Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 66: Tekanan Bagas, Pertemuan


__ADS_3

Suara laungan adzan terdengar mengalun merdu, membangunkan insan yang terlelap. Tak peduli seberapa lelah dan remuknya tubuh. Asma beranjak dari tempat tidur, tetapi pergerakannya juga membangunkan Rey yang ikut meregangkan tubuh dengan kerjapan mata perlahan.


"Mas, mau sholat bareng atau bagaimana?" tanya Asma yang masih mengumpulkan nyawa agar tidak berjalan oleng.


"Seperti biasanya, butterfly. Pergilah mandi atau mau ku siapkan?" tanya balik Rey langsung mendapat penolakan, melihat Asma yang berjalan meninggalkan tempat tidur. Ia hanya tersenyum karena semangat pagi telah didapatkan.


Dua jam kemudian. Tepatnya pukul tujuh lebih dua menit. Semua orang sudah duduk di tempat masing-masing dan dihadapkan dengan sajian sarapan pagi yang lebih baik. Tentunya dari menu kemarin malam yang hanya salad sayur tak menggiurkan, tetapi pagi ini semangkuk bubur ayam, tumis brokoli dengan wortel dan segelas jus melon.


"Dok, bagaimana dengan jadwal olahraga pagi ini?" Asma menggeser mangkuknya, lalu menuangkan tumisan sayur ke atas bubur, sedangkan Si Dokter masih sedikit trauma dengan hari kemarin. "Aku akan olahraga dengan benar, Dok. Tenang."


"Apa ada sesuatu yang tidak aku tahu?" Rey mengalihkan perhatiannya pada Asma, kemudian beralih ke Dokter yang berdiri tak jauh dari tempat duduknya.


Sepertinya ia telah melewatkan hal penting di antara istri dan dokter itu. Apakah semua baik-baik saja? Berharap sang dokter tidak menyusahkan Asma, tanpa dia sadari yang memberikan terapi kejut adalah istrinya sendiri. Kedua wanita yang dipekerjakan untuk program pemulihan kesehatan harus merendam tangan agar tidak kaku.


"Tidak, Tuan." Dokter berusaha tersenyum meski dipaksakan, "Semua baik, bahkan sangat baik, tapi sepertinya hari ini libur dulu. Tadi pagi ada panggilan darurat untuk operasi pukul delapan pagi."


Bagas mencium aroma keraguan. Ditatapnya sang dokter yang terkesan menghindar dari pekerjaan yang telah diberikan. Tanpa menunda, ia mengirim pesan pada salah satu rekan menanyakan kondisi rumah sakit. Benar saja seperti dugaannya. Dokter itu yang memaksa mengambil alih sebuah tugas operasi dadakan.

__ADS_1


"Rey, kalian pergi saja ke hotel dulu. Aku menyusul setelah membereskan file pekerjaan di kamar." Sambung Bagas, bukan untuk memudahkan kebohongan dari si dokter, tetapi ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Keputusan siapapun di antara mereka bertiga. Tidak akan mendapatkan bantahan, ketiganya sadar akan posisi yang sama. Baik, Reyhan, Bagas atau Asma. Ketiga anggota keluarga itu berusaha untuk saling memberi kesempatan, tanggung jawab dan final decision. Sebagaimana layaknya keluarga terorganisir.


Akhirnya sesi sarapan berakhir, Rey mengajak Asma untuk kembali ke kamar untuk bersiap, sedangkan Bagas masih duduk di tempatnya dan sengaja menikmati makanan secara perlahan. Seakan mengerti tengah diawasi, Si dokter menoleh menatap ke arahnya.


"Tuan, Saya permisi." Pamit Bu Dokter berniat bangun dari tempat duduknya, tetapi Bagas mengibaskan tangan agar ia tetap duduk dengan tenang. "Ada yang bisa dibantu, Tuan?"


"Mau jujur atau?" tanya Bagas tanya menyertakan poin permasalahan, membuat bu dokter mengernyitkan dahi tak paham. "Apa yang adik ku lakukan?"


Bingung mau jawab apa. Masa bilang terkejut dengan sikap Asma yang main tukar tanggung jawab pekerjaan. Gadis itu, membuat kedua tangan dengan sepuluh jari terasa pegal. Ingin mengeluh, tapi inget pekerjaan sudah dibayar di muka. Bagaimana sekarang? Serba salah jadinya.


