
"Akan kupikirkan, tapi bisakah di pantai? Atau harus acara di dalam ruangan?" tanya Asma memulai perbincangan yang entah akan mencapai tujuan mana.
Rey mencari ponselnya yang ternyata masih bersembunyi di balik saku celana, lalu mencari riwayat foto di gallery, kemudian di perlihatkan ke istrinya. Menjelaskan beberapa tawaran dari pihak WO. Mulai dari tema indoor, yang memiliki beberapa jenis rincian, bahkan sangat lengkap dan terlihat wah.
Selama tiga puluh menit, Sang suami memberikan penjelasan seperti salah satu karyawan dari pihak WO. Terlihat jelas bagaimana Rey bisa menguasai bahasa dan tata cara bicara yang baik dan benar. Namanya juga seorang pebisnis. Pasti sudah terbiasa. Termasuk gaya bicara tegas dan cepat, tapi tahu kapan jeda untuk tanda koma dan titik.
"Sekarang, apa kamu sudah punya pandangan untuk acara resepsi kita? Aku akan penuhi permintaan istriku." Ucap Rey mengakhiri sesi public speaking yang membuat Asma tersenyum tipis.
Memang panjang kali lebar, tapi tidak satupun dari apa yang dijelaskan akan menjadi impiannya. Dari semua tema, hanya ada satu poin yang disuka, lalu poin lainnya tidak diharapkan. Secara sadar, impiannya tercerai berai menjadi bagian tema yang berbeda.
"Mas yakin, mau dengarin permintaan ku?" Asma bertanya menatap suaminya yang duduk bersandar di sebelahnya, tetapi yang menjadi jawaban hanya kedipan mata dengan tatapan meneduhkan. "Okay, bantu aku bangun, Mas."
Tanpa ada penolakan, Rey meletakkan ponselnya ke atas ranjang, lalu membantu istrinya agar bisa duduk bersandar bersebelahan dengannya. Pasutri itu menikmati sisa hari saling berpelukan dalam kehangatan. Sederhana, tetapi menjadi momen yang tak terlupakan suatu saat nanti.
"Tema indoor, cukup banyak yang menarik. Dari segi dekorasi dan juga suasana yang dibuat sedemikian rupa. Begitu juga dengan tema outdoor, tapi tidak satupun masuk ke dalam harapanku." Asma mengambil ponsel milik suaminya, kemudian mencontohkan satu foto dari desain. "Aku suka dengan hiasan bunga mawar gantung yang tersimpan dalam bola kristal.''
Beralih ke foto selanjutnya, " Tidak dengan tema formal karena itu terlalu kaku. Semua acara resepsi pasti harus duduk berjam-jam. Jika posisiku menulis, it's ok, tapi harus tersenyum sepanjang waktu dengan pakaian berat dan berjabat tangan? Jawabanku, tidak."
__ADS_1
Resepi? Bukankah dimanapun memang seperti itu adanya? Tidak peduli kalangan bawah atau atas. Tetap saja, pasangan pengantin akan duduk di tahta yang sudah disiapkan. Lalu, para tamu datang menghampiri untuk memberikan ucapan selamat dan doa. Jadi, dimana salahnya? Apalagi, resepi nanti akan dihadiri banyak kolega bisnis dan keluarga dari pihak mempelai wanita.
"Jika istriku tidak suka semua tema." Rey mengambil ponselnya, lalu mengusap kepala yang bersandar di dadanya penuh sayang. "Katakan, seperti apa yang kamu impikan? I will make sure, like your expectations."
Tatapan mata mendongak menatap mata teduh suaminya, "Apa arti dari kalimat tadi?"
"Asma!" Rey memperingatkan agar tidak mengalihkan topik pembicaraan, sontak saja sang istri memutar bola matanya menyerah. Tak tega juga dengan rasa penasaran istrinya yang pasti ingin tahu, "Saya akan memastikan, seperti harapanmu."
Punya suami pinter, tapi gak tegaan. Hmmm, terima alhamdulillah. Rey masih belum tahu, aku paham tanpa dijelaskan.~batin Asma menahan senyum di hatinya.
