Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 19: Aroma Cinta Halal


__ADS_3

Sabar, Rey. Dingin pun harus dinikmati, itu rezeki.~batinnya melepaskan pakaian luar, menyisakan singlet hitam dengan celana kolor abu-abu, lalu ikut merebahkan tubuh di sisi kiri ranjang.


Sayup-sayup terdengar suara adzan. Asma terbangun di waktu yang sama seperti biasa, gadis itu masih memejamkan mata. Setelah melakukan peregangan tangan, tak lupa mengecup pipi ibu yang tertidur di sebelahnya. Rutinitas pagi yang akan mengembalikan senyuman semangat sepanjang waktu.



Hingga suara berat mengembalikan kesadaran gadis itu. Dia lupa, jika sudah menikah. Pagi yang seharusnya memberikan kecupan semangat. Justru suaminya yang merasakan itu, malu rasanya. "Maaf, aku pikir, kamu ibuku."



Niat hati ingin beranjak, tapi tubuhnya tertahan tangan kekar yang mengunci pergerakannya. Tatapan mata yang menenggelamkan, "Apa kamu lupa, jika aku suamimu? Bukan hanya pipi, tapi raga dan jiwa ini bisa kamu miliki. Kenapa minta maaf?"



"Aku," Asma menggigit bibir bawahnya, tak bisa lagi berkata-kata, membuat Rey membimbing istrinya untuk berbaring kembali dengan tatapan mata yang terus saling berperang.



Wajah manis, kelopak mata tak berbulu lentik, alis tipis melengkung, hidung sedang, bibir menggoda, mata yang sipit, dan dagu lancip. Jika mengamati dengan seksama, ada yang selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi pemilik netra coklat jernih yang kini terdiam di bawah kungkungannya.



Diamnya sang istri bersambut kecupan hangat yang mendarat ke kening gadis itu. Seuntai do'a dipanjatkan di dalam hati, lalu meniupkan harapan terbaik ke ubun-ubun wanitanya. "Assalamu'alaikum, istriku. Mari kita sholat berjamaah,"



"Wa'alaikumsalam, Tuan Kulkas." Jawab Asma kembali menggigit bibirnya, membuat Rey tersenyum lalu beranjak dari tempatnya.

__ADS_1



Apapun panggilan dari sang istri. Biarlah, setelah melaksanakan kewajiban seorang muslim. Pasti jawaban akan didapat dengan caranya, tapi sabar menunggu waktu. Suara adzan di luar sana masih saling bersahutan. Keduanya beranjak meninggalkan tempat tidur.


Rey membiarkan istrinya yang ke kamar mandi terlebih dahulu, sedangkan ia meminta Bagas untuk mengirimkan keperluan yang lupa ia siapkan. Pakaian ganti dan juga peralatan sholat. Setelah bersiap selama dua puluh menit. Pasutri itu sudah siap dengan penampilan tertutup secara syar'i.


Hari baru dengan kisah baru. Asma mendapatkan suami yang bisa menjadi imam baik ketika menunaikan ibadah, dan juga menjadi sandaran dalam hidupnya. Suara merdu lantunan ayat suci Al-Quran menyejukkan hati. Ia tak menyangka, Rey merupakan pria yang dikirim Allah untuk menjadi pendamping hidup.



Hingga suara salam mengakhiri jamaah pasutri itu. Berlanjut dengan do'a keselamatan serta serangkaian do'a agar rumah tangga mereka sakinah mawaddah warahmah. Kemudian menangkupkan kedua tangan mengusap wajah masing-masing. Semoga Allah mengabulkan do'a keduanya.



"Mas, tangannya," ucap lembut Asma mengalihkan perhatian Rey, pria itu menggeser posisinya hingga menghadap sang istri. Ketika tangannya terangkat mendapatkan kecupan hangat dari Asma. Hatinya merasakan kebahagiaan itu sederhana. "Sudah kelima kalinya, Mas menatapku tanpa berkedip. Apa ada yang salah denganku?"




Arah pembicaraan yang tidak asing. Sekali saja menahan diri untuk mendengarkan keluhan seorang suami. Gadis itu membiarkan Rey berbicara secara terbuka atas apa yang terjadi semalam. Marahkah? Tidak. Nyatanya pria itu belajar untuk bersabar dengan semua perlakuannya.



Ditengah curahan pernyataan dan pertanyaan Rey. Asma melepaskan mukena, lalu melipatnya. Sesaat tatapan matanya teralihkan hingga sang suami kembali merengkuh dagunya. "Mas, aku tidak melarikan diri, tapi hati ini membutuhkan sedikit waktu."


