
Santai aja, Mas." Asma menggeser posisi, lelah berbaring walau harus menahan rasa sakit dibawah sana. "Setidaknya, aku tahu jika di tempat sebesar itu ada pria dingin seperti kulkas."
"Jadi, apa hanya itu alasanmu memanggilku dengan Tuan Kulkas? Sepertinya terlalu berlebihan." Protes Rey setelah menimbang dari faktor yang mencetuskan nama aneh.
Apalagi ketika mengingat kulkas adalah benda mati yang bisa memberikan kesejukan untuk makanan dan lain sebagainya. Jika melihat yang terjadi, justru Asma yang lebih dingin darinya. Iya bukan? Sebanyak apa pertanyaan, gadis itu seringkali hanya menjawab singkat.
Obrolan pasutri itu terhenti sesaat, keduanya terdiam karena suara jeritan dari perut masing-masing. Kompak dengan demo meminta jatah makan. Tanpa menunda lagi, Rey menyiapkan makanan yang sebenarnya sudah ada di meja depan sofa.
Yah, Bagas sudah mengantar makanan di saat Asma pergi mandi. Namun, mengingat kondisi sang istri yang pasti kelelahan akibat ulahnya. Pria itu berinisiatif membawa makanan ke atas ranjang. Lagi-lagi hanya sepiring menu makanan. Sepertinya akan menjadi kebiasaan baru.
"Mas, apa kamu cukup makan setengah?" tanya Asma ragu akan porsi makan suaminya, jangan sampai karena satu kebiasaannya. Justru pria itu kelaparan hanya untuk memberikan perhatian yang lebih padanya.
Rey hanya mengusap kepala Asma, lalu melanjutkan menyuap nasi ke mulutnya. Saat ini, bukan tentang seberapa banyak nasi yang bisa masuk ke dalam perutnya. Akan tetapi, seberapa jauh usahanya untuk mengenal kehidupan sang istri. Ini bukan penyiksaan, hanya sedikit toleransi.
Satu jam berlalu, keduanya sudah berpenampilan rapi. Rey yang tengah membenarkan kancing jam tangan, tetapi lirikan menatap ke arah cermin. Dimana dari pantulan cermin, terlihat Asma sibuk memainkan ponsel dengan duduk menyamping di sofa. Istrinya senyum-senyum sendiri. Ada apa?
"Asma, apa kita harus memesan tiket kereta untuk kembali ke Jakarta?" Rey bertanya mencoba mengalihkan fokus istrinya, tetapi gadis itu masih sibuk melakukan sesuatu dengan ponselnya. "Nyonya Asma Reyhan Aditya!"
Suara panggilan menyapa gendang telinga gadis itu, "Lima menit, Mas. Tunggu sebentar." Asma melanjutkan mengedit naskah yang baru saja selesai ia ketik, kemudian masuk ke laman aplikasi novel online.
__ADS_1
Rasanya lega ketika berhasil update satu bab, setelah menghilang tanpa pemberitahuan pada pembacanya. Penulis recehan, tapi ia tetap bangga menjadi seorang penulis. Setelah itu, ponsel ia letakkan ke atas meja. Lalu menatap suaminya yang ternyata sudah berdiri di depan mata.
"Duduklah, Mas. Emosi tidak akan memberi solusi." Asma menurunkan kakinya, lalu menepuk sofa di sampingnya. Rey mengikuti keinginannya, "Seorang istri berkewajiban untuk ikut kemanapun suaminya tinggal. Siap, tidak siap, Aku akan ikut bersamamu."
"Jika ini tentang kedua orang tuaku. Aku percaya, mereka bisa menjaga diri dengan baik. Satu lagi, jangan berpikir hal yang tidak-tidak tentangku." Asma menoleh, sesaat menatap wajah suaminya yang terdiam mendengarkan. "Mas bisa periksa ponselku. Jika memiliki keraguan."
Benda pipih yang teronggok di atas meja, tetapi berulang kali menyala. Sepertinya, sekali ponsel itu dalam mode online. Banyak sekali yang menghubungi. Apakah layar itu menyala karena pesan, atau sebuah panggilan? Entahlah, karena senyap tanpa nada dering.
Melihat keraguan di mata suaminya. Asma mengambil ponselnya, lalu menghilangkan password yang biasa dia gunakan demi keamanan. Kemudian meraih tangan Rey, diletakkannya benda pipih itu dalam genggaman tangan sang suami.
Apa maunya Asma? Satu ujian berakhir, dan kembali memberikan ujian. Marketing seperti apa yang gadis itu pelajari? Kenapa tidak bisa sederhana dengan menjelaskan tanpa harus memberikan pilihan yang nyata. Rey tak bisa mengerti. Apakah sang istri beneran polos, atau hanya menutupi jati diri yang tersembunyi?
