Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 28: Sederhana, tetapi Rumit


__ADS_3

Setiap kali pertanyaan datang menyapa. Asma hanya tersenyum tipis, atau sekedar menatap sekilas. Kemudian sikapnya kembali dingin. Apa karena pernikahan yang kilat, hingga gadis itu tidak bisa sama seperti kemarin? Saat dia menjadi seorang teman di Temanggung.


Bagas tidak menyadari. Asumsinya yang menyimpulkan Asma secara cepat, bukanlah hal tepat. Meski wajar untuk berpikir seperti itu. Kenyataan tetap sama, sikap, tindakan, sifat atau yang disebut karakteristik setiap orang. Tentu akan terbuka seiring waktu yang dilalui.



"Apa aku harus bertanya?" Asma membalas tatapan mata Bagas melalui kaca spion tengah, lalu mengalihkan perhatiannya ke samping. "Jawaban tidak akan memberikan keyakinan. Biarkan sebagaimana mestinya. Aku disini untuk memahami seperti apa suamiku."



"Asma, darimana kamu belajar semua ini? Gaya bahasamu dan sikapmu. Aku tidak bisa paham dengan hal yang terlihat sederhana, tapi ternyata rumit." Balas Bagas mengutarakan isi pikirannya, membuat Asma membuang muka menatap ke luar.



Sikap yang selalu cepat berubah. Wanita banyak yang terbuka dan selalu bersikap agresif bahkan hanya untuk hal terkecil sekalipun. Akan tetapi, tidak dengan Asma. Pendiam, pengamat, pengkritik dan dingin. Rey saja yang sebagai seorang pemimpin akan bersikap sahabat, ketika keluar dari dunia kerja.


Jadi, kenapa Asma menunjukkan sikap dengan dua sisi secara bersamaan. Ketika ditanya, malah balik tanya. Bukankah seperti melepaskan bola kasti yang akan selalu berbalik pada diri sendiri. Jika demikian, siapa yang bisa kalah berdebat dengan istri sahabatnya itu? Atau selama ini, semua orang mengalami dilema sepertinya? Siapa yang tahu?


"Aku hanya gadis desa. Gemerlap dunia hanya ada dalam otakku dan berubah menjadi imaginasiku. Kenapa terlalu memikirkan siapa aku? Bukankah diri ini nyata. Lagi pula, kehidupan tetaplah sama." Jawab Asma dengan santainya, ia tak perlu berbicara panjang kali lebar hanya untuk membuktikan siapa dirinya.



Ketidaknyamanan sang istri bisa dirasakannya. Banyak kata yang ingin diucapkan, tetapi ia paham. Jika Asma tidak menyukai banyak pertanyaan. Tak ingin semakin menambah suasana tegang. Lebih baik mengakhiri perdebatan yang mungkin tidak akan ada ujungnya.



Dari spion tengah, Bagas melihat Rey memberikan kode jari agar berhenti memberikan pertanyaan pada istrinya. Biarlah perjalanan tetap menjadi kesunyian. Terkadang orang berpikir ingin ini dan itu, bahkan bisa terlalu berlebihan hanya untuk memuaskan rasa penasaran.



Jika Bagas yang terbiasa mengalahkan para klien dalam sesi perdebatan ketika meeting. Hari ini, pria itu kalah telak di hadapan Asma. Si gadis desa yang tidak tahu kehidupan dunia para pebisnis. Sikap yang patut di contoh, tetapi terkadang sebagai seorang pebisnis harus tahu cara menutupi emosi.

__ADS_1



Seketika hatinya tercubit. Apakah dia harus mengajari Asma untuk menjadi seorang pebisnis? Atau lebih baik membiarkan istrinya sibuk mengurus rumah tangga? Dilema. Melihat binar mata kebahagiaan ketika sang istri tenggelam menulis. Kenapa tidak terpikirkan, jika semua pola pikir itu terbentuk dengan sendirinya.



Satu kisah, pasti memiliki banyak alur, rintangan dan juga penyelesaian. Sesaat ia ingat. Buru-buru mengambil ponsel yang bersemayam di saku celananya. Kemudian memeriksa sebuah aplikasi novel online. NovelToon. Aplikasi itu di download tanpa sepengetahuannya.



