Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 94: Masalah Bisnis?


__ADS_3

Moodbooster itu dibutuhkan semua orang. Ada kalanya bersifat benda, tetapi ada juga dengan dukungan orang-orang terkasih mereka. Seperti Jovanka, gadis kecil itu kembali membaik karena harapan yang diberikan Fay. Hati yang takut bertahap merengkuh ketenangan.


Kepergian Fay dan Jovanka, membuat Asma fokus mengobati luka lebam di punggung Rey. Sementara Bagas dan Axel terdiam menunggu, kedua pria itu sangat paham akan diamnya si gadis desa yang menahan kesedihan atas peristiwa yang baru saja terjadi.


"Berikan pakaianmu!" Asma mengulurkan tangan kanan ke depan, membuat Rey melepaskan kemeja di pangkuannya lalu menyerahkan hingga terbenam ke dalam genggaman sang istri. "Ka Bagas bisa jelaskan kalian semalam mau bicara soal apa?"


Ia ingat sebelum semua orang berlari untuk melihat apa yang terjadi pada Jovanka. Ketiga pria yang berada di ruangan sama saat ini ingin membicarakan hal penting, tetapi melihat situasi mereka menahan diri untuk tetap diam. Lalu pagi ini timbul masalah Suketi. Sudah pasti tidak enak hati untuk menambah ketegangan baru.


Kesadaran Bagas setengah terbang melayang, membuat pria itu tersentak dari lamunan. Bukan karena mendengar pertanyaan Asma, melainkan senggolan tangan Axel yang cukup keras bertemu tulang sikunya. Sontak ia teralihkan menatap keseriusan sang adik. Dimana gadis itu tengah membantu Rey mengenakan kemejanya kembali.


Apa dia harus mengatakan ide gilanya? Apalagi setelah situasi yang baru saja terjadi. Ketenangan sang adik bukan hal baru, hanya saja ia sadar keadaan tidak memungkinkan. Dilema? Tidak seperti itu, ia hanya tidak ingin adiknya memiliki banyak tekanan dan berakhir kesehatan menurun.

__ADS_1


"Lupakan saja, De. Kami akan cari solusi lain, sebaiknya kamu istirahat. Pasti capek setelah semua drama pagi ini," Bagas beranjak dari tempat duduknya, "Terkadang keputusan dibuat tanpa melihat situasi. Kakak bangga punya adik seperti kamu, tapi masalah bisnis biarlah para pria yang handle."


Pernyataan Bagas cukup meyakinkan bahkan baik Rey atau Axel tidak menolak. Apalagi melakukan protes, mereka sepakat untuk mengubah solusi dari masalah bisnis, sedangkan Asma hanya bisa menghela nafas panjang. Kenapa kebiasaan pria selalu sama?


"Para pria? Apa kakak berpikir wanita rumah tidak bisa mengatasi masalah bisnis? Baiklah. Simpan saja masalah kalian." Asma beranjak mengikuti pergerakan Bagas yang terdiam di tempat karena jawabannya, lalu ia mengambil kotak obat di atas meja, kemudian berjalan menjauh dari Rey yang masih merenung kehidupan mereka.


Langkah kaki semakin mendekati pintu, membuat Asma menghentikan perjalanannya. "Jika dari sepuluh solusi tidak bisa mendapatkan satu solusi terbaik. Apakah itu wajar? Kalian sudah memutuskan, merancang, tetapi belum melakukannya. Pikirkan baik-baik, apa mau kalian? Masalah di dalam masalah atau solusi untuk masalah."


Tidak ada teka-teki, apalagi penjelasan puitis. Kali ini semua jelas tanpa ada pagar pembatas. Memang benar yang dikatakan Asma. Solusi sudah didapat bahkan telah disepakati bersama tanpa ada keraguan. Tidak berniat mengambil solusi lain, hanya saja mereka memiliki hati untuk tidak merepotkan masalah pekerjaan.


"Nando, Aku setuju untuk tidak melibatkan Asma di dalam bisnia, tapi sekarang kita harus siap menghadapi masalah lain jika ingin melanjutkan proyek. Bagaimana menurutmu Mr. Axel?" tanya Rey yang sengaja diam sejak awal karena tidak ingin berdiri di antara kakak dan adik.

__ADS_1


Sebagai seorang suami, ia berkewajiban untuk mengatasi masalah rumah tangga. Sebagai seorang pebisnis, ia di tuntut untuk profesional, sedangkan sebagai saudara harus memahami tanpa perlu memberi penekanan. Sadar diri akan posisi di setiap hubungan yang ada dalam hidupnya.


Selain itu, Asma terbiasa bertindak setelah memikirkan segala sesuatu dengan penilaian semua sudut pandang. Sementara solusi yang menjadi keputusan bersama mengacu pada kepercayaan pada gadis itu dan kini mereka kehilangan kesempatan yang hanya datang sekali. Terkadang manusia memang suka kerumitan.


Axel tidak tahu harus apa karena ia merasa Asma memang pantas mendapatkan tempat seperti yang Bagas katakan. Keraguan akan kemampuan seorang gadis desa yang masih bertahta di hati. Justru pagi ini runtuh dengan tindakan nyonya rumah yang membebaskan Suketi dengan memberikan kehidupan baru sebagai seorang wanita.


Jika dipikirkan, bisa saja mendaftarkan Asma untuk mengikuti sosialisasi para dermawan atau acara amal yang biasa diselenggarakan sebulan sekali. "Aku akan mempertimbangkan lagi masalah proyek. Jujur saja, untuk pertama kalinya hati merasa terlepas dari kepercayaan. Coba bicarakan dengan Miss Asma tentang masalah ini berikan satu kesempatan untuk solusi yang pasti."


Secara tidak langsung Axel menolak untuk mengubah isi kontrak, membuat Bagas menghela nafas berat dan Rey mengusap wajahnya kasar. Serba salah karena tidak bisa mendapatkan jawaban dan ketenangan atas masalah bisnis mereka. Semua karena ulah sendiri, salah siapa memutuskan begitu saja tanpa mencari jawaban.


Meninggalkan ketegangan para pria, Asma kembali ke kamarnya dengan emosi yang masih terus memperdebatkan situasi yang ada. Tenang? Benar ia berusaha untuk baik, walau hati dan pikiran jatuh dalam jebakan tak menentu. Langkah kaki terus berjalan hingga memasuki kamar mandi. Sejenak ingin mendinginkan kepalanya yang begitu panas.

__ADS_1


Guyuran air shower menyambut gundah gulana di hatinya tanpa rasa sungkan. Tidak seorangpun melihat tarik tambang yang menguras emosi dan juga kesadarannya. Alih-alih berteriak untuk melepaskan beban, gadis itu berdiam diri di bawah pancuran yang terus mengalirkan air.


Apa arti dari kata? Ketika sadar semua itu hanyalah bualan. Sedikit saja bertahan tanpa keinginan yang menjadi cambukan. Sakit? Bukan itu yang menjatuhkan, tetapi goyahnya keyakinan hati dalam ketidakberdayaan. ~ ucap hati dalam perdebatan yang menguasai ketenangan Asma.


__ADS_2