
"Nak, jadi apa kalian langsung ke Jakarta?" tanya Ayah Rasyid memulai obrolan di antara keluarga.
Satu pertanyaan dari Ayah mertua, membuat Rey mengubah posisi duduknya. Saat ini, semua tatapan mata terarah padanya. Pasti semua ingin tahu, kemana ia akan membawa putri rumah ini pergi. Hal wajar karena pernikahan terjadi tanpa tahu seluk beluk keluarga secara mendalam. Sebagai orang tua pasti khawatir akan keselamatan dan juga kenyamanan sang putri.
"Rumah ku memang ada di Jakarta, begitu juga dengan bisnisku." Helaan nafas dalam dengan lirikan mata menatap sang istri yang terlihat begitu kelelahan tengah menyandarkan diri dengan memangku Adi yang terlelap di pangkuan.
"Jika boleh jujur. Niat awalku ingin mengajak Ibu dan Ayah untuk ikut bersama kami tinggal di Jakarta. Itupun, jika kalian bersedia karena Asma tidak ingin memaksakan. Istriku menjelaskan bahwa keluarga tempat berbagi kasih sayang. Meski jarak terpisahkan, bukan berarti meninggalkan."
Semua orang hanya diam menyimak mencoba untuk memberi keleluasaan dalam musyawarah menantu muda bersama Ayah mereka. Hingga akhirnya kesepakatan tercapai. Setelah berbincang dengan semua untuk mencapai akhir dari perdebatan keluarga. Ayah Rasyid memutuskan untuk tetap tinggal di Kebumen.
Sebagai orang tua, Ayah Rasyid ingin semua anaknya memiliki tempat untuk berpulang. Dimana waktu terus berputar, begitu juga dengan kehidupan tanpa jaminan. Perpisahan setelah pernikahan tidak lagi terelakkan. Setelah acara resepsi berakhir dan juga mengadakan sedekah dengan anak-anak yatim piatu. Genap sudah tujuh hari pengantin baru menetap di kota Kebumen.
Hari ini, Rey, Asma dan Bagas akan kembali ke Jakarta. Bukan menggunakan mobil, melainkan kendaraan jatuh pada pilihan kereta. Tentu saja setelah mengurus semua surat dan juga dokumen lainnya secara resmi. Bukan seluruh keluarga, hanya orang tua Asma yang mengantar pengantin hingga masuk ke stasiun.
Waktu keberangkatan pukul sepuluh lebih lima belas menit, sedangkan sekarang baru pukul sembilan lima puluh menit. Semua barang yang dibawa hanya yang dianggap penting. Termasuk beberapa pakaian Asma yang tersimpan hanya dalam satu koper sedang. Terlihat gadis itu bergelayut manja memeluk tubuh ibunya.
"Ndu, jaga dirimu baik-baik dan selalu ingat semua nasehat orang tua. Jangan lupa kabari ibu." Ucap Ibu Zulaikha menahan rasa sedihnya, sebagai seorang ibu sekaligus sahabat. Ia tak pernah menyangka akan secepat ini jauh dari putrinya, "Sekarang ibu harus buat kopi sendiri."
__ADS_1
"Bu, nanti anakmu gak mau pergi, loh. Kasian tuh suaminya kalau ditinggal sendirian. Masih ada Ayah 'kan?" Sahut Ayah Rasyid membesarkan hati istrinya, walau ia sadar hubungan ibu dan anak yang tidak bisa terpisahkan.
Perdebatan kecil antara Ayah dan Ibu, membuat Asma hanya tersenyum hangat. Sekali lagi, ia mencoba untuk menguatkan hati. Setelah hari ini, siapa yang akan mengomel padanya? Siapa yang akan mengganggu dengan mencomot makanan kesukaannya? Setiap kenangan semakin menyesakkan dada.
Selama menunggu kereta datang. Asma hanya duduk di tengah di antara kedua orang tuanya. Gadis itu tak melepaskan satu kesempatan terakhir untuk menikmati kebersamaan keluarga yang akan sangat dirindukannya nanti. Begitu dekat tanpa jarak.
Rey dan Bagas hanya menjadi pengamat. Sesekali ikut nimbrung ketika mendapatkan pertanyaan, hingga suara kereta terdengar begitu nyaring. Beberapa orang yang memiliki jadwal sama. Sudah mengantri dengan menunjukkan tiket untuk bisa masuk ke dalam, tapi Asma baru mau melepaskan tangan kedua orang tuanya. Ketika kereta sudah berhenti tepat di depan mata.
"Ndu, ingat sholat tepat waktu, jangan begadang. Apalagi telat makan." Dikecupnya kening, lalu pipi sang putri. Kemudian menyerahkan tangan gadisnya kepada Rey sang menantu. "Nak, Ibu titipkan putri nakalku, padamu."