Satu masalahnya. Apa nama pena dari sang istri? Apaka harus bertanya? Mendadak tidak bisa menemukan jalan keluar dari permasalahannya sendiri. Bingung, harus apa? Akan tetapi, tiba-tiba ponselnya berpindah. Sontak pandangan mata mengikuti sang pencuri ponsel.



"Kita ini, bukan Tuhan. Jika ingin tahu, bisa tanya." Asma mengetikkan nama pena nya, lalu mengembalikan ponsel itu ke suaminya. "Selamat membaca, Tuan Reyhan Aditya. Satu jam, bisa menghabiskan separuh dari salah satu kisah."




Tidak ada penolakan. Berteman pelukan, Asma mencoba untuk menjemput mimpi. Meski ia tahu. Mimpi tak akan datang dalam imajinasi, sedangkan Rey melihat beberapa judul karya. Ternyata cukup banyak karya yang dituliskan sang istri, bahkan dibagi menjadi beberapa sub tema.



Thriller, fantasy, horror, romance. Bagaimana bisa, gadis yang dingin menulis novel berbagai genre? Apa tidak salah. Tak ingin lebih penasaran. Rey mencoba membuka sebuah judul bergenre horor yang hanya seratus bab kurang. Tanpa sadar, pria itu mulai menenggelamkan diri dalam bait diksi yang tertuang begitu dalam.



Baru saja membaca satu bab. Bayangan akan cerita menari di dalam kepalanya. Sesekali tatapan mata beralih menatap wajah tenang sang istri. Perjalanan terus berlanjut, hingga satu jam berlalu dengan cepat. Tak terasa mobil sudah memasuki kawasan tanah pribadi. Dimana rumah megah yang berdiri di tengah pepohonan rindang menambahkan suasana asri.


__ADS_1


Pintu gerbang tinggi dengan aksen ukiran bunga teratai menyambut kedatangan sang tuan rumah. Suara derit besi yang terdengar berdecit mengalihkan perhatian Rey. Lega. Akhirnya sampai ke rumah. Niat hati ingin membangunkan sang istri, tetapi melihat mata itu terpejam. Rasanya tak tega.



"Nando, kamu bawa barang masuk!" Titah Rey pelan karena tak ingin mengusik lelapnya sang istri.



Melihat situasi yang ada. Bagas mengangguk, lalu keluar dari mobil dan tidak lupa membukakan pintu belakang agar Rey lebih mudah keluar dengan Asma yang ada di gendongannya. Pasangan yang romantis. Setiap kali melihat ketenangan sahabatnya itu, ia pun ikut bahagia.



"Tuan Nando, mau saya bantu?" tawar Pak satpam yang dengan sigap menghampiri majikannya, tetapi pria yang selalu menjadi pelindung Sang Tuan Muda hanya menggelengkan kepala menolaknya dengan halus.



Bagas mengeluarkan barang bawaan Asma dari bagasi. Langkahnya begitu ringan, kini babak baru dimulai. Rumah yang biasanya sepi akan kembali hidup. Ia tak sabar menunggu akan masa kebahagiaan yang menyebar di seluruh istana. Kata pepatah, rumahku adalah istanaku.



Namun, ketika rumah tak ubahnya bangunan tanpa kehidupan. Apa masih bisa disebut istana? Tidak. Akan lebih baik tinggal di gubuk sempit, tetapi kehidupan selalu menghangatkan hati dengan keberkahan cinta kasih keluarga. Harapan yang sederhana. Meski tetap menjadi keegoisan dirinya sendiri.



*Ya Allah, permudahkanlah kami untuk menjadi keluarga baru. Jauhkanlah dari kesalahpahaman dalam hubungan kami. Amiin. ~batin Bagas seraya membuka pintu utama, lalu melangkahkan kaki masuk menapaki lantai marmer di bawahnya*.



Harapan itu seperti sinar mentari pagi. Hangat, memberi kehidupan. Bersinar terang tanpa melukai. Ketika manusia memanjakan doa dengan sepenuh hati. Yakinlah akan ketetapan Yang Maha Esa. Dalam ikhtiar menjadi kepasrahan diri. Percayalah, takdir tidak pernah tertukar.


"Tuan, siapa wanita yang bersama Tuan Aditya?" tanya seorang pelayan muda yang sudah bekerja di rumah itu selama lima bulan terakhir dan hari ini berani menghentikan langkah Bagas yang baru saja masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2