
"Galak, ya?" Ulang Asma dengan suara tertahan, membuat Bagas seketika tersedak makanannya, sedangkan yang lain ikut berhenti menikmati makanan.
Fokus perhatian mereka pada Asma yang tak lagi bersahabat menatap pria di sebelahnya, bahkan alisnya saja sedikit terangkat dengan senyuman terpaksa. Rey tidak tahu, jika suasana hati wanitanya tidak sebaik yang terlihat. Apalagi setelah mengambil makanan yang sangat diinginkannya.
Rey mengernyitkan, lalu membalas tatapan mata sang istri. "Aku ....,"
"No. Nikmati saja, aku sudah kenyang." Asma mengangkat tangannya tak mau mendengarkan, kemudian beranjak dari tempatnya. Namun baru saja berbalik, sudah menoleh ke belakang. "Kalian, makanlah, lagi! Awas, jika sampai tersisa."
Apa badai baru saja lewat? Tidak ada yang bisa menelan saliva mereka. Suara langkah kaki menjauh, menghantarkan kegelisahan hati. Buru-buru Bagas menyambar minumannya, lalu mempersilahkan yang lain untuk kembali makan. Walau dia sendiri sadar. Pasti para pelayan ikut tegang dan serba salah.
Sementara itu, Rey masih mencoba untuk mengerti dimana letak kesalahannya. Niatnya baik karena dengan melarang Asma tidak makan pedas. Maka sang istri tidak harus mengalami sakit perut atau maag nya kambuh. Jika dokter tahu, bisa saja menjadi masalah yang lebih besar. Akan tetapi, pria satu ini lupa. Bahwa malam ini adalah malam terakhir kebebasan.
Meski suatu hari nanti, bisa menikmati makanan seperti yang diinginkan. Tentu tidak akan semudah itu. Setiap orang yang menjalani pola hidup sehat dengan makanan sehat. Tahu benar, makanan yang dipesan untuk malam ini merupakan list menu sebulan sekali. Bukan untuk dimakan setiap hari.
"Rey, kejarlah." Bagas mengambil mangkuk milik Asma, lalu di sodorkan pada sahabatnya. "Terkadang kebahagiaan itu hanya tentang hal sederhana. Mie ayam yang kamu ambil adalah makanan favoritnya. Apa kamu tega? Sahabatku tidak sejahat itu."
Seketika Rey menghela nafas panjang. Sikapnya yang spontan, ternyata membuat Asma kesal. Gumaman istighfar terus mengalir mencoba menenangkan diri agar bisa menghadapi istrinya. Mie ayam diterima, tanpa mengatakan sepatah kata. Ia beranjak dari tempatnya. Langkah kaki menyusul kepergian sang istri.
"Makanlah! Nona Asma hanya ngambek pada suaminya, jadi tenang saja. Silahkan kembali di nikmati," lanjut Bagas mencoba mengembalikan suasana agar tidak tegang lagi.
__ADS_1
Jika mau jujur, dia pun terkejut dengan sikap Asma yang satu itu. Gadis yang biasanya tenang. Kenapa mendadak siap meletuskan petasan? Aneh, tapi tidak tahu harus apa kecuali mengingat bahwa mie ayam memang makanan nomor satu untuk si gadis desa.
Di bawah, semua masih mencoba menelan makanan walau rasanya tidak seenak seperti di awal. Tetap saja, menyuap lalu mengunyah, kemudian menelannya hingga sisa dari harapan. Semua akan segera berakhir. Ketegangan yang ditinggalkan nyonya muda benar-benar mempengaruhi mereka.
Di sisi lain, Rey tengah mengatur nafas agar bisa berbicara dengan baik. Untuk pertama kalinya, ia harus membujuk seorang wanita. Bingung harus melakukan apa hingga hanya bisa mengandalkan keberuntungan. Diketuknya pintu, "Assalamualaikum, Asma. Bolehkah, aku masuk?"
Tidak ada jawaban. Kemana istrinya berada? Bukankah tadi naik ke lantai atas. Pasti kembali ke kamar donk. Sekali lagi diketuknya pintu kamar. Namun, tetap nihil. Apa mungkin tidur? Terlalu awal untuk pergi menikmati alam mimpi. Rey tetap mencoba untuk mencari tahu.
Tangan kanannya sampai kesemutan karena membawa mangkuk dan tangan kiri lelah mengetuk pintu, sedangkan ia tak mungkin mengeraskan suara ketukan. Jangan sampai semua orang datang hanya karena usahanya. Namun, setelah dua puluh menit berdiri. Tidak ada hasil apapun.
