Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 149: Juan dan Baby


__ADS_3

Fay menunggu Asma mengulurkan tangan, tapi tiba-tiba ada tangan lain yang menarik tangan sang kakak. Tatapan mata khawatir terpatri menatap telapak tangan yang memerah. "Astagfirullah, kamu kenapa tidak bilang jika sampai seperti ini? Fay ambilkan ponselku di atas nakas!"


Satu perintah yang tidak bisa ditolak membuat Fay melakukan permintaan Reyhan. Yah, pria yang mendadak terbangun dengan ekspresi wajah begitu cemas. Lelaki itu langsung menelpon dokter meski Asma sudah mengatakan semua baik-baik saja tetapi tetap saja tidak dipedulikan.


Selama beberapa saat terjadi drama penolakan yang berujung kepasrahan. Suami istri itu bahkan melupakan keberadaan dua wanita yang masih di dalam kamar mereka. Beruntung si dokter yang dipanggil adalah dokter hotel. Dimana itu menjadi ketenangan tersendiri untuk Reyhan.


Seorang pria muda dengan penampilan styles datang membawa tas kerjanya tanpa memakai jas putih bahkan terkesan seperti anak pelancong yang tengah berlibur. Reyhan tahu anak muda itu memanglah dokter yang bisa diandalkan sehingga ia merasa lebih baik. Apalagi begitu Asma mendapatkan perawatan terbaik.


"Tangannya akan baik-baik saja, tapi jangan biarkan menyentuh air atau apapun itu selama empat jam kedepan. Salep yang barusan aku oleskan, nanti ulangi lagi. Jangan khawatir, Tuan Reyhan karena istri Anda bisa menahan rasa panasnya." tutur Dokter sedikit menyindir Asma.


Namun yang disindir hanya tersenyum tipis tanpa ingin mengatakan pembelaan. Ia tahu tatapan mata Reyhan sudah cukup menjelaskan apa yang akan terjadi setelah ini. Selain itu, kondisinya tidak parah yang mengharuskan dirawat ke rumah sakit. Iya 'kan? Jadi kenapa mempermasalahkan hal sekecil itu.


Pemikiran yang menjebak kesadarannya sendiri. Ketika mengingat orang lain, maka sikap dewasanya diberkahi ketegasan. Sayangnya bertolak belakang untuk kebaikan diri sendiri. Entah prinsip dari mana yang Asma terapkan. Menyayangi orang-orang tetapi lebih sering melupakan mencintai diri sendiri.


"Dok, bisa periksa suamiku juga? Dia demam dan aku tidak bisa merawat karena obat darimu." Asma sengaja membuat si dokter kembali berbalik dengan alasan yang tepat. "Suamiku di depan Anda, jadi silahkan."

__ADS_1


"Sepertinya nyonya sangat suka bercanda, mari Tuan Reyhan. Kita duduk di sana." ajak Si Dokter seraya mempersilahkan Rey agar ikut dengannya, sedangkan Fay yang melihat itu hanya bisa menahan senyum.


Kakaknya selalu saja jahil di setiap kesempatan yang ada. Disaat situasi tidak baik masih saja bersikap santai bahkan tidak khawatir akan keadaannya sendiri. Sementara Ibu Zulaikha memilih duduk seraya mengusap kepala sang putri yang begitu nyaman menikmati sentuhannya.


Suasana di dalam kamar masih saja hening hingga tiba-tiba Bagas datang. Pria itu masuk tanpa permisi. "Pagi, semuanya. Kalian sudah kumpul? Hai, Juan. Apa semua baik?"


Juan merupakan dokter umum yang memilih bekerja di bawah kekuasaan orang. Padahal pria muda yang seumuran dengan Bagas itu merupakan anak dari salah satu pengusaha terkenal. Sayangnya kecintaan pada dunia medis mengubah haluan sebagai seorang dokter.


"Fine, cuma sobatmu ini overthinking. Demam tinggi seperti semua masalah bakalan kelar gitu aja. Apa Rey lupa hasil medis terakhir?" tanya Juan menjelaskan tanpa ada tedeng aling-aling.


"Maksudku, daya tahannya harus diperbaiki. Bekerja selalu diforsir tidak baik. Baiklah, aku pamit dulu. Rey istirahatlah." pamit Juan tak ingin melanjutkan obrolan karena suasana kamar perlahan mulai berubah.


Pria muda itu melangkahkan kaki pergi meninggalkan kamar hotel tempat Rey menginap tapi di saat bersamaan muncul seorang gadis dengan penampilan feminin. Gaun toska tanpa lengan, bawahnya sebatas lutut. Wajah sentuhan make up secara natural. Gadis yang langsung bergelayut manja menggandeng lengan Bagas seraya menyapa semua orang dengan begitu gembira.


"Pagi, semuanya. Kenapa kalian tegang begitu?" tanya Si Gadis mengedarkan pandangan. Di saat bersamaan tatapan matanya terpatri pada Rey. "Wah, Ka Rey tetep ganteng banget. Dari dulu ampe sekarang awet muda."

__ADS_1


"Sorry, aku lupa bilang mau ngenalin ...," Bagas berusaha untuk mengatakan niat kedatangannya tapi gadis yang selalu menjadi petir langsung menginjak kakinya. Sontak saja ia menahan rasa ngilu yang menyapa kaki kanannya. "Kamu ...,"


"Ka Bagas gak seru." Gadis itu menjulurkan lidah, lalu kembali fokus menatap orang-orang yang ada di dalam kamar secara bergantian hingga mendapatkan apa yang ia cari.


Langkah kakinya berjalan menuju Asma yang ada diatas ranjang bersama Ibu Zulaikha. Fay yang berdiri di belakang Ibu sang kakak hanya diam menyimak melihat apa yang akan terjadi, sedangkan Asma juga memilih menjadi pengamat tanpa harus memberikan penilaian secara terburu-buru. Uluran tangan yang melayang bersambut seulas senyum berlesung pipi.


Jujur saja, gadis itu cantik dengan wajah seperti blasteran orang Korea. Apalagi begitu tersenyum mengubah ekspresi wajah semakin menawan. Pasti banyak lelaki yang terpesona dengan penampilannya. Akan tetapi kenapa terlihat begitu dekat dengan Bagas? Apalagi bisa bersikap sesuka hati tanpa ada jarak yang harus dijaga.


"Kenalin namaku Baby. Kakak pasti pacarnya Ka Bagas 'kan?" Baby menatap Asma tak berkedip, "Aku teman sekaligus kesayangan Ka Bagas. Apa kita bisa berteman?"


"Kesayangan ya?" Lirikan mata tertuju pada Bagas yang mendadak menggaruk kepala. "Apa kalian sedekat itu? By the way, kamu ngajak berteman atau bersaing secara sehat?"


Pertanyaan sekaligus pernyataan dari Asma membuat Baby meneguk saliva dengan kasar. Wajah polos tetapi kenapa suaranya dingin? Apa dia salah orang? Selama ini ia berusaha melakukan segala sesuatu tanpa harus banyak tingkah. Apalagi setelah melihat Bagas dan Asma yang ngobrol hanya berdua pada waktu siang kemarin.


"Baby itu adikku." Bagas menyadari bahwa Asma berusaha menyelidiki dengan interogasi yang dibuat tanpa kesadaran. Sayangnya ia juga sadar dimana Baby adalah gadis agresif yang berpikir kedatangan wanita lain dalam hidupnya bisa menggeser posisi sang adik.

__ADS_1


__ADS_2