
Dari banyak nya masalah di dalam kehidupan yang tersulit adalah menyeimbangkan pikiran dan emosi dengan orang-orang terdekat yaitu keluarga. Jika masih ada sungkan, atau merasa lebih baik untuk menyelesaikan sendiri. Maka harus dipertimbangkan lagi. Apakah itu sebuah keluarga?
Kenyataannya, keluarga bukan tentang berbagi makanan atau sekedar canda tawa. Benar bukan? Ketika merasa lelah, hati terluka, tak dihargai, kita pasti kembali pada rumah yang menjadi sandaran. Rumah yang menjadi tempat bernaung dari rintik hujan dan panas matahari yaitu keluarga.
Inilah yang tengah diusahakan Asma untuk membawa perubahan pada keluarga barunya. Tanpa perlu menjelaskan, memang benar Rey dan Bagas saling mengasihi, bahkan memiliki hak dan kewajiban tak tertulis yang keduanya penuhi tanpa ada paksaan. Akan tetapi, masih ada pembatas yang memberikan jarak antara satu sama lain.
Sebenarnya bisa saja, Bagas menjelaskan pada Rey tentang keputusannya yang bisa menambah masalah baru untuk kehidupan mereka. Namun, seperti dugaannya. Pria satu itu lebih memilih untuk memikirkan sendiri, dan menyelesaikan tanpa ingin merepotkan orang lain. Meskipun itu saudara sendiri.
Jika sekarang saja, tidak ada musyawarah. Bagaimana nanti? Setiap masalah yang dipikirkan tanpa berbagi, tentu akan mengakibatkan kerusakan syaraf otak karena terlalu sering mendapatkan tekanan. Demi memperbaiki keadaan rumahnya, maka harus menunjukkan jalan sederhana untuk kebaikan bersama.
Langkah kakinya berhenti di depan kamar, "Ketuk pintu gak, ya?" sedikit berpikir apa yang akan terjadi di dalam, tapi lelah juga kalau berdiri di depan pintu terus. "Masuk aja lah. Kamarku juga 'kan."
Genggaman tangan memutar knop, lalu mendorong pintu ke depan. Langkah kaki berjalan memasuki kamar seraya menutup pintu kembali tanpa menguncinya, tapi keadaan kamar sepi. Apakah suaminya tidak di dalam? Baru saja maju beberapa langkah, pergerakannya sudah terhenti.
Tangan yang melingkari pinggang menelusup bersambut deru nafas yang hangat menerpa menyentuh pipinya. "Mas, bisa gak? Jangan ngagetin aku gitu."
"Aku tahu, kamu tidak terkejut dengan semua aksiku. Mau bukti?" tanya Rey seraya meniupkan nafasnya menerpa leher sang istri yang hanya diam tanpa reaksi.
Terkadang heran dengan gadis satu itu. Ketika di luar sana banyak wanita seperti cacing kepanasan meronta untuk di dekati olehnya. Justru istrinya sendiri terlihat menjaga jarak. Apa yang kurang darinya? Tampan iya, kaya iya, baik iya, pengertian iya. Bingung sendiri dengan sikap Asma.
Asma mencoba melonggarkan tangan suaminya, lalu berbalik, kemudian mengalungkan kedua tangannya ke leher pria yang kini menjatuhkan tatapan mata dengan pencarian tanya. "Katakan, apa hadiah yang harus kuberikan."
__ADS_1
Ingin sekali mengatakan sesuatu yang sudah ia persiapkan, tapi setelah perbincangannya bersama Bagas. Mungkin ini waktu yang tepat untuk bertanya tentang pendapat sang istri akan kunjungan rumah oleh rekan bisnisnya. Jika menjadi hadiah, maka dipastikan tidak akan mendapat penolakan.
Melihat keraguan Rey, membuatnya semakin menatap intens. "Mas, bicaralah! Aku menunggu jawabanmu."
"Apakah kita bisa melakukan pertemuan di rumah? Seperti mengadakan makan malam bersama. Partner bisnisku, Mr. Axel akan menandatangani kontrak jika sudah bertemu keluarga. Jadi anggap itu sebagai hadiahku." Helaan nafas Rey yang tertahan menjelaskan isi tekanan di dalam pikirannya, tanpa melepaskan kedua tangan yang masih melingkar.
Hanya makan malam keluarga? Tidak ada yang sulit dan jika memang itu yang dibutuhkan. Sebagai seorang istri tentu akan menyiapkan yang terbaik. Meski ia tak tahu, siapa itu Mr. Axel. Tanpa menjawab dengan kata, Asma menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang suami.
Terasa hangat menghantarkan kerinduan. Namun bukan tentang rasa, melainkan tentang kenyamanan. Untuk pertama kalinya pelukan mengubah rasa lelah menjadi ketenangan. Entah berapa lama ia tersesat dalam kesendirian.
"Asma, bukankah kamar kita terlalu luas? Kenapa tidak menambah anggota baru. Bagaimana menurutmu?" tanya Rey setengah berbisik dengan melonggarkan kedua tangannya dari pinggang sang istri.
Pelukan berakhir, tetapi pandangan mata masih berlangsung. "Anggota baru? Bisa jelasin maksudnya apa."
