Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 63: Flasback ~ Tanda Tanya


__ADS_3

Geram dengan ulah Wildan. Bercanda boleh, tapi tahu aturan. Bukan hanya karena statusnya yang memang adik sepupu Fay, namun semua ada batasan yang harus dipahami. Jika rombongan itu masih teman baru. Tentu bisa dimaklumi, tapi mereka teman lama yang notabene mengenal keluarga secara lebih intens.


Satu peringatan sudah cukup. Jika terjadi pengulangan, maka yang berbicara tangan. Bukan berarti menyukai kekerasan, hanya saja manusia harus menjaga lisan karena lidah tak bertulang. Jika memang tidak mampu, sebaiknya diam dan jangan menerobos batas kemanusiaan.


Tak ingin menambah emosi hati. Nau beranjak dari tempat duduknya, lalu menghampiri meja Fay. Ia paham diamnya sang kakak sepupu tengah menahan diri agar kondisi tetap tenang. Inilah yang dikhawatirkan oleh orang rumah. Dimana orang luar bisa salah paham atas kedekatan mereka berdua.


Tidak hanya hari ini, tetapi hari yang telah berlalu juga seperti itu. Sekilas ingatan datang menghampiri. Kenangan beberapa bulan yang lalu. Suara yang menggema mengubah suasana rumah yang tenang dan nyaman menjadi mencekam. Pemuda yang berwajah tampan mirip Cha Eun Woo datang dengan amarah tak berdasar.


"Aureli!" Panggil pemuda itu dengan tidak sopan, membuat semua orang yang tengah berkumpul di ruang keluarga berlarian keluar melihat tamu tak diundang.


Fay berjalan menghampiri Kalingga, "Lingga, kamu disini? Bukannya masih di luar kota, ya."


"Stop! Jangan dekati aku lagi." Tangan pemuda itu terangkat menghentikan langkah Fay yang hanya menyisakan empat langkah untuk mendekatinya, "Aku pikir, kamu memang mencintaiku, tapi diam-diam bermain dengan pemuda lain. Apa kamu tidak punya malu?"


Semua terkejut dengan pernyataan Kalingga. Pemuda lain yang mana? Hubungan mereka yang baru berjalan dua tahun, tiba-tiba saja di penuhi simpang siur pertanyaan dalam keraguan. Apa tidak salah? Fay mencoba untuk menjernihkan pikiran, tetapi tetap tidak paham akan maksud dari sang kekasih.


Melihat Fay diam dengan tatapan menelisik, membuat Kalingga mengambil ponselnya. Lalu memainkan benda mati itu sesaat, kemudian menunjukkan apa alasannya datang kerumah dalam keadaan murka. Dimana keluarga Fay terdiam dan menunggu reaksi putri mereka.


Sebuah foto dimana ia dan Nau tengah menikmati makanan di warung tenda biru. Seburuk apapun ingatannya. Tidak akan melupakan peristiwa yang memang menjadi kehangatan keluarganya. Ia ingat foto itu diambil satu minggu yang lalu, tetapi apa maksud Kalingga dengan menunjukkan foto tersebut?


"Orang salah pasti diem." Kalingga memasukkan kembali ponselnya, wajah merah padam dengan tangan yang menunjuk ke arah Fay. "Jika kalian memang saling cinta, ngapain terima aku jadi pacar? Buat jadi pelampiasan atau cuma buat cadangan. Aku ....,"


Sentuhan tangan yang tak lagi mampu bertahan. Akhirnya jatuh dalam rasa panas mengalir menghentikan suara tak berakal. Kalingga terdiam seraya meraba pipinya yang bergetar. Tatapan tajam menyambutnya. Untuk pertama kalinya, ia melihat murka sang kekasih.


"Aku pikir, kamu berbeda. Rupanya sama." Helaan nafas panjang dengan harapan bisa kembali tenang, walau hatinya bergulat dalam kesendirian. "Naufal Bramantyo, adik sepupuku! Ok, kamu anggap dia selingkuhan ku. Up to you, but mulai detik ini kita putus."


Tegas tanpa ada keraguan. Kalingga tak lagi mampu berkata-kata. Kedatangannya untuk memberikan peringatan pada Fay agar menjauh dari Naufal, tetapi hubungannya langsung kandas tanpa sisa harapan. Tamparan yang cukup menyakitkan berganti ketidakberdayaan.


