Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 15: Ikrar Janji Suci berteman Senja


__ADS_3

Cinta bukan tentang kata. Melainkan tentang ketetapan Illahi. Ketika Tuhan tidak menyatukan doa dalam se-Amiin. Maka, takdir itu bukanlah perjodohan. Sejatinya, setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan. Percayalah. Jodoh tidak akan tertukar.


Berteman senja, bertema rasa. Rey datang ke aula hotel yang luasnya tak seberapa ditemani Bagas. Seperti biasanya penampilan yang memukau, namun hari ini terlihat sinar cahaya yang terpancar menambah karismanya. Tampan, berwibawa, dan tegas.


Ayah Rasyid menggandeng tangan Ibu Zulaikha. Perasaan lega akan tanggung jawab sebagai orang tua, sebentar lagi akan terlepas. Berharap putrinya mendapatkan kebahagiaan di dunia dengan menjadi seorang istri. Pak penghulu juga menyambut calon mempelai pria dengan senyum sumringah.


"Assalamu'alaikum, semuanya." Laungan salam serempak kedua pria itu, membuat yang lain kembali menatap ke bumi.


"Wa'alaikumsalam," balas semua orang yang hadir untuk menjadi saksi kebahagiaan Rey dan Asma.


Pak penghulu mengarahkan Rey agar duduk di depannya. Jujur saja, biasanya wajah mempelai pria akan tegang dan gugup, tapi mempelai satu ini begitu tenang dan santai. Tak terlihat grogi, apalagi wajah yang pucat seperti mayat hidup.


"Saudara Reyhan Aditya, apakah ananda sudah siap?" tanya Pak penghulu tanpa basa basi.


Rey mengangguk, "Siap, Pak."


"Baiklah. Mari kita mulai acara ini dengan bacaan basmalah bersama-sama." Pak penghulu memulai dengan khusyuk, memimpin acara sore ini sebagaimana mestinya.


Doa yang dilanjutkan dengan pembacaan ikrar seorang penghulu. Lalu menjelaskan arti hak dan kewajiban suami istri. Semua mendengarkan, tetapi yang paling menghayati adalah Rey. Sang mempelai pria. Hari ini bukan hanya akan mengubah seluruh hidupnya.

__ADS_1


Akan tetapi, setelah janji suci lolos dari bibirnya, nanti. Ada tanggung jawab baru yang harus ia jaga sepenuh hati. Apakah jiwa dan raganya, sudah siap? Bagaimana dengan kesiapan mental? Nasehat dari pak penghulu seperti siraman rohani yang jarang sekali ia dapatkan.


Selama sepuluh menit. Pak penghulu baru menyudahi runtutan dari tata cara sebelum memulai akad nikah hingga buku ditutup. Lalu berganti dokumen pernikahan yang akan masuk ke proses ikrar janji suci. Tak lupa mengulurkan tangan kanannya dengan tatapan terpaut pada sang mempelai pria.


"Jabat tangan saya, Ananda Reyhan Aditya." Pak penghulu kembali membimbing Rey yang menurut seperti anak kecil, "Apakah pernikahan ini tidak dipaksakan? Jika tidak, mari kita mulai karena Bapak Rasyid sudah menyerahkan tanggung jawab wali nikah kepada saya."


Ayah Rasyid merasa tidak sanggup untuk melepaskan putri bungsunya, tetapi dia juga memiliki alasan lain. Suasana hening, hanya hembusan angin yang menerpa. Tangan saling berjabat tangan, nampak Pak penghulu berdoa sebelum memulai akad nikah yang akan menyatukan dua insan.


"Saya nikahkah dan kawinkan Ananda Reyhan Aditya dengan Adinda Asma binti Fathan dengan mas kawin sebuah tanah seluas sepuluh hektar dan emas sepuluh gram dibayar tunai." Ucap Pak Penghulu tanpa ada kata yang keselip, lalu menghentakkan genggaman tangannya agar Rey menjawab ikrar darinya.


"Saya terima, nikah dan kawinnya Ananda Asma binti Fathan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Satu tarikan nafas dengan ucapan jelas tanpa keraguan, menghempaskan Rey kedalam taman bunga penuh kedamaian.


Takdir, siapa yang tahu arah tujuannya? Besar dimana, menetap dimana dan tinggal dimana. Semua sudah ada yang mengatur yaitu Sang Pencipta. Lantunan do'a bersambut kedatangan Asma yang mengalihkan perhatian semua orang. Termasuk Rey.


