Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 147: Bayaran Kontan


__ADS_3

Manusia selalu mengikuti dua jalan akhir. Amarah dan ketenangan. Emosi yang meledak berakhir dengan keputusan singkat tanpa berpikir panjang atau logika setelah perenungan sehingga mendapatkan solusi dari masalahnya tanpa mengambil resiko lebih besar.


Seperti yang dilakukan Citra. Wanita itu telah memutuskan niat hati harus dilaksanakan bahkan tanpa peduli lagi dengan resikonya. Ia siap melakukan apapun agar kehidupannya slalu aman. Penantian panjang tak lagi berarti. Padahal selama satu jam kurang lima menit sudah menghabiskan tiga gelas minuman dingin.


Lirikan mata sesekali menatap ke arah pintu masuk cafe tetapi yang ditunggu ntah kapan datangnya. "Mba, tagihannya." Rasa lelah harus diakhiri. Ia merasa seperti orang bodoh menunggu sendirian.


Tanpa ingin menambah waktu yang dibuang percuma. Citra membayar tagihannya, lalu beranjak pergi dari cafe. Langkah kaki berjalan meninggalkan ruangan ber-AC, kemudian ia berniat menunggu taksi hingga tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti di depannya. Perlahan kaca mobil diturunkan membuat seseorang yang ada di dalam melambaikan tangan.


Tangan bertato itu? Ia tahu, siapa pemiliknya. Pintu mobil dibuka, "Apa kamu suka menunggu? Masuk!"


"Kebiasaanmu semakin parah." tukas Citra begitu masuk dan tangan sibuk memasang sabuk pengaman.


Mobil kembali melaju meninggalkan area cafe. Kedua insan itu hanya diam di sepanjang perjalanan. Kerinduan di hati tak mengubah rasa yang padam. Benarkah? Lalu suara degupan jantung milik siapa yang berdetak begitu kencang? Nyatanya masa kini tak menghapus masa lalu. Kisah mereka masih sama.


Perjalanan selama dua puluh menit akhirnya bisa diakhiri begitu mobil mulai memasuki halaman sebuah rumah minimalis. Rumah yang sama tetapi berbeda lokasi. Dia yang kini mempersilahkan masuk dengan sepenuh hati. Suara pintu terkunci mengalihkan perhatian Citra.


Wanita itu terdiam memperhatikan setiap sudut ruangan. Sentuhan lembut melingkari perutnya bersambut deru napas hangat menerpa ceruk leher. Aroma parfum memabukkan yang selalu mengalahkan rasa sakit di hatinya. Sekali lagi, ia jatuh cinta pada sang pemilik hati.


"Apa kamu benar-benar mencintainya?" Bisikan lembut kian menyiksa wanitanya. Ia tahu semuanya tetapi memilih membiarkan selama ini. "Bagian mana yang dia sentuh?"

__ADS_1


Jemari mengusap wajah Citra, "Sini?" Sentuhan terus menjelajahi setiap jengkal tubuh wanita itu, "Atau sini? Katakan!"


"Felix! Hentikan," Tangan nakal yang mengabsen satu per satu jejak cinta mereka kian tak terkendali. Ia sadar akan semua yang sudah terjadi hanya saja tidak mungkin mengubahnya karena kini raga bukan hanya milik sang mantan kekasih.


Suara pemberontakan Citra terdengar jelas. Sayangnya tubuh wanita itu bereaksi berbeda. "Kamu pembohong, Cit. Bagaimana pria yang mencintai wanita lain bisa menyentuh istri tak dianggap? Ha-ha-ha, lucu sekali kamu."


Tawa hambar menggema di ruangan beralih tangan memutar tubuh Citra yang enggan berbalik menatap ke arahnya. Tatapan mata kembali bertemu setelah menikmati puasa perpisahan. Sorot mata kerinduan jelas mengungkapkan isi hati terdalam. Cinta mereka tak mengubah rasa yang dulu ada.


Tanpa kata direngkuhnya tengkuk leher wanita itu, menyentuh bibir pucat yang terasa kaku. Sentuhan demi sentuhan melepaskan hasrat terlarang. Permainan telah dimulai membuat kedua insan dimabuk asmara tanpa peduli hasil akhirnya. Suara manja terdengar saling bersahutan.


