
Ia tahu, jika suaminya meminta maaf dari hati. Akan tetapi ada hal yang harus pria itu pahami. Dimana selama masih ada keraguan yang tersimpan di dalam kalbu, maka apa gunanya berbaikan? Kesempatan sudah pernah diberikan hanya saja Rey tidak menyadari apa yang memicu kesunyian di antara mereka berdua.
"Asma!" Rey kembali memanggil istrinya meski hanya menyebutkan nama tunggal sang istri. Entah kenapa ia merasa Asma begitu marah bahkan benar-benar mengabaikan tanpa mau memandangnya.
Sakit rasanya ketika tak dianggap. Sayangnya rasa itu tak lebih dari sekedar cubitan peringatan. Dimana Asma berbalik, lalu berjalan menghampiri pria yang enggan berdiri. Tanpa kata, ia ikut mensejajarkan posisinya dengan berjongkok. Kemudian menangkup wajah yang mencari asa di tengah gurun pasir.
"Apa maumu? Membiarkan bibir ini berkata ingin kembali padanya atau menyatakan rindu palsu yang menggebu-gebu dari emosi mati. Apa kamu tidak ingat ucapanku sebelum memutuskan pernikahan, Tuan Reyhan Aditya?" tanya Asma tanpa ingin melunakkan hati yang kini terkoyak rasa sakit masa lalu.
Rey menggelengkan kepala pelan. Ingin mengucapkan sepatah kata tetapi tiba-tiba Asma membekap mulutnya. Tatapan mata dingin menceritakan banyak kisah yang tak bisa dijabarkan. Sesak di dada menerima perlakuan asing dari istrinya sendiri. Apa yang terjadi pada wanita itu karena ulah dia seorang.
"Sejak awal kukatakan padamu tentang kehidupan tak sempurna seorang gadis yang pernah mencintai pria dengan buta. Apakah aku harus mengulangi kejujuran yang sudah kamu dengar? Jika iya, dengarkanlah! Tuan Reyhan Aditya.
"Kalingga adalah mantan tunangan yang memiliki seluruh emosiku. Hati, jiwa dan raga ini sudah menjadi haknya. Apa karena ini sehingga kamu meragukan hubungan diantara kita? Aku tahu, masa lalu tak menyisakan apapun tapi ingatlah dimana posisimu.
"Atau harus ada perpisahan? Jika kamu selalu berpikir aku ingin kembali pada Kalingga, maka pergilah! Aku bisa hidup tanpa pria manapun." Dilepaskannya tangan dari bibir Rey, lalu beranjak dari hadapan pria itu tetapi tiba-tiba tubuhnya terhuyung jatuh ke dalam dekapan hangat.
Sentuhan yang nyata menggetarkan rasa. Rey benar-benar memeluknya begitu erat seakan tidak ingin melepaskan. "Apa gunanya kehangatan ini? Aku tidak mau larut dalam hubungan tanpa keyakinan. Lepaskan!"
__ADS_1
Pernyataan Asma begitu menusuk kenyataan yang sudah dia tahu tetapi justru masih mengedepankan ego. Bahkan tanpa ragu mempertanyakan karakter sang istri. Padahal sejak awal wanita itu mengatakan kekurangan yang bisa menjadi pemicu pertengkaran di kemudian hari.
Disini memang dia yang salah, sedangkan Asma berusaha untuk mengingatkan semalam dan saat ini memilih untuk mundur karena sadar akan ketidaksamaan dalam tujuan rumah tangga mereka. Ironis sekali, jika karena satu keraguan berakhir perpisahan. Tidak. Semua harus diperbaiki.
"Maafkan aku, Asma. Semua ini salahku dan kamu berhak menghukum suami bodoh sepertiku. Tapi ingatlah kamu tidak boleh meninggalkanku, meski aku sendiri yang memintamu pergi." Suara parau Rey benar-benar membuat tubuh Asma mematung.
Rasa takut bercampur penyesalan yang bisa ia rasakan sungguh menyayat hati. Rey mencintai seseorang tanpa melihat masa lalu. Lalu bagaimana akan meninggalkan pria langka seperti itu? Selama ini suaminya hanya mengerti satu bahasa yaitu bukti. Sementara ia hanya mengenal bahasa cinta. Akankan rumah tangga mereka bisa lebih baik dari sebelumnya?
