Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 114: RA Company's


__ADS_3

Para muda mudi yang begitu semangat melangkahkan kaki memasuki lobi sebuah gedung pencakar langit. Di dinding tertinggi terdapat nama perusahaan yang hanya menggunakan inisial RA Company's bahkan sejak mendapatkan tugas untuk mengeksplorasi desain gedung tersebut. Sang pemimpin tidak mengetahui siapa pemilik gedung tersebut.


"Permisi, Mba. Bisa panggilkan Pak Manager dan katakan mahasiswa jurusan arsitektur yang mendapat tugas dari fakultas sudah datang." Kartu tanda pengenal ditunjukkan, membuat si resepsionis mengangguk paham. "Terima kasih, Mba."


Si mbak resepsionis menerima permintaan tolong kelompok yang memang sudah ditunggu oleh manajer sejak sepuluh menit yang lalu. Ia hanya bertugas melaporkan agar para muda mudi itu bisa menyelesaikan apa yang menjadi tugas kuliah. "Baik, Pak. Kalian masuk saja ke lift sisi kiri dan naik ke lantai dua puluh. Pak manager menunggu disana."


Lantai dua puluh? Seketika kepala berputar, "Nau, kita diminta eksplor gedung atau disuruh terjun payung sih?"


Pertanyaan konyol Wildan langsung berbalas tabokan lengan Widya. "Jadi orok kok kebangetan. Kita di perusahaan bukan di sawah. Dahlah, yuk buruan masa kita tamu bikin nunggu tuan rumah."


Ajakan Widya disetujui semua orang yang meninggalkan Wildan dengan rasa takutnya. Akan tetapi mengingat tugas harus dilakukan secara bersama-sama, maka mau tak mau sang ketua menarik tangan pemuda satu itu dengan paksa. Drama tarik menarik berakhir menjadi bahan perbincangan beberapa staff karyawan.


Lift yang dimaksud bermuatan hingga sepuluh orang. Setidaknya diantara kelompok itu memiliki berat badan normal semua, jadi aman terkendali hingga suara lift terbuka mencapai lantai dua puluh. Akan tetapi, tidak ada siapapun di lorong tersebut karena sepi senyap.


Sekarang bingung harus bagaimana? Pak manager tidak ada, begitu pula dengan mbak resepsionis bahkan staff pun seperti tidak tersedia di lantai yang mereka pijak. Nau mencoba berpikir positif dengan mencari nomor yang bisa dihubungi agar tidak membuang waktu. Sebuah nomor yang memberi pemindahan tugas pada kelompoknya.


"Kalian disini dulu, gue telpon pihak sananya." Nau melipir dari kerumunan yang ia bawa, bagaimanapun hanya dirinya yang harus bertanggung jawab.

__ADS_1


Pemuda itu mencoba untuk menyelesaikan masalah yang ada, sedangkan teman kelompoknya masih sibuk berdebat ini dan itu. Tiba-tiba lift kembali terbuka hingga menghalangi jalan keluar, suara deheman tak menyudahi pertengkaran sesama teman.


"Assalamu'alaikum!" ucap salam tegas mengalihkan perhatian para muda mudi yang seketika sadar berdiri di depan lift. "Apa kalian semua bisu? Salam wajib dijawab atau harus ku ajari?"


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, kamu kan Ka Asma." cetus Satya karena ia masih ingat wanita di depannya yang membawa Fay menjauh dari Nau.


Asma hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Satya yang bersambut ingatan teman lain, tetapi gadis itu justru mencari keberadaan sang adik yang ternyata tengah menelpon seseorang. Biarlah karena ia lebih baik menunggu penjelasan atas semua yang terjadi. Selama beberapa menit membiarkan semua ocehan para anak muda yang masih saling menyalahkan.


"De, ada apa?" Asma langsung bertanya begitu Nau kembali ke rombongan, sedangkan yang ditanya kebingungan atas kehadirannya yang ada di satu gedung. "Aku menemani suamiku untuk mengurus pekerjaannya. Siapa tahu aku bisa bantu masalah kalian."


