
"Ndu, nulis di luar sini! Minum teh bareng, Ibu."
Disingkirkannya bantal yang selalu menjadi penjaga kenyamanan, lalu beranjak dari tempat duduknya dengan malas. Walau begitu, ia tetap meninggalkan kamar. Berjalan sesaat hingga melihat wajah sang ibu yang selalu menjadi alasannya tersenyum.
"Minum dulu, Ndu. Lagian masih pagi, udah nulis aja. Gak laper apa?" Ceramah Ibu dengan suara khasnya sambil menyodorkan selepek air yang sudah dituang.
Lepek adalah tatakan mirip piring dengan ukuran mini sebesar telapak tangan. Pasti kalian pada tahu. Yah, kebiasaan menikmati seduhan teh hangat di pagi hari adalah dengan berbagi minuman segar. Sederhana bukan?
"Sudah cukup." Asma mengembalikan tatakan ke ibunya, lalu kembali fokus bermain ponselnya.
Pagi yang mendung, tetapi tidak dengan suasana hati. Rasanya masih terbawa emosi semalam. Sepintas kenangan masa lalu berkeliaran, namun sebisa mungkin ia mengabaikan hal itu. Sementara di hotel Patra terjadi kehebohan di kamar nomor 20.
"Stop!" Seru Reyhan menahan bantal yang berulang-ulang memukulnya. Bagas seperti niat untuk mengusik mimpi indahnya. Benar-benar menyebalkan. Sahabat rasa musuh lebih cocok jadi predikat pria satu itu.
"Bangun, Rey. Noh matahari udah sampai puncak. Kamunya malah masih jalan di mimpi. Rezeki dipatok ayam, loh." Celetuk Bagas dengan tangan jahilnya yang menarik selimut tebal nan lembut.
Tubuh kekar terpampang jelas tanpa sehelai benang pun, selain celana jeans yang menutupi bagian bawahnya. Hembusan udara dari AC, membuat Reyhan menggeliat. Mau, tak mau harus bangun. Daripada kena gempa susulan.
"Hmm. Jadi, pagi-pagi mau kemana?" Rey bertanya dengan malas, tetapi tatapan serius Bagas mengharuskannya semangat. Meski terkesan dipaksakan.
Bagas beranjak meninggalkan kamar Rey, membuat sahabatnya kebingungan. Satu hal yang pasti, pria itu akan menunggu dirinya bersiap. Selama belum rapi, maka tidak akan mendapatkan jawaban. Terkadang ia heran. Siapa bos, dan siapa bawahan? Nyatanya hanya tentang persahabatan.
Satu jam kemudian. Rey dan Bagas sudah duduk di dalam mobil, tapi yang menjadi supir adalah Bagas sendiri. Sedangkan Rey hanya bisa duduk tenang dan diminta menjaga sebuah pulpen yang semakin menambah rasa penasarannya. Siapa sih, pemilik pulpen itu?
__ADS_1
Lagi dan lagi, musik diputar. Bagas fokus menyetir, Rey melihat jalanan yang mereka lalui. Ternyata banyak penjual jajanan yang tidak asing. Batagor, siomay, cimol, sate pun ada, dan beberapa makanan lain dengan gerobak warna warni.
Sepuluh menit telah berlalu. Mobil mulai melewati daerah kota, tiba-tiba Bagas memintanya untuk membuka google map. Yah kali, mau kesasar menuju rumah harapan. Setelah berputar kesana kemari. Akhirnya, menemukan patokan tugu dengan tulisan nama sebuah desa.
"Nando, kamu ini bikin kepala pusing saja. Kita muter rumah sakit dua kali. Ujungnya justru masuk desa. Alamat yang kamu catat bener gak, sih?" Keluh Rey tak habis pikir, tetapi Bagas bodo amat dan tetap fokus menyetir.
Desa dengan padatnya rumah warga. Cukup menyulitkan untuk menemukan rumah Asma, tapi setelah berjuang. Akhirnya ada titik terang. Mobil mulai memasuki daerah yang menjadi tempat tinggal si gadis incaran. Beberapa kali harus bertanya, tetapi tidak ada yang mengenal tujuannya.
"Gimana? Ketemu gak." Ujar Rey, setelah Bagas kembali masuk ke mobil.
Bagas sengaja bertanya pada orang sendiri dan membiarkan Rey menunggu di mobil. Ia tak ingin, sahabatnya tahu. Jika saat ini, tujuannya adalah rumah Asma. Di sisa kesadaran, tiba-tiba ia ingat no HP yang tercantum di surat lamaran yang pasti sudah tersimpan di ponselnya.
"Rey, apa kamu percaya takdir?" tanya Bagas menatap sang sahabat sungguh-sungguh, sedangkan yang ditatap hanya mengangguk. "Good. Kita akan menjemput takdir. Semangat."