Namun rasa yang menyatu tak mampu membuat keyakinan datang begitu saja 'kan? Kenyataannya seseorang harus berusaha jika benar-benar mencintai tanpa berharap pelangi itu indah. Apalagi jika di masa yang akan datang terbersit keraguan akan karakter. Tentu menjadi perang yang semakin merusak ikatan suami istri.
Beban tubuh yang jauh lebih berat membuat Asma kewalahan. Entah apa yang harus dilakukan karena ia sendiri tidak ingin Rey sakit. "Mas, kita pindah ke ranjang saja. Tubuhmu ...,"
"Apa kamu memaafkan aku?" tanya Rey setengah tercekat tak bisa berkata-kata lagi.
Diusapnya punggung pria yang mulai lemah menahan kesedihan hati. Ia berharap bisa memberikan sedikit sentuhan agar Rey kembali tenang karena apapun yang menjadi alasan kerasnya hati harus diakhiri demi kesehatan sang suami. Wanita itu unik. Disaat marahpun masih saja menurunkan ego sebab situasi tak mendukungnya.
"Aku memaafkan mereka yang berbuat salah, tapi kamu itu suami ku. Seperti istri berkewajiban mengingatkan kesalahan yang dilakukan suaminya. Jika kamu menganggap hubungan kita seperti sistem perusahaan, maka aku menjadikan rumah tangga kita sebagai kehidupan masa depan. Apa harus menjelaskan semua ini?
__ADS_1
"Aku tahu kamu terluka melihat masa laluku di depan mata di hari bahagia kita. Lalu, apa itu semua bisa dijadikan alasan untuk menunjuk jari ke wajahku? Jika kamu bersikap sebagai orang asing, maka aku akan menjadi teman untukmu." Asma perlahan membimbing Reyhan yang mulai merenggangkan pelukan.
Tubuh yang menurut berpindah ke atas ranjang. Sentuhan lembut yang memanjakan membuat pria itu sadar bahwa Asma peduli padanya. Bibir yang terus menerus berbicara tengah berusaha mengalihkan perhatian seraya memulai perawatan. Sang istri dengan telaten mengompres dahinya padahal air di wadah kaca terlihat panas.
Kesibukan yang dilakukan Asma, membuat wanita itu melupakan rasa sedihnya. Yah ia sadar tidak harus mempermasalahkan sesuatu yang sudah terlanjur terjadi. Apalagi suaminya memang membutuhkan dia, tapi tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Mengingat tidak dikunci, wanita itu mempersilahkan sang tamu tanpa sambutan.
"Ka, Aku antar Ibu buat ajak Kakak ke kolam renang." Fay yang mendorong pintu langsung mengatakan tujuannya tanpa melihat situasi terlebih dahulu. Disaat berhasil masuk dengan pintu terbuka lebar. Barulah ia menyadari kakaknya tengah sibuk melakukan sesuatu. "Aku ganggu, ya?"
"Masuk saja, Fay, Bu. Mas Rey tiba-tiba demam mungkin kecapean karena sibuk kerja ditambah serangkaian acara kemarin." balas Asma tanpa mengalihkan perhatiannya dari Rey. Dimana suaminya berpura-pura tidur yang membuatnya tersenyum tipis.
Ibu Zulaikha berjalan menghampiri putrinya ditemani Fay. Kedua wanita yang saling bergandengan tangan semakin melangkahkan kaki mengikis jarak yang ada tanpa menutup pintu kamar hotel. Perhatian seorang ibu selalu lebih teliti. Apalagi begitu melihat Asma beberapa kali memasukkan kain ke wadah kaca di atas nakas dekat tempat tidur.
Tanpa sepatah kata, ia memeriksa suhu air di wadah dan ternyata cukup panas. "Ndu, sini biar ibu saja. Kamu ini tidak tahan panas, tuh lihat tangan sampai merah semua. Kemarikan kainnya!"
Uluran tangan sang ibu hanya dibalas senyuman hangat tanpa memberikan kain yang ada di kening Reyhan. Sejenak ia mengalihkan perhatian menatap wanita yang telah melahirkannya. "Ibu terlalu khawatir. Air panas bisa buat terapi juga, kebetulan mau mulai nulis lagi nanti. Jadi aman kok."
Pembenaran yang valid dari sang kakak membuat Fay penasaran dengan suhu air di wadah. Sontak saja ia memeriksa dengan memasukkan jari telunjuk ke dalam wadah. "Huft, panas. Kakak coba lihat tanganmu!"
__ADS_1