Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 89: Kepentok Masalah


__ADS_3

Permintaan Ka Asma jelas walau terkesan ambigu, tetapi ia tahu apa maksud dari kakaknya itu. Tanpa mengatakan iya, anggukan kepala sudah cukup menjadi jawaban, membuat wanita itu melanjutkan perjalanannya untuk memenangkan hati Jovanka agar bisa memahami situasi yang ada.


Sadar benar untuk menangani anak usia dini harus ekstra sabar tanpa emosi yang meledak. Kepergian Asma mengembalikan keadaan menjadi kembali dingin. Sayangnya Fay terjebak dan tidak mungkin melarikan diri dari para pria yang kini menatapnya seperti siap menerkam saja. Mimpi buruk apa semalam? Ia lupa.


"Sebelumnya, aku minta maaf kalau lancang, tapi aku bisa pastikan satu hal yaitu Jovanka akan baik-baik saja bersama Ka Asma." Bingung mau mulai dari mana karena yang Ia pahami saat ini begitu sulit disederhanakan. "Mr. Axel, Anda lebih mengenal Jovanka, tapi aku mengenal Ka Asma. Intinya sabar dan tunggu, InsyaAllah semua baik."


"Kenapa cara bicaramu jadi mirip Asma?" Bagas menatap menyelidik, tidak tahu otaknya selalu konek dengan kecurigaan setiap kali berhadapan dengan Fay. Sadar salah, hanya saja enggan untuk mengutarakan isi hati yang menyudutkan, sedangkan Fay hanya bisa mengusap dada untuk sabar menghadapinya.


"Aku mengenal putri ku, hanya saja takut dengan situasi yang ada. Jovanka gadis yang aktif dengan emosi tidak terduga. Jujur saja selama masa pertumbuhan putriku, baru kali ini memperlakukan seorang wanita dewasa tanpa ada pagar pembatas. Miss Asma mencuri hati gadisku." Alex menjelaskan tanpa mengurangi atau menambah kenyataan yang ada di dalam kehidupan mereka.


Apakah karena itu akhirnya Axel tidak menikah lagi? Setelah mendiang istri meninggal, lalu hanya fokus merawat putri tunggalnya. Bisa saja seperti itu dan kehidupan setiap orang selalu memiliki lika-liku yang tidak seorangpun tahu. Apalagi bisa memahami keadaan dunia milik seseorang.


Rey menggeser posisi duduknya mendekati Alex. Tanpa mengurangi sopan, Ia menepuk punggung pria itu untuk menguatkan. "Jovanka juga putri rumah ini, bukan karena kita akan menjadi partner bisnis. Akan tetapi istriku sudah memutuskan untuk menjaga, maka tenanglah. Dia pasti menangani dengan caranya sendiri."


"Urusan anak-anak sudah berada di tangan yang tepat. Kita bisa melanjutkan untuk membicarakan tentang pekerjaan. Bagaimana?" sahut Bagas dengan sikap setenang pantai tanpa gulungan ombak.


Jangan tanya darimana pria itu mendapatkan sikap santai yang patut mendapatkan pukulan telak. Memang sudah seperti itu karakteristik yang memakai mode sesuka suasana tanpa emosi hati. Ceplas-ceplos dengan ketidakpekaan abadi. Namanya juga Bagas Fernando.


"Silahkan lanjutkan ber-interaksi, Aku permisi mau menyusul Ka Asma." Fay beranjak dari tempatnya, ia tak ingin ikut gila, apalagi kehilangan kesadaran hanya karena Bagas.

__ADS_1


Kepergian Fay, membuat para lelaki sibuk membahas pekerjaan. Bisnis yang akan menjadi terobosan untuk kedua belah pihak dan jika semua berjalan lancar, maka bukan hanya keuntungan saja yang akan di dapatkan karena kerjasama keduanya bisa membangun nama baik semakin tersebar luas.


"Proposal Anda menarik sekali, tetapi ada masalah yang harus diselesaikan terlebih dahulu." Alex menutup file pengajuan kontrak kerjasama, lalu mengeluarkan ponselnya. "Bagaimana dengan kerjasama antara Anda dan tuan Burhan?"


Rey memeriksa apa yang ingin ditunjukkan oleh Alex. Sesaat tak paham hingga tulisan surat ancaman menyadarkan dirinya akan kenyataan baru. Bagaimana bisa Tuan Burhan memberikan ancaman pada rekan barunya yang bahkan belum fix untuk kerjasama. Apa mau dari pria itu?