"Suami Kakak kerja disini? Bisa bantu panggilin Pak Manajer? Heran saja udah janjian tapi kok jadi dibuat bingung kita-kitanya." jelas Nau merasa ada harapan dengan keberadaan kakak onlinenya.


"Pak manager masih ada urusan, De. Begini saja, Aku antar kalian ke ruang tunggu sampai beliau datang. Ayo!" Asma melambaikan tangan tanpa memberi senyuman, terlalu datar seakan tengah menghadapi ujian.


Nau merasa tidak ada pilihan lain. Langkah kaki meyakinkan diri bahwa semua yang terjadi demi kebaikan, meski harus mendapatkan penolakan dan pertanyaan dari teman sekelompok. Mereka tetap mengikuti saran Asma yang mengantarkan ke sebuah ruangan santai. Ruangan dengan desain lesehan seperti ruang keluarga.


"Asri bener ya, mana view langsung penampakan kota lagi. Wih, bisa buat selfie nih." celetuk biang onar yang enggan untuk diingat namanya.

__ADS_1


Disentilnya telinga sang teman yang suka narsis tanpa ingat situasi dan keadaan. Tentu tidak enak hati karena sikap barbar yang terlalu frontal, sedangkan Asma tidak mempedulikan itu karena fokus melakukan sesuatu sebagai tuan rumah. Dimana ia memesan makanan ringan dan minuman dingin ke pihak kantin.


"Ka, apa Fay baik-baik saja?" tanya Nau memberanikan diri untuk bertanya pada Asma yang sudah usai melakukan panggilan telepon.


Tatapan mata saling beradu walau hanya sesaat. Sebagai saudara sepupu, jujur saja Nau memenuhi kewajiban begitu baik. Akan tetapi dengan syarat yang diajukan pada Fay. Bukankah itu seperti tali kekang? Kebebasan ditukar perjodohan. Bisa jelaskan konsep darimana hal tersebut dibenarkan?


Asma menyedekapkan kedua tangannya, lalu mengalihkan perhatian menatap ke luar jendela. Dimana sinar mentari menyapa menyinari seluruh bagian bumi yang menjadi tempatnya berpijak. Semua pemandangan terlihat jelas tanpa ada halangan, tapi awan yang berarak bisa berubah kapan saja.


"Kenapa Ka Asma diam? Apa pertanyaan ku salah." ucap Nau yang tidak paham dengan sikap diamnya sang kakak online, padahal ia tahu bahwa wanita yang berdiri di sebelahnya itu menjadi tempat curhatan Fay.


Satu pergerakan langkah kaki menggeser posisi Asma, "Kamu ini menanyakan kondisi hati, pikiran atau fisik? Tanpa ada pertanyaan yang pasti maka jawabannya akan tetap she fine."


"Ka Asma! Apa kakak mencoba menghindari pertanyaan? Aku ingin tahu kondisi hati dan pikiran Ifii. Kakak tahu sendiri kalau gadis satu itu seringkali mengambil keputusan terlalu signifikan." jelas Nau melakukan pembelaan dengan hasil pemikiran yang memang itulah kebenaran dari sisinya.


Asma tidak terkejut dengan jawaban Nau. Semua sudah jelas dari awal, tetapi pemuda itu sepertinya harus mendapatkan pelajaran yang berharga. Dimana kehidupan tidak bisa mengikuti isyarat jari manusia. Disuruh ke kanan atau ke kiri hanya nurut tanpa penolakan. Masa depan harus dibentuk tanpa ada tekanan.


"Bagaimana jika Dede kujodohkan dengan sekretaris Ka Bagas. Sebagai gantinya, dede bisa memilih meneruskan kuliah dimanapun tanpa mengeluarkan biaya satu persen pun." saran Asma langsung mendapat tatapan tajam Nau, tetapi ia tidak bergeming dari tempatnya.

__ADS_1


Asma tahu, pemuda itu merasa di hina karena perkataannya. Pertukaran yang tidak bisa ditoleransi, apalagi sebagai seorang pria sejati. "Sakit 'kan, De? Balikkan posisi yang sama dengan emosi itu menjadi milik Fay. Apa dia dalam keadaan baik?"


__ADS_2