Hatinya terasa mencelos penuh penyesalan, tetapi Fay langsung berbalik meninggalkan ruang tamu. Sementara keluarga tak bisa berbuat apa-apa lagi. Semua kesalahan pemuda itu sendiri. Kenapa memutuskan untuk mempertanyakan hubungan yang jelas memiliki tempat masing-masing.


"Nau? Are you okay." Fay menjentikkan jemarinya di depan wajah sang adik sepupu, sontak mengembalikan kesadaran pemuda itu yang langsung menggelengkan kepala. "Makananmu dingin. Nau, apa harus mengingat masa lalu? Makanlah!"


Tidak disangka, lamunannya cukup lama. Benar kata Fay. Untuk apa mengingat masa lalu yang jelas tidak bisa dirubah. Bukan tentang itu yang mengusik hati dan pikirannya. Sebagai seorang lelaki dan seorang saudara. Mau sampai kapan menjadi penghalang hubungan kakak sepupunya?


Tanpa menunda lagi, Nau mulai menyuap makanannya. Meski pikiran dan hati semakin tak tenang. Entah kenapa semua bayang masa lalu datang mengingatkannya akan tanggung jawab yang kini ada di pundaknya. Semoga Fay berjodoh dengan Fatur. Harapan itu berubah menjadi sebuah cahaya yang redup.


Satu jam kemudian, semua sudah kembali ke mobil masing-masing. Akan tetapi, Nau tak fokus untuk menyetir hingga meminta Satya menggantikannya, sedangkan ia duduk menempati kursi yang sebelumnya menjadi tempat Fay. Biarlah kedua gadis itu duduk bersama di belakang.


Perjalanan kembali dilanjutkan, namun hanya ada keheningan. Satya yang fokus menyetir, Nau sibuk menatap ke luar jendela, Widya yang stay di depan lepi untuk mengkonfirmasi semuanya, dan Fay yang menyandarkan tubuh ke belakang untuk istirahat sejenak.


...Apalah arti cinta? Ketika rasa itu hanya tentang keegoisan....

__ADS_1


...Manusia memilih, tetapi Allah menetapkan....


...Cinta bukan tentang hak, namun hanya tentang penerimaan....


...Keikhlasan dalam penantian. Kesabaran dalam ketidakbersamaan....


Meninggalkan keheningan di antara helaan nafas panjang. Di tengah ketenangan tiba-tiba menjadi kehebohan. Suasana yang tercipta hanya karena ulah dua pria yang sibuk berdebat hal sepele dan berakhir mengusik kedamaian yang sangat dibutuhkan untuk berhalu ria. Sontak saja ia menyambar bantal sofa, lalu melemparkan hingga menghentikan keributan itu.


"Kalian ini, berisik!" Tukas Asma seraya melepaskan earphones, lalu meletakkan ke sisi ponselnya yang masih menyala. "Sekarang siapa yang mau tanggung jawab? Aku capek ngetik, tapi gara-gara kalian semua khayalanku melarikan diri."


Kedua pria itu saling berhadapan. Bukan karena suara ketus Asma, tetapi mereka merasa speechless dengan cara gadis itu mengomel. Gadis yang biasanya bicara baku, bahkan melebihi seorang pebisnis, dan sore ini justru mengalami perubahan gaya bicara. Apakah mereka tidak bermimpi.


Melihat kedua pria di depannya justru saling pandang, lalu menatapnya aneh. Sontak Asma memeriksa penampilan nya. Tidak ada yang salah. Jadi kenapa tatapan mata Rey dan Bagas nampak menyelidik seperti itu? Apalagi tidak berkedip, benar-benar aneh.


"Halo! Ada apa dengan kalian?" Tangan melambai berharap bisa membuyarkan tatapan mata yang masih terpatri ke arahnya, tetapi Rey justru mengambil bantal sofa yang jatuh ke sisi kirinya.


Suaminya itu menangkupkan kedua tangan ke wajahnya seraya menjepit bantal sofa. "Butterfly, coba ulangi lagi. Bicaralah seperti barusan."


Seketika Asma tersadar dengan situasi yang ada. Rupanya kedua pria di depannya sedikit oleng hanya karena bahasanya yang santai. "Lagi? Apa yang akan aku dapatkan?"


"Ayolah, jangan mulai serius lagi. Kenapa tidak berbincang-bincang dengan normal?" Sahut Bagas yang ingin suasana rumah lebih hangat dan terlihat seperti keluarga yang sesungguhnya, membuat Asma tersenyum tipis dengan ide sepintas bayangan.


