
Ketika dunia tidak memiliki waktu untuk mempertanyakan tentang alur kehidupan. Hubungan akan selalu menjadi keterkaitan satu sama lain. Tidak peduli akan status hubungan itu sendiri. Setiap hak dan kewajiban menjadi milik satu sama lain. Itulah yang dinamakan garis kehidupan.
"Assalamu'alaikum ....," Rey menyudahi sholat berjamaahnya, lalu melanjutkan dengan do'a yang khusyuk selama beberapa menit.
Ketika doa telah berakhir, ia melihat uluran tangan Asma yang selalu mengecup telapak tangannya sehabis menunaikan sholat. "Kemarilah!"
Dibiarkannya Asma melakukan hak sebagai seorang istri, sedangkan ia memilih menangkup wajah sang istri. Lalu, memejamkan mata sesaat dengan lantunan doa untuk kebahagiaan, keselamatan dan kebaikan sang istri. Kemudian meniup ubun-ubun wanitanya tiga kali.
Ini bukan ritual yang diwajibkan. Akan tetapi, Rey berharap dengan banyaknya doa yang ia panjatkan. Hubungan mereka yang terbilang singkat tanpa proses pengenalan lebih dalam, akan mendapatkan ridho Illahi. Sebagai seorang suami yang bertanggung jawab dan belajar menunaikan semua kewajiban tanpa terkecuali.
Damai rasanya memiliki seorang suami yang bisa mengayomi, bahkan tanpa sungkan dan malu. Rey mau melayani kebutuhan seorang istri tanpa berpikir dua kali. Waktu yang dihabiskan keduanya terbilang singkat. Namun kenyataannya mereka semakin dekat dengan jarak yang terus terkikis.
"Mas, boleh minta waktunya sebentar?" tanya Asma setelah mengembalikan mukena ke dalam lemari, gadis itu merasa tidak enak hati. Ketika harus melibatkan suaminya dalam masalah yang dirinya buat tanpa sengaja.
Rey tersenyum. Ditepuknya sisi ranjang yang kosong di sebelah kanannya, "Kemarilah! Kita bisa bicara sambil duduk."
Sikap tenang dengan seulas senyum yang menawan. Rasanya benar-benar menyenangkan. Beban di hati terasa lebih ringan. Meski tetap dilema akan masalah yang saat ini bertarung dalam pikirannya. Hubungan yang sederhana, tapi bisa berubah menjadi rumit. Jika tidak segera diluruskan.
Keduanya duduk berdampingan. Asma yang menatap ke arah balkon, dan Rey yang terdiam menunggu ucapan dari istrinya. Seperti biasa, hanya ada ketenangan, sebelum badai datang. Setiap kali gadis itu serius. Pasti akan berakhir menikmati kegelisahan hati.
"Aku tidak tahu, mau mulai dari mana. Selain bicara pada poin permasalahan." Gadis itu menghela nafas berat dengan sorot mata tanpa binar kebahagiaan. "Mas, situasi pernikahan kita bisa dikatakan unik dan tidak terencana. Hanya saja, Aku telah berjanji pada saudariku ....,"
__ADS_1
Belum juga usai menjelaskan. Suara ketukan pintu menghentikan Asma untuk melanjutkan menceritakan dilema hatinya. Siapa lagi jika bukan Bagas yang datang tidak tepar waktu. Apalagi, pria itu datang untuk mengatakan makan malam sudah siap dan mau semua orang berkumpul untuk menikmati dinner bersama.
"Kita makan dulu." Rey melepaskan baju koko nya, menyisakan singlet, lalu menyambar kaos casual yang sudah disiapkan. "Asma, masalahmu adalah masalahku juga. Jadi tenang, kita akan selesaikan bersama-sama. Ayo!"
Apalah daya seseorang? Ketika dalam hubungan masih belajar untuk saling menyesuaikan diri. Bukan hanya mencoba menahan diri, tetapi segala sesuatunya harus diperhitungkan sebelum melangkah. Akan selalu seperti itu, hingga suatu saat nanti. Tidak ada kata sungkan lagi.
Keduanya keluar meninggalkan kamar. Suara langkah kaki yang menuruni anak tangga mengalihkan perhatian semua orang yang sudah berkumpul di ruang makan. Sepertinya Bagas telah membuat pengumuman atas kehadiran nyonya muda. Lihatlah di sisi kiri meja menjadi barisan para pelayan yang masih rapi memakai seragam biru laut dengan rompi hitam.
Seragam yang sopan baik pria maupun wanita. Sepertinya Rey tidak suka melihat pelayan wanita memakai pakaian yang kekurangan bahan. Kesan yang didapat sangat manis. Ini sekedar penilaian dari seorang Asma yang memasuki lingkungan baru tanpa ilmu pengetahuan.