"Ayah, tolong jaga Ibu. Jangan sibuk sendiri di depan rumah untuk berkebun, karena setelah hari ini. Waktu kalian dimulai untuk kembali merajut kebersamaan. Maaf, selama ini mencuri banyak perhatian Ibu hanya untukku seorang. Aku sayang Ibu, dan ayah juga. Assalamu'alaikum," pamit Asma meraih tangan Ibu Zulaikha memberikan kecupan khidmat.
Perpisahan itu nyata. Di dalam gerbong kereta. Asma duduk menatap ke luar jendela dengan air mata yang mengalir tanpa suara. Kota Kebumen adalah kota kenangan. Semua kisah tidak bermula dari satu sudut kota, tetapi disanalah. Jiwanya akan selalu berdetak. Meninggalkan keluarga terkasih untuk maju melangkah ke masa depan.
"Kita bisa mengunjungi Ibu dan Ayah setidaknya sebulan sekali. Jika kamu memang merasa tidak bisa berjauhan terlalu lama. Bagaimana?" Tawar Rey mencoba menghibur duka sang istri, namun wanitanya tetap diam.
Perjalanan selama enam jam akan menjadi perjalanan panjang bagi mereka bertiga. Bagas yang duduk di sebelah, dan membiarkan Rey hanya duduk berdua bersama Asma. Keheningan yang bersambut suara kereta api. Benar saja, perjalanan itu tidak ada canda. Apalagi tawa.
__ADS_1
Enam jam berlalu. Akhirnya kereta berhenti di stasiun tujuan terakhir. Bagas bergegas mengambil barang yang hanya dua koper dan satu tas jinjing. Sementara Rey disibukkan menggengam tangan Asma agar tetap berada di dekatnya. Kota baru dengan cara hidup yang berbeda. Begitu kaki menginjakkan lantai stasiun.
Banyak orang yang menawarkan diri untuk mengantarkan para penumpang baru, tetapi Bagas dengan sigap menolak. Pria itu terlihat berbeda ketika sampai Jakarta. Sikap tegas dengan gaya pengawal sejati. Kenapa terlihat begitu menjaga Rey. Bukan hanya itu saja. Begitu mereka keluar dari stasiun. Sudah ada tiga mobil yang terparkir menjemput dengan beberapa orang berseragam yang menunggu.
"Selamat sore, Tuan Aditya. Silahkan masuk." sapa seorang pria yang berpakaian paling beda dengan kemeja putih dan rambut klimis.
Rey hanya menganggukkan kepala, lalu membukakan pintu belakang. "Asma, masuklah. Perjalanan kita masih dua jam lagi. Pak Doni, biarkan Bagas yang membawa mobilnya!"
Perintah majikan adalah mutlak. Pak Doni menurut, memberikan kunci mobilnya. Kemudian menutup pintu belakang mobil agar sang tuan tidak repot sendiri. Penyambutan yang cukup mencengangkan, tetapi Asma masih memilih diam. Walau kepala di penuhi banyak pertanyaan. Identias suaminya terlihat begitu samar.
Konvoi ketiga mobil mulai berjalan meninggalkan wilayah stasiun. Suara deru mesin yang saling bersahut-sahutan berteman sinar senja yang temaram. Bagas fokus menyetir, sedangkan Asma menatap jalanan yang dipadati bangunan gedung pencakar langit. Siapa sangka, takdir membawa dia kembali ke tempat Ibu kota dengan tujuan berbeda.
Rey tak memahami. Kenapa istrinya menjadi begitu pendiam. Apaka karena terkejut dengan kehidupannya yang berbanding terbalik dari dunia sang istri atau ada hal lain yang mengusik pikiran wanitanya itu? Kegelisahan macam apa yang terus menyerang, hingga tak mampu mengutarakan secara terus terang.
"Ekhem!" Bagas berdehem cukup keras hingga mengalihkan perhatian Rey dan Asma secara bersamaan. "Apa kalian akan diam sepanjang kehidupan? Come on, sambut kehidupan baru kalian dengan kebahagiaan. Ingat, aku yang menjodohkan kalian. Aku berhak untuk menasehati."
"Tidak ada yang melarangmu, Ka. Bukan begitu, Mas?" sahut Asma tanpa senyuman, tetapi meminta persetujuan pria yang duduk disebelahnya.
__ADS_1
Rey mengangguk, ia ingin tahu kelanjutan dari kisah kehidupannya. Selama ini, tidak seorang wanita pun menjadi bagian dari hidupnya. Namun, saat ini ada Asma. Si gadis desa yang berhasil mencuri sebagian ketenangan hidupnya. Seorang istri yang akan menyeimbangkan ketidaksempurnaan dalam perjalanan takdir kehidupan.
"Asma, apa kamu tidak ingin bertanya tentang kehidupan suamimu?" Bagas menatap melalui kaca spion tengah, sesaat ia melihat senyuman tipis yang tersungging menghiasi wajah Asma.