Lembutnya karpet bulu yang menyapa telapak kaki, membuat Asma memilih untuk berhenti. Lalu duduk agar sejajar dengan yang lain. Tatapan mata yang menunduk dengan sunggingan seulas senyum nan tipis. Ia tahu, jika Rey dan Bagas bukanlah pria dingin. Hanya saja kedua pria itu terbiasa datar.


Meskipun seperti itu, ada kalanya bersikap seperti manusia normal dengan canda dan tawa yang bisa menghangatkan kebersamaan. Bagaimanapun keadaannya, kini mereka bertiga adalah satu keluarga. Sampai kapan akan saling berbicara dengan bahasa formal? Bukan itu yang menjadi inti masalah.


Bukankah ikatan itu terjalin tanpa pemaksaan? Begitu juga dengan komunikasi yang akan semakin lebih baik seiring waktu berjalan. Mereka hanya memerlukan waktu untuk terbiasa memahami satu sama lain, dan menghilangkan rasa canggung yang masih sibuk menaburkan bubuk keraguan.


"Jadi?" Asma mendongak menatap Rey, lalu beralih melirik Bagas, kemudian kembali menundukkan pandangan. "Apa yang harus aku lakukan? Jika ingin berbincang santai, kenapa cuma aku? Bagaimana dengan kalian berdua. Apa hanya menjadi pendengar?"


Seketika Bagas tersadar, benar juga yang dikatakan Asma. "Gak gitu juga, kita bakalan ikut nimbrung kok. Iya kan, Rey?" Bagas buru-buru memberikan kepastian, meskipun harus meminta persetujuan sahabatnya yang ternyata sibuk menatap istri di depan mata.


Melihat tingkah Rey yang absurd, tak elak tangannya terangkat menyenggol lengan sang sahabat. Sayangnya tetap di abaikan, membuat Asma menahan senyum, sedangkan kakak angkatnya menggelengkan kepala tidak habis pikir. Keadaan semakin ambigu hingga terdengar suara langkah kaki yang mendekat.


Ternyata Bi Jia datang dengan membawa nampan berisi minuman segar dan camilan buah potong yang dibaluri yogurt nan segar, "Silahkan dinikmati, Tuan, Nona." Diletakkannya nampan ke atas meja, lalu menyerahkan satu persatu mangkuk yang berembun itu.


"Terima kasih, Bi Jia." Asma menerima mangkuknya, lalu mencoba mencicipi cemilan sorenya. Manis pas dengan sensasi dingin yang melegakan. "Oh ya, Bi. Apa kamar tamunya sudah siap?"


"Kamar tamu?" tanya Rey dan Bagas secara serempak, membuat Bi Jia terhenyak, tetapi Asma tak ingin memberikan penjelasan apapun karena ia tengah menunggu jawaban dari sang bibi.


Suasana hati dengan keadaan yang terombang-ambing berganti secara acak. Tak mengubah kesibukan Asma menyuap makanan ke mulutnya. Cara terbaik menghindar dari pertanyaan adalah membiarkan tanpa perlu mempedulikan. Terlebih anggukan kepala Bi Jia sudah menjadi ketenangan hatinya.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu bergegas undur diri agar bisa terbebas dari dimensi kecanggungan yang ada di antara ketiga majikannya. Bagaimana tidak ikut tegang? Rey dengan tatapan menelisik, sedangkan Bagas dengan wajah ditekuk menunggu penjelasan Asma. Sepertinya, nona muda suka nuansa horror.


"Apa kalian tidak mau cemilannya?" tanya Asma menyuap buah terakhir dari mangkuknya, "Jika tidak, untukku saja."


"Butterfly!" panggil Rey menahan suaranya sebisa mungkin untuk tetap tenang.


Bukannya takut akan suara berat dengan tatapan tajam yang menusuk. Asma justru meletakkan mangkuk ke sisi kanan tempat duduknya, lalu mengambil ponsel yang sedari tadi diam diabaikannya. Kemudian menyerahkan benda mati itu ke Rey yang menghujam tatapan tanya tanpa berkedip.


"Whatsapp, nama kontak Fay dengan emot matahari di belakangnya. Cek saja, tapi berikan aku semangkuk cemilan lagi." jelas Asma tanpa canda, membuat Bagas langsung menepuk jidatnya sendiri.


