
Baru saja ingin menjawab untuk mengutarakan isi pikirannya. Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang keluar dari earphones, membuatnya terperanjat tak percaya. Sejak kapan panggilan tersambung dan suara panggilan yang melengking memekakkan telinga.
"Mas, tunggu sebentar." Asma meraih ponsel yang diletakkan di belakangnya, lalu mematikan bluetooth, kemudian menaruh benda pipinya menempel telinga. "Assalamu'alaikum, Bee."
[Waalaikumsalam, siapa dia? Show me!]~jawan Ovita dengan nada sinis, membuat Asma melirik ke arah suaminya yang masih menunggu dirinya.
"Bee, aku masih butuh waktu. Bisakah ....,"
[No. Aku mau tahu semuanya sekarang juga! Jangan menghindari pertanyaanku hanya dengan alasan klasik seperti biasa. Right now, tell me!] ~tegas Ovi tak mau mengalah, kali ini bukan hanya rasa penasaran yang membelenggu, tapi ia butuh kejujuran dari sahabatnya itu.
Penolakan yang terdengar seperti genderang perang, membuat Asma mengusap wajahnya kasar. Gadis itu merasa serba salah. Satu sisi harus menjelaskan pada Rey, suaminya dan sisi lain mengungkapkan kebenaran yang pasti berakhir dengan ceramah panjang kali lebar.
Dibiarkannya Ovi mengomel dari A sampai Z hingga telinga memanas. Sejenak hanya menjadi pendengar tanpa memberikan keluhan, hingga akhirnya suara dari seberang terhenti karena terbatuk-batuk. Wajar saja, jika kehabisan kata dan nafas. Sang sahabat selalu berbicara dengan nada oktaf tertinggi.
"Bee, Aku sudah menikah dan saat ini tinggal di rumah suamiku. Aku tidak bisa menyembunyikan hal ini, lebih lama lagi. Maaf tidak bisa mengabulkan permintaan kecilmu." Suara lirih tetapi terdengar begitu jelas hingga seberang.
Bukan jawaban yang di dapat. Justru suara sorak gembira memenuhi gendang telinga. Aneh. Bukankah harusnya marah? Lalu, kenapa Ovi terdengar begitu bahagia? Apa tidak salah dengar? Kecemasan yang melanda hati dan pikirannya, seketika terhenti. Apa yang terlewat darinya?
[Congratulations, Honey. You know, berita ini yang selalu ku tunggu sejak lama. I am so happy for you, my cerewet. Pokoknya yang terbaik untukmu. Sekarang, ayo video call. Perkenalkan aku pada kakak iparku.] ~ ucap Ovita setelah menguasai emosinya yang membludak dipenuhi kebahagiaan nyata.
__ADS_1
Boleh pingsan? Apa arti serius? Jika memiliki sahabat absurd yang selalu bikin skot jantung. Aneh, tapi yah begitu adanya. Bagaimanapun seorang Ovita Ayunda. Hanya gadis bar-bar itu yang selalu menjadi tempat keluh kesahnya selama hampir empat tahun terakhir dalam kehidupannya.
"Mas, boleh video call? Emm, aku akan memperkenalkanmu pada saudariku." Pinta Asma tidak enak hati, beruntung suaminya menganggukkan kepala menyetujui permintaannya.
Panggilan audio beralih menjadi video call. Wajah yang selalu tertutup polesan make up dengan bibir maju sepuluh senti. Jika sudah bahagia. Kenapa masih manyun? Ternyata hanya suara saja yang dipenuhi kedamaian, tapi ekspresi masih mode ngambek. Benar-benar harus ekstra sabar.
"Hay, Bee. Bisa benerin bibirmu dulu, gak? Itu terlalu maju." Goda Asma mencoba mengubah suasana agar tidak canggung lagi, tetapi sahabatnya justru semakin memanyunkan bibirnya hingga terlihat aneh. "Bee!"
[Huft, okay. Ya sudah, mana kakak iparku? Aku mau lihat.] ~Ovi menurut untuk bersikap manis sebagai seorang adik yang baik.
Bukan demi perhatian, tetapi agar Asma tidak berubah pikiran. Tidak peduli arah angin ke utara atau barat. Sekali saja, sahabatnya itu memutuskan sesuatu. Bisa jadi, gagal harapannya untuk mendapatkan kesempatan melihat suami dari gadis cerewetnya.
[Pandangan yang mematikan. Aish, kalian ini, gak lihat ada cewek jomblo, ya?]~ sindir Ovi yang juga ikut melihat semua yang terjadi karena ponsel sang sahabat tergeletak di tempat yang bisa mengekspos pemandangan romantis pasutri itu.