Ponsel di alihkan ke Bagas agar wakil CEO bisa memberikan masukan untuk masalah kali ini. Pria satu itu terlihat geram dan emosi. Hampir saja meremuk ponsel yang ia genggam. Heran dengan tingkah ayah dan anak yang sebelas duabelas. Anaknya pengejar cinta, dan ayahnya pengejar harta. Paket yang bisa mendramatisir keadaan menjadi buruk.


"Rey, proyek sudah berjalan hampir delapan puluh persen. Tidak mungkin untuk dibatalkan, lagian bapak ama anak satu ini gak punya kerjaan lain, apa ya?" sungut Bagas seraya mengembalikan ponsel kepada pemiliknya, "Mohon maaf nih, Mr. Axel. Apa proyek bisa diubah atas nama? Aku udah ada ide, tapi persetujuan dari kalian berdua."


"Ide apa?" tanya Rey dan Alex serempak, lalu saling pandang karena sepemikiran dengan rasa penasaran keduanya.


Satu jam berlalu dengan argumen panjang kali lebar di selingi dengan tukar pemikiran sudut pandang. Akhirnya Alex dan Rey berjabat tangan mengesahkan kesepakatan kerjasama mereka. Meski hanya separuh tanggung jawab yang menjadi awal kontrak bisnis kedua perusahaan.


Di saat itulah, Asma kembali ke ruang keluarga bersama Fay. Akan tetapi tidak ada Jovanka bersama kedua wanita itu. "Permisi, apa kalian mau makan sesuatu? Jika iya, Aku akan buatkan."


"Butterfly dimana putri Mr. Axel?" Rey mengalihkan perhatian istrinya, membuat wanita itu mengisyaratkan tangan saling bertautan menggambarkan bahwa Jovanka sudah terlelap di kamar atas. Tentu isyarat yang mudah dipahami, "Kemarilah! Ada yang ingin kita bicarakan denganmu."


"Ka, aku saranin mending kabur. Feeling ku gak enak." bisik Fay sedikit mencondongkan tubuhnya ke samping, sayang sekali kakaknya hanya tersenyum tipis, lalu menggandeng lengannya. "Eh, Ka?"

__ADS_1


"Nikmati saja, toh mereka bukan kanibal. Calm down." seloroh Asma tak ingin menambah beban pikirannya yang memang tengah terbagi memikirkan beberapa masalah.


Beberapa saat hanya terdiam setelah semua kembali duduk bersama. Dasar para pria beku, harusnya mereka di bawa ke gunung merapi. Setidaknya bisa sedikit mencair, iya gak? Kurang lebih sih setuju aja, daripada kaya patung hiburan di taman kota. Enak di ajak selfie, tapi gak bisa dibawa pulang. Kenapa jadi random ya?


"Ekhem!" dehem Asma mengedarkan pandangan ke satu sama lainnya, barulah mereka kembali menghela nafas yang ternyata selama beberapa saat ditahan. "Apa tujuan kalian? Katakan dengan jelas. Sekarang!"


Seketika merinding sedap mendengar ketegasan Asma. Alex sadar kenapa Bagas begitu mempercayai wanita satu itu, begitu juga dengan Rey yang beruntung memiliki istri unik. Akan tetapi bagaimana dengannya? Emosi di hati tidak bisa berbohong. Sejak pertama melihat Jovanka mendekap sang nyonya rumah, hatinya ikut berdendang. Namun ia sadar itu salah.


"Sebenarnya, proyek kami mengalami masalah tapi jika kamu mau membantu. InsyaAllah proyek akan berjalan baik tanpa ada hambatan. Bukan begitu Tuan Reyhan?" Alex membuka suara meski meminta persetujuan suami dari wanita itu, jujur terasa canggung situasi yang ada saat ini.


Entah apa yang menjadi masalah. Satu hal yang pasti adalah ketika Rey mengiyakan dengan anggukan kepala. Barulah hati mencelos akan perasaan tak enak. Benar yang dikatakan Fay, sesuatu tengah terjadi dan itu melibatkan dirinya. Ingin pergi, tapi tidak mungkin. Jika stay, hanya berujung keraguan baru.


"Katakan!" tegas Asma menyiapkan diri mendengar permintaan para pria yang terus saja menatapnya dengan tatapan penuh harap.


.


.


.

__ADS_1


🍃LuKa? Sesak terasa penuh di dada. Langit sempurna telah tercabik. Cinta tak pernah ada. Hanya permainan konyol menoreh lara.🍃


__ADS_2