Ketika usaha begitu keras. Allah tidak akan mengkhianati hasilnya. Satu usaha gagal, tapi masih berusaha lagi. InsyaAllah, kerja kerja selalu menjadi akhir yang baik. Walau pesan tidak dibalas. Bagas menggunakan keahliannya untuk meretas lokasi dengan begitu. Ia berhasil mencapai tempat seharusnya.
Mobil sengaja berhenti di titik dekat rumah Asma. Ia ingin melihat, seperti apa kehidupan gadis itu. Hanya saja, Rey tidak sabar dan terus menerus mengajukan pertanyaan yang sama. Kemana mereka pergi, dan untuk apa?
"Rey, lihat rumah itu," Bagas menunjuk rumah yang terhalang pagar tumbuhan. "Kembalikan pulpen ke rumah itu, please. Aku gugup sekali."
"Pulpen ini? Kenapa gak turun bareng aja, kita bisa hadapi bersama." Jawab Rey mencoba meloloskan diri dari perasaannya yang seperti memberikan warning untuk waspada.
Bagas tidak mau kalah dengan jurus andalan Rey. Sekali saja, ia harus memelas. Menangkupkan kedua tangan memperlihatkan mata memelasnya. Jangan dibayangkan karena bukan lucu. Justru rasanya seperti aneh. Tingkah absurd yang tidak banget untuk seorang Bagas Fernando.
__ADS_1
Namun, karena itu. Reyhan menyerah, lalu keluar meninggalkan mobil. Bagas hanya melihat melalui kaca depan mobil. Langkah kaki sahabatnya terus menuju ke rumah sederhana dengan pagar dedaunan. Tak sampai disitu saja. Diraihnya ponsel, kemudian menghubungi sang pemilik rumah.
"Assalamu'alaikum, Asma. Apa kamu lupa denganku, Bagas?" tanya Bagas berpura-pura mellow dengan suara lirih, panggilan yang tersambung bak keberuntungan yang berpihak padanya. "Asma! Apa kamu mendengarku?"
Perbincangan sepihak, membuat Bagas curiga. Kenapa panggilan tersambung, tetapi tidak ada suara? Apa mungkin panggilan itu tidak sengaja dijawab. Entah kenapa, justru rasa khawatir datang melanda. Niat awal hanya membiarkan Rey seorang diri untuk bertemu Asma. Namun kini, ia memutuskan ikut turun.
Langkah kaki panjangnya dengan cepat menyebrang setapak, melewati pagar tanaman. Ia tak menyangka. Diamnya panggilan dari seberang bukan karena hal buruk. Melainkan Rey dan Asma justru tengah saling pandang tanpa berkedip. Apakah keduanya shock?
Jadi, apa usahanya berhasil? Rasa penasaran dikuburnya dalam, ia kembali mengubah ekspresi wajahnya. Lalu, mengucapkan salam hingga mengalihkan perhatian Rey dan Asma yang menoleh ke arahnya. Senyuman kecil tersungging menghiasi wajahnya.
"Wa'alaikumsalam, Bang. Abang tahu rumahku dari mana?" tanya Asma santai tetapi suaranya begitu jelas seakan tengah menginterogasi pencuri.
Sontak saja, Bagas menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Soal itu, aku tanya ke Mas mu, kok. Udah lupain, masa gak disuruh masuk. Cape loh, nyetir dari Temanggung sampai Kebumen."
Boleh tidak menenggelamkan sahabat seperti Bagas? Bagaimana bisa, berbicara bohong seperti itu? Ingin mengumpat, tapi hanya menumpuk dosa. Ingin mengeluh, percuma. Sahabat seperti Bagas, tidak akan mudah menyerah dalam situasi sepelik apapun.
Asma membuka pintunya lebar, merentangkan tangan. "Silahkan masuk. Aku buatkan minum dulu. Maaf, gak ada kursi. Jadi duduk di bawah, ya."
Sinar cahaya dari luar menerangi seluruh ruangan dengan luas empat kali tiga setengah meter. Dinding dengan dua warna, beberapa lukisan tangan dan sebuah kalender. Di bawah lantai kuning keramik zaman dulu, sedangkan di tengah-tengah sebuah karpet dengan ukuran dua kali satu setengah meter warna merah.
Jangankan barang berharga. Elektronik yang ada saja, hanya sebuah TV jadul dan entah itu masih menyala atau mati. Siapa yang menyangka. Asma tinggal di rumah sangat sederhana, bahkan sangat apa adanya. Rey mencoba untuk tetap diam, mengamati apa yang akan terjadi.
"Rey, jangan ditekuk wajahmu. Senyum dikit ....,"
__ADS_1
"Bang, kopinya, sekalian buat teman Abang." ucap Asma datang membawa nampan dua gelas kopi hitam.