Tertahan dalam bungkaman. Rey mengambil haknya tanpa persetujuan, membicarakan hati dalam sentuhan. Perlahan membawa wanitanya dalam kehangatan rayuan. Sentuhan nakal yang menenggelamkan keduanya dalam kebersamaan. Deru nafas yang memburu mengalirkan sengatan.
Pemanasan yang Rey lakukan semakin liar. Tanpa di sadari keduanya, ada tatapan mata yang mengawasi dari lubang kunci pintu dengan tangan mengepal. Tatapan mata penuh amarah dengan rasa iri yang memuncak. Tangan yang terlepas ikut menyentuh miliknya sendiri. Berhalu membayangkan sentuhan manja itu hanya untuk ia seorang.
Kesibukannya melupakan pekerjaan yang harus dikerjakan hingga pelayan lain datang berdehem mengingatkan. "Suketi! Apa kamu tidak waras? Turun!"
"Bi, aku ....," Suketi mencoba untuk membela diri, tetapi tatapan Bi Jia semakin dingin menghunus. Mau, tak mau meninggalkan depan pintu kamar utama, lalu berlari menuruni anak tangga.
__ADS_1
Kelakuan Suketi yang semakin di luar batas, membuat Bi Jia khawatir akan masa depan keluarga Tuan Muda. Entah bagaimana kedepannya nanti, tetapi gadis satu itu harus selalu diawasi. Hanya saja, bagaimana caranya menghentikan kegilaan yang jelas tidak normal itu?
Di tengah dilema hati dan kebingungannya. Tiba-tiba Fay keluar dari kamar menyapa sang bibi yang termenung di ujung tangga. Wajah tegang dengan tangan gemetar menjelaskan rasa takut dari wanita dewasa itu. Entah kenapa, tapi ia merasa ada hal penting yang mengusik ketenangan si bibi.
"Bi, ayo duduk dulu." Fay memegang bahu wanita itu agar ikut duduk bersamanya, meski hanya duduk di anak tangga. Setidaknya tubuh yang terasa dingin dengan tangan gemetar bisa sejenak diistirahatkan. "Tunggu sebentar disini, Bi. Aku ambilin minum dulu."
Bi Jia hanya menganggukkan kepala pelan, membiarkan sang tamu meninggalkan dirinya sendirian. Kini yang ada dipikirannya cukup kontras dengan pro kontra yang menyebabkan tubuh panas dingin. Bukan yang pertama melihat tingkah di luar batas Suketi. Dimana gadis pelayan itu seringkali diam-diam memperhatikan Tuan Muda sejak bekerja di rumah tersebut.
Ingin sekali mengatakan pada Tuan Muda atau setidaknya pada Tuan Bagas. Hanya saja, keberaniannya tidak sebesar itu. Apalagi tidak memiliki bukti. Sebagai wanita tua yang kurang memiliki pengetahuan, bahkan tidak bisa menggunakan ponsel. Bagaimana caranya mengumpulkan bukti? Semua hanya terekam di dalam memori otaknya saja.
Sibuk dengan pemikiran ini dan itu, hingga Fay datang menghampirinya kembali. Gadis itu mengulurkan segelas air putih, bahkan tanpa sungkan membantu memegangkan gelas karena tangannya bergetar tak karuan. Seteguk, dua teguk sedikit melegakan tenggorokannya. Gelas dilepaskan.
"Non, makasih." ucap lirih Bi Jia dengan tatapan mata nanar, jelas hampa dengan api kebingungan.
Fay masih mencoba untuk menenangkan seraya mengusap telapak tangan wanita yang pasti usianya diatas sang mama. Ingin bertanya apa yang terjadi, tetapi takut dikira kepo. Padahal baru saja masuk ke rumah selama beberapa jam. Jangan bicara soal kepercayaan karena hal itu masih jauh untuk ditanyakan.
Tatapan mata yang mengedarkan pandangan kesana kemari, membuat Fay tidak memahami apa yang mengusik emosi dan pikiran Bi Jia. Namun, tiba-tiba wanita itu melambaikan tangan memintanya untuk mendekat. Perasaan hati yang was-was tak membuatnya menolak, lalu mensejajarkan posisi agar tahu apa keinginan sang bibi.
"Non, tolong bantu Nyonya Asma untuk menjatuhkan Suketi dari Tuan Muda. Gadis itu ....,"
Terdiam mendengarkan dengan nafas tertahan. Pengakuan Bi Jia akan sisi lain salah satu pelayan, membuat hatinya memanas. Bagaimana bisa seorang wanita lupa kehormatannya dan bertindak serendah itu? Tidak habis pikir, padahal sejak kedatangannya di rumah sang kakak online. Tidak ada yang mencurigakan.
__ADS_1
Curahan rasa takut, dilema dan kebingungan yang menjadi belenggu ketidaknyamanan Bi Jia, membuat Fay berulang kali istighfar di dalam hatinya. "Bibi tenang saja, aku akan coba untuk melakukan sesuatu, tapi sebelum itu. Tetaplah bersikap seperti biasa. InsyaAllah semua akan kembali normal."