"Assalamu'alaikum, Reyhan Aditya." Laungan salamnya mengalihkan perhatian sang sahabat yang ternyata sudah tidak tenang dengan raut wajah cemas gelisah. "Asma tidak akan mendengarkan, kecuali pake speaker yang ada di ruang olahraga."
Rey berjalan menghampiri Bagas, beberapa saat hingga terhenti. Lalu duduk di anak tangga paling teratas, diletakkannya mangkuk ke sisi kirinya. "Waalaikumsalam, bisa gak, jangan teka-teki. Aku beneran gak paham dengan situasi saat ini."
Putus asa. Baru sekali menerima kekesalan seorang istri, tapi sudah cepat menyerah. Tak habis pikir dengan sahabatnya itu. "Rey, kamu harus tahu lima poin dari Asma. Aku hanya akan menjelaskan sekali. Harap ingat baik-baik."
Tunggu dulu. Sebenarnya yang suami Asma itu, dirinya atau Bagas? Kenapa terkesan yang lebih mengenal si gadis desa adalah Bagas, sedangkan ia hanya menjadi boneka yang sengaja dipilih saat detik terakhir. Ingin berpikir lebih, tapi hati menolak. Kepercayaan tidak untuk dipertaruhkan hanya untuk satu keraguan hati.
__ADS_1
Tak ingin membuat masalah baru. Lebih baik duduk manis, dengan menyilangkan kedua tangannya. Sembari menunggu penjelasan dari lima poin yang terkesan wajib untuk di taati. Kurang lebih seperti itu. Pantas tidak? Jika memiliki sedikit keraguan akan keyakinan hati?
"Rey, jangan berpikir negatif. Asma akan selalu menjadi adikku." Bagas menggeser posisinya, menghampiri sang sahabat yang pasti berpikir lebih jauh lagi. "Selama beberapa waktu aku mengenalnya. Dia memang mandiri, tapi beberapa hal tidak suka mendapatkan penolakan."
"Pendiam, penurut, tapi seorang pengamat dan pendengar yang baik. Tidak seorangpun akan ditolaknya, jika meminta bantuan yang memang dipahami oleh istrimu. Her personality very complicated, Rey." Bagas kembali mengenang beberapa kenangan bersama Asma, seulas senyum menghias wajahnya.
"Senyumanmu, apa ada yang tidak ku tahu? Jangan bilang kamu tertarik pada Asma." Ujar Rey menahan nafasnya, sungguh tidak akan bisa berkomentar lagi. Seandainya itu yang menjadi kenyataan hidup, tetapi Bagas justru terkekeh pelan atas kecurigaan yang ia tuduhkan.
Bagaimana mencintai gadis yang sudah diklaim menjadi milik Reyhan Aditya? Tidak. Meskipun itu bukan kejahatan, tetap saja bukan berarti ia berhak atas cinta sang sahabat. Tidak peduli, jika saat itu Rey masih mengelak karena tidak memahami isi hati sendiri, sedangkan dia memang hanya menganggap Asma sebagai adik dan akan tetap menjadi saudari.
"Aku ingin gadis yang berbeda," Bagas memejamkan mata mencoba menuangkan impian untuk gadis pujaan hatinya. "Seseorang yang tangguh, senyum menawan dengan tatapan mata tajam. Gadis yang bisa mematahkan seluruh argumenku, dia yang akan mengajarkan cara lain untuk mengalahkan egoku. Yah, dia yang akan menjadi gadis impianku."
Sejak kapan seorang Bagas menjadi pujangga? Tidak habis pikir. Walau masih terus memikirkan Asma yang entah sekarang tengah melakukan apa di kamar. Tetap saja, ia mengaminkan harapan dari gadis impian sahabatnya itu. Siapapun yang akan menjadi istri Bagas, tentu akan menjadi adiknya.
"Okay, balik ke topik awal. Sekarang, lakukan seperti instruksi dariku." Sambung Bagas, lalu berbisik ke telinga Rey.
Entah apa yang dibisikkan karena ekspresi Rey hanya datar dengan alis terangkat. Ingin menolak saran dari pria yang selalu saja memiliki sifat jahil, tapi nyatanya membutuhkan solusi dari masalah seorang suami. Tidak tahu akan berhasil atau justru membuat Asma semakin kesal. Setidaknya ia akan mencoba.
__ADS_1
"Go! Aku akan nunggu di depan sampai dokter dan suster datang." Pamit Bagas dengan senyum nakal di balik ketenangannya.