Cemburu? Tidak. Hanya saja, melting. Kebahagiaan yang ia pikir sulit untuk digapai. Semua pemikiran itu sirna seketika. Setelah melihat kedekatan antara Asma dan pria yang menjadi suami sahabatnya. Ada rasa yang berubah menjadi doa harapan seorang saudari.
Namun, ketika tirai tersingkirkan, lalu membuat dia melihat wajah tampan yang selama ini hanya ada di dunia online. Jujur saja hatinya tercengang. Darimana Asma mendapatkan suami seperti itu? Bukan hanya tampan, tapi warna mata pria itu sangat indah. Sesaat terpesona, hingga akal sehat menampar kesadarannya.
"Assalamu'alaikum, hay. Namaku Reyhan ....,"
__ADS_1
[Honey, apa kamu menyewa orang untuk menyakinkan aku? Ini bukan bagian dari drama 'kan? Jika iya, lihat saja apa yang akan aku lakukan.] ~Ovita menyela perkenalan yang dilakukan Rey, tatapan matanya menelisik menyelidik membuat Asma menepuk keningnya sendiri.
"Pagal." Tidak habis pikir dengan cara Ovi yang main asal berpikir nyeleneh. "Ovita Ayunda, dia Reyhan Aditya, suamiku. Bukan pria sewaan. Kamu pikir, aku punya uang sebanyak itu hanya untuk satu malam kencan? Hmm."
Penolakan pasti yang dilakukan Asma menghadirkan cengiran kuda khas yang menghiasi wajah Ovita Ayunda. Gadis satu itu selalu suka bersikap spontan, tetapi terkadang memang sangat kritis. Terkadang bukti nyata saja tidak cukup untuk meyakinkan gadis itu.
Kebahagiaan dengan selimut canda tawa yang menghiasi malam, menyadarkan Rey. Jika ia menikahi gadis yang tepat. Dingin di luar, tetapi melting di dalam. Seperti sang istri yang mencintai diri sendiri dengan kepribadiannya yang unik, namun tetap sederhana. Malam ini, percakapan antara kedua sahabat yang ia simak. Memiliki satu pelajaran yang penting. Kepercayaan.
Satu jam berlalu. Akhirnya panggilan berakhir, menyisakan rasa kantuk yang tak bisa diajak kompromi. Sentuhan tangan yang terasa di menyentuh pinggang, dibiarkan saja. Entah apa yang dilakukan Rey, matanya terpejam menjemput alam bawah mimpi. Lelap dalam kegelapan dan kesunyian.
Namun, tidak dengan Rey. Pria itu merebahkan tubuh istrinya dengan hati-hati ke ranjang. Lalu, ikut berbaring tanpa melepaskan tatapan matanya yang terus saja mencari kedamaian di wajah manis sang istri. Tidak ada kata lain, selain bersyukur.
"Aku sempat berpikir, kenapa Bagas memilihmu sebagai calon istriku. Lalu permintaanmu agar kami tak kembali dalam dunia kecilmu. Dua keputusan yang bertolak belakang, membuatku dalam dilema. Beberapa saat tenggelam dalam emosi hingga keyakinan itu mengetuk hatiku. Aku kembali untukmu dan mengikat kita dalam hubungan sakral."
Malam yang semakin larut, membuat Rey terperangkap dalam angan dan kenyataan. Hatinya ingin mengatakan betapa rumitnya semua yang sudah ia lewati. Rasa takut, cemas dan semangat yang mendorongnya untuk melangkah maju. Pernikahan tidak akan terjadi. Jika keyakinan tidak menyapa menunjukkan jalan yang benar.
Curahan hati Rey masih berlanjut. Hanya saja, pria itu tidak sadar. Jika Asma memiliki kebiasaan yang tidak bisa diubah. Tidak peduli rasa kantuk yang mendera. Gadis itu tidak akan terlelap dengan benar, jika mendengar suara. Setiap kata yang terucap dari bibir suaminya. Begitu jelas menyusup melewati gendang telinganya.
Setengah jam berlalu, berubah menjadi keheningan. Tidak ada lagi curahan hati karena yang terdengar hanya deru nafas teratur. Perlahan membuka kelopak matanya yang bersambut wajah tampan menenangkan. Rey terlelap, setelah mengoceh sendirian. "Tuan Kulkas, good night. Sweet dreams."
__ADS_1
Keduanya terlelap menjemput mimpi bersama, hingga malam trus berarak menuju peraduan. Entah sudah berapa lama menikmati alam bawah sadar. Tiba-tiba, merasakan sesuatu yang berjalan bermain di atas perutnya. Sentuhan yang menggelikan, "Emm, lepasin."