
"Rey, apa aku salah request menu sarapan pada pelayan?" tanya Bagas tanpa mengalihkan tatapannya dari punggung Asma yang semakin menjauh.
Sementara yang ditanya hanya menghela nafas, "Entahlah, ini kan makanan sehat dan bagus untuk tubuh. Tunggu dulu, selama kita tinggal di hotel. Bukankah Asma selalu memesan makanan yang tradisional. Nasi goreng, nasi uduk, dan beberapa jenis makanan berat. Iya 'kan?"
"Iya juga, ya." Bagas menepuk keningnya sendiri, ia baru menyadari kesalahannya. Pantas saja Asma menatap makanan di depan meja tanpa selera.
Kedua pria itu, masih diam menatap pintu dapur yang memang hanya sebuah lengkungan dinding bak benteng di Belanda. Beberapa menit berlalu, tapi Asma masih belum menampakkan dirinya lagi. Bukan cemas. Keduanya merasa penasaran dengan satu wanita itu. Apa yang dilakukan si gadis desa selama lima belas menit di dapur?
Kasihan sekali makanan di atas meja yang terabaikan. Namun, kesegaran yang menyehatkan harus ikut menikmati penantian. Pada akhirnya, setelah dua puluh lima menit. Asma keluar dari dapur membawa nampan dengan tiga mangkuk yang mengepulkan asap putih. Aroma harum yang menggoda menguar ke udara.
"Harum sekali. Asma, kamu masak apa?" Bagas begitu antusias bertanya dengan rasa yang tidak sabar ingin melihat hasil masakan istri sahabatnya.
"Sop buah." Jawab Asma datar, lalu meletakkan nampan ke atas meja. Kemudian membagi setiap mangkuk untuk satu orang. "Kita bisa makan sehat, tapi apa harus makanan hambar? Hidup sekali, jangan makan seperti akan hidup dua kali."
Apa itu sindiran? Atau hal lainnya? Secara tidak langsung, Asma menjelaskan bahwa dirinya bukan orang yang menikmati makanan sehat, tetapi selalu menikmati makanan yang enak. Rey tersenyum tipis menatap sop daging yang ada di depannya. Aroma yang menggoda dengan sajian yang menarik.
Apakah istrinya begitu menyukai memasak? Beberapa kali merasakan masakan Asma. Not bad, bahkan bisa dikatakan lezat dengan cita rasa yang khas. Seperti di restoran. Meskipun bukan makanan sehat sepenuhnya. Sang istri memasak dengan cara yang baik dan benar. Termasuk menggunakan minyak dengan takaran yang sedikit.
Ibu mertua juga pernah mengatakan. Satu kebiasaan Asma. Dimana gadis itu bisa memasak, tapi tidak suka memasak. Aneh sih. Namun, sekali memasak bisa menjadi kenikmatan tersendiri. Bukan karena bahan yang diolah, tetapi semua itu karena ketulusan dalam meracik bahan hingga menjadi sebuah sajian yang penuh kelezatan.
"Jika kalian hanya menatap makanannya." Asma berkata tanpa mengalihkan perhatiannya dari mangkuk miliknya, "Aku bisa habiskan sendiri. Bagaimana?"
__ADS_1
Sontak saja, Bagas buru-buru mengambil sendoknya. Jangan sampai jatah makannya diambil lagi, begitu juga dengan Rey. Suasana sarapan yang cukup tenang. Setiap seruput kuah dengan bumbu rempah yang terasa menggoyang lidah bercampur dengan potongan daging yang lembut. Nikmat tiada tara.
Kebersamaan dalam kehangatan keluarga yang menjadi momen tak terlupakan. Semua yang terjadi di meja makan. Ternyata ada yang mengawasi. Tatapan mata kesal dengan deru nafas yang memburu. Siapa lagi jika bukan Suketi. Si pelayan termuda yang menaruh hati pada majikannya.
Gadis muda itu, terus menatap tak berkedip ke arah Asma yang dengan santai dan diam menikmati sarapan. Bukan hanya itu saja, ia merasa. Jika nyonya baru memiliki hubungan spesial dengan sahabat Tuan Muda. Semua yang terlihat jelas di matanya. Kenapa sang majikan tidak menyadari itu?
Gedek rasanya. Sepintas ide menghampiri kepala ego Suketi. Gadis itu menyeringai di balik jendela kaca yang baru saja dibersihkan. Niat terselubung terus datang mengetuk akal sehatnya. Tidak peduli dengan apa konsekuensi, ide itu akan dijalankan pada waktunya.