"Duduk, Istriku." Rey menarik kursi sebelah kanan sisi meja makan, mempersilahkan Sang istri agar menempati posisi yang seharusnya. "Nando, semua done?"
Lirikan mata Rey sejurus mendapatkan anggukan kepala dari sahabatnya. Kode mata yang dilakukan kedua sahabat itu, membuat Asma terdiam. Akan lebih nyaman menjadi pengamat, tanpa harus berkomentar. Situasi yang bisa ditebak, tanpa harus memberikan pertanyaan.
Belum lagi. Tatapan mata dari salah satu pelayan yang terus jelalatan mencoba untuk membuat dirinya risih. Apa ada yang salah dengannya? Atau semua ini hanya karena status yang ia punya dengan menjadi istri Sang tuan rumah? Pertanyaan yang mengusiknya. Siapa yang akan memberi jawaban?
"Mas, apa semua ini?" Asma bertanya setelah keheningan lebih dari sekian menit, lagi pula mereka mau makan. Bukan berperang. "Baiklah, lebih baik aku kembali ke kamar."
Dirasa semua sudah cukup. Asma beranjak dari tempatnya, lalu mendorong kursi agar bisa keluar dari rasa sesak yang menyudutkan hati. Namun, belum sempat melangkah. Rey menahan tangannya, "Duduklah, maaf. Kami ....,"
"Tidak perlu menjelaskan. Apapun yang kalian sembunyikan. Simpan saja." Dilepaskannya tangan Rey dari lengan, tatapan mata sekilas terpaut. "Rumah semewah apapun, tidak akan menjadi istana. Jika tanpa kasih sayang."
__ADS_1
Sindiran yang menohok. Bukan hanya Rey, tapi Bagas juga merasa bersalah. Tidak seharusnya berdiam diri. Apalagi Asma tidak tahu apapun. Kenapa jadi serba salah. Tak ingin semakin runyam. Ia melangkah berjalan menghampiri istri sahabatnya.
"Asma, duduklah." Ditatapnya wajah gadis yang terlihat begitu lelah dengan sorot mata sendu, ntah apa yang akan dipikirkan oleh Asma. Namun, ia tak ingin gadis itu mengalami masalah. Setelah setuju menikah dengan Rey.
Kini, bagaimanapun keadaannya. Dia sendiri ikut andil untuk bertanggung jawab atas kebahagiaan dan keselamatan Asma. Tidak ada bantahan untuk kewajiban itu, "Sebenarnya, kami tidak tahu cara untuk menyambutmu. Kurang lebih, kami menjadi dilema. Sorry."
What's? Apa pria di rumah ini begitu kaku? Tidak tahu cara menyambut orang baru. Benarkah? Lalu, bagaimana selama ini melakukan rapat dengan para klien. Apa mereka menyewa jasa WO? Tidak habis pikir dengan ketegangan yang ternyata alasan tidak mendasar. Makan malam rasa Kuburan.
"Hmmm. Duduk di tempatmu!" Titah Asma tegas, membuat Bagas pasrah. Bukan karena tidak bisa menolak, tapi pria itu benar-benar menyesal. "Mas, kamu juga."
Ketegangan yang disebabkan karena hal sepele. Akhirnya mencair dengan satu perintah nyonya muda. Gadis itu tanpa kata menyajikan makan untuk kedua pria yang ternyata mirip patung kutub Selatan. Heran saja, kalau diluar rumah. Tidak menunjukkan sisi dingin yang bisa membekukan.
Suasana mulai menghangat dengan pujian yang sengaja dilontarkan Asma agar bisa menghabiskan makan malamnya. Jujur saja, jika tidak mengingat tanggung jawab sebagai seorang istri. Sudah pasti memilih makan malam sendiri.
"Jadi, boleh aku tahu. Siapa nama kalian?" tanya Asma setelah melepaskan rasa hausnya menyeruput segelas air putih segar, lalu mengedarkan pandangan menatap para pelayan satu persatu.
"Saya Yanto, Satpam gerbang depan, Bu." jawab seorang pria berkumis dengan perut buncit.
Antusiasme bisa disebut sebagai ketertarikan semangat. Tidak semua orang akan gerak cepat untuk memberikan tanggapan, ketika ada yang memberikan pertanyaan. Namun, Pak Yanto masih terlihat damai meski ditengah ketegangan yang tersaji selama makan malam. Salut.
"Panggil nama saja, Pak. Umur bapak tidak jauh dari umur ayahku. Jadi bapak bisa panggil ....,"
__ADS_1
"Nona Asma."