Pria itu, tak melepaskan tatapan matanya begitu Asma masuk. Si gadis desa yang biasanya memakai pakaian tomboy. Sore ini, di bawah temaram sorot sinar senja. Wajahnya tampak berbeda dengan selimut make up yang natural, tubuh tertutup gaun pengantin dengan aksen kebaya.


Overall sangat manis, dan tak bisa dipandang sebelah mata. Rey terdiam menatap wanita itu, hatinya berdesir. Apalagi sesaat keduanya saling bertemu pandang. Tatapan mata yang biasa dingin, sore ini nampak begitu tenang tanpa pemberontakan. Inikah sisi lain dari si gadis desa?


Kisah masa lalu yang ia dengar, seakan terbukti secara perlahan. Asma memang dingin, tetapi untuk orang asing. Apakah itu berarti, setelah pernikahan akan ada perubahan? Entahlah, hanya satu yang harus disyukuri. Gadis itu tetap disini dan setuju menjadi istrinya.

__ADS_1


Ibu Zulaikha dan Ayah Rasyid menyambut Asma, lalu memberikan ucapan selamat dengan peluk cium orang tua. Keluarga kecil dengan kebahagiaan yang nyata. Untaian doa terbaik mengalir deras dari kedua bibir yang mulai layu karena dimakan usia.


Perlahan, tapi pasti. Kedua orang tua Asma menyerahkan putri bungsu mereka beralih ke dalam genggaman tangan sang menantu terakhir. Ada harapan, impian dan doa dalam kabut air mata yang masih mencoba tegak berdiri berlindung di balik benteng pertahanan.


"Nak, Ayah serahkan putri nakal kami untuk kamu jaga dan kasihi. Selama ini, kami memberikan kebebasan pada Asma untuk memutuskan masa depannya. Jodohnya adalah kamu. Ayah berdo'a agar kalian saling mencintai hingga maut memisahkan."


"Bukan hanya suami ibu, tetapi ibu juga memiliki harapan yang sama untuk hubungan kalian berdua. Semoga sakinah mawaddah warohmah. Putri ibu akhirnya menemukan sandaran hatinya, jaga suamimu sebagaimana kamu menjaga hatimu selama ini, Ndu."


Rey terharu, dibalik sikap dinginnya Asma. Gadis itu memiliki cinta untuk keluarga, bahkan air mata yang tertumpah dari kedua orang tuanya. Bisa menjelaskan, bagaimana keluarga itu hidup saling mengasihi. Rey menerima tangan yang kini akan menjadi tanggung jawabnya.


"Ibu, Ayah. Mulai sekarang, kalian adalah orang tua ku. Anak yatim piatu ini telah menemukan keluarganya yang telah lama menghilang. Terima kasih telah mempercayakan putri kalian pada pria yang masih belajar memahami kehidupan."


Tak seorangpun bisa menahan air matanya, curahan hati yang mewakili rasa syukur atas pernikahan yang baru dilangsungkan. Satu persatu memberikan ucapan selamat, begitu juga dengan pak penghulu. Seperti senja yang mulai menenggelamkan diri meninggalkan kegelapan.


Acara itu juga berakhir, tetapi mereka masih berkumpul di ruang aula hotel. Rey terus mencuri pandang ke arah sang istri, sedangkan yang dipandang memilih diam tak bergeming dengan wajah menunduk. Apakah Asma terpaksa melakukan pernikahan ini? Jika iya, kenapa tidak pergi saja. Bukankah dia sudah menjelaskan hal itu.


Ibu Zulaikha berusaha menahan diri untuk tetap tegar karena kini, dia harus melepaskan putrinya demi kehidupan yang baru. "Nak, apa kalian akan langsung ke Jakarta atau bagaimana?"


"Tidak, Bu. Seperti yang pernah saya katakan. Selama seminggu akan menetap disini karena kami ingin menghormati kepercayaan seorang ibu. Jadi, Bahas sudah menyiapkan acara syukuran agar seluruh desa tahu. Jika Asma Reyhan Aditya sudah ada yang punya."

__ADS_1


Bukan Rey yang menjawab, tetapi Bagas. Pria itu seperti rollercoaster, antusias yang melejit. Namun, justru berkat dialah. Kini dua insan bersatu dalam ikatan suci pernikahan. Semoga jodohnya segera datang. Amiin.


__ADS_2