Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 18: Ujian Malam Pertama


__ADS_3

"Stttt. Pejamkan matamu, lepaskan semua beban pikiranmu. Calm down, Asma. Kita akan mengubah keadaan menjadi lebih baik. Percayalah." bisik Rey sekali lagi, lalu melepaskan pelukannya.


Ingin percaya, tetapi sekilas memory menyelinap mengusik hatinya. Sentuhan tangan Rey mulai ia rasakan. Perlahan mengalirkan sengatan. Semakin berusaha untuk tenang, justru hatinya tak mampu dikendalikan. Tidak. Sentuhan itu bukan miliknya.



"Maaf, Aku tidak siap." Asma melepaskan diri dari pelukan Rey, lalu berlari meninggalkan pria itu. Tak ada tempat lain, selain kamar mandi.



Pintu yang tertutup, membuat Rey menghela nafas panjang. Dia yang terburu-buru, hingga melupakan jika pernikahan mereka bukan atas dasar cinta. Melainkan hanya keputusan singkat dalam deadline yang tidak bisa ditunda.



Jelas ini bukan salah istrinya. Setelah kebenaran yang terungkap, kenapa masih bersikeras untuk menikahi gadis dengan status yang rumit. Rey mengusap wajahnya kasar. Mencoba istighfar untuk kembali tenang.



Namun, aroma wangi dari tubuh sang istri seperti candu. Terus membayangi pikirannya yang berkelana. Kepasrahan sesaat, tetapi memabukkan. Ditatapnya kedua tangan yang menyentuh pinggang sang istri.



"Sadar, Rey! Dia istrimu. Ingat hak seorang istri juga wajib kamu berikan tanpa syarat." Monolog Rey pada dirinya sendiri.



Satu sisi, Rey tengah bergulat dengan emosi dan pikirannya sendiri. Sementara itu, Asma berdiam diri di bawah shower yang mengalir jatuh membasahi seluruh tubuhnya. Bayangan akan sentuhan sang suami terus mengusik kedamaian hatinya.



Sentuhan hangat dengan hembusan nafas segar aroma mint. Sesaat terasa menenangkan hingga ia kembali sadar. Semua itu tak asing baginya. Tidak ada niat untuk menolak, hanya saja hati dan pikiran masih belum siap. Ia tahu, dosa menolak memberikan hak seorang suami.

__ADS_1



Namun, bagaimana caranya memulai semua itu? Bayangan masa lalu terus saja mengusik relung hatinya. Ingin sekali amnesia, nyatanya tidak bisa. Diam merenung menikmati derasnya air yang terus mengalir. Tanpa sadar, Asma menetap di dalam kamar mandi selama lima belas menit.



Rey yang menunggu di luar, sibuk berjalan mondar-mandir. Rasa sabarnya tidak bisa lagi ditahan. Kenapa Asma begitu lama di dalam kamar mandi? Semoga saja baik. Rasa cemas mulai merajuk, membuat langkah pria itu tak lagi tertahan.



Tanpa permisi, dibukanya pintu kamar mandi. Namun, seketika langkahnya terhenti karena pemandangan yang ada di depan sana. Ingin merutuki kebodohannya. Kenapa harus melihat keindahan dalam balutan air yang jernih bak hujan.



"Apa kamu akan terus menatapku tanpa berkedip?" tanya Asma tanpa menoleh ke arah Rey, karena bisa melihat pantulan wajah sang suami dari cermin sebelah kanan yang tertempel di dinding.




"Masuk dan kunci!" tegas Asma menyela pembelaan suaminya, ia tahu apa yang dirasakan pria itu, setelah melihat dirinya yang dalam keadaan basah kuyup. "Ekhem! Apa yang kamu tunggu?"



Bingung. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh istrinya itu? Tadi, menolak sentuhannya. Lalu sekarang meminta dia masuk ke kamar mandi. Apalagi mengunci pintu kamar. Apapun yang ada di dalam kepala sang istri. Ia akan mencoba untuk mengikuti alur.



Langkah kaki berpindah, lalu menutup pintu, kemudian memutar kunci. Tubuhnya menegang ketika Asma mematikan shower. Gadis itu sibuk melepaskan satu persatu pakaian basahnya, membuat pria yang berdiri di depan pintu kembali terpaku.


__ADS_1


"Apa kamu tahu, tubuh hanya tempat untuk menyatakan bukti." Asma mengambil sabun mandi yang tersedia, lalu kembali menyalakan shower. Tangannya sibuk bermain sabun hingga menjadi busa, "Bisa bantu aku untuk memakai sabun ke punggungku?"


