Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 104: Speechless, Teman yang Waras


__ADS_3

Pertanyaan Nau sangat sederhana hingga membuat Fay ataupun Asma memilih diam tanpa jawaban. Kedua wanita itu sepakat mengedikkan bahu, lalu kembali masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat perawatan. Suasana sedikit canggung dan terasa seperti baru pulang dari pemakaman.


Sepuluh menit berlalu dalam ketegangan yang penuh kesunyian. Aneh dan mencurigakan. Tanpa basa-basi ditatapnya sang kakak sepupu yang kebetulan duduk di sebelahnya, "Ifii, loe nyembunyiin sesuatu dari gue ya?"


"Gak, emangnya apa yang bisa disembunyikan?" Fay menunjukkan kedua tangannya, dimana tidak memegang apapun. "See? Tanganku gak nyimpen apapun ...,"


Sontak aja Nau menepuk keningnya sendiri akan tingkah absurd sang kakak sepupu. Benar-benar menyebalkan, tapi pasti ada sesuatu yang terjadi. Jika tidak, buat apa Ka Asma memintanya untuk balik ke mobil duluan. Padahal bisa saja turun bersama setelah makan siang.


Rasa penasaran Nau mengalihkan perhatian Fay, sedangkan Asma sibuk memainkan ponsel seraya sesekali melirik ke belakang melihat situasi antara saudara itu. Sebagai anggota keluarga baru, hari ini ia menyadari betapa dekat dan intens hubungan Fay dan Nau. Seperti paket lengkap yang bisa menciptakan salah paham.


Wajar saja ketika Bagas mengira kedua anak itu sebagai sepasang kekasih. Agak gimana, jika tidak mengenal secara langsung. Mungkin dirinya pun akan berpikir sama, andaikan tidak tahu silsilah kekerabatan Fay dan Nau. Walau begitu, kedua saudara itu mengasihi sesama dengan batas yang sudah ditetapkan.


"Nau, Fay! Diamlah sebentar," Asma mendial nomor yang baru saja dia dapat dari sang kakak, panggilan suara yang bersambut nada dering tak berselang lama terdengar suara sapaan. "Assalamu'alaikum, dengarkan saya baik-baik. Kirim rekaman pukul dua belas lewat empat puluh dua menit dan hapus semua jejak rekaman sepuluh menit dari yang ku minta."


Nau dan Fay saling pandang. Sebenarnya rekaman apa yang dimaksud Ka Asma? Apalagi jam yang disebut baru saja mereka lewati. Secara tidak langsung memberikan isyarat bahwa terjadi sesuatu di dalam cafe. Sayangnya pertanyaan tidak akan mendapatkan jawaban karena semua sudah diatur sedemikian rupa.

__ADS_1


"Terima kasih, waalaikumsalam." Panggilan berakhir, kemudian terdengar suara dering ponsel tak berselang lama. "Fay, ambillah. Terserah mau dihapus atau dijadikan kenangan. Aku sudah mentransfer sejumlah uang ke dokter yang ku sewa untuk menangani wanita itu."


Diam tanpa berani menoleh menatap ke Nau, sedangkan ponsel yang terulur ke belakang diterima sang adik sepupu. Pemuda itu menekan tombol play, lalu memperhatikan video live yang tidak pernah dia bayangkan. Semua kejadian terekam begitu jelas, termasuk suara yang menyakiti telinga.


Jadi keberadaan mereka di cafe itu untuk menemui Elora. Apa tidak berlebihan? Semua asumsi trus hancur karena sikap si dokter yang memang tidak layak dipanggil wanita terhormat. Bibir terasa kelu, bagaimana jika Fay dan Asma tahu bahwa dirinya pernah mengalami kecelakaan? Apalagi mobil masih di bengkel.


Pengen mengkritik akan sikap barbar kakak sepupunya, tapi lebih baik diam. Terkadang diam itu emas. Sama seperti keadaannya saat ini yang terjebak antara saudara dan wanita asing. Jujur saja tidak habis pikir dengan ketidakwarasan seorang wanita berpendidikan seperti Elora.


Lamunan yang entah kearah mana tersambar melarikan diri ketika tepukan tangan mengejutkan dirinya hingga kembali ke dunia nyata, "Kenapa Fay?"