Satu perasaan tidak cukup menjelaskan emosinya. Speechless dengan cara Asma yang berani menukar pekerjaan. Bagaimana sekarang akan menganggap adik iparnya sebagai gadis desa? Rasanya tidak wajar. Lebih cocok menjadi gadis pintar dengan seratus akal.


Kini, ia paham. Asma hanya bersikap sebagaimana mestinya. Polos di hadapan Rey, tapi tidak di depan orang tertentu. Satu wajah yang bisa menyesuaikan diri. Pertanyaannya adalah apa yang akan ia ajarkan pada gadis satu itu? Jujur ada rasa bersyukur karena kepribadian Asma yang complicated.


Setelah merasa cukup dengan jawaban yang di dapat. Barulah membiarkan kedua wanita itu untuk kembali bekerja, tetapi ia tidak lupa mengingatkan agar kejadian pagi ini tidak terulang. Namun, sekarang ditinggal sendirian dengan pemikiran yang menjelajah semua arah tujuan. Apa, kenapa, bagaimana? Semua tanda tanya menyatu tanpa ingin dipisahkan.

__ADS_1


Sibuk dalam perenungan, hingga tak melihat kedatangan Asma dan Rey yang baru saja keluar dari dalam kamar. Pasutri itu berjalan sambil berbincang hal sederhana yang terdengar akrab, tetapi tetap saja Bagas sibuk menatap gelas kosong di depannya. Pikiran yang melayang dengan kesimpulan yang terus saja memberontak.


"Mas, apa Ka Bagas mau menjemput mereka?" tanya Asma memastikan sekali lagi.


Rey merasa istrinya begitu berharap dengan permintaan satu itu. Entah kenapa, tapi ia merasa Asma tengah merencanakan sesuatu. "Nando pasti jemput temanmu. Ini janji seorang Reyhan Aditya."


Itu bukan hanya firasat Rey seorang karena seulas senyum tipis menjelaskan isi hati si gadis desa. Apa yang direncanakan. Bagaimana menjalankannya. Semua biarlah mengalir seperti air. Satu yang ia yakini. Takdir tak akan berkhianat. Meskipun dunia runtuh, pertemuan akan tetap terjadi atas ridho-Nya.


Hari ini akan menjadi pertemuan pertama yang setidaknya harus sama-sama terkesan. Kemungkinan dari kegagalan hanya lima persen dan jika berhasil, maka tujuan merengkuh delapan puluh persen dari garis kehidupan. Rey menepati janji dengan memastikan Bagas menjemput anak-anak ke tempat penginapan.


Sementara itu, perjalanan berbeda arah menjadi perpisahan sesaat. Satu sisi Bagas ke arah selatan menuju penginapan Abah Rojali, sedangkan Rey dan Asma langsung menuju hotel Venus. Waktu yang bergulir mengantarkan kisah baru, berteman kilau cahaya sang mentari. Sebagaimana tanggung jawab lainnya. Pekerjaan kali ini akan dijalankan sebaik mungkin.


Mobil memasuki gapura sebuah desa. Dimana itu mendekati titik lokasi yang sengaja di sharelock oleh salah satu pemuda yang merupakan teman adik iparnya. "Jalannya kenapa jelek sekali. Apa tidak ada tempat menginap yang lain?"


Bagas yang fokus dengan kondisi jalanan, sampai tidak menyadari di depan sana ada sebuah rumah yang cukup besar. Halaman luas dengan sekeliling pepohonan hijau nan rindang. Detik terakhir sebelum fokus ke jalan, tiba-tiba seorang gadis berjalan ke arah mobilnya. Akan tetapi hembusan angin menerbangkan rambut panjang yang menghalangi pandangan mata.


"Astaghfirullah," ucap Bagas langsung menginjakkan rem, sontak membuat mobilnya berputar-putar di tempat menghadirkan kepulan debu yang beterbangan.

__ADS_1


Begitu mobil benar-benar berhenti. Pria itu melepaskan sabuk pengamanannya, lalu membuka pintu mobil, kemudian turun tanpa menutup pintu mobilnya kembali. Langkah kaki yang berjalan menghampiri si gadis yang terdiam di tempat. Di tengah keterkejutannya, ia juga cemas akan mencelakai anak orang. Jangan sampai gadis itu terkena serangan jantung.


"Mba, gakpapa?" tanya Bagas dengan sikap sopannya.


__ADS_2