Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 52: Lamunan Bagas, Duduk Bersama


__ADS_3

Kepergian Nau, membuat Fay menyelesaikan berkemas barang. Tidak banyak yang dibawa karena liburan kali ini hanya bersama anak-anak lain yang umurnya tidak jauh berbeda. Meski begitu, menjaga diri adalah kewajiban. Apalagi, di Jakarta nanti. Sang sepupu memiliki kesibukan yang sepertinya cukup padat.


Lima belas menit kemudian. Fay sudah berbaring menatap langit kamarnya. Warna putih yang cerah tanpa ada noda sedikitpun. Gadis itu masih sibuk bermain ponsel ke laman salah satu aplikasi, hanya sekedar scroll tanpa berniat untuk mengikuti alur yang membosankan hingga rasa kantuk menyapa membawanya ke alam mimpi.


Berharap bisa bertemu sang artis idola, tetapi hanya sekedar harapan. Taraf mencintai idola dengan batas kewajaran tanpa ada ambisi seperti gadis lain, sedangkan Bagas baru saja kembali ke kamarnya setelah memberikan tour guide singkat pada dokter dan suster agar tidak tersesat selama bertugas.


Tubuh lelah dengan rasa penat, membuatnya merasa tak semangat. Seperti biasa, ritual mandi sebelum beristirahat akan memulihkan kesegaran tubuhnya. Seharian harus melakukan ini dan itu, termasuk mengurus keperluan keluarga yang tidak boleh ada kekurangan. Sejenak terlihat seperti pelayan.


Namun, bagi Bagas. Semua itu adalah kebahagiaan. Bisa memberikan yang terbaik dengan ketulusan hati. Tidak ada hal lain dalam hidupnya selain tentang pekerjaan dan keluarga. Di bawah guyuran air shower yang dingin. Dipejamkannya mata, sejenak melepaskan semua emosi yang membelenggu. Ingatannya kembali pada masa lalu.


Dimana uluran tangan seorang pemuda tampan menjadi tanda tanya pertama dalam hidupnya. Kenapa pemuda itu mau berteman dengannya? Disaat banyak murid yang menjauhkan diri karena status sebagai anak haram. Pemuda yang baru saja pindah ke sekolahnya justru mengajarkan arti pertemanan tanpa memandang status.


Dialah Reyhan Aditya. Seorang pemuda dengan status keluarga berada, tetapi juga memiliki kehidupan yang tidak sempurna. Dimana pemuda itu menjadi putra tunggal yang terabaikan. Awal hubungan yang menjadi pertentangan. Siswa lain berusaha untuk menjauhkan Rey darinya, tapi pemuda itu menutup telinga dan tetap bersamanya.


Sehingga pada akhirnya mendapatkan sindiran pedas. Sungguh masa SMA yang penuh kenangan. Semua mulai berubah, ketika mereka memilih fakultas yang sama meski dengan jurusan berbeda. Apalagi di tahun pertama kuliah, Rey harus menerima kenyataan pahit. Dimana orang tuanya mengalami kecelakaan tunggal saat melakukan perjalanan bisnis.


Disaat paling buruk, Bagas tetap berdiri menjadi sandaran sebagai seorang sahabat. Suka, duka menjadi milik keduanya. Hubungan menjadi semakin dalam tanpa ada keraguan. Tidak peduli dengan omongan orang. Kedua pemuda itu bangkit, saling bergandengan tangan menjadi batu pijakan satu sama lain.

__ADS_1


Seiring waktu berlalu. Tidak ada lagi perbedaan antara sahabat atau saudara. Jika salah satu tersakiti, maka yang satunya lagi siap berdiri menjadi pelindung dan melakukan perlawanan. Sejak saat itulah, tidak seorangpun meragukan kasih sayang di antara saudara tak sedarah.


Meskipun, beberapa orang berpikir, jika keduanya adalah pemuda cinta sesama jenis. Wajarkah? Sedikit ambigu, tetapi melihat keduanya tidak terpisahkan. Tentu sudut pandang beberapa orang yang dangkal akan menyatakan keraguan mereka. Apalagi sebanyak apapun wanita yang berusaha mendekat. Pasti hanya akan patah hati.


Tidak ada waktu untuk berpacaran. Khususnya Rey, pemuda itu hanya fokus mengembangkan bisnis. Sementara Bagas, sesekali mengajak kencan seorang gadis walau hanya untuk menjadi sepintas lalu. Bukan gadis yang mencintainya. Gadis khusus yang memang dibayar untuk duduk bersama menikmati secangkir kopi.


Tidak ada adegan mesra, selain berbincang biasa membicarakan hal tidak penting di cafe selama tiga jam. Untuk melakukan me time yang di anggap kehidupan normal. Bagas rela mengeluarkan sepuluh lembar kertas merah ke sebuah agensi sewa pacar. Tentu bukan gadis abal-abal karena semua gadis sudah pilihan dan akan bersikap profesional. No love, no kiss.


