ujung kaki. Apa terbiasa menilai dengan cara seperti itu? Sedangkan yang ditatap masih terdiam mencoba mencerna situasi yang ada. Bagaimana sikap, tatapan dan senyuman yang tersungging hanya memiliki satu kata kesimpulan. Cemburu.
__ADS_1
"Elora! Ngapain kamu disini?" Bagas terpaksa mengalihkan perhatian wanita di depannya, tetapi setelah berdiri di depan Asma agar tidak jatuh pada pandangan sang dokter yang memiliki emosi selalu menggebu-gebu.