
Kota Jakarta terbiasa macet dan itu tidak mengejutkan lagi. Mobil yang harus melewati jalan lain itu, setidaknya akan sampai ke tempat acara satu jam lebih lambat dari niat yang menggebu-gebu. Sementara di tempat acara yang mulai dipenuhi para tamu undangan, Orang-orang sibuk bercengkrama mengobrol satu sama lain.
Konsep negeri awan kristal mawar menjadi salah satu dekorasi terbaru bahkan Nona La sang pemilik WO tidak sungkan membenarkan bahwa pesta kali ini pure ide dari yang punya hajat. Suasana romantis dengan kabut putih yang sengaja dibuat, ruangan berkilau dengan atap bola cristal berisi mawar merah menggoda.
Aroma bunga segar menyebar luas, membuat siapapun betah untuk berlama-lama. Kali ini suasana seperti memasuki dimensi lain, apalagi tamu undangan tidak dibatasi ingin mengenakan pakaian model seperti apa karena yang terpenting tetap berwarna putih. Seakan kontras dengan kabut putih di sekitar mereka yang menutupi bagian bawah kaki.
Ditengah para tamu undangan Bagas menjadi pusat perhatian karena pria itu selalu didampingi seorang gadis cantik dengan balutan blue dress lengan panjang khusus untuk anggota keluarga. Begitu juga dengan sang sahabat yang menyelenggarakan pesta. Dimana pria itu mengenakan setelan kemeja biru dengan jas hitam sebagai penunjang penampilan.
"Jalannya bisa pelan dikit gak?" Fay menarik jas Bagas agar pria itu pengertian dengan kesusahannya karena berkat heels yang disediakan pihak butik benar-benar sukses menyekap kebebasan untuk berjalan tanpa hambatan.
Aksi Fay yang mencoba membujuk Bagas tak luput dari tatapan mata seorang pemuda yang baru saja masuk ke ruangan pesta. Hatinya berdenyut, apakah gadis mungil itu telah memiliki kekasih? Jika iya, kenapa harus menerima perjodohan? Pertanyaan curiga hadir tanpa diminta.
Fatur hanya bisa menahan diri ditengah keramaian pesta justru pandangannya hanya jatuh menikmati pemandangan langka yang ada di depan sana. Pemuda itu berusaha menguasai dirinya sendiri, tapi kecantikan Fay mengalihkan perhatiannya sebagai seorang lelaki.
"Nak, ayo masuk!" ajak seorang wanita dewasa membuat pemuda itu kembali sadar, rombongan keluarga hadir sebelum acara dimulai.
Satu persatu tamu undangan mulai memenuhi tempat acara. Termasuk keluarga Fay bersama pemuda yang akan menjadi calon suami gadis itu. Bagas dengan senang hati menyambut bahkan tidak sungkan mengecup tangan orang tua Fay dan Naufal. Bagaimanapun usianya tidak beda jauh dari putri keluarga itu.
__ADS_1
"Nak, mana adikmu? Kok Bunda gak lihat Nau." Wanita berhijab yang menoleh kesana kemari mencari keberadaan putranya, tetapi tak kunjung melihat batang hidung sang putra.
Fay tersenyum tipis, "Bunda, Nau dateng pas acara malam. Ini hari terakhir mereka untuk melakukan eksplorasi tempat. Jadi free malem aja, sebaiknya aku antar ke tempat yang lebih nyaman buat kalian. Tuan Bagas, boleh aku permisi sebentar?"
"Silahkan, tapi balik lagi. Jangan sampai ada yang ngambek di hari pentingnya," Bagas mempersilahkan Fay membawa keluarganya agar ke ruangan yang memang sudah disediakan dan disana juga ada keluarga sang kakak.
Pesta semakin semarak dengan iringan melodi nada piano yang dimainkan seorang pianis handal. Keramaian di ruangan itu seperti gelapnya malam yang dipenuhi cahaya bintang, sedangkan di ruang ganti masih tersisa ketegangan. Para perias harus ekstra sabar karena kelakuan Rey yang melarang mereka melakukan make over berlebihan.
