
Ketika mengucapkan kata sahabat. Rey sangat terpaksa, entah apa yang pria itu pikirkan. Namun, Bagas masih ingin menikmati wajah muram sahabatnya. Ia tahu, Rey tidak rela, tapi berusaha untuk merelakan. Orang bilang, kepercayaan dan cinta membutuhkan ujian. Jadi, sudah waktunya membuktikan itu.
Penantian semakin berarti ketika rasa keikhlasan harus menghadapi tarik ulur. Ia ingin, Rey sadar akan dilema yang tengah bergelut di dalam hatinya. Walau bukan cinta, tapi sahabatnya itu mulai tertarik pada seorang gadis. Jadi, apa salahnya untuk mengakui itu.
Kesibukan Bagas yang kesana kemari mencari pakaian baru di salah satu pusat perbelanjaan, membuat kepala Rey hampir pecah. Pria satu itu bergonta-ganti jenis pakaian, tetapi akhirnya tidak ada yang cocok. Baru sadar menghabiskan banyak waktu, setelah terdengar suara keroncongan yang cukup keras.
"Ambil yang kamu mau. Apa hanya untuk satu pertemuan, kamu mau borong semuanya?" tukas Rey, ia harus menahan diri agar tidak berkata keras dengan tingkah sahabatnya yang seperti anak kecil.
Alih-alih kesal dengan teguran Rey. Bagas justru menunjukkan nyengir kuda. Bukan masalah tentang berapa lama atau berapa banyak pakaian yang ia coba. Lagian, setiap kali di ruang ganti yang dilakukannya hanya duduk bermain ponsel. Tidak ada pakaian yang dicoba.
Kesibukan yang ia perlihatkan pada Rey. Semua itu hanya untuk pengujian, sekaligus membuang waktu. Sabar. Itu kunci keberhasilan, dengan semua yang terjadi. Nanti malam, dirinya bisa membuat alasan lelah dan meminta Rey untuk pergi bersama Asma. Rencana yang sempurna.
Pukul 18.30 WIB. Rey sudah keluar dari kamarnya dengan penampilan casual. Sepatu sneakers ala anak muda, dipadukan jaket levis yang selalu memancarkan kharismatik. Diketuknya pintu kamar Bagas, tetapi tidak ada jawaban. Namun saat memutar knop pintu, ternyata tidak dikunci.
Perlahan masuk ke dalam kamar, lampu yang temaram menyambutnya. Apakah Bagas tidur awal? Atau anak satu itu sudah pergi meninggalkan hotel. Entah apa yang terjadi, padahal mereka berdua baru berpisah satu jam sebelum bersiap keluar lagi.
Setelah memeriksa kamar mandi dan sekeliling kamar. Rey tetap tidak menemukan keberadaan Bagas hingga terdengar dering ponselnya. Ternyata sang sahabat mengirimkan pesan singkat, "Jemput Asma dulu. Aku akan menyusul, ada sesuatu yang harus aku kerjakan sebagai kejutan."
Lemas sudah. Anak itu menghilang entah kemana, tapi kunci mobil ada padanya, jadi? Bagaimana anak itu keluyuran di luar sana. Apakah di kota Kebumen menyediakan transportasi seperti taxi? Tak ingin gegabah. Rey keluar dari kamar Bagas.
__ADS_1
Pria itu bertanya pada pihak staff hotel. Setelah mendapatkan jawaban hanya bisa menghela nafas panjang. Rupanya, Bagas telah mempersiapkan segala sesuatunya, bahkan termasuk menyewa mobil cadangan untuk dijadikan kendaraan selama di kota ini.
Sekarang, tujuannya menjadi kurir antar jemput gadis impian sang sahabat. Ingin pergi meninggalkan semua, tapi persahabatan mereka tidak sedangkal itu. "Untuk pertama kalinya, Bagas nekat. Apakah sebesar itu, dia mencintai Asma? Bagaimana dengan gadis itu sendiri, apakah mencintai sahabat ku?"
Perjalanan dari hotel menuju rumah Asma hanya membutuhkan waktu kurang lebih lima belas menit. Perjalanan singkat, namun ketika mobil sudah terparkir di tempat yang sama terakhir kali. Rey bingung, apa ia harus menjemput Asma atau kembali lagi ke hotel.
Setelah mencoba menenangkan diri. Rey membuka pintu mobil, lalu berjalan menyebrangi setapak. Langkah kaki terus maju, tetapi perasaan berdebar terus bergejolak memenuhi relung hati. Apa yang terjadi padanya? Setiap tarikan nafas, mencoba menyadarkan diri. Gadis itu milik Bagas.
"Assalamu'alaikum," Laungan salam Rey terdengar hingga ke dalam rumah, membuat Asma yang tengah duduk di kamar beranjak meninggalkan ponselnya.
Pertanyaan yang ringan, tetapi fokus Rey tengah meneliti penampilan Asma dari atas sampai bawah dalam sekali pandang. Rambut panjang tergerai, sweater oversized, dipadukan dengan celana jeans pensil warna biru tua. Apakah itu disebut outfit untuk seorang wanita?