"Diantara suara deburan ombak, aroma segar bercampur harum bunga yang semerbak. Tertata simetris dengan meja kursi yang saling menghangatkan. Kilauan lampu gantung dengan lilin aromatik. Rantai bunga yang bergelantungan indah jatuh dari langit. Helaian benang terbang melayang bersama hembusan angin. Tidak ada kuasa, tidak ada musuh karena yang tersisa hanya kebersamaan keluarga."
"Untaian doa, bukan dari mereka yang berdompet tebal, tetapi senyum bahagia para anak yatim piatu. Langit menjadi saksi, pasir tempat berpijak. Aroma menggoda menjadi surga keberkahan. Hanya itu yang ku mau. Bisa?"
Istrinya lagi membuat puisi atau menjelaskan tema dari resepsi? Bingung sudah dengan apa yang ia dengar. Kenapa tidak memakai bahasa normal? Dia pebisnis, bukan pujangga cinta. Ingin komplain, tetapi takut menyinggung perasaan Asma.
Jujur saja, tidak habis pikir. Penjelasan begitu dramatis dengan bait majas yang tidak bisa dimengerti. Sekarang, bagaimana caranya mewujudkan mimpi dari wanitanya? Adakah yang paham dengan perkataan Asma? Jika ada, please bantu karena otaknya seketika terhenti. Mogok bekerja.
__ADS_1
"Ekhem!" Asma berdehem membuyarkan lamunan Rey yang benar-benar speechless dengan ungkapan hatinya. "Mas kenapa malah diem dan bengong? Apa ada yang salah?"
Hanya geleng-geleng kepala dengan seulas senyum yang bisa Rey lakukan. Berpura-pura paham, walau isi kepalanya berputar tanpa arah tujuan. Setidaknya apa yang diucapkan sang istri sudah ia rekam. Sisanya bisa diurus nanti. Satu kebiasaan yang menjadi jalan terbaik yaitu tidak menyia-yiakan kesempatan. Akhirnya semua berakhir dalam diam menikmati rasa lelah di badan.
Sementara di luar kamar.Bagas sibuk mondar-mandir memberikan wejangan kilat untuk semua pelayan. Dimana malam ini akan ada dokter dan suster yang mulai bergabung untuk tinggal bersama mereka. Setiap pelayan yang bertugas akan mendapatkan pengarahan langsung. Terutama untuk pelayan yang memiliki tugas di dapur.
"Okay, silahkan kembali bekerja." Bagas mengakhiri sesi pengarahan kilat, lalu pergi meninggalkan ruang tengah untuk kembali ke kamarnya.
Rasa lelah fisik bisa dibuat untuk istirahat, tapi rasa lelah pikiran? Tentu harus mencoba melepaskan beban, kembali relax dan mencoba tidak overthinking. Meski dari semua yang terjadi, fokusnya untuk melakukan pengusiran terhadap hama yang siap menyerang. Bagaimana lagi, Rey hanya punya dia sebagai sahabat dan kelurga satu-satunya.
"Apakah semua sudah beres?" tanya Bagas yang ternyata tengah terhubung dengan suara panggilan melalui earphones bluetooth yang terpasang di telinga kirinya.
Entah apa jawaban dari seberang. Wajah tegang Bagas mulai mengendur dengan helaan nafas lega. Terlihat dari pantulan cermin yang ada di depan sana. Pria itu kembali ke mode normal tanpa ada kegelisahan hati dan pikiran. Namun, ia hanya mendengarkan tanpa memberikan tanggapan hingga sepuluh menit berlalu. Panggilan diakhiri.
Jika manusia memiliki tekad. Allah pasti menunjukkan jalan kebaikan. Aku percaya, takdir tidak tertukar. Jika memang, semua ini menjadi bagian dari perjalanan hidup. Maka, biarlah. Aku menerima dengan lapang dada. Semangat, Bagas Fernando. Hidupmu harus lebih baik lagi.~ ucap batin Bagas seraya menatap sinar mentari yang mulai menuju peraduan singgasana.
Waktu akan selalu berputar menempati roda kehidupan. Tidak jatuh, apalagi terhentikan hingga waktu penghabisan. Akan selalu sama, dalam kenyataan berselimut kabut kepalsuan.
__ADS_1