Gadis satu itu, benar-benar tidak bisa ditebak. Apakah ada rahasia yang aman? Jika mengadu padanya. Demi semangkuk cemilan, ponsel sudah diserahkan. Ingin heran, tapi sepertinya memang begitu adanya. Sementara Rey langsung tersenyum akan tingkah Asma yang selalu ada saja.


Seperti kesepakatan tanpa berjabat tangan. Asma mendapatkan cemilan lain yang merupakan jatah Rey, sedangkan Rey sendiri memeriksa seperti petunjuk yang sudah diberikan oleh istrinya. Begitu banyak pesan bermunculan ketika membuka aplikasi pesan whatsapp. Jangankan untuk mencari nama, layar itu terus berkedip tak mau berhenti.


Bagas yang duduk di sebelah Rey bahkan melongo dengan ratusan hingga ribuan chat yang masuk. "Asma, berapa banyak teman di ponselmu?"


"Jika mau, periksa saja. Tiga jam cukup untuk melihat isi setiap group, dan lain sebagainya." jawab Asma asal, tetapi tetap memperhitungkan perkiraan waktu yang memang bisa dihabiskan untuk melihat seluruh keramaian dunia onlinenya.


Ponselnya sih, harga termurah. Akan tetapi, isinya bikin geleng kepala. Bisa dilihat Rey saja sampai termenung menunggu seluruh pesan masuk agar bisa scrolling ke bawah dan mencari satu nama yang akan menjadi jawaban atas pertanyaannya. Baru saja semua pesan tidak lagi bermunculan. Tiba-tiba, Asma mengambil ponselnya kembali.


"Hey, kenapa diambil ...," protes Bagas, tetapi ditahan Rey agar tetap diam, sedangkan Asma hanya mengubah pengaturan, lalu mengembalikan ponsel ke suaminya.


"Sebelum membuka aplikasi. Ada baiknya bertanya, kalian menghabiskan setidaknya tiga menit hanya untuk menunggu semua pesan masuk." sindiran halus yang menghantarkan tatapan saling pandang kedua sahabat itu. "Selamat memeriksa, aku kenyang. Permisi balik kamar dulu."


Asma yang beranjak dari tempat duduk, membuat Bagas berpikir sesaat. Apakah gadis itu tidak memiliki rahasia? Ponsel adalah privasi, tetapi dengan santainya memberikan benda mati itu pada mereka berdua. Terlebih lagi Rey bisa membuka si ponsel karena hafal passwordnya. Selalu ada tanda tanya baru. Namanya juga manusia.


Iringan langkah kaki yang menjauh disertai pemeriksaan si ponsel yang selalu mode silent. Ternyata Asma menggunakan nomor khusus untuk keluarga dan orang-orang terdekatnya, dan di nomor itu hanya satu, atau dua pesan yang masuk. Pantas saja mereka mendapatkan sindiran pedas.


Riwayat pesan antara Asma dan Fay sekitar beberapa jam yang lalu. Dari isi pesan menjelaskan bahwa keduanya akan melakukan pertemuan untuk pertama kalinya, tetapi yang menjadi pertanyaannya adalah Fay ini cewek atau cowok? Meski dari pesan jelas cewek. Bagaimana jika pas ketemuan berubah jadi cowok?


"Rey, apa Asma ingin teman onlinenya menginap disini?" Bagas bertanya seraya mencoba mencerna baik-baik isi pesan yang masih ada di depan matanya. "Coba bicarakan dengan istrimu. Dunia ini tidak semua orang memiliki hati dan pikiran baik. Jangan sampai ada yang menipunya."


"Aku akan bicara dengan Asma." jawab Rey beranjak dari tempat duduknya, ia percaya dengan wanitanya, tapi yang di katakan Bagas juga benar. "Nando, mereka lagi dalam perjalanan. Kirim Pedro untuk melakukan pemeriksaan!"


Tanpa harus menjawab. Bagas langsung menyambar ponselnya, lalu mengirimkan pesan singkat pada anak buahnya. Entah kenapa tiba-tiba sesuatu melintas ke dalam pikirannya. Langkah kaki Rey yang semakin menjauh, meninggalkan seorang diri.


"Apa nama aplikasi tadi?" gumamnya mencoba mengingat isi ponsel milik adik angkatnya, hingga sepintas ide memberikan solusi tanpa diminta. Jemari sibuk menari di atas tuts, mengetik beberapa huruf, lalu menekan icon search. "Langsung ketemu, coba langsung ku donwload saja."



🍃See you next year's, Januari 😇

__ADS_1


__ADS_2