Bayangkan saja, lipstik belum dioleskan. Rey sudah mewanti-wanti hanya boleh tipis saja. Pria itu cemas atau kenapa? Terlalu over protective atau possessive. Sangat amat mengherankan, tetapi juga menggemaskan. Sayangnya tingkah laku yang memang diluar bayangan itu, membuat Asma berulang kali menghela napas panjang.
Asma mengangkat tangan, lalu mengibaskan agar para pekerja berhenti merias dirinya. Kemudian diputarnya kursi yang menjadi tempat duduk selama satu jam terakhir, "Hubby! Kita batalkan saja resepsi pernikahannya, gimana?"
"Kenapa? Semua sudah siap dan ...," ucapannya terhenti begitu tangan dengan aroma harum manis membekap mulutnya.
"Sekali lagi kamu komplain pada mereka. Pesta batal." Asma sengaja memberikan ancaman agar Rey mengerti para pekerja juga capek mendengarkan protes yang tidak berkesudahan.
Seulas senyum menyambut pasrah ancaman sang istri. Wajar saja jika itu dilakukan Asma, semua juga karena ulahnya sendiri. "Kalian pastikan riasan tidak berlebihan, aku ke kamar sebelah untuk bersiap."
Langkah kaki Rey beranjak meninggalkan ruang ganti wanita, membuat para pekerja lega tanpa mata-mata. Mereka kembali memulai pekerjaan yang seharusnya sudah selesai dan kini diulang dari awal kembali. Setiap pekerja melakukan tugasnya masing-masing, dimana ada yang sibuk mengatur riasan, rambut dan juga pakaian. Selama satu jam persiapan dilakukan sebaik mungkin.
__ADS_1
Cermin besar tinggi ke atas memantulkan penampilan seorang wanita dengan balutan gaun pengantin yang indah, elegant dan sederhana. Riasan natural dengan tema smoothie peach blossom. Hairstyle bridal yang menonjolkan kepangan rambut panjang menjuntai di tambahkan hiasan kupu-kupu serta mahkota bunga melingkar di kepala.
"Pekerjaan kalian sangat bagus, hampir saja tidak mengenal wajah sendiri." puji Asma untuk hasil para pekerja yang memang memiliki tangan terampil dan luwes me make over dirinya.
Dari seorang gadis desa, lalu berubah menjadi princess dadakan. Siapa yang menyangka hidup begitu jauh dari angan, tetapi takdir mempersembahkan tanpa pengharapan. Sebagai seorang istri dari pria berkecukupan, Asma sadar arti penampilan yang harus menyesuaikan. Apalagi setelah ia juga terjun di dunia bisnis.
"Non, bagaimana dapat suami sekece Tuan Reyhan Aditya?" tanya perias termuda yang agaknya minat mencoba peruntungan di dunia percintaan.
Asma melirik ke arah perias itu melalui cermin karena posisi mereka tidak saling berhadapan. "Jodoh. Selain itu, aku tidak tahu. Sebagai wanita kita hanya perlu menjaga diri dan bertindak sesuai keadaan. Jangan berpikir harus menjadi siapa dan karena apa. Coba pikirkan satu alasan kebahagiaan kalian, lalu renungkan dan wujudkan. Paham?"
"Tidak, Non. Temenku kan tanya soal pria yang mungkin mirip suami Nona, tapi kenapa jadi terdengar seperti penyesalan?" tanya balik pekerja lain, membuat Asma tersenyum simpul.
Semua orang yang ada di ruangan itu sudah dewasa. Dimana dalam artian siap menikah. Akan tetapi masih berpikir tentang harus mendapatkan cowok seperti ini dan seperti itu. Lagi pula kalau dia tahu bagaimana bisa menikah dengan Rey. Tetap saja jawabannya jodoh. Setiap pasangan kan memang sudah diatur, jadi?
"Lupakan semua itu," Asma berbalik ke belakang, di saat bersamaan suara pintu terbuka dan seseorang masuk ke dalam ruangan ganti.
Tatapan matanya terpana mengagumi pemandangan di depan mata. Perubahan drastis Asma benar-benar mengejutkan, terlebih lagi gaun yang dikenakan begitu cocok melemat di tubuh wanita itu. Langkah kaki trus maju, ia tak henti berdecak kagum akan hari langka yang mungkin tidak bisa diulang lagi.
"Tolong ambilkan foto kami berdua!"
__ADS_1
🍃Asma Reyhan Aditya