Tersentak dengan permintaan sang istri, tetapi tidak mungkin menolak. Perlahan berjalan mendekati gadis itu, lalu mengambil sabun dari tangan yang terulur ke belakang. Bukan hanya canggung, ia tercekat tak mampu berkata. Ketika matanya terus menatap kulit mulus Asma.


Sekuat tenaga, Rey menahan gejolak dalam dirinya. Ia pria dewasa dan normal. Akan tetapi, ujian malam pertama begitu menyiksanya. Bagaimana bisa, Asma meminta sesuatu yang sederhana, tapi justru mengubah detak jantungnya melompat kesana kemari.


Di balik pintu kamar mandi yang tertutup. Pasutri baru memulai kisah tak biasanya. Malam pertama yang bisa menjadi saksi cinta, justru berubah menjadi drama benteng pertahanan seorang suami. Selain suara air yang mengalir, tidak ada lagi suara lainnya.


Dua puluh menit, berlalu. Rey keluar meninggalkan kamar mandi. Kemudian mengambil handuk untuk istrinya, lalu kembali lagi masuk ke kamar mandi. Berselang satu menit, keduanya keluar bersama. Aroma wangi sabun yang menguar menyebar memenuhi indra penciuman sang suami.


"Asma!" panggil Rey menghentikan langkah sang istri, direngkuhnya tubuh yang berbalut handuk. "Sebentar saja, biarkan Aku mengenalmu tanpa pagar pembatas."


Asma membiarkan dua tangan kekar melingkar ke perutnya. Sudah cukup menguji pria yang kini berhak atas dirinya. Meminta Rey untuk membantunya mengoleskan sabun. Lalu memuaskan pemandangan dengan tubuh tanpa balutan. Semua itu, hanya untuk satu ketetapan demi kepastian hatinya.


"Apa kamu bahagia dengan pernikahan kita? Katakan dengan jujur, Aku tidak ingin, kebenaran hati ditutupi di antara kita." ujar Rey lembut berharap istrinya mau bersikap sedikit terbuka dengannya.


Sebagai seorang pemilik perusahaan. Ia tahu, jika Asma hanya menguji seberapa sabar untuk menanti waktu menjadi haknya. Si gadis desa yang polos, ternyata tidak sepolos seperti yang dia pikirkan. Cara sederhana, tetapi bisa menjebak lawan. Sungguh tidak terduga.


Dilepaskannya tangan Rey, lalu berbalik. Tatapan mata yang saling bertemu hingga mengulurkan kedua tangan mengusap wajah suaminya. "Kisah tak pernah usai, meski kita berkata sudah berakhir. Hak dan kewajiban, tidak mungkin untuk dipisahkan. Bukan begitu, Mas Reyhan?"


Deg. Apa tidak salah dengar? Asma memanggilnya dengan panggilan mas. Ingin percaya, namun kenapa tidak bisa percaya begitu saja. Tatapan mata begitu dalam menenggelamkan, "Ulangi lagi!"


Pengulangan? Tidak seru. Seulas senyuman mengubah rasa, direngkuhnya tubuh Rey agar menunduk. ''Tuan Kulkas. Ini sudah malam, mari tidur."


Tak ingin memberikan kesempatan untuk pria itu mengusik keputusannya. Dilepaskannya tubuh sang suami, lalu bergegas naik ke atas ranjang, kemudian menarik selimut. Tak ingin mendapatkan pertanyaan lanjutan. Maka, lebih baik segera tidur. Selama Rey masih diam mencerna semua yang baru saja terjadi. Ia memilih melarikan diri.


Bingung. Pertama memanggil dengan sebutan Mas Reyhan, lalu berubah menjadi panggilan Tuan Kulkas. Satu pertanyaan mengusik pikiran. Darimana istrinya itu, mendapatkan julukan yang tidak patut ia sandang. Tuan kulkas? Apa dia dingin? Tidak, justru yang dingin Asma.


Sibuk mencari jawaban hingga Rey tersadar. Asma sudah menjemput alam mimpinya. Terbaring pulas di sisi ranjang kanan dengan wajah lelahnya. "Unik. Malam pertama yang sempurna. Setelah menaikkan kabut hasrat. Istri yang baik, sudah melepaskan penyiksaan tanpa pengobatan."


Ingin mengeluh, tapi percuma. Sudahlah, kepalanya sudah berdenyut menikmati rasa sakit akibat ulah sang istri. Mau, tak mau memilih untuk ikut berbaring menemani istrinya ke alam mimpi. Baru saja ingin berbaring, Rey terkejut ternyata pakaiannya ikut basah.

__ADS_1


Sabar, Rey. Dingin pun harus dinikmati, itu rezeki.~batinnya melepaskan pakaian luar, menyisakan singlet hitam dengan celana kolor abu-abu, lalu ikut merebahkan tubuh di sisi kiri ranjang.


__ADS_2