"I love you, Felix." bisik Citra di sela kenikmatan yang sudah lama dia lupakan.


Detakan jarum jam menjadi pelengkap suasana hati yang dirundung kegelisahan hingga terdengar suara lenguhan panjang kepuasan dari kedua insan yang terbaring di atas sofa ruang tamu. Pergulatan berakhir bersambut senyuman hangat saling melengkapi.


Dibiarkannya tubuh polos tanpa rasa takut, "Kamu merindukan semua ini 'kan?" Felix menatap Citra tanpa berkedip, membuat wanita itu mengangguk pelan. "Apa dia tidak bisa memuaskanmu?"


Pertanyaan itu, apa harus dijawab? Bagaimana ia akan mengatakan situasi pernikahannya? Ketika jelas rumit hingga membuat hubungan suami istri menjadi tidak normal. Dulu egonya tinggi, lalu sekarang ego Kalingga. Jangankan tentang hak suami istri, keduanya hanya peduli pada Niko.


Tanpa menyingkirkan tangan yang masih berkelana. Perlahan ia memejamkan mata, "Dia hanya menyentuhku sekali tapi ditengah permainan pergi begitu saja. Semua karena mantannya. Hubungan kami semakin buruk dan saat ini surat perceraian sudah sampai ke pengadilan."

__ADS_1


"Benarkah? Jadi, kedatanganmu kali ini adalah agar aku menyingkirkan mantan dari suamimu. Begitu?" tanya Felix memastikan. Ia memang berandalan tapi bukan pemain amatir yang main terjang tanpa rencana matang.


Seperti biasa Citra merayu Felix dengan caranya. Jawaban yang didapat melalui servis tangan yang memanjakan singkong sang mantan kekasih. Penyiksaan berujung kenikmatan benar-benar membuatnya kehilangan kendali. Sentuhan yang selalu melepaskan emosi sesaat.


Erangan keras bergema menyudahi service yang dianggap sebagai bayaran kontan. "Tanganmu masih ahlinya, Cit. Aku akan membantu, sekarang tunjukkan padaku siapa wanita lain dari suamimu. Sebelum itu biarkan aku mandi untuk menyegarkan diri."


Felix beranjak dari tempatnya, lalu melenggang pergi meninggalkan Citra yang tersenyum simpul. Ia tak peduli lagi dengan rasa malu karena setelah hari ini, semua akan membaik. Termasuk rumah tangganya. Yah, jika mantan kekasih sang suami hilang ditelan bumi. Maka Kalingga akan kembali menjadi ayah Niko.


Citra kehilangan akal sehat demi tujuan egoisnya, sedangkan di tempat lain. Tepatnya di sebuah kamar hotel hanya ada suara permintaan maaf dari satu sisi. Sejak tiga puluh menit yang lalu ia duduk bersimpuh dengan kedua tangan menangkup di depan dada.


"Please jangan diam. Kamu bisa memberikan hukuman apapun, tapi selain mengabaikanku." ucapnya semakin tidak bisa menahan diri.


Suara permohonan maaf jelas dari hati hanya saja tidak mengubah fakta yang sudah terjadi. Bukan bermaksud balas dendam karena kenyataannya kepercayaan tidak bisa diberikan. Lalu untuk apa berusaha meyakinkan diri? Kesadaran diri harus dipertahankan. Jika dianggap egois, maka biarlah.


"Apa kamu benar-benar tidak mau memberikan kesempatan kedua untukku?" Suara tanya dengan nada bergetar seketika mengobrak-abrik ketenangan yang tersisa.


Namun apakah semua bisa menjadi awal ketika keraguan itu nyata? Apalagi membicarakan kesempatan kedua. Bukankah hubungan seharusnya berusaha saling memahami dan bukannya menilai sesuka hati. Ingin sekali berkeluh kesah agar seseorang sadar atas kesalahan yang bisa saja diulang, lagi.


"Nyonya Reyhan Aditya!" Rey memanggil Asma setengah ditekan agar wanita itu mau berbalik menatapnya. Akan tetapi, sang istri tetap diam tak bergeming berdiri di depan mata dengan pandangan menatap ke luar jendela.

__ADS_1


__ADS_2