Cukup untuk menjadi refresing, tetapi jangan berharap mengajak Rey melakukan hal sama. Pria yang kini berstatus seorang suami. Terlalu perfect untuk memulai sebuah hubungan. Di dekati wanita bukannya senang. Justru lari berlindung di belakang sahabatnya. Sungguh memusingkan. Maka, demi kebaikan. Ditetapkan perjodohan singkat.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, membuat seluruh lamunannya buyar. "Ada apa, Rey?"


Suara detakan jarum jam terdengar begitu jelas, mengalahkan suara helaan nafasnya. Sembari menunggu Bagas, pria itu membuat kopi untuk mereka nikmati menjadi teman mengobrol nanti. Suasana rumah yang sepi, membuat pergerakannya bebas. Tidak ada yang menatap dengan rasa sungkan. Terkadang menjadi majikan bisa serba salah.


Sepuluh menit kemudian. Bagas datang duduk di sebelahnya. Dimana keduanya duduk di tepi kolam renang, lalu Rey memberikan secangkir kopi yang sengaja di tutup agar tetap terjaga panasnya. Semilir angin dingin menelusup tak membuat bulu mereka meremang. Pandangan mata terus mengikuti riak air yang bergelombang.


"Rey, apa ada masalah?" tanya Bagas seraya meniup kopinya.

__ADS_1


"Aku kira, masalahnya bisa ku atasi, tapi setelah berulang kali ku dengarkan. Aku tetap gagal paham. Coba bantu aku, apa maksud dari semua ini." Diambilnya ponsel dari tempat persemayaman, lalu ia serahkan pada Bagas. "Rekaman suara yang teratas. Dengarkan saja, mau pake earphones?"


Tawaran yang bagus. Ponsel dan earphones beralih ke tangannya, lalu menyalakan rekaman yang dimaksud. Suara lembut, mendayu dan energik. Terdengar begitu puitis, tetapi semua itu hanyalah perumpamaan. Beberapa bayangan melintas mengikuti kata demi kata hingga sebuah gambaran nampak indah di tengah tenangnya air kolam renang.


Bagas mendengarkan dua kaki, tetapi baru bisa memahami setengah, sedangkan setengahnya lagi. Ia membutuhkan penjelasan dari pemilik suara. Jika rekaman di tunjukkan pada seorang perancang pesta pun. Mereka bisa pusing tujuh keliling. Orang-orang biasa bekerja dengan rancangan jelas. Sementara request yang ia dengar merupakan bait sajak impian.


"Apa ini tema untuk resepsi kalian dan rekaman harapan yang kudengar adalah suara Asma?" Bagas bertanya untuk memastikan, Rey hanya menjawab dengan deheman pasrah. "Done. Semua akan seperti harapannya. Sekarang bisa kita bicarakan soal Elora? Setidaknya kamu tahu, ini penting 'kan."


Satu nama yang ingin sekali dilemparkan ke kutub utara. Kenapa juga takdir harus mempertemukan mereka pada gadis overdosis seperti Elora. Jika orang melakukan kebaikan. Bukankah itu wajar? Sayangnya, Elora menganggap sebuah pertolongan sebagai lonceng cinta. Apakah sebagai manusia harus berhenti melakukan tolong menolong? Tentu tidak.


Rasanya enggan membahas wanita satu itu, tapi benar. Kini ada Asma yang harus dijaga perasaannya. Tidak mungkin untuk mengabaikan kenyataan yang ada di antara mereka. Apalagi hubungan kerja sama masih terus bergulir hingga proyek berakhir dan selama itu. Maka Elora memiliki kesempatan untuk mendekatinya tanpa harus bersusah payah.


"Aku sudah memikirkan itu, tapi info yang ku dapat baru setengah." Rey memulai perbincangan yang paling dihindari selama ini, "Elora memiliki kekasih gelap. Akan tetapi, anak buahku masih mencari tahu siapa pria itu. Info terakhir mengabarkan bahwa keduanya akan bertemu di Milan. Tepatnya sepuluh hari dari sekarang."


"Wow, jika punya pacar. Kenapa masih usaha deketin kamu? You know, hidupnya sudah berkecukupan dan tidak memerlukan pria kaya sepertimu, Rey." sahut Bagas tanpa berpikir panjang, ia akan selalu spontan ketika hanya mengobrol berdua saja.


Apa harus dijawab? Sepertinya tidak perlu. Rey hanya mengedikkan bahu. Tidak untuk menjelaskan karena semua yang terjadi sudah jelas. Anggap saja Elora mencintainya, lalu bagaimana nasib dari pacar gelap yang selama setahun terakhir menjadi pelabuhan hati? Apa akan terasingkan? Sungguh ironis, jika itu terjadi.

__ADS_1


Bagas menyikut lengan pria di sebelahnya, "Reyhan Aditya! Diammu, tidak bisa aku pahami. Come on, tell me."


__ADS_2