__ADS_1


Obrolan keduanya mulai saling berbalas. Dari satu kebenaran menuju kebenaran lain. Emosi yang saling melengkapi, melepaskan kebingungan serta kesalahpahaman. Akal sehat keduanya mengembalikan suasana semakin membaik.



Tiba-tiba, Rey menghentikan ucapannya. Tatapan matanya semakin intens, membuat Asma terdiam. "Boleh?"


Anggukan kepala sang istri menjadi izin resmi. Rey menyatukan keningnya bersama kening Asma seraya mengangkat tangan merengkuh pinggang wanitanya agar semakin mendekat. Hembusan nafas yang saling beradu, berganti sentuhan lembut nan manis. Sesaat menyapa bibir alami tanpa polesan lipstik.


Perlahan, tapi pasti. Sentuhan hangat menyatukan keduanya. Saling memperkenalkan diri akan aroma cinta yang halal. Rey berusaha sebaik mungkin untuk memulai perjalanan panas keduannya dengan berharap ridho Sang Pencipta. Berteman sinar mentari. Penyatuan pasutri baru menapaki permukaan.


Asma hanya memejamkan mata, membiarkan suaminya menyatakan kepemilikan atas dirinya. Suara decak yang bersahutan mengalirkan sengatan memabukkan. Rasa ini, akan menjadi candu. Setitik air mata jatuh membasahi pipi. Ikhlas atas apa yang telah menjadi takdirnya.


"Istriku, bertahanlah." Rey mengusap punggung Asma, lalu kembali berdo'a kemudian dalam sekali serangan menyatukan keduanya dalam penyerahan. "Alhamdulillah,"


Apakah ia tidak salah dengar? Rey bersyukur hanya karena telah menjalankan ritual malam pertama. Sakit rasanya, karena tidak bisa memberikan yang terbaik untuk sang imam. Namun, takdir tak mungkin dirubah. Semua sudah terjadi. Sekali lagi, air matanya mengalir tak tertahankan.


Rey yang melihat itu, mendekatkan diri menatap Asma. Diusapnya air mata yang berharga, dan tidak layak untuk menghiasi kehidupan mereka. "Raga memang hanya untuk pembuktian, tetapi jiwa untuk penyatuan. Asma, kini kamu istriku. Aku menerimamu apa adanya, sebagaimana kamu menerima keras kepalaku."


Semakin terasa menyesakkan dada, hingga kecupan hangat yang ia rasakan. Mengalihkan kesadaran dalam penerimaan, membalas tatapan mata yang meneduhkan. "Terima kasih, Mas. Maaf atas ketidak sempurnaan ku menjadi seorang wanita."


Terenyuh dengan rasa yang pasti mengusik batin sang istri. Rey mengubah rasa sakit itu dengan membawa cinta ke dalam penyatuan keduanya. Perlahan sentuhan manja memperkenalkan akan hubungan halal yang menjadi keberkahan.


Satu jam telah berlalu, Rey menatap wajah Asma yang terlelap dalam pelukannya. Sebagai seorang pria, jujur merasa sedikit kecewa. Akan tetapi, sebagai seorang suami. Ia ikhlas atas kekurangan sang istri. Satu yang membuat dia tak mempermasalahkan segalanya yaitu kejujuran dari sang istri.


"Luka yang terpancar di matamu. Aku ingin menghapusnya,"


Takdir bisa mempertemukan, tetapi manusia lupa. Jika ada perpisahan. Setiap pilihan adalah hasil dari keputusan final. Apapun yang telah dilakukan akan tetap menjadi tanggung jawab masing-masing. Maka, ketika akal sehat mulai menghilang. Diamlah, pikirkan sekali lagi. Apakah semua yang menjadi keputusan sudah benar adanya?

__ADS_1


Lamunan Rey teralihkan suara ketukan pintu. Dari jumlah ketukan, ia tahu itu Bagas. Akan tetapi, tidak mungkin meninggalkan Asma sendirian. Tanpa menunda, diambilnya ponsel yang tergeletak di atas meja sisi tempat tidurnya. Sebuah pesan cukup menjelaskan situasi tanpa harus menjelaskan panjang kali lebar.


[Kami akan keluar nanti malam, kirimkan saja makan siang dan juga perlengkapan yang sudah aku pesan. Ingat, kamu sendiri yang harus membawa ke kamarku!]


__ADS_2