Dimana letak elegan dan juga feminim yang biasanya menjadi titel para kaum hawa. Sungguh, ia tak menyangka penampilan gadis di depannya itu. Tidak jauh beda dengannya. Ingin komplain, tapi apa didengarkan? Siapa dia bagi Asma?
Lambaian tangan Asma mengembalikan kesadarannya, "Ada apa? Dimana Abang?"
__ADS_1
"Nando nyusul, mana Ibu? Aku akan pamitan terlebih dulu." Jawab Rey mengalihkan topik pembicaraan, membuat Asma kembali masuk.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya gadis itu kembali keluar bersama seorang wanita paruh baya. Rey tanpa sungkan menyalami yang diyakini sebagai ibu dari cinta sahabatnya. Izin yang seharusnya dilakukan Bagas. Justru menjadi tanggung jawabnya.
"Tunggu! Biar aku yang buka." Cegah Rey ketika sampai di depan mobil, tetapi Asma menggelengkan kepala menolak tawarannya.
Keduanya masuk bersama, lalu Rey memasukkan kunci mobil. Sedangkan Asma mengambil ponsel untuk memeriksa pekerjaannya sudah selesai atau masih harus di lanjut. Ia tak ingin mengganggu pria di sebelahnya yang harus fokus menyetir.
Setelah diam selama sepuluh menit. Rey mulai tak tahan dengan kebisuan diantara mereka berdua. "Boleh aku tanya sesuatu?"
"Ya, tanya saja." balas Asma mengalihkan perhatiannya ke depan, ponselnya ditangan tak lagi menyala.
Sementara itu, Rey bingung mau memulai dari mana. Apa harus bertanya tentang perasaan gadis itu untuk Bagas atau harus bertanya soal pengunduran diri yang dilakukan si gadis. Benar-benar membingungkan, Asma menoleh ke samping. Pria di sebelahnya sibuk menyetir, tetapi seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Belok kiri dari arah tugu, lalu lurus saja. Alun-alun akan tampak setelah melewati jalan utama." jelas Asma tanpa basa-basi, membuat Rey melirik gadis itu tapi tanpa sadar. Tatapan mata keduanya saling bertemu. "Fokus! Jalan ada di depan."
Hah. Kenapa malah jadi serba salah? Temaram lampu sepanjang jalan, menambah suasana tidak karuan. Sejak kapan, gadis tidak tertarik dengan wajah tampannya? Apa Asma gadis normal? Di luar sana, setiap kali melakukan meeting dadakan bersama klien di cafe. Banyak tatapan merayu dari para gadis, tapi malam ini. Seperti tersudut tanpa daya.
Dirinya pikir sudah sangat dingin sebagai pria. Ternyata jauh lebih dingin sikap Asma yang tak tertarik dengan rupa, lalu apa yang dilihat dari Bagas? Apa karena sahabatnya itu lebih bisa memberikan perhatian atau karena hal lainnya? Entahlah, pertanyaan demi pertanyaan justru semakin memperumit isi pikiran.
"Assalamu'alaikum, Bee. Ada apa? Bicaralah, aku akan dengarkan." ucap Asma menjawab panggilan dari ponselnya.
Rey hanya mendengarkan dari satu pihak, sedangkan apa yang dikatakan dari seberang. Dia tidak tahu apapun, tetapi dari gaya bahasa yang santai namun penuh cinta. Sudah pasti, siapapun sang penelepon memiliki ruang khusus dalam hidup seorang Asma. Apakah gadis itu, sudah memiliki kekasih?
"Tunggu sebentar, Bee." Asma membisukan audio panggilan, lalu menunjuk ke arah dimana biasanya menjadi tempat parkir khusus mobil. "Kita bisa jalan berkeliling, tapi lebih baik. Kamu hubungi Abang. Jadi nanti kita tunggu di gazebo itu."
Rey menurut karena ia tak ingin berdebat. Apalagi mengusik panggilan yang sepertinya serius. Setelah berhasil memarkirkan mobil. Keduanya turun, namun Asma masih sibuk mendengarkan telepon. Sesekali menanggapi dengan jawaban ringan. Begitu irit bicara.
__ADS_1
"Bee, nanti lanjut dirumah atau besok pagi. Inget jangan tidur malam, jangan gadang. Night, Bee. Assalamu'alaikum." ucap Asma mengakhiri panggilannya, tatapan matanya tertuju pada seseorang yang sangat ia kenal. "Sebaiknya, kita tunggu di tempat lain saja. Maaf, tapi aku tidak ingin di gazebo itu."
Tanpa menunggu jawaban Rey. Langkah kakinya menjauh dari tempat yang memicu rasa sakit hati. Malam ini, matanya harus ternoda karena pemandangan yang tidak pernah ia inginkan. Seseorang yang tengah duduk bercanda bersama wanita lain, dia yang menjadi alasan kehidupannya berubah drastis.