Istrinya seperti memiliki sisi lain kehidupan yang tidak mudah dijabarkan. Nampak sederhana, tapi ternyata rumit. Ponsel yang tergenggam di tangan, ia kembalikan ke atas meja. Jika memeriksa, maka hati akan semakin meragukan. Padahal belum tentu seperti yang dia pikirkan.
Tindakan yang diambil Rey, membuat Asma mengambil ponselnya lalu menekan tombol on agar layar kembali menyala. Satu persatu ia tunjukkan, mulai dari aplikasi whatsapp, instagram, facebook dan juga beberapa media sosial lainnya.
"Apa kamu tidak pusing dengan semua itu? Dari mulai membalas pesan teman, belum mengikuti beberapa kegiatan dan juga masih melakukan pekerjaan berat. Seperti bekerja menjadi buruh pabrik." Ujar Rey tak habis pikir dengan penuhnya pesan di aplikasi whatsapp milik Asma.
Jujur sebagai seorang pemimpin. Dia hanya mempercayai Bagas untuk menghandle masalah komunikasi setiap klien-klien yang akan bekerjasama dengan perusahaannya. Ponselnya jarang mendapatkan pesan, kecuali beberapa orang yang memang sangat penting dan tidak bisa diwakilkan.
__ADS_1
Asma hanya menggelengkan kepala, "Aku pendiam di dunia nyata. Jadi, dunia halu berbanding terbalik. Jangan heran seperti itu, karena ini masih sedikit. Mana ponselmu?"
"Tunggu, Aku ambil dari sana dulu." Rey beranjak dari tempatnya, lalu berjalan menuju meja sisi kiri tempat tidur. Dimana ponselnya berada, setelah mendapatkan benda pipih yang ternyata tinggal sepuluh persen.
"Tanpa password." Pria itu menyerahkan ponselnya pada Asma, membuat sang istri menukar dengan benda pipih lainnya. "Aku ....,"
"Jangan pernah buang kesempatan yang ada. Periksa saja, aku juga akan melakukan hal sama." Gadis itu menyela tak ingin mendengarkan protes dari suaminya.
Benar saja. Pasutri itu saling bertukar ponsel. Tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh Rey. Asma hanya melakukan dua hal. Yaitu masuk ke PlayStore. Lalu menuliskan sebuah nama aplikasi novel online yaitu NovelToon. Kemudian men-download tanpa bertanya. Setelah berhasil, melakukan proses registrasi.
Untung saja, ponsel itu juga memiliki alamat email yang terhubung secara langsung. Bukan sekedar mendaftarkan akun baru. Asma juga memberikan foto profil dari galeri sang suami. Meski harus menelan kekecewaan karena Rey bukan tipe pria yang suka selfie.
Gallery yang minim foto. Hampir saja pingsan hanya karena terkejut. Sudahlah. Namanya juga Tuan Kulkas. Jadi, wajar kalau kehidupannya sedingin kutub utara. Setelah selesai, diletakkannya benda pipih itu ke atas meja. Entah bagaimana reaksi dari suaminya nanti.
Tiga puluh menit kemudian. Rey meletakkan ponsel ke atas meja. Pria itu menghela nafas begitu panjang, tidak bisa berkata-kata lagi dengan isi ponsel yang begitu banyak seperti lelehan coklat meluber kemana-mana. Notif pesan masuk hingga lima ribu pesan, belum notif email dan lain sebagainya.
Seperti pasar dadakan, padahal itu hanya terjadi di dalam ponsel. Bagaimana cara Asma memeriksa semua pesan dan tetap tenang melihat isi ponsel yang berjubel seperti remahan messes di atas roti panggang. Segelas air putih terulur di depan mata, ternyata gadis itu menatapnya dengan senyuman tipis.
"Lupakan saja, pekerjaan lebih penting. Aku terbiasa dengan semua itu," Asma tak ingin menjelaskan lebih jauh lagi. Setidaknya sang suami melihat sendiri seluruh isi ponselnya.
Waktu berlalu berguna cepat. Ini bukan tentang dilema, tetapi hanya tentang toleransi dalam hubungan suami istri. Keterbukaan bukan akhir dari awal mula, melainkan baru permulaan. Selama tiga hari pasutri itu tinggal di hotel, tetapi setelah Asma mendapatkan kabar akan kedatangan seluruh keluarga. Ia mengajak Rey dan Bagas untuk kembali ke rumah.
Tentu hal itu langsung disetujui, bahkan Bagas sudah menyiapkan beberapa hadiah untuk anak-anak yang akan menjadi keponakan barunya. Bagi seorang yatim piatu. Satu ikatan bisa mengubah kehidupan, hingga memiliki keluarga baru yang akan berbagi suka duka.
Disinilah mereka berdiri. Di depan rumah Asma yang nampak berbeda, karena halaman rumah yang biasanya penuh tumbuhan hijau. Berganti lapang dengan tiang besi penyangga. Sepertinya, keluarga sudah menyiapkan acara untuk resepsi yang akan di gelar dua hari lagi.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," laungan salam dari luar yang terdengar hingga ke dalam rumah.