"Rey, Aku membutuhkan tanda tanganmu." Bagas memulai perbincangan, setelah sesi sarapan berakhir dan meja makan baru selesai dibersihkan oleh Bi Dini.
Ingin mengomel, tapi tidak bisa. Di antara mereka ada Asma yang sibuk mengupas buah apel. "Rey, kamu memang masih libur, tapi aku tidak. Bagaimanapun tanggung jawab harus diutamakan. Meeting yang tertunda, tidak bisa ditunda lagi. File sudah ada diruang kerjamu."
Penjelasan Bagas bisa dimengerti. Benar kata sahabatnya. Tidak mungkin terus menerus mengcancel rapat hanya karena urusan pribadi. Mereka berdua harus ingat. Jika tanggung jawab harus terselesaikan. Demi kelangsungan dan kesejahteraan bersama.
Obrolan tentang bisnis antara Rey dan Bagas, membuat Asma hanya diam menyimak seraya menikmati manisnya buah apel yang selalu menjadi buah favoritnya. Sesekali alisnya naik karena tak paham dengan bahasa yang ada di istilah dalam management bisnis. Namun, tentu saja itu akan berguna sebagai ilmu pengetahuan.
__ADS_1
Baik Rey atau Bagas. Kedua pria itu, tidak menyadari. Jika diamnya Asma bisa menghasilkan sebuah karya melalui imajinasinya.Tak terasa waktu terus bergulir. Seperti kesepakatan yang sudah disepakati. Bagas akan kembali bekerja untuk memeriksa kantor pusat, sedangkan Rey menemani istrinya agar bisa adaptasi bersama.
Pukul sepuluh lebih dua menit. Asma tengah duduk di depan jendela kamar sambil memainkan ponselnya. Rindu akan tarian jemari yang bisa melepaskan rasa emosi dan beban hati serta pikirannya. Inilah saatnya menjadi seorang penghalu yang bisa berbagi sukacita dalam kesendirian. Inilah yang menjadi tanggung jawabnya sebagai penulis online dengan karya yang sudah dikontrak.
"Aku ingin tahu, bagaimana cara mengucapkan kata asing itu?" Asma bertanya pada dirinya sendiri. Tatapan mata yang tertuju pada kalimat terakhir di baris bab yang akan ia up di akun penulisnya. "Sometimes the world is only about selfishness not true love. Then, how do people pray to get love without conditions? It really doesn't make sense."
Di saat bersamaan. Rey baru keluar dari kamar mandi. Langkahnya terpaku dengan kalimat yang lewat mengucapkan kata permisi memasuki gendang telinganya. Tentu saja, ia heran dan tak percaya dengan apa yang baru saja di dengar. Asma mengucapkan beberapa kata menggunakan bahasa asing?
Bukankah, semalam mengatakan tidak paham bagaimana cara mengucapkan. Apalagi tahu artinya. Lalu, apa telinganya bermasalah hingga berharap sang istri bisa berbicara dengan bahasa asing? Jika hanya mimpi, tentu tidak. Ia dalam keadaan sadar. Jadi, kebenaran yang mana. Dia harus percaya?
"Asma!" Panggil Rey, tetapi gadis yang dipanggil tidak menyahut. Apalagi berbalik menengok ke arahnya. "Asma?!"
Tidak ada jawaban. Gadis yang tenggelam dalam imajinasi berteman suara dentuman musik yang menggema memenuhi gendang telinganya. Kedua telinga sudah tersumbat earphones bluetooth dengan volume yang cukup melebihi batasnya. Sebuah kebiasaan untuk bisa berkonsentrasi saat menulis.
Melihat tidak ada reaksi dari sang istri. Langkah pria itu berjalan menghampiri Asma. Dari belakang, tentu ia bisa melihat apa yang dilakukan Asma begitu berhenti di belakang wanitanya. Tulisan dari atas sampai bawah yang memenuhi layar ponsel. Seketika mengingatkan dia akan tulisan dokumen pekerjaan.
*Terkadang dunia hanya tentang keegoisan bukan cinta sejati. Lalu, bagaimana orang berdoa untuk mendapatkan cinta tanpa syarat? Sungguh tidak masuk akal.~ ucap batin Rey mengartikan paragraf kalimat asing terakhir yang ada di layar ponsel istrinya*.
.
.
.
__ADS_1