"Are you okay? Ngapain ngelamun, apa ada masalah?" cecar Fay khawatir karena tidak biasanya Nau bersikap tenang dengan ekspresi wajahnya yang tidak bisa diterjemahkan. " Naufal Bramantyo!"


Dibiarkannya kedua saudara itu saling lempar argumen masing-masing, membuat pak sopir merasa tidak nyaman. Sementara Asma memilih memejamkan mata. Permasalahan antara Fay dan Nau masih aman terkendali. Apalagi keduanya sama-sama berkeras diri memegang kepercayaan yang tidak tergoyahkan.


Perjalanan trus berlanjut, sedangkan di ruang khusus Elora tengah menjalani perawatan dadakan. Beruntung ada dokter yang baru saja ingin makan siang hingga bersedia membantu di situasi yang genting. Kedua teman si cantik hanya bisa menghela nafas kasar. Tidak habis pikir dengan apa yang barusan terjadi.

__ADS_1


"El, loe ini kenapa? Masa ngatain istri orang sebagai pelakor. Jangan gitu deh." ujar Vivi si gadis manis yang berpenampilan mirip barbie dunia nyata.


Olive mengalihkan perhatiannya menatap sinis Elora, "Benar tuh kata Vi. Mau sampai kapan sih ngejar cowok yang gak pernah lirik loe sedikitpun? Gak cape? Bisa gak sadar diri!"


Elora masih menahan perih dan panas di wajahnya. Dokter Widya menjelaskan bahwa kuah bakso mercon memiliki kadar cabe yang tinggi sehingga wajahnya mengalami kerusakan lapisan hipodermis. Dimana menyebabkan kulit berwarna pucat, melepuh, disertai nyeri hebat akibat kerusakan saraf.


Namun karena ditangani langsung tanpa menunda waktu. Wajahnya masih bisa diselamatkan meski mengalami luka bakar tingkat tiga. Hanya saja, kini wajah cantik wanita itu harus mendapatkan perawatan yang lebih di rumah sakit. Melakukan beberapa tes demi kebaikan agar bisa mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.


"Kalian itu temen ku atau mereka, sih? Aku sangat sadar dan berhak atas Rey. Ya kali setelah usaha sejauh ini, trus gara-gara wanita dekil seperti itu malah nyerah." ucapan Elora begitu menggebu, membuat Vivi dan Olive sepakat mengusap dada agar sabar.


Mereka bertiga teman satu kampus. Maka dari itu tahu benar seperti apa usaha Elora yang mirip paparazi, eh lebih enak disebut gadis penguntit. Jangan tanya bagaimana dunia masa lalu. Semua kehebohan menjadi trending topik pada masanya bahkan termasuk penolakan Rey yang memilih pindah fakultas.


Dipikir-pikir, selama ini hanya Elora yang terus saja mengejar Rey. Sementara si pria sendiri enggan peduli pada perjuangan sang teman. Benar, cinta bertepuk sebelah tangan selama beberapa tahun masih terjebak di tempat yang sama. Akan tetapi hari ini situasi sudah berbeda karena ada Asma sebagai istri sah.


"Dok, bawa teman kami ke rumah sakit saja. Terserah mau rumah sakit mana, otaknya sudah geser dan tidak bisa untuk berpikir jernih." celetuk Olive, lalu menyambar tas yang tergeletak di sofa. "Gue gak mau ikut campur urusan percintaan loe, tapi gue harap kewarasan masih sudi menyadarkan jiwa loe yang sesat."

__ADS_1


Sadis lebih dari yang pernah terpikirkan. Sifat tegas olive selalu hadir di saat yang tepat, sedangkan Vivi memilih diam dengan langkah kaki menyusul sang teman. Kedua wanita itu meninggalkan Elora bersama dokter Widya. Akan tetapi yang mendapatkan nasehat tak peduli dan masa bodoh dengan semua perkataan yang sebenarnya ditujukan untuk kebaikan.


Terserah mau kalian. Tanpa dukungan pun, aku bisa usaha sendiri. Ish amit-amit deh, Rey seumur hidup tinggal serumah bareng cewek dekil. Awas aja lihat pembalasanku.~ucap serapah Elora membara di dalam hati, membuat Dokter Widya